
Pukul 09:23, langit di Pulau Sotus masih cerah, bintang di atas sana masih menampakkan dirinya, begitupun dengan bulan dengan sinar putihnya yang masih menyinari bumi dari kegelapan sang malam.
Dari bagian utara Pulau Sotus, di sebuah trotoar jalanan yang diterangi oleh lampu jalan berwarna kuning kecoklatan, terlihat Kevin dan Cassy kini sedang asik berjalan menulusuri trotoar jalan yang tengah lengang di salah satu daerah utara.
Kedua orang itu nampak begitu bahagia seolah tak memikul beban sedikit pun dari banyaknya masalah mereka berdua alami.
Mereka berjalan sembari terus berbicara dengan membahas topik yang tak menentu, terkadang sebuah topik serius tercampur dalam arus pembicaraan keduanya, namun beberaa saat kemudian, topic itu terganti begitu saja dengan topik lainnya.
“Vin! Masih jauh nggak sih?”
“Kayaknya udah mulai deket deh Cass!”
“Beneran nih?”
“Iya!”
“Kamu nggak bohong kan Vin?”
“Nggak cass! Aku gak bohong.”
“Jangan-jangan kita tersesat Vin!”
“Nggak kok! Nih kamu liat sendiri petanya. kita ada di sini nih, di dekat persimpangan.”
“Ohh iya! Kita ada di deket persimpangan.”
“Kamu sekarang percaya kan?”
“Iya! aku percaya, tapi tokonya mana?”
“Sabar Cass! Kita udah mau nyampe.”
“Emang tokonya di mana sih?”
“Ini…
Tokonya masih sepuluh meter setelah persimpangan.”
“Ohh…”
“Kalau kamu mau cepet, jangan ngomong terus.”
“Iya! Iya! Aku nggak akan ngomong lagi.”
“Nah gitu dong!”
Cassy terdiam tanpa menjawab Kevin, kaena ia tidak mau berbicara lagi agar mereka berdua dapat sampai ke toko yang akan dikunjunginya.
Akan tetapi, belum lima belas menit ia terdiam, Cassy sudah tak dapat lagi menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan kata-kata, dan akhirnya ia pun membuka kembali pembicaraannya bersama Kevin.
“Vin?”
“Apa sih Cass? Katanya mau diem, tapi ini ngomong lagi.”
“Yah habisnya aku bosen dari tadi cuman jalan aja.”
“Yaudah deh! Terserah kamu aja, aku capek!”
“Jangan gitu dong Vin!”
“Iya..iya! bawel amat sih jadi orang!”
“Kamu marah?”
“Nggak!”
“Terus?”
“Aku lagi gak mood doang.”
“Ohh…”
“…”
“Eh Vin! Berhenti dulu.”
“Kenapa kamu nyuruh aku berhenti?”
“Aku mau nyoba sesuatu vin!”
“Kamu mau nyoba sesuatu? Hah?”
“Iya! Aku mau nyoba yang tadi.”
“Yang tadi apa? Kamu ngomong yang jelas dong!”
“Tadi itu loh Vin! Masa kamu lupa.”
“Iya! Yang tadi itu apa? Aku nggak inget sama sekali.”
“Kamu beneran nggak inget Vin?”
“Iya Cass! Aku gak inget apa-apa”
“Ohh…”
“Emangnya apa sih? Kamu bikn penasaran aja.”
“Yang ini Vin!”
Wushh…
Cassy mengucapkan sepatah kata terakhir lalu mencoba hal yang ia ingin lakukan sedari tadi, suatu hal yang membuanya amat sangat penasaran sehingga ingin membuktikan dan memastikan hal tersebut.
Hal itu adalah sebuah kegiatan yang ia lakukan ketika Kevin hendak tuk membuka pintu bangunan tua di distrik hutan hujan Pulau Sotus bagian barat tadi, hal yang membuat Kevin beralih memegang gagang pintu sebuah toko apotik dari sebelumnya memegang gagang pintu kayu di kedai roti tua itu.
Sesuatu hal itu bukan lain adalah jawaban juga penjelasan atas berpindahnya mereka dari distrik hutan hujan bagian barat, kepada toko apotik yang berada di anak kota bagian utara pulau sotus. Dengan kata lain adalah, Teleportasi.
“Haaahhhh…”*suatra tarikan nafas
“Vin! Kamu nggak apa-apa?”
“Ka..Kamu kok bisa?”
“Iya Vin! Aku bisa.”
“I..Ini kamu gimana caranya?”
“Nggak tahu juga sih!”
“Hah?”
“Iya! Aku tadi cuman iseng aja. Eh tapi, taunya emang berhasil haha…”
“Kamu bisa teleportasi?”
“Kayaknya gitu sih! Tapi aku nggak nyangka juga sih sebenernya, kalau bisa ngelakuin ini.”
“Tapi gimana caranya?”
“Caranya sih gampang aja.”
“Ini bukan mimpi kan Cass?”
“Yah bukanlah Vin!”
“Tapi kok!”
Plakk…
“Auchh…”*Suara kesakitan
“Gimana? Udah percaya sama aku?”
“Tapi kenapa kamu nampar aku sih!”
“Supaya kamu percaya kalau ini tuh bukan mimpi.”
“Sakit banget tahu Cass!”
“Hehehe… sorry! Tadi aku kalap.”
“Enak aja bilang sorry.”
“Yah lagian kamu sih! Masa kamu anggap kekuatan aku mimpi sih!”
“Hah? Kamu emangnya nggak ngerasa kaget atau takut gitu? Bisa-bisanya kamu banggain itu.”
“Yah harus dibanggain dong Vin!”
“Emang kamu tuh aneh yah Cass!”
“Kenyataannya emang aku aneh kok Vin, hahaha…”
“Dih! Dasar cewek stress.”
“Nggak Cass! Nggak, aku gak bilang apa-apa.”
“Aku denger loh vin kamu ngomong apa barusan.”
“Aku cuman bilang kamu cantik kok.”
“Dasar mulut buaya! Kelihatan tahu bohongnya.”
“Emang kelihatan yah Cass, kalau aku bohong?”
“Jelas kelihatan dong Vin! Jelas banget”
“Heheh… sorry!”
Kedua orang itu tidak memperlihatkan kecurigaan sedikitpun terhadap hal yang telah mereka lakukan, bahkan sebaliknya.
Mereka berdua membuat hal tersebut sebagai bahan candaan, dan lebihnya lagi, cassy membanggakan kemampuan teleportasinya itu.
Dengan teleportasi yang dilakuan Cassy, akhirnya mereka berdua telah sampai di depan sebuah toko supermarket yang menjual berbagai macam makanan ringan dan sebagainya.
Kevin beserta Cassy lalu masuk ke dalam setelah usai berbincang cukp lama di depan pintu supermarket itu.
Setelah mereka berdua berdiri di dalam, terlihatlah beberapa rak makanan yang saling terpisah sesuai dengan jenisnya masing-masing.
Harum semerbak dari roti yang baru saja diangkat dari panggangan tercium pekat, melintasi sekitar lubang hidung Kevin juga Cassy, sehingga membuat keduanya terlena akan kenikmatan dari roti panggag itu.
“Wihh… enak banget baunya Vin!”
“Iya Cass! Baunya enak yah.”
“Ayo Vin! kita ke sana dulu.”
“Kamu mau beli roti?”
“Iya! Aku udah nggak bisa nahan rasa lapar. Perut aku juga dari tadi udah bunyi.”
“Hahaha…”
“Buruan Vin! Aku nggak nyuruh kamu ketawa kayak gitu.”
“Iya..iya! sabaran dikit dong!”
“Ayo!!!”
“Iya! Yuk kita pergi.”
Karena aroma harum roti panggang itu, Cassy memutuskan untuk pergi ke tempat di mana roti itu dihidangkan demi memuaskan rasa lapar juga dahaganya yang bergejolak sedari ia masuk ke dalam supermarket itu.
Kevin berjalan tak beraturan karena Cassy yang kini berada di hadapannya itu, terus saja menarik lengan bajunya agar segera melangkahkan kakinya menuju tempat roti yang berada di sudut ruangan supermarket itu.
Setelah berjalan dengan tergesa-gesa, mereka berdua telah sampai di tempat roti panggangan itu. Tempat itu hanya berupa sebua toko roti kecil yang dilengkapi oleh rak-rak besi berisi penuh akan hidangan roti panggang dengan berbagai macam jenis topingnya, mulai dari manis hingga asin.
Toko roti kecil di dalam supermarket itu juga menyediakan sederet kursi dan meja untuk keperluan para pelanggannya.
Tempat itu bukan hanya menghidangkan menu roti saja, akan tetapi di sana juga menyediakan menu berupa secangkir minuman manis mulai dari panas hingga dingin, layaknya bakery shop pada umumnya.
Setibanya mereka di sana, Cassy lantas beranjak menuju rak-rak berisi roti dengan berbagai macam toping itu diekori oleh Kevin yang berada di belakangnya.
Ia berada di rak baris kedua yang di mana rak itu menyediakan sebuah roti dengan diisi ataupun dilumuri oleh cokelat hitam pekat khas Belgia.
Dengan sebuah nampan pastik yang tergenggam erat di tangannya, ia mengambil beberapa potong roti di rak itu, lalu beranjak pergi menuju kasir untuk memesan minumannya.
“Misi mas!”*Cassy
“Iya kak ada apa? Mau pesan minum dulu atau langsung bayar roti yang kaka sudah pilih?”*Kasir
“Saya mau pesan minum dulu mas!”*Cassy
“Kakak mau yang mana? Kami sudah menyertakan menunya di papan atas, silahkan dipilih.”*Kasir
“Hmm…
Saya pesen coffee latte satu ditambah whip cream sama yang satunya lagi, saya pesen hot chocolate aja.”*Cassy
“Ada pesanan lainnya kak?”*Kasir
“Udah, itu aja mas.”*Cassy
“Kalau gitu silahkan ditunggu yah kak.”*Kasir
“Iya mas!”*Cassy
“Paling lama pesanan kakak akan diantarkan 10 menit ke depan.”*Kasir
“Iya mas! Jadi, totalnya berapa mas?”*Cassy
“Kakak mengambil dua roti‘bluberry rocky’ dan tiga roti ‘almond blanc’ dan juga memesan satu coffee latte dan satu hot chocolate, jadi semuanya berjumlah Rp: 324.000.00 (tiga ratus dua puluh empat ribu rupiah)”*Kasir
“Kalau debit bisa mas?”*Kevin
“Bisak kak! Kami telah menyediakan ’Electronic Data Capture’ agar memudahkan pengunjung yang membawa kartu debit atupun kredit”*Kasir
“Kalau gitu, nih kartu saya!”*Kevin
“Baik kak.”*Kasir
Kevin angkat bicara setelah ia mengekori cassy sedari mereka masuk ke dalam area toko roti ini. Ia membayar roti dan minuman yang di ambil oleh Cassy dengan menggunakan kartu debit, mungkin karena uang cash yang ia simpan di dalam dompetnya tidak cukup untuk membayar nominal yang disebutkan oleh kasir.
Setelah memasukkan nominal yang sesuai lalu mengesek kartu debit yang diberikan Kevin, kasir tadi lalu memberikan mesin EDC kepada Kevin tuk mengonfirmasi pembayaran sehingga dapat di nyatakan lunas.
Kevin beserta Cassy lalu beranjak dari meja kasir menuju tempat di mana toko itu meletakkan kursi dan meja untuk para pengunjung, agar mereka dapat memakan roti dengan tenang di sana juga tak lupa menikmatinya.
Sedari meninggalkan kasir lalu mencari tempat terbaik di toko itu untuk memakan santapan mereka, akhirnya kedua orang itu duduk nyaman di sebuah kursi yang dilengkapi meja juga sebuah pot tanaman dengan tumbuhan kaktus di atasnya.
“Cass! Kamu mau ke mana habis ini?”
“Gak tahu! Emangnya kenapa?”
“Kamu nggak pernah kepikiran soal Pak Jeffry sama Tiany?”
“Ohh iya yah! aku lupa kalau mereka masih di hutan, jadi rencana kamu apa Vin?”
“Kita kembali ke hutan aja Cass habis ini! kasian tahu Pak Jeffry sama Tiany berduaan di sana.”
“Kalau gitu kita balik aja. Sekalian jangan lupa bawain mereka makanan.”
“Bukannya di mobil banyak yah Cass? Kenapa kamu mau bawain lagi.”
“Iya yah! aku lupa Vin! Soalnya kepalaku nggak bisa ingat detail kejadian di hutan tadi.”
“Ohh…”
“Tapi kita teleportasi aja yah Vin! Buang-buang waktu dan tenaga aja kalau kita naik taksi atau
mobil.”
“No!!! jangan Cass, kamu belum tahu soal baik buruknya kemampuan kamu itu.”
“Emang apa hubungannya Vin?”
“Masa kamu nggak ngerti.”
“Aku gak ngerti Vin!”
“Maksud aku tuh…
Kamu kan punya kemampuan nih, pastinya dong selalu ada sisi baik dan sisi buruk dari
kemampuan kamu itu.”
“Ohh…
Aku paham Vin! Maksud kamu itu, kemampuan aku ada efek sampingya kan?”
“Nah! Semacam itu Cass. Jadi kamu sebaiknya jangan pakai kemampuan kamu buat hal-hal yang gak penting sama sekali.”
“Ohh…
Ok! Pak Kevin heheh…”
Sembari menunggu minuman yang di pesan Cassy di antarkan, kedua orang itu terus saja mengobrol dan sesekali berdiskusi tentang rencana mereka yang akan dilaksanakannya sehabis berbelanja di supermarket ini.
Selamat membaca para readers 😊😊😊
Salam dari author 😊🙏😊
Kalau ada yang salah mohon di kritik yah😉
Masukannya juga diperlukan untuk membantu memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada 😁
See you in the next episode 😃😃😃