The McNaught

The McNaught
A new chapter



Bunyi alaram yang berdering, ditangkap paksa oleh gendang telinga. Seketika itu pula, Kevin terbangun dari lelap tidurnya dan terpaksa membuka kelopak mata yang amat sangat malas tuk terbuka untuk hanya sekedar mematikan alaram bising tersebut.


Kevin mengangkat tangannya dengan malas, lalu ia berikutnya mencari jam alaram yang berdering itu di atas meja agar dapat mematikannya.


Saat alaram tersebut terdiam, mata kevin akhirnya dapat melihat dengan jelas, dan terlihatlah seluruh penampakan kamarnya itu.


Jam yang berdiri tegak di meja samping tempat tidurnya itu menunjukan pukul 07:30 di mana saat ini ia seharusnya telah bersiap untuk menuju ke sekolah dan menempuh hari pertamanya di sana.


Dengan kekuatan yang terkumpul sedikit demi sedikit sedari ia terbangun dari tidurnya, Kevin kemudian melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian agar ia dapat mengambil beberpa potong baju dalaman dan juga sebuah handuk untuk ia gunakan saat dirinya basah akan air.


Di sebuah jendela besar yang di depannya terdapat sebuah meja dan juga bantal, sinar matahari terpancar dari luar masuk ke dalam lalu menembus kaca jendela tersebut, sehingga penerangan di dalam ruangan itu bertambah terang.


Setelah Kevin beranjak dari depan lemari tersebut, ia kemudian pergi menuju kamar mandi yang terletak di samping sebuah kaca besar seukuran tinggi manusia.


Kaca itu adalah sebuah hal wajib bagi diri Kevin, kaena ia sangat suka memandang dirinya di depan cermin, meski ia sendiri tak mengakui bahwa wajahnya itu sangatlah rupawan, bahkan wajah keturunan campuran antara ukiran wajah orang asli pulau Sotus dan jermannya itu dapat membuat seorang wanita langsung jatuh hati.


Di sisi lain pula, jauh di bawah kamar Kevin, terdapat ibunya yang kini tengah sibuk berlalu lalang mengecek semua keperluan anaknya itu.


Hari ini tampak akan begitu sibuk bagi seluruh siswa pelajar tahun akhir, karena hari ini merupakan hari pertama bagi mereka untuk masuk dan belajar di sekolah baru.


Namun Kevin sendiri terlihat berbeda dari yang lain, karena ia terlihat begitu santai dan seolah tak memikirkan beban apapun.


" Kevin! Kamu dari mana aja sih hah? "


teriak Ibu Kevin saat ia melihat anaknya itu menuruni tangga dengan santainya.


Mendengar teriakan Ibunya itu, Kevin lantas terkejut, karena di sambut oleh amarah ibunya pada pagi harinya yang cerah ini. Ia kemudian lantas menjawab dengan enteng seolah tak tahu apa-apa.


" Apa sih Mah? "


" Kamu tahu ini udah jam berapa Vin! Kamu emangnya gak kepikiran sesuatu? "


" Ini baru jam delapan pagi loh Mah! "


" Maka dari itu Vin! "


" Apa Mah? "


" Kamu tuh udah telat tiga puluh menit buat ke sekolah! "


" Oh iya yah! aku lupa kalau hari ini ada upacara penyambutan. "


" Nah! Kamu inget kan sekaranng? "


" Hehehe …


iya Mah! Kevin inget kok. "


" Terus kamu kok masih santai sih! Ayok buruan ke sini buat sarapan, biar nanti pas acara kamu gak kebelet pengen makan. "


" Iya Mah iya! Aku udah jalan cepat nih. "


Tangga yang di turuni Kevin memang dapat dilihat dari ruang makan, karena pembatasnya hanyalah sebuah gorden tebal berwarna cokelat keemasan, dan diikat di antara dua buah tiang besar.


Akan tetapi, jangan kira bahwa jarak di antaranya hanya beberapa langkah, karena dari ujung anak tangga utama yang melingkar itu, butuh puluhan langkah agar dapat sampai di depan meja makan di dalam rumah berbentuk istana tersebut.


Kevin berlari menuju meja makan, dan butuh beberapa detik baginya agar dapat sampai di sana.


Sesudahnya ia berlari akibat dari keterlambatannya, Kevin lalu sampai di depan meja makan yang di atasnya telah tersedia beberapa jenis menu makanan untuk sarapan pagi.


Ia kemudian duduk di salah satu kursi dari dua belas jejeran kursi yang saling berhadapan.


Kevin duduk tepat berhadapan dengan Ibunya, namun saat ia duduk nyaman di atas kursi, pandangannya seolah tak sempat ia berikan kepada ibunya walalu hanya sekedar tuk menyapa.


" Kamu mau makan apa Vin? "


tanya Ibu Kevin saat melihat anaknya itu tak memberikan pandangan.


Dan untuk mengalihkan fokusnya, ia bertanya kepada Kevin meski pertanyaan tersebut hanya sebuah alasan belaka.


" Roti aja Mah! soalnya kalau makan yang lain, pasti bakal lama. "


“Kalau gitu … ini nih rotinya! Mamah emang udah nyiapin buat kamu. "


" Thank you Mom! "


jawab Kevin setelah mendengar lontaran pertanyaan ibunya itu, sembari mengambil sepiring roti yangdi sodorkan oleh ibunya saat setelah ia menjawab pertanyaan tersebut.


Kevin memilih untuk mengisi perutnya dengan beberapa lembar roti yang telah di olesi selai cokelat kacang oleh Ibunya, bahkan saat ia tidak memintanya.


Mungkin Ibu kevin kali ini telah menebak apa yang akan di makannya dalam situasi darurat seperti ini.


Terlepas dari suasana riuh di rumah Kevin yang terjadi karena kelalaiannya.


Saat ini, di sebuah sekolah ternama pulau sotus, dengan luas yang bahkan mengalahkan kediaman besar keluarga adinata.


Sekolah tempat Kevin beserta Cassy dan Tiany di terima itu kini tengah begitu sibuk meyiapkan upacara penyambutan.


Tiang tiang di hias dengan sedemikian rupa, beberapa lampu Tumblr juga di pasang di beberapa tempat yang masih membutuhkan sedikit cahaya.


Di seluruh lorong, jalan bahkan trotoar di tempat parkir juga di pasangi sebuah spanduk untuk menampilkan semua siswa yang telah berhasil di seleksi dan terdaftar sebagai murid di kelas berbakat.


Tak lupa dengan ruang aula, ruangan itu kini telah di rancang dengan mengunakan tema modern namun memiliki nuansa di era tahun 90-an


Diantara spanduk-spanduk yang berisikan identitas siswa penghuni kelas ‘The United Of Special Gifted’ itu, terdapat tiga spanduk yang menampakkan identitas Cassy dan Tiany sebagai murid yang menempati peringkat pertama dan ke tiga.


Di tengah-tengah mereka berdua, atau orang yang menduduki posisi kedua adalah seorang anak laki-laki berambut cokelat, dengan mata berwarna biru seperti lautan, dan juga tampang yang sepertinya blasteran dari Eropa.


Laki-laki itu bernama 'Charles George Baron' yang nampaknya keturunan dari bangsawan inggris, namun gelar di akhir namanya itu adalah sebuah gelar keturunan yang terendah, dan bahkan berada di bawah gelar ‘Viscount’.


Gelar ‘*B*aron’-nya itu di turunkan melalui kedua orang tuanya, sehingga ia adalah seorang pemuda keturunan bangsawan asli dari inggris.


Tiga spanduk yang menjadi primadona acara itu bahkan di pajang di atas panggung utama ruang aula, sehingga para tamu undangan dapat dengan cepat mengenali Cassy, Tiany, dan juga pemuda ketrurnan bangsawan inggris itu.


Jika menanyakan spanduk yang diatasnya tertera identitas Kevin, maka spanduk tersebut dapat di jumpai oleh para tamu di samping pintu sebelum masuk ke dalam ruang aula.


Di samping kiri juga kanan pintu ruang aula sekolah itu, terpasang spanduk yang menyertakan identitas Kevin dengan bernyatakan gelar sebagai dominasi murid terfavorit.


Dari segi pandang Kevin, gelar tersebut ia tidak ketahui asalnya dan entah dari mana, karena dirinya sendiri merasa terlalu beruntung dan menjadi bingung akan takdirnya itu.


Akan tetapi, dari segi profesionalisme sekolah, alasan Kevin dinobatkan menjadi siswa penghuni kelas berbakat terfavorit adalah ia mendapatkan sebuah lembar kertas ujian yang berbeda dari lainnya.


Sebuah kertas soal yang di belakangnya tertempel barcode, namun barcode itu hanya dapat hanya dapat di scan oleh pihak berwenang dengan menggunakan sistem keamanan pribadi pihak sekolah.


Lembar kertas soal yang spesial itu tak hanya di terima oleh Kevin, melainkan kertas tersebut telah di sebar luaskan ke 300 tangan pendaftar dari dua ribu lebih peserta didik.


Saat mentari pagi mulai meninggi, seluruh para tamu undangan beserta siswa-siswa yang telah di terima di sekolah itu terus berdatangan secara berangsur-angsur tanpa henti, layaknya luapan ombak di tepi tebing.


Di salah satu dari ribuan orang itu, terdapat Kevin beserta Ibunya yang kini tengah terburu-buru masuk ke dalam sekolah akibat keterlambatan mereka.


Kevin dan Ibunya saat ini telah memasuki area taman sekolah itu, nampak di samping kiri dan kanan mereka juga banyak terdapat siswa lain yang mungkin datang terlambat seperti halnya Kevin.


Dengan langkah yang di ambil cepat, Kevin dan Ibunya itu akhirnya dapat sampai di dalam lobi.


Sudah beberapa kali Kevin ke sini, namun ia masih saja tak dapat menghilangkan decak kagumnya terhadap keindahan juga kemegahan sekolah yang layaknya kantor pusat bergengsi ini.


Ketika seseorang masuk melewati pintu kaca, maka ia akan di sambut oleh harum semerbak kopi yang khas.


Beberapa meter dari pintu masuk sekolah itu sendiri terdapat sebuah meja resepsionis panjang dan membentuk setengah lingkaran, meja itu juga bahkan di isi oleh lebih dari lima orang pegawai.


Untuk hiasan, sekolah terbaik di pulau sotus ini menyediakan beberapa furnitur, dan yang menjadi pusat perhatian adalah sebuah logo sekolah yang terekat di dinding atas meja resepsionis itu.


Logo sekolah itu terbuat dari bahan tembaga dan sedikit bercampur dengan emas putih.


Di atas sana tergambar dengan jelas sebuah logo berupa topi toga dan gulungan kertas terikat pita di bawahnya.


Setelah Kevin menampakkan kekagumannya meski belum puas tuk memanjakan mata, ia kemudian pergi begitu saja karena tangannya di tarik paksa oleh Ibu kandungnya itu untuk bersegera menuju ruang aula.


Di saat Ibunya itu menatik pergelangan tangannya, ia dengan sengaja meihat jam arlojinya dan tanpa sadar, jarum arlojinya itu telah menunjuk kepada arah pukul 09:00, yang dimana waktu ini adalah saat upacara penyambutan siswa baru itu akan segera di buka.


" Mah! ini udah 1 itu jam Sembilan loh … "


" Makanya sekarang Mamah narik kamu karena dari tadi mata kamu tuh cuman asik keluyuran. "


" Sorry Mah! kalau gitu aku duluan aja yah mah! soalnya aku mau lari. "


" Yaudah kalau gitu, kamu inget yah kalau tempat duduk kamu sama Mamah tuh udah di tentuin. "


" Oh yah? "


" Iya! Nih kartunya …


nanti kalau kamu liat orang yang lagi berdiri di depan pintu, kamu langsung kasih aja kartu ini, soalnya dia bakal nunjukin tempat duduk kamu. "


" Oke Mah! siap. "


" Udah buruan! "


" Tapi kartunya kok cuman satu? Buat Mamah mana? "


" Mamah kalau mau masuk gampang kok! "


" Loh? tapi kan … "


" Udah! Kamu jangan pikirin Mamah. Lebih baik sekarang kamu lari deh, soalnya nanti kamu bakal telat banget Vin! "


" Iya Mah iya! "


Kevin berlari menembus keramaian, melewati segala rintangan yang tercipta dari banyaknya kerumunan orang.


Ia sesekali tanpa sengaja menabrak beberapa orang di hadapannya demi dapat sampai di ruang aula yang kini telah membuka acara penyambutan untuk siswa-siswa baru.


Terlepas dari penglihatan Kevin, para tamu undangan nampaknya kini mulai berbondong-bondong masuk ke dalam ruangan, mencari tempat duduk mereka dan menikmati acaranya.


Ia pun saat ini juga telah sampai di depan pintu ruang aula tersebut lalu kemudian mencari seorang pelayan yang dapat menunjukan mejanya.


Setelah Kevin menemukan sang pelayan, ia kemudian di tunjukan sebuah meja kosong beralaskan kain putih dengan sederet kursi dan juga bunga tulip putih beserta lilin aromaterapi di atas meja sebagai hiasannya.


" Meja Anda berada di baris ke tiga dari panggung dengan nomor kursi 034, dan di sana juga nama Anda telah di cantumkan untuk lebih memudahkan Anda. " sang pelayan berbicara kepada Kevin sembari mengulurkan telunjuknya untuk menunjukan di mana meja Kevin berada.


Mata Kevin sendiri lalu sontak tertuju pada sebuah meja yang kursinya tak di tempati oleh seorang pun.


" Makasih Mba … "


" Sama-sama "


Kevin mengucapkan kata terima kasih setelah ia paham terhadap petunjuk yang di berikan oleh pelayan wanita berbaju forum itu.


Sang pelayan itu sendiri kemudian membalas Kevin setelah mendengar ucapan terima kasih darinya sembari mengembangkan senyum sederhana lalu pergi.


5 minute later ...


Di dalam ruangan itu kini penuh dengan kebahagiaan, memecah belas seluruh keharuan juga tangis penderitaan.


Tataan juga susunan ruang aula itu sangat mendetail dan rapi.


Meja bundar disusun berbaris simetris, dengan kain halus berwarna putih sebagai alasnya.


Meja itu juga di lengkapi dengan sebuah vas bunga di atasnya dan juga lilin aroma terapi sebagai penambah kesan.


Dari sekian banyaknya tamu yang telah duduk di bangku mereka masing-masing, nampak Kevin kini hanya duduk seorang diri di sebuah meja dekat panggung aula.


Ia terlihat kebingungan setelah dirinya menanti Ibunya sedari lima belas meit lalu. Ibu Kevin mengatakan akan menyusulnya secepat mungkin, akan tetapi nyatanya kini Kevin masih tak dapat melihatnya.


Dengan gaya yang elegan, Kevin sedari tadi terus saja mencari-cari keberadaan Ibunya.


Sepasang matanya itu terus menjelajah ke segalah arah, yakin bahwa ia akan menemukan Ibunya yang tak kunjung datang sedari ia tinggal di lobi sekolah.


" Kevin! " teriak seseorang dari arah belakang kevin dan mengejutkannya. Dari suara ini kevin dapat menebak siapa orang yang telah meneriaki namanya tanpa malu di lihat oleh para kerumunan tamu.


" Eh Cass! Kamu ngapain sih teriak-teriak, malu tahu! "


ucap Kevin pada Cassy setelah teman sepermainannnya itu duduk di hadapannya.


" Kamu kok bilang gitu sih … "


" Yah gimana gak mau bilang kalau kamu tuh narik perhatian orang lain. "


" Kan aku cuman neriakin nama kamu doang, karena kita duduk agak jauhan. "


" Buat apa? Kan kamu bisa manggil aku pas udah deket. "


" Hehehe … aku kesenengan sih soalnya. "


" Woohhh … dasar kamu Cass! "


" Hehe … "


“Eh! Btw kamu liat ini aku nggak?”


" Oh iya! Aku lupa nanya kamu Vin. "


" Nanya apa Cass? "


" Itu Mamah kamu … "


" Kenapa sama Mamah aku? Hah? "


" Dia tadi nitip kabar sama aku kalau dia tuh bakalan lambat buat datang ke sini. "


" Hah? Loh kok bisa sih …


"


" Iya Vin! Soalnya Mamah kamu tadi bilang kalau dia tuh bakalan ke bandara buat jemput Ayah kamu. "


" What!!! Ayah aku? "


" Iya Ayah kamu."


" Tapi kok aku gak tahu yah soal kedatangan Ayah aku? "


" Kan sekarang aku udah nanya kamu. "


" Yah tapi kan aku maunya langsung di kabarin sama Mamah. "


" Katanya dia gak sempat ngabarin kamu karena lagi buru-buru dan mendadak banget. "


" Ohh …


jadi gitu yah? "


" Hmm …


gitu! "


Kevin refleks mengganti raut wajah bingungnya.


Meski demikian ia masih bertanya-tanya tentang apa yang membuat ayah kandunya itu rela meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke pulau Sotus