
Sinar rembulan masih saja menyilaukan cahayanya tuk menerangi kegelapan malam yang kejam, bintang-bintang kini tampak lebih cerah dan jelas di mata apabila dipandang secara seksama. Hari mulai memasuki sepertiga malam, dan sebentar lagi pesta jamuan yang diadakan di halaman belakang rumah keluarga kevin itu akan segera berakhir tak kurang dari sejam yang akan datang, namun para tamu undangan acara itu masih saja asik menikmati pesta walau waktu mereka tersisa sedikit lagi tuk dapat memeriahkan acara itu. Berbeda dengan para tamu, kevin maupun cassy saat ini hanya memiliki waktu yang singkat untuk berbincang mengenai suatu hal. Kedua orang itu kini tengah sibuk saling memberi tanggapan untuk kedua liontin yang tergenggam ditangan mereka masing-masing
“ehh kevin! Jangan ngelamun terus dong"
“iya! Aku nggak ngelamun kok, sekarang cuman mikirin soal liontin ini”
“lurusin aja cepetan! Walaupun nggak masuk akal tapi liontin ini tuh bukti bahwa mereka emang nyata”
“maksud kamu itu apa yah cass? Aku enggak ngerti loh!”
“maksudku itu… kita sebenernya kalau nggak mau di ambil pusing yah tinggal percaya aja sama kenyataan bahwa liontin itu berasal dari mimpi kita berdua!”
“tapi kan itu pemikiran di luar akal sehat cass!”
“yah mau nggak mau sih kamu emang harus percaya walau kenyataan ini tuh beneran di luar akal sehat vin!”
“caranya gimana biar aku percaya cass hah?”
“ok vin! Kalau kamu enggak percaya yaudah, terserah kamu aja. Tapi aku mau ceritain sebuah rumor tentang seseorang yang katanya dulu sukses gara-gara sebuah cincin”
“hah? Rumor apaan sih, masa kamu percaya yang gitu-gituan sih cass!”
“walau hanya rumor vin! Tapi kamu tahu enggak bahwa rumor orang-orang bangsawan dahulu itu lebih nyata daripada fakta yang dibuat oleh sejarah dari catatan manusia, karena apa? Yah karena alasannya mereka yang para bangsawan tersohor tidak mau jika suatu hal buruk tentang mereka tersebar dan rata-rata dari semua rumor orang dahulu itu mengarah ke keburukan seseorang. Makanya aku percaya kalau kadang-kadang rumor itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, walaupun enggak semua kata di dalamnya itu benar karena berasal dari mulut ke mulut. Tapi kalau kita saring dengan baik, maka kita akan mendapatkan sebuah fakta yang sebenarnya”
“iya..iya..iya aku percaya sama kamu. Udah jangan dibahas panjang lebar lagi, aku capek dengernya apalagi waktu kita sekarang ini tinggal dikit”
“yaudah deh aku cerita nih sekarang... Dulu pas masih jamannya kakekku kerjanya jadi guru, ada seorang murid yang dikabarkan dikeluarkan dari sekolah karena tidak sanggup membiayai pendidikannya itu, lalu kemudian ia hanya pasrah dengan takdirnya yang malang. Setelah ia dikeluarkan, pemuda itu lantas bekerja paruh waktu di sebuah toko kue agar dapat mencukupi kehidupan sehari-harinya dan membiayai obat neneknya yang sakit, sebulan bekerja di sana ia merasa bahwa kehidupan mereka dapat lebih terjamin karena mendapat pemasukan yang lumayan dari pekerjaannya itu, namun setelah lebih dari sebulan setengah ia bekerja, bos-nya yang pemilik toko itu dikabarkan meninggal dan menyerahkan seluruh hak toko kepada sang pemuda malang itu. Nah… dari sana hidupnya pun berubah Vin! Karena toko itu sekarang punya dia secara keseluruhan dan terlebih lagi pemasukannya juga pun ia genggam full karena pemilik toko itu tidak memiliki kerabat ataupun saudara yang bisa mewarisi tokonya. Setelah ia menjalankan bisnis dengan toko kue itu lebih dari tiga bulan, pemuda itu telah sukses besar dan menjadi salah satu orang-orang berpengaruh pada masa itu.
Dari cerita di atas adalah fakta yang memang tak ada ganjalannya, namun rumornya pemuda itu dapat sukses besar karena memakai cara yang tidak rasional, dan cara itu adalah ia memakai sebuah cincin yang ia temukan dalam danau di belakang rumahnya untuk menarik perhatian pelanggan agar tokonya itu laris terjual dan mendapat keuntungan besar… jadi gitu ceritanya vin!”
“terus apa yang ngebuat kamu bisa percaya cerita yang persis kayak dongeng itu cass?”
“yah aku percaya gara-gara cerita ini tuh aku denger langsung dari kakekku vin!”
“lah terus apa hubungannya?”
“kalau hubungannya aku juga enggak tahu vin!”
“apaansih kamu cass! nggak jelas banget deh”
“ehh tapi! Aku juga percaya sama cerita itu karena suatu alasan vin!”
“apa coba alasan kamu? Harus yang masuk akal loh cass!”
“iya… alasannya adalah aku enggak percaya sama pemuda mantan siswa kakekku itu yang bisa sukuses dalam tiga bulan. Masuk akal nggak sih kalau ada pemuda yang standarisasi pendidikannya rendah dan cuman modal pengalaman jadi office boy doang bisa sesukses itu bahkan hanya dalam tiga bulan?”
“emang agak ganjal sih, tapi kan dia mungkin aja orangnya tuh cerdas atau pintar membangun jaringan, kan bisa jadi kesuksesannya itu dari sana cass!”
“kamu belum aku ceritain yah detailnya?”
“belum… emang apa?”
“kata kakekku… Dia tuh dulu sama sekali nggak punya teman, setiap hari di sekolah dia tuh selalu ngelakuin apapun sendirian, bahkan kalau ada yang mau mendekatinya ia malah memberikan sikap yang kurang baik. Jadi kalau soal ia bisa bangun jaringan untuk jadi sukses, kayaknya enggak mungkin deh vin! Apalagi kata kakekku dia tuh cuman anak yang biasa aja dan bahkan di cap oleh guru tidak memiliki potensi dalam bidang apapun”
“ohh yah? Kalau gitu sih aku mulai percaya sama yang namanya keajaiban gara-gara kamu cass!”
“yah nggak apa-apa toh vin! Lagian dunia ini emang aneh dari dulu”
“jadi sekarang kesimpulannya apa cass?”
“kita Tarik kesimpuln awal dulu gimana?”
“kesimpulan awal? Apa coba?”
“kesimpulan awalnya itu… kita percaya aja dulu kalau liontin ini tuh beneran punya kita, dan dapetnya mungkin dari mimpi. Kalau nantinya ada fakta lain mengenai liontin ini, kita tinggal Tarik ajah kesimpulan kedua sampai masalah asal usul liontin ini tuh terpecahkan dengan sempurna”
“yaudah dehh! Aku nyerah aja kalau soal ini. Hufft…”
“oke kalau gitu yuk buruan balik vin! Kalau nanti sampai di cariin... bakalan ada masalah”
“yuk cass! Pestanya juga sebentar lagi bakalan berakhir”
Kevin dan juga cassy pun akhirnya keluar dari dalam kamar itu dan berjalan menuruni tangga secara perlahan agar tak menimbulkan suara, mereka berjalan selangkah demi selangkah sembari menengok ke segala arah tuk memastikan diri mereka berdua aman dari para pelayan. Badan cassy dan kevin saling bertolak belakang agar dapat leluasa memantau para pelayan dan keluar dari dalam rumah dengan aman, sepasang mata mereka terus menerus berbolak balik dari kiri ke kanan mengintai jikalau ada pelayan yang datang mendekati mereka, di setiap ruangan tentunya telah kevin sediakan tempat yang aman tuk bersembunyi dari para pelayan agar tidak didapati sedang kabur dari pesta jamuan.
Kini dua orang itu berada di dapur yang berdampingan dengan jalan menuju pesta jamuan yang mereka tinggalkan dua jam lalu, cassy dan juga kevin masih saja terus waspada terhadap pelayan maupun seseoarang yang dapat mengakibatkan mereka tertangkap dan mendapat masalah. Dengan posisi saling bertolak belakang, mereka berdua senantiasa menyorotkan pandangan sinis ke segala arah. Jika merasa telah aman tuk melnjutkan langkah kaki, maka kevin maupun cassy kemudian berlari secepeat mungkin bersyaraktan tak ada bunyi hentakkan kaki yang keluar, mereka berlari menuju pintu yang dapat mengantarkan mereka kembali ke pesta jamuan keluarga itu.
“cass!!! Itu kamu kan?”*Tiany
“loh? Tia? Kok kamu bisa ada di sini sih?”*Cassy
“wahh… bener itu kamu cass! Kamu juga lagi ngapain di sini”*tiany
“yah..hmm… enggak ada kok, cuman aku jalan-jalan doang bentar”*cassy
“ohh… gitu yah! Ehh di samping kamu itu ada siapa? Kok kayak aku pernah lait yah? Hmm…”*tiany
“oh iya… aku lupa kasih tahu kamu. Kenalin ini namanya kevin”*cassy
“hai… nama aku ‘Kevin Putra adinata’ panggil aja kevin”*kevin
“nama kamu kevin yah! Kalau nama aku ‘Tiany Putri Wijaya Berly’ panggil aja Tia atau Tiany”*tiany.
“bye the way kamu siapanya cassy?”*kevin
“ohh ini tuh sepupu aku vin! Ibunya dia saudaraan sama ibu aku”*cassy
“ehh tapi tunggu dulu deh! Kayaknya aku familiar banget sama kamu”*tiany
“aku juga ngerasa gitu... serasa pernah ketemu tapi di mana yah ketemunya?”*kevin
“ohh aku inget… kamu yang waktu itu lagi cari roti kan buat ibu kamu di toko kue! Terus kebetulan stoknya udah abis dan aku ngeliat kamu lagi butuh banget jadi aku kasih deh punyaku ke kamu”*tiany
“emangnya kalian berdua udah pernah ketemu yah sebelumnya?”*cassy
“iya cass! Emang aku pernah ketemu sama dia pas singgah di toko buat beliin roti favorit ibuku”*kevin
“oh… jadi gitu yah ceritanya”*cassy
“iya cass… kebetulan banget yah bisa ketemu hahah…”*tiany
“Tia! Kamu habis darimana kok bisa ada di sini?”*cassy
“ohh… itu tadi aku cuman pergi ke toilet bentar”*tiany
“emangnya toilet yang di sudut sana full yah?”*kevin
“iya! Di sana kebetulan lagi full, terus aku di tunjukin toilet lain di sebelah sini sama pelayan”*tiany
“kamu habis dari toilet toh… kalau gitu yuk kita balik barengan aja”*cassy
“yaudah… kita balik”*tiany
“ehhm… sorry yah cass aku enggak bisa bareng sama kalian”*kevin
“udah nggak apa-apa kok! Emangnya kamu mau ke mana?”*cassy
“cuman balik doang bentar ambil dasiku yang ketinggalan di kamar”*Kevin
“ohh… kalau gitu kita berdua balik duluan yah vin! Dah!”*cassy
“iya… kalian duluan aja! Dah!”*kevin
Seiring berbaliknya cassy dan sepupunya yang bernama Tiany itu, kevin sontak berlari kembali masuk ke dalam rumahnya hanya tuk mengambil dasi yang katanya tertinggal di kamar loteng nya. Meski saat ini adalah kedua kalinya ia masuk ke dalam rumahnya itu, namun rasa waspada dalam dirinya tak kunjung hilang dari belengguan dada, sorot matanya yang tajam sekilas menyiratkan kekejaman sekaligus ketakutan yang terselubung diantaranya, langkah kakinya tak pernah sedikitpun mengeluarkan suara, walau ia mengenakan sepatu jenis Brogue yang telah lama disiapkan oleh ibunya.
Kini kevin berada di dalam kamarnya itu, dan sedari tadi ia mencari dasinya yang entah di mana ia letakkan. Setelah lebih dari lima menit mencarinya, akhirnya ia pun menemukan dasi itu yang berada tepat di atas serangkaian bukunya. Sesaat ia mengambil dasinya, kedua bola matanya seakan terpikat akan sesuatu, ia melirik sebuah buku jurnal karya penulis kesukaaanya yang berjudul ‘Miracle in fact’. Buku itu membahas segelintir fakta yang menurut riwayat pendapat penulisnya adalah sebuah keajaiban yang tersembunyi, namun sang penulis telah menegaskan di akhir bukunya bahwa “fakta adalah suatu hal yang mutlak dan keajaiban ialah sebuah kebohongan”.
Kutipannya itu membuat para pembacanya beranggapan bahwa sang penulis mencoba untuk menegaskan bahwa keajaiban itu tak ada di dunia nyata dan suatu hal yang bersifat imajinatif.
Kevin telah menemukan dasinya, akan tetapi ia masih saja mematung di depan mejanya sambil memegangi buku ciptaan penulis kesukaanya itu dan mencoba tuk mengingat lagi inti pembahasan dari buku tersebut, lebih dari lima menit ia mematung di sana lalu kemudian memutuskan untuk kembali ke pesta jamuan. Untuk kembali ke sana, kevin perlu mengumpulkan kewaspadaannya agar tak dilihat oleh siapapun, namun sebelum Kevin hendak keluar dan menarik gagang pintu, betapa terkejutnya ia setelah mendapati salah satu pelayannya berada tepat di ambang pintu kamarnya
“loh kok mas kevin ada di sini?”
“ehm… aku lagi cari dasi bi!”
Thank you so much buat yang udah support novel ini🙏🙏🙏
jangan lupa untuk Like dan Comment yah...
Vote dan Rate juga jangan lupa😁