The McNaught

The McNaught
Liontin mimpi



"Vin ayo bangun, ini udah jam delapan loh." Adriana menepuk pelan pundak Kevin, membangunkan anaknya yang sedang tertidur pulas di atas meja belajar.


Kevin tertidur ketika ia tengah membaca buku setelah keluar dari kamar mandi, awal rencana ingin mengeringkan rambut. Namun, lelaki tampan itu sama sekali tidak menyangka bahwa kesadarannya akan terenggut oleh panggilan alam bawah sadar.


“Loh kok Mamah ada di sini, kok aku bisa tidur, Bukannya tadi aku nemuin Mamah di ruang makan yah?” ucap Kevin spontan, terbangun dengan perasaan tak percaya. Ia melantur, mengucapkan kata-kata yang membuat ibunya bingung.


“Kamu itu ngomong apa sih, jelas-jelas kamu tidur di sini habis mandi,” jawab Adriana, melihat putranya yang terbangun dengan rasa bingung.


“Kamu aneh ih, udah sana buruan ganti baju cepet, nanti kamu bisa lambat ke sekolahnya,” lanjutnya, menghentikan Kevin yang tengah mencoba mengingat sepintas kejadian sebelum ia tidur di atas meja.


“Ta-tapikan bukannya tadi Kevin—”


sahut Kevin, ingin menjelaskan sesuatu pada ibunya.


“Nggak ada tapi tapian, udah cepetan ganti baju sana nanti, kita lambat lagi,” potong Adriana, tak ingin mendengar ocehan dari anaknya yang berusia lima belas tahun itu.


"Kamu yang cepet yah pakai bajunya, Mamah bakalan tunggu kamu di ruang makan." Adriana melangkah pergi, meninggalkan kamar loteng itu.


Kevin hanya dapat terdiam tak berkutik, cukup takut apabila suatu kalimat bantahan terlontar membuat ibunya marah, karena ia sangat malas apabila telah mendengar sederet kata saran berdurasi jaman dari wanita berhati mulia itu.


Setelah Adriana menutup pintu dengan rapat, Kevin lantas kembali berpikir dan mencari kejelasan. Hatinya merasa gundah, bingung karena seolah kehilangan sesuatu


Nggak mungkin deh, gerutu Kevin dalam hati, sesudah ia mengingat serpihan mimpi yang mengisahkan perjalannya ke sebuah vila di kedalaman distrik hutan hujan bagian barat daya pulau Sotus.


Dia memasang baju, tetapi pikirannya terus berkelana tak menetap.


***


Seragam putih dengan ikatan dasi biru bercampur merah telah Kevin pasang rapi di badannya, ia lalu beranjak pergi meninggalkan kamar dan menuruni anak tangga menuju ruang makan.


Andriana telah menunggu kehadirannya untuk menyantap sarapan pagi bersama. Namun mereka hanya berdua, karena ayah dan juga kakak laki-laki Kevin saat ini sedang tidak tinggal di rumah. Mereka sibuk mengurus pekerjaan yang menumpuk dalam perusahaan, sehingga kesempatan untuk dapat berkumpul sangat sedikit.


“Ayo buruan sarapan nanti telat loh, jangan lambat jalannya, Vin!” ucap Adriana geram ketika mendengar langkah Kevin mulai mendekati ruang makan.


"Iya Mah!" jawab Kevin, membuyarkan segala pikiran yang membuatnya selalu merasa tak nyaman.


Kevin lantas mempercepat jalannya,mengingat hari ini ia harus bergegas pergi ke sekolah untuk mengikuti ujian seleksi.


"Kamu mau makan apa, Vin?" tanya Adriana, saat anak bungsu yang kini telah duduk di bangku sekolah menengah atas itu muncul di balik gorden.


“Roti aja Mah, Soalnya kan lagi buru-buru!” seru Kevin sembari mengembangkan senyum, menjawab lontaran pertanyaan wanita yang terlihat memakai gaun panjang berwarna hitam dengan seutas kalung dan beberapa gelang emas sederhana sebagai pelengkap.


Menit ke menit terus berlanjut, anak dan ibu itu hanya saling bertatap muka sambil menikmati santapan mereka. Hingga sampai pada pertengahan, Kevin kemudian memecah keheningan dengan bertanya pada Adriana.


“Mah, kalau aku nggak lulus nanti aku sekolahnya di mana?” tanya Kevin tanpa ragu.


Dengan polos ia menanyakan sesuatu yang membuat Adriana hampir tersedak, sebasis pertanyaan biasa bagi setiap orang. Namun, bagi seorang pewaris utama Adinata, hal itu merupakan penghinaan.


“Kamu ini jangan bicara gitu, Vin!”


timpal Adriana, hanya dapat mencegah Kevin berpikiran negatif.


Ibu dari dua anak itu tak habis pikir, bahwa putra yang menjadi harapan keluarga adinata, telah meragukan dirinya sendiri. Dia memang tahu, jika nilai IPK Kevin tidak semenonjol kakaknya, tetapi ia yakin betul hal ini bukanlah sesuatu yang dapat dipermasalahkan.


Kevin adalah anak bungsu, tetapi ia terpilih sebagai penerus keluarga. Sedangkan kakak sulungnya yang kini tinggal di luar negeri, hanya berprofesi sebagai CEO biasa di perusahaan Adinata's Company, karena tak terdaftar dalam kriteria dambaan ayah mereka.


Perihal warisan memang tak di tentukan oleh usia dan kepintaran, melainkan soal tanggung jawab juga kecerdikan dalam memimpin perusahaan, dan Kevin mempunyai dua dasar itu. Terlebih, ia cukup lihai dalam bidang penyelidikan dan persiapan pra rencana.


***


"Mamah udah selesai sarapannya?" Kevin menyimpan segelas susu yang telah ia habisi, "Kalau udah yuk berangkat."


Pewaris adinata itu mengajak ibunya pergi, membuat Adriana terbangun dari lamunan. Lamunan yang berisi pikiran bimbang akan suatu keburukan, menjadi tumpuan dari secercah sinar angan.


“Oh udah kok, mamah dari tadi sudah selesai, kalau gitu yuk berangkat sekarang.” Adriana bertingkah sembrono, membuat remaja yang berada di hadapannya bingung.


Namun Kevin tak lagi memperdulikannya, karena saat ini mereka benar-benar terlambat untuk pergi ke sekolah mengikuti seleksi.


Kedua anak ibu itu berangkat menggunakan sedan hitam dengan sedikit permak putih, menulusuri jalan yang mungkin akan sedikit terhambat karena jumlah kendaraan lain.


Mereka berdua akan di antar oleh supir pribadi, menuju sekolah dengan standar yang telah menembus angka dunia.


Di dalam sana, Kevin melamun memikirkan nasib yang telah terancam. Dia tahu hari ini merupakan hari penting, tapi entah mengapa hatinya merasa resah. Namun, keresahan itu tak terpaut pada ujian seleksi nanti, melainkan tercipta oleh sesuatu yang tak dapat di jelaskan.


***


Waktu masih saja berjalan, memaksa Kevin untuk menepis segala rasa yang bertengger di hatinya.


Pemandangan kota terlihat sejuk untuk dipandang, sepanjang jalan para penduduk kota sibuk melakukan aktivtas mereka, bangunan-bangunan berjejer rapi dengan arsitektur yang luar biasa.


Kota ini sungguh dambaan bagi semua orang, tetapi ia tentu menyimpan segelintir kisah dan juga kenangan miris tentang penduduknya.


*#*


Setengah jam berlalu dan kevin hanya duduk termenung memandangi kota yang anggun ini, sorot matanya tak menampakkan api semangat yang membara, mata itu hanya menyiratkan kekosongan dan kehampaan.


Tanpa sadar rintik hujan mulai turun dan seketika orang-orang mulai berlarian mencari tempat berteduh, begitupun dengan burung-burung yang sibuk mengepakkan sayapnya menuju sarang tempat dimana mereka pulang.


“Kamu udah siap vin?” tanya ibunya memecah keheningan, namun tak ada respon dari anaknya itu, sehingga ibunya bertanya untuk kedua kalinya sembari memegangi pundak anaknya yang bertanda sebagai penyemangat.


“Ehh, i…iya mah.” tangkas Kevin setelah mendengar panggilan ibunya dengan sedikit menoleh ke hadapannya


“Kita udah mau nyampe loh… jangan ngelamun terus, nggak baik.” lanjut ibunya menasehati kevin setelah menerima respon darinya.


Beruntung mereka dapat memarkirkan mobil yang dikendarai di depan gedung utama sehingga kevin juga ibunya dapat memasuki lingkungan sekolah sedikit lebih cepat dibandingkan bila memarkir mobil di area samping gedung yang lain.


Saat mobil telah rapi terprkir, kevin beserta ibunya serentak keluar dari dalam mobil lalu meluncur ke dalam gedung karena sebentar lagi tes seleksi akan segera dimulai.


Dengan setengah berlari dari area parkiran mereka harus melewati pemeriksaan terlebih dahulu di dalam pos penyelidikan yang berdempetan dengan gerbang gedung utama sekolah.


Sekolah ini bukanlah sekolah biasa seperti kebanyakan sekolah pada umumnya, karena sekolah ini merupakan sekolah ternama nomor satu pulau sotus dengan tingkat akreditasi ‘A’ berstandar international, sehingga sekolah ini dilengkapi dengan begitu banyaknya fasilitas yang sangat jarang dimiliki oleh sekolah-sekolah sederajat lainnya.


Sekolah ini memiliki program yang menempatkan siswanya sesuai dengan kemampuan akademik maupun bakat mereka, setiap angkatan memiliki 12 kelas dengan berbagai macam tingkatannya.


Sekolah ini memiliki sebuah program khusus untuk anak yang berpotensi mewakili sekolah dalam olimpiade sains ataupun lomba bergengsi lainnya, namun program ini tidak dapat diterima oleh murid-murid lainnya karena kompensasi anggota kelasnya yang sangat banyak dan dapat dilihat perbedaan perlakuannya yang begitu besar apabila dibandingkan dengan murid dari kelas biasa.


Tampaknya kevin kini sedang dalam keadaan yang terguncang dan bimbang, walaupun tes seleksinya di undur beberapa jam karena terdapat kesalahan pada programnya, bagi dirinya setiap detik merupakan siksaan batin yang begitu pedih nan amat panjang.


Ibunya pun hanya dapat memandang anaknya dengan rasa iba mengingat hanya takdir yang mereka anadalkan, walau mereka bagian dari keluarga Adinata yang tersohor, mereka tak dapat berkutik sedikitpun mengenai hasil dari tes ini nantinya.


“Kevin… kamu nggak haus? Mamah beliin minum dulu yah di katin!”


ujar ibunya sembari memegangi tangan kevin yang basah, namun respon dari anakya itu hanya sekedar anggukan kecil tanpa suara maupun pandangan wajah sedikitpun.


Selang beberapa menit ibunya pergi, kevin memutuskan untuk menyusulnya pergi ke kantin sekolah itu.


Untuk menuju kantin, Kevin harus melewati beberapa ruangan dan koridor yang panjang, namun di pertengahan jalan saat ia memandangi keanggunan sekolah dari koridor lantai dua tempatnya mengkuti tes, tak sengaja ia bertabrakan dengan seorang gadis muda berambut panjang juga memiliiki paras cantik yang mungkin seumuran dengannya.


Kedua sorot mata bertemu dalam satu pandangan, waktu kala itu terasa melambat, tak hirau keduanya terjatuh, rasa sakitpun terganti menjadi sebuah mimpi.


Entah apa yang membuat keadaan itu menjadi spesial diantara mereka, hingga semenit berlalu dari adegan kecil tadi mereka masih saja saling bertukar pandang walau tanpa ucap kata, pandangan mereka seolah sebuah alat komunikasi tersembunyi yang tidak di sadari oleh diri sendiri.


“Maaf! Aku tadi nggak lihat jalan.” akhirnya lontaran kata maaf dari mulut Kevin terucap juga


“Ohh… ngak apa-apa kok.” timpal wanita itu saat permintaan maaf kevin tadi ia ucapkan


“Ada yang sakit nggak.” Tanya kevin lagi sehabis timpalan wanita itu selesai di katakan nya


“Nggak kok! Nggak ada yang sakit.” jawab wanita itu lagi lalu pergi tanpa sederet kalimat selamat tinggal yang diam-diam di tunggu oleh kevin.


Selang berapa detik gadis itu pergi, kevin pun akhirnya ikut bangkit dan mengambil tasnya yang terjatuh tak lebih dari satu meter di tepat mereka bertabrakan.


Alih-alih ia sebelum pergi, matanya sempat melihat liontin di tempat gadis itu terjatuh. Kakinya pun mulai melangkah mendekati liontin itu yang kemungkinan barang pribadi milik gadis tadi, seketika itu pula ingatannya tertuju pada liontin yang ia dapatkan dalam mimpinya di vila hutan barat daya pulau sotus.


Akan tetapi kali ini ia sadar bahwa liontin itu tidak sama dengan yang di temukannya di dalam villa, karena bentuk dan warna permatanya berbeda, permata liontin itu berwarna biru kristal dan mempunyai bentuk oval yang sempurna.


“Hei! Liontin mu tertinggal!!!”


teriak kevin dari koridor lantai dua sekolah tempatnya terjatuh, namun teriakan panggilannya tidak berbalas kembali, bahkan tak ada satupun orang di koridor itu, hanya dirinya seorang.


Akhirnya ia memutuskan untuk terlebih dahulu menyimpan liontin itu lalu mengembalikannya jika ada kesempatan untuk bertemu kembali karena yakinnya ia berada di sekolah ini nantinya.


Perjalanannya untuk menyusul ibunya pun tak ia lanjutkan, dan memutuskan untuk kembali saja ke aula utama tempat semula ia dan ibunya menunggu sesi tes seleksi akan di mulai. Ruang aula itu sangatlah besar dan mungkin butuh dua ruangan di rumah kevin sendiri untuk membandinginya.


Dindingnya pun di hias dengan tema hutan tropis yang begitu indah, rapi dan identik tanpa kesalahan sedikitpun.


Penerangan di ruangan itu terpancar melalui ribuan dedaunan yang seolah olah melayang dan tampak tidak menyatu antara satu sama lain, dedaunan itu tentunya menggunakan konsep fisika yang tinggi untuk mewujudkannya.


Dari semua konsep hiasan, yang paling mengagumkan adalah panggung tempat segala rangkaian acara utama akan di gelar, panggung itu hampir mengambil sepertiga ruang aula ini dan bahkan hiasannya menggunakan konsep alam dengan mengambil rangkaian yang identik dengan air terjun.


Saat kevin dan ibunya pertama kali meihat ruangan ini, mereka sempat terkagum akan keidahannya, bahkan di luar dugaan, mereka juga sempat mengambil gambar untuk disimpan dan di jadikan kenangan yang dapat dilihat nantinya.


Sepuluh menit kevin menunggu di ruang aula sembari memainkan ponselnya dan akhirnya ibunya datang dari kantin membawa beberapa bungkus makanan juga minuman.


“Ehh, mamah habis belanja apa aja? Kok lama banget sih!” uacp kevin selang ibunya duduk di kursi kosong yang tepat berada di hadapannya


“Ahh… nggak lama kok, perasaan kamu aja kali vin!” timpal ibunya setelah mengambil posisi duduk yang nyaman


“Mamah lihat wajah kamu berubah dehh!” sambung kembali ibu kevin sekira melihat anaknya itu berwajah tampak lebih sedikit ceria, dari sebelumnya yang seolah awan badai hinggap disana.


Tak ada respon dari kevin mengenai komentar ibunya, lebih tepatnya ia menahan untuk tidak menanggapi ibunya, namun senyumnya tak dapat ia kuasai dan mengembang dengan sendirinya.


“Ihh liat tuh kamu senyum sendiri! Kamu dari mana aja sih vin?”


Tanya ibunya yang tampak keheranan mengenai tingkah laku putra bungsunya itu


“Nggak ada kok mah… perasaan mamah aja kali.”


tak tahan dengan godaan ibunya, akhirnya respon yang susah payah ia tahan keluar juga dari mulutnya. Kedua ibu dan anak itu pun berakhir dengan saling bersenda gurau juga melempar candaan walau tak kenal tempat dan waktu.


“Ehh vin mamah tinggal dulu yah temen mama nelpon nih!” ucap ibu kevin memberi tahunya bahwa ia akan menerima telepon dari teman akrabnya


“Iya mah angkat aja nggak apa-apa kok.”


timpalnya pada perkataan ibunya.


Saat ibunya meninggalkan ruangan, ia sontak meraih tasnya untuk mengambil gadget dan juga airpodsnya, namun sekilas ia melihat lagi liontin milik gadis yang ia temui tadi di koridor lantai dua sekolah.


Kevin merogoh tasnya lebih dalam untuk mendapatkan lionti itu, namun betapa terkejutnya ia saat tak sengaja meraih dua liontin sekaligus.


Mohon dukungannya dengan cara like share dan komen yah...🙏🙏🙏


setiap komen dapat membangun kembali kesalahan yang ada😁😊