
Senja berganti malam, itulah waktu yang saat ini dipakai oleh salah satu pulau besar dari banyaknya pulau di berbagai Negara, Pulau Sotus.
Kini, waktu di sana hampir memasuki jam enam, sehingga dapat di nyatakan bahwa matahari telah berada di penghujung laut barat siap tuk terbenam dan digantikan oleh rembulan sang pemancar kedinginan.
Di kedalaman hutan hujan yang dingin, nampak Kevin dari dalam kedai roti tengah kebingungan terselubung akan ketakutan bercampur ke-khawatrian.
Ia sedari beberapa menit lalu telah goyah dari ketertarikannya pada buku-buku tua yang berjejer rapi di atas rak kayu berwarna cokelat keemasan di dalam kedai itu, dan saat ini dirinya tengah sibuk berusaha tuk menyadarkan teman-temannya beserta Pak Jeffry yang sepertinya terhipnotis dengan benda-benda di dalam bangunan itu.
Tatapannya nanar tak terjelaskan, berapa puluh upaya telah ia kerahkan namun tak kunjung membuahkan hasil.
Keputus asa'an terhadap perjuangan yang ia lakukan telah datang silih berganti.
Secuil harapan di dalam hati telah hilang terganti oleh kepasrahan, kini Kevin hanya dapat duduk bersimpuh lemah di atas kursi berbahan dasar kayu, memikirkan nasibnya yang di ambang batas.
Ia tergulai dalam cahaya remang dari sinar jingga matahari yang sebentar lagi akan terbenam, berpeluh akan tekanan, sembari memikirkan solusi dari masalahnya saat ini.
Dua tiga ide terpintas begitu saja, namun ia tak pedulikan karena telah tahu kebusukannya.
Hingga saat keberaniannya terkumpul dari pecahan harapan di remah hati yang tergeletak, akhirnya Kevin berasumsi tuk memecahkan bahkan terbesit rasa amarah yang mengobarkan api tuk menghancurkan benda-benda di dalam ruangan itu.
Dengan berpegang terhadap amarahnya, kevin lalu mengambil sebuah tongkat bisbol yang kekuatannnya cukup tuk menjebol dinding batu, dan berniat untuk mengancurkan segala sesuatu yang menjadi pusat perhatian kedua temannya juga Pak Jeffry.
Ia mulai bangkit dan melangkah perlahan sembari mengangkat tongkat bisbol pegangannya menuju sasaran pertamanya, Cassy.
Nafasnya berat bersuara, matanya seolah mengobarkan api amarah, namun sayup-sayup dalam hati kecilnya, ia merasa cemas dan khawatir.
Tak peduli akan godaan yang mebuatnya linglung merasa bersalah.
Kevin, dengan segenap tenaga mencoba tuk memukul barang-barang di hadapan cassy yang di mulai dari vas bunga berwarna putih berlukiskan bunga anggrek.
“pringg!!!”
Suara pecahan vas bunga terdengar begitu bising setelah Kevin memukulnya dengan tongkat bisbol, alhasil Cassy yang sedari tadi duduk terpaku di depannya begitu terkejut hingga ia merasa jantungnya hendak tuk jatuh.
Rasa syukur juga kelegan sontak menusuk menyelubung ke dalam hati, tanpa belas kasih kepada ketakutan maupun kecemasan tadi.
Tanpa sadar akan keadaan, air mata Kevin lantas bercucuran ditambah dengan isak yang beberapa kali disambut oleh telinga.
Cassy nampaknya telah sadar dan mlai menguasai dirinya setelah Kevin menghancurkan ataupun melempar beberapa barang lagi setelah vas tadi.
Dengan demikian, lantas mereka saling menatap dan merasa bahagia, disambung oleh segelintir ucap kata bernada parak dari Kevin.
“Cass! Kamu udah sadar?”
“Loh Vin? Aku kenapa?”
“Kamu nggak inget?”
“Nggak, emangnya aku dari tadi ngapain? Dan kita kenapa bisa ada di sini sampai kemalaman?”
“Udah! Jangan ngeluarin pertanyaan dulu, lebih baik sekarang kita sadarin Pak Jeffry sama Tia dulu.”
“Hah? Me..mereka kenapa vin? Kok kayak aneh gitu?”
“Nanti aku cerita’in, yang penting sekarang kamu bantu aku yuk!”
“O..oke, Vin!”
Bingung dengan keadaan adalah hal yang kini Cassy rasakan, begitu banyak pertanyaan tentang situasi saat ini, namun ia hanya dapat menumpuknya selaras memendamnya di lubuk hati kecilnya.
Meski begitu, Cassy tak punya pilihan lagi selain mengiyakan ucapan Kevin yang terdegar begitu mustahil dalam dunia nyata, walau dirinya telah mempercayai suatu kemustahilan berupa keajaiban semasa kecilnya.
“Kalau gitu, sekarang kamu ambil sesuatu yang bisa ngehancurin benda-benda yang ada di depan Pak Jeffry sama Tia! ”
perintah Kevin kepada Cassy yang wajahnya memancarkan sebuah kebingungan terhadap hal ini.
Akan tetapi lagi-lagi ia hanya dapat menyetujui suruhan Kevin dan lantas mencari benda tajam ataupun tumpul yang sekiranya dapat ia gunakan tuk meghancurkan benda-benda di dalam bangunan itu.
“I..iya Vin! Tapi aku nggak tahu apa yang harus aku pakai.”
“Cari aja! Yang penting bisa buat mukul.”
“Kalau gitu, gimana dengan kayu balok itu?”
“Pilihan bagus Cass!”
Cassy berkata sembari menunjuk sebongkah kayu dengan panjang sekitar ukuran tangan Kevin.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Cassy pun bersegera mengambil sebongkah kayu itu kemudian menapaki langkah kaki bekas pijakan Kevin dengan bermaksud tuk mengikutinya dan berlindung di belakang pundak lebarnya.
Mereka berdua berjalan dengan cepat meski langkahnya ia ambil dengan begitu hati-hati.
Dari luar bangunan kedai roti tempat Kevin dan Cassy saat ini berada, nampak sang rembulan telah menyinari kegelapan hutan belantara milik Pulau Sotus dengan sinar putihnya yang terasa begitu lembut, maka demikian bahwa keindahan senja telah berakhir. Akan tetapi sayangnya, cahaya lembutnya itu tak dapat menembus kelebatan hutan yang rata-rata pohonnya sangat besar dan berukuran tinggi.
Hal ini sengaja di lakukan oleh para pemerintah pusat dan seluruh investor karena mereka berasumsi tuk melebatkan hutan yang di mana kini telah menjadi pusat untuk tempat pelestarian alam itu, agar tanaman dan hewan-hewan di dalam sana dapat tinggal dan hidup dengan nyaman.
Malam ini terlihat sedikit berbeda daripada malam biasanya, hitam berkerut.
Mungkin karena atmosfer bumi sedang bersedih sehingga awan-awan putih begitu tebal melintasi langit dan menutupi sinar rembulan juga cahaya sang bintang malam, dan megakibatkan pencahayaan di distrik hutan hujan itu berkurang drastis.
Dengan keadaan malam yang demikian, Kevin dan Cassy sedari tadi berusaha mencari sumber penerangan yang dapat mereka jadikan sebagai alat tuk melihat ruangan di dalam kedai itu dengan jelas karena saat ini mereka seolah hanyut terpendam dalam kegelapan yang begitu menggigil dan membekukan badan.
“Vin! Ini udah malem loh.”
“Kenapa? Kamu nggak bisa ngeliat?”
“Iya Vin! Gimana dong nih? Aku takut!
“Udah! Nggak usah takut, kan aku ada.”
“Tapikan sekarang aku nggak bisa ngelihat kamu Vin!”
“Kalau gitu, tunggu yah! jangan jalan mondar mandir, aku mau nyari sakelar.”
“Aku nggak bisa nunggu sendirian!!! Aku takut Vin!”
“Loh! Pipi kamu kayak basah? kamu nangis yah Cass? Jangan nangis dong!”
“Aku nggak nagis! Aku cuman takut banget.”
“Ohh gitu... Gimana kalau kamu pegang tangan aku aja biar nggak takut?”
“Yaudah mana tangan kamu! Siniin.”
“Nih tangan aku!”
“Tunggu! Kok tangan kamu bisa anget?”
“Bukan tangan aku yang anget! Tapi tangan kamu yang kedinginan Cass!”
“Emangnya iya?”
“Iya! Kamu nggak percaya?”
“Nggak!”
“Yaudah! Kalau kamu mau gitu.”
“Hehehe… aku becanda Vin! serius amat nanggapinnya.”
Cassy yang sedari tadi menggigil ketakutan, akhirnya ia dapat melepas tawa karena ulah dari semangat dan dorongan yang Kevin suguhkan.
Dan dengan begitu, Cassy juga dapat melepas rasa taktutnya di tambah oleh kehangatan tangan Kevin yang saat ini ia genggam erat seolah tak ingin lepas.
“Biar kamu makin percaya kalau tubuh kamu itu dingin, coba deh kamu pegang pipi aku.”
“Hah? Apa hubungannya?”
“Udah! Kamu nurut aja!”
“Yaudah deh…”
Selepas Cassy mengiyakan perkataan Kevin, ia kemudian menempelkan tangannya di pipi sebelah kiri orang yang kini memberinya kehangatan.
Tanpa Cassy pernah duga, ia merasa seperti memegang kulit bayi yang begitu lembut dan sangat hangat sehingga tangannya merasa begitu nyaman sehingga tak ingin ia lepaskan untuk sesaat.
“Sekarang gimana?”
“Gimana apanya?”
“kamu udah percaya sama aku?!”
“Iya aku percaya.”
“Ehh Cass! Btw kamu nggak mau nyari sakelar lampu buat ngeliat?”
“Coba aja dulu, siapa tahu ketemu.”
“Kalau gitu kita cari di sana aja gimana?”
“Ayo! tapi kita jalan barengan yah biar kamu nggak takut.”
“Oke! Tapi emangnya di sini tuh ada listrik?”
“Nggak tahu juga sih sebenernya. Tapi yah! coba aja dulu”
“Okedeh! Tapi vin, aku capek pegang ini kayu
“Simpan aja di sana, nanti kalau lampunya udah nyala, kamu bisa ambil lagi”
”Temanin aku buat nyimpen! Takut.”
“Dasar manja kamu.”
“Hehehe...”
Ruangan lantai bawah bangunan itu begitu lembab, dan di penuhi oleh debu sehingga membuat siapapun di dalamnya akan merasa sesak juga batuk ringan.
Akan tetapi Kevin yang saat ini tengah berjalan bersama Cassy dengan saling menggenggam tangan, tak merasakan hal demikian.
Mereka berjalan seolah berada di dalam ruangan gelap, namun di penuhi oleh seberkas cahaya putih yang asalnya entah dari mana.
Di dekat jendela sebelah timur, nampak sang rembulan sedang memancarkan cahanya yang sedari tadi tetutup oleh arakan awan.
Dengan cahaya rembulan, tercipta bayangan hitam yang menggambarkan detail dari jendela besar yang tertempel di dinding ruangan kedai itu.
Bayangan itu tak sengaja di lihat oleh Cassy sehingga ia berinisiatif tuk mendekat agar mendapat sedikit cahaya
“Vin! Di situ ada cahaya.”
“Mana cass?”
“Di jendela sebelah kanan kamu.”
“Ohh yang itu.”
“Iya yang itu! Kita kesana yuk buat cari sakelar, siapa tahu dapet.”
“Emangnya di sana ada cass?”
“kayaknya ada deh Vin! Soalnya aku lihat dari sini ada benjolan gitu di dinding deket sana”
“ohh! Yaudah yuk ke sana.”
“Tapi jangan lepasin tangan aku!”
“Iya aku nggak bakal lepasin tangan kamu kok.”
Kedua orang itu berjalan dan tiba di sana, tak hirau akan kegelapan yang menjeritkan jiwa. Bagi mereka, seolah kini tak ada lagi ruang bagi rasa takut di hati karena telah diisi oleh besarnya sebuah rasa yang begitu manis namun tak terdapat penjelasan atasnya.
“Vin! Coba kamu rabah bagian sana, ada nggak?”
“udah! Tapi nggak ada.”
“Kalau gitu, coba kita geser ke kanan lagi”
“Tapi cahayanya nggak dapet.”
“Biarin aja.”
“Ohh! Yaudah, tapi kamu udah nggak takut lagi cass?”
“Iya Vin! Aku udah nggak takut lagi berkat kamu.”
“Beneran?”
“Iya vin! Aku serius udah gak takut”
“baguslah!”
“Tapi kamu nggak usah norak dan kegeeran yah!”
“siapa juga yang kegeeran.”
“Bagus deh kalau kamu nggak ngerasa! tapi kamu jangan ngomong terus dong! Ayo buruan cari di situ”
“iya..iya!”
Kevin sedari tadi merasa biasa saja, tak ada perasaan takut ataupun cemas seperti saat ia belum menyadarkan Cassy, akan tetapi entah kenapa di waktu ini jantungnya terasa berdetak begitu cepat.
Mungkin karena teman sepermainannya itu kini berada di sampingnya, namun yang menjadi masalah adalah ia merasakan perbedaaan, padahal sebelumnya mereka juga sangat sering berdekatan seperti sekarang, dan entah kenapa saat ini Kevin merasakan sesuatu yang amat berbeda daripada sebelumnya, sesuatu yang membuatnya merona dalam gelap di dalam balutan malam ini.
“Gimana, ada nggak?”
“Tunggu aja!”
“…”
“Ini cass! Aku udah dapet.”
“Dapat apaan?”
“Nggak tahu, tapi aku rasa kayak semacam tombol gitu deh.”
“Yaudah tekan aja!”
“Aku nggak bisa.”
“Loh, kenapa?”
“Tombolnya banyak banget dan gak ada cahaya, jadi aku gak bisa lihat.”
“Coba pakai senter handphone kamu.”
“Kalau emang senter hp aku bisa nyala Cass! Aku nggak bakalan gelap-gelapan kayak gini sama kamu.”
“Oh iya yah! aku lupa hehehe...”
“Ketawa aja kamu!”
“Btw aku bawa hp loh, tunggu dulu yah! biar aku nyalain senternya ”
“Jenapa nggak ngomong dari tadi sih Cass! Kan kita repotnya udah dari lima belas menit yang lalu.”
“Yah kamu sih nggak ngomomg! Tadi juga aku ketakutan, jadinya aku lupa deh”
“Kalau gitu buruan nyalain”
“Iya…”
‘Tik’
Seketika senter dari telepon Cassy menyala, dan menghilangkan sebagian kecil kegelapan di dekat mereka.
Senter itu Cassy gunakan tuk menerangi tembok tempat beberapa tombol yang tadi di sebutkan oleh Kevin.
Alhasil, akhirnya mata Kevin dapat melihat dengan jelas tombol-tombol itu dan mulai mencoba tuk menekannnya satu per satu dari mereka.
Tombol-tombol itu Kevin tekan secara perlahan, namun tak ada satupun dari mereka yang dapat menjadi sebuah tombol bagi keberntunga Kevin juga Cassy.
Hingga sampai kepada tombol ketiga dari terakhir setelah ia mencoba tuk menekan semua tombol di jejeran depan.
Kevin lalu menekannya dan membuat lampu yang ada di ruangan tengah lantai satu bangunan itu menyala dan menepis seluruh kegelapan.
Akan tetapi, suatu keanehan terjadi seketika lampu itu menerangi ruangan yang kevin dan cassy pijaki saat ini.
“Akhirnya nyala juga!”
“Akhirnya! Ayo cass kita sadarin Pak Jeff sama Tia.”
“Tapi Vin! Itu…”
“itu apa?”
“Pak Jeff sama Tiany nya mana, kok hilang?”
“Hah? Hilang?”