
Malam hari begitu indah jika di pandang dengan cermat, di tambah oleh lukisan bintang dan sinar terang sang bulan.
Awan pun tururt berpartispasi meski dirinya tak Nampak dalam kegelapan karena warna putihnya yang begitu lembut, tenggelam dalam gelapnya malam.
Binatang siang hari, terlelap jika berada di kegelapan malam, namun sebaliknya, para binatang maupun serangga yang biasa bekerja di malam hari dan tak terlelap dalam kedinginannya, pasti akan tertidur dan beristirahat sepanjang matahari menghangati atmosfer bumi.
Dari kabar angin yang membawa duka juga suka, tersimpan di dalamnya sebuah kenangan indah dari sekian banyaknya kenangan buruk.
Angin itu terus berlarian menyepu dan berhembus dari pagi hingga malam tanpa pernah berpikir tuk berhenti sejenak, karena ia tahu bahwa dirinya sangat dibutuhkan oleh para makhluk hidup yang menggantungkan hidup mereka padanya.
Di sebuah toko apotik kecil yang keberadaanya entah di mana, nampak di dalamnya seorang pelayan kostumer bersama dengan dua remaja yang wajahnya terlihat begitu kebingungan.
Dua remaja itu bukan lain adalah Kevin dan juga Cassy.
Saat ini kedua orang itu tengah berada di sebuah apotik yang tak pernah mereka lihat ataupun kunjungi sebelumnya, meski hal demikian bukanlah hal utama, karena kasus terpenting dari situasi seperti saat ini adalah bagaimana cara mereka berada di tempat seperti itu secara instan, terlebih sebelumnya mereka berdua telahjelas ternyatakan sedang berada di distrik hutan hujan.
“Maaf sebelunya kak! Tapi kalau boleh saya tahu, kakak dari mana yah?”*Pelayan
“Ehm…
saya tadi barusan dari hutan.”*Kevin
“Maaf kak? Saya tidak mengerti apa yang kakak bicarakan.”*Pelayan
“Ehh vin! Kamu jawab apaansih!”*Cassy
“Yah terus mau di jawab apa cass? Kan emang kita dari…”*Kevin
“Sttss!!! Kamu jangan ngomongin itu dulu.”*Cassy
“Tapi cass…”*Kevin
“Udah! Kamu diem aja, biar aku yang ngomong”*Cassy
”Yaudah huh!”*Kevin
“Maaf kak mengganggu, tapi saya butuh jawaban dari kakak untuk memudahkan saya agar bisa menemukan rumah atau tempat tinggal kakak.”*Pelayan
“Hehe… maafkan teman saya mba! Dia emang gak nyambung.”*Cassy
“Gak apa-apa kok! Saya maklum karena mungkin temannya lagi tidak konsentrasi.”*Pelayan
“Iya mba! Bisa di bilang gitu hehe…”*Cassy
“Kalau begitu, boleh saya tahu kakak tinggalnya di mana? Atau tadi barusan lewat jalan mana sampai bisa tersesat?”*Pelayan
“Iya mbak kami memang lagi tersesat, tapi saya dan teman saya bukan tinggal di dekat daerah sini.”*Cassy
“Ohh jadi gitu! Tapi…”*Pelayan
Potong Cassy saat pelayan itu hendak tuk bertanya kembali soal asal-usul mereka yang tak jelas asalnya dari mana dengan menjawab asal dan menyatakan bahwa mereka adalah seorang turis yang berasal dari daerah lain
“Kami turis mba! Kami turis, dan lagi nyari hotel buat penginapan!”*Cassy
“Ohh…
Kalian turis yah? kenapa nggak bilang dari tadi, kan saya ngiranya kakak sama temennya tinggal di sini.”*Pelayan
“Hehe…
Maaf mba! Kita juga lupa tadi.”*Cassy
“Kalau gitu mau saya tunjukan hotel yang terdekat dari sini?”*Pelayan
“Iya mba! Boleh. Tapi mba, saya boleh nyanya gak?”*Cassy
“Boleh! Ada pertanyaan apa kak?”*Pelayan
“Saya mau nanya, ini di daerah mana yah?”*Cassy
“Ohh…
Kalau ini di daerah utara mba! Jauh dari kota pusat.”*Pelayan
“Hah!!! Ini masih di sotus?”*Kevin
“Iya kak, ini masih di pulau sotus tapi bagian utara!”*Pelayan
“Jadi ternyata ini daerah utara?”*Cassy
“Haha…
lya kak, ini sotus sebelah utara”*Pelayan
Setelah perbincangan panjang antara sang pelayan kostumer toko apotik juga Cassy, akhirnya mereka menemuka titik terang mengenani keberadaan mereka saat ini.
Tanpa pernah tersangka oleh keduanya, Kevin dan Cassy ternyata berada di salah satu toko apotik pulau sotus bagian utara, yang di mana bagian itu adalah suatu anakan dari berdirimya pusat kota bagian timur hingga selatan.
Mereka telah menemukan kebenara tentang keberadaannya, namun hal yang paling sulit tuk di tebak adalah, bagaimana cara Kevin juga Cassy dapat sampai ke tempat ini.
Mungkin jawabannya hanya dapat di terka-terka walau tak masuk akal, karena tak ada satupun jawaban yang dapat menjelaskannya secara ilmiah ataupun fakta, bahkan mustahil apabila dikatakan sebagai mimpi ataupun halusinasi belaka.
“Jadi…
Apa kakak mau saya antar?”*Pelayan
“Ya? oh! Nggak usah mba, saya bisa sendiri.”*Cassy
“Ohh…
Kalau gitu mau saya tunjukin jalannya aja gimana? Kan kakak turis, nanti kalau jalan tanpa tahu arah, bisa tambah hilang.”*Pelayan
“Kalau gitu saya mohon bantuannya mba!”*Cassy
“Iya! Tapi saya tinggal sebentar yah, karena mau ambil peta buat kalian.”*Pelayan
“Iya mba! Makasih.”*Kevin
“Sama-sama”*Pelayan
Pelayan itu tersenyum kepada Cassy juga Kevin yang sedari terdiam menahan keterkejutan di dadanya, lantas berbalik dan berjalan menuju sebuah ruangan kecil di balik pintu yang letaknya berada di samping lemari tempat penyimpanan obat-obatan.
Karena sadar berada di daerah utara, Cassy sengaja menolak bantuan sang pelayan yang di tawarkan padanya, karena merasa bahwa ia dan Kevin tidak terlalu memerlukan bantuan tersebut.
Cassy menolaknya bukan karena merasa tak nyaman atau enggan tuk di bantu, namun ia tidak ingin merepotkan sang pelayan toko apotik itu dengan mengantar dirinya bersama Kevin ke sebuah penginapan tuk beristirahat setelah mengalami begitu banyak hal yang melelahkan dan memeras tenaga.
“Cass! Kamu bukannya tadi bilang sakit perut yah?”
“Iya, emangnya kenapa? “
“Kita kan ada di apotik, kamu nggak mau ambil obat sakit perut?”
“Oh iya yah!”
“Ya udah aku ambilin.”
Kevin pergi setelah berkata kepada Cassy bahwa ia akan mengambil obat pereda sakit perut di salah satu lemari obat-obatan yang berjejer rapi di sudt-sudut ruangan.
Tak lama setelahnya, Kevin lantas berjalan kembali menuju kursi yang ditempati oleh cassy dan dirinya saat sang pelayan baik hati tadi mempersilahkan mereka.
“Nih obat kamu! Udah aku bayar sama kasir.”
“Makasih Vin!”
“Iya, sama-sama!”
“Tapi ngomong-ngomong kamu kok dari tadi diem aja sih?”
“Gimana aku nggak diem kalau kamu bicara terus dari tadi.”
“Hehe…
Kan aku tadi cuman ngeladenin mbaknya.”
“…”
“Eh tapi…
Kamu nggak kaget gitu, kalau kita ada di utara?”
“Aku kaget bukan gara-gara tahu kalau kita itu ada di utara, tapi aku kaget karena kita ada di sini.”
“Iya juga sih! Hmm…
Kayaknya kita bisa teleportasi deh Vin.”
“Kamu lagi becanda yah Cass?”
“Aku serius vin!”
“Loh! Kok kamu bisa tiba-tiba sakit?”
“Yah gara-gara kejadian aneh hari ini.”
“Udah Vin!
Kamu nggak usah pikirin itu, nanti jadinya kamu bisa stress loh!”
“Terus mau gimana Cass? Solusinya apa? ”
“Hmm…
kalau aku sih punya solusi.”
“Apa solusi kamu?”
“Yah solusi aku tuh, kamu percaya aja kalau kita lagi beruntung atau emang bisa teleportasi.”
“Haduhh!!!
Bisa gila aku Cass!”
“Hahah…
Ada-ada aja kamu vin!
Eh tapi kayaknya ada sesuatu deh.”
“Apaan?”
“Aku ingat kalau aku tuh emang lagi mikir buat ke apotik, pas kamu buka pintu di bangunan sana.”
“Hah? Kamu seriusan?”
“Iya vin! Aku serius, aku inget banget.”
Cassy mengutarakan pendapatnya juga solusi yang ia pikirkan, namun Kevin sendiri tak dapat menerima perkataan tersebut karena ia masih teguh untuk berpikir secara masuk akal juga rasional, meski hatinya telah berkata lain dan percaya begitu saja dengan perkataan Cassy tadi.
Tak lama setelah Kevin dan Cassy berbincang lalu terdiam kembali, sang pelayan yang membantu mereka sedari tadi, telah datang dari balik pintu di samping salah sau lemari obat-obatan itu dengan membawa secarik kertas putih berupa peta anak kota pulau sotus sebelah utara.
Sesampainya pelayan itu di samping kevin juga cassy, mereka bertiga lalu kembali membuka pembicaraan.
“Ini kak petanya!”*Pelayan
“Ah iya!
Makasih banyak yah mba! Udah bantu kami”*Cassy
“Iya sama-sama! Saya juga senang kok bisa membantu kalian berdua”*Pelayan
“Maksasih mba!”*Kevin
“Iya!”*Pelayan
“Kalau gitu kami berdua pergi dulu ya mba!”*Cassy
“Oh!Silahkan, jangan sampai tersesat lagi yah.”*Pelayan
“Iya mba! Kita nggak akan ke sesatan kok, kan mba udah kasih peta.”*Cassy
“Haha…
Iya juga, maaf saya lupa. Tapi kalian harus tetap hati-hati, karena di daerah sekitar sini tuh lagi banyak kasus gitun dan rawan banget kalau masalah perampokan.”*Pelayan
“Iya mba pasti! Kita bakal hati-hati kok.”*Cassy
“Maksih mba atas informasinya.”*Kevin
“Gak usah terima kasih.”*Pelayan
“Baik! Kalau gitu kami pergi dulu yah mba! Sampai jumpa lagi”*Cassy
“Iya, sampai jumpa lagi!”*Pelayan
Selepas berpamitan, Kevin beserta Cassy lantas berbalik lalu melangkah hendak tuk keluar dari toko apotik ini.
Selagi kedua orang itu melangkah, pelayan yang membantu mereka masih saja memandangi punggung Kevin juga Cassy secara terus menerus sembari mengembangkan senyum manisnya, seolah menyiratkan bahwa ia berkeinginan tuk mengantar mereka dengan senyum juga perhatiannya.
Tidak butuh waktu lama bagi kevin dan juga cassy tuk melangkahkan kaki mereka dan keluar dari tempat itu. Dan kini mereka berdua telah berada di depan toko itu sambil berhenti sejenak untuk melihat dan memeriksa peta agar mereka tahu jalan yang akan ditempuhnya nanti.
“Vin! Buka dong petanya.”
“Iya Cass! Tapi kamu mau ke mana dulu?”
“Sebaiknya kita cari hotel dulu deh.”
“Tapi emangnya kamu nggak laper?”
“Aku lapar sih tapi, di sini ada toko?”
“Ada nih di peta! Tapi kita harus jalan dulu.”
“Jauh nggak?”
“Nggak kok! Gak jauh-jauh amat.”
“Yaudah yuk! Eh tapi kamu bawa uang?”
“Iya! Aku kebetulan lagi bawa dompet.”
“Untung aja kamu bawa.
Kalau nggak, kita pasti udah jadi tunawisma tidur di jalan.”
“Kalau aku sih emang suka bawa dompet, karena kalau jalan pasti aku mau beli sesuatu.”
“Ohh…
kamu emang beda yah Vin!”
“Beda kenapa?”
“Yah beda aja, soalnya kan rata-rata tuh kalau cowok pasti nggak suka belanja.”
“Kan nggak semuanya laki-laki kayak gitu Cass!”
“Iya juga sih!”
“Haha…
Kamu suka berperasangka buruk sih Cass! Jadinya kan pikiran kamu juga selalu buruk.”
“Kamu ngeledek aku?”
“Nggak!”
“Cihh! Tapi ngomong-ngomong soal uang, kamu bawa berapa banyak?”
“Kalau uang tunai aku nggak bawa banyak, tapi aku masih punya dua kartu debit.”
“Ohh...
Baguslah kalau gitu.”
Mereka berdua berbicara sembari berjalan menulusuri trotoar yang tak pernah terinjak oleh keduanya.
Kevin dan Cassy nampak begitu santai berbincang antara satu sama lain, seolah tak heran dan merasa tak peduli dengan hal yang mereka lalui har ini.
Mereka berdua berjalan dalam redupnya cahaya lampu jalan tanpa henti berbincang, membahas sebuah topik ringan yang tak memusingkan otak dan mengacak perasaan dalam hati.
Sejenak, kedua orang itu benar-benar lupa atas peristiwa yang menimpa mereka hari ini secara berangsur tanpa ampun.
Meski sebuah rasa yang masih tertinggal dari semua kejadian beberapa jam lalu, kevin juga cassy ternyata masih bisa mengembangkan senum lebar bahkan sempat tertawa dengan lelucon yang mereka lontarkan secara siling berganti.
Rasa sedih dan kelabu adalah hal yang wajar bagi setiap orang, namun tak dapat terpugkiri bahwa setelah kedua rasa yang memilukan hati itu berlalu, pasti dan tentu akan timbul rasa penerimaan dan juga kebahagiaan dalam jangka waktu panjang, walau datangya tak dapat di tentukan.
Karena semua adalah takdir, takdir yang tertulis di atas kertas putih dengan menggunaan tinta hitam pekat yang tak akan pernah terhapus ataupn tergantikan oleh cerita juga kisah lainnya.
Halo para readers 😊😊😊
Selamat membaca...
Kalau ada yang salah, mohon saran dan kritikannya juga masukannya yah☺️☺️😚
See you in the next episode
bye-bye 👋🤚