
Hari masih pagi, namun mentari semakin tinggi, cahayanya menaungi langit bumi, menerangi hari yang siling berganti, sinarnya menerobos kesegala penjuru dan arah tanpa tuju. Riuh kesibukan aktivitas kota terngiang di awan putih, langit tempatnya bergantung segan tuk membantu. Di salah satu bangunan pusat kota yang tepatnya berada di sekolah, nampak beberapa orang tengah berbincang ringan seraya berjalan, suasananya menyiratkan kekelaman yang terselubungi keanggunan ibaratkan batu berlapsikan emas. Diantara selintir orang-oarang tersebut, terdapat kevin juga gadis yang di tabraknya dua kali itu sedang menunggu di depan ruang kerja Mr. Alpheus robinson untuk menunggu giliran mereka bertemu dengan direktur utama sekolah itu. Sebuah kebetulan juga ketentuan takdir, mereka ternyata datang ke tempat ini dengan tujuan dan maksud yang sama.
“ohh iya… aku lupa nanya nama kamu, soalnya dari tadi cuman ngebahas liontin doang”
“iya yah…. Sama aku juga lupa ngasih tau tadi. Kalau namaku Caroline Stephany berly panggil aja cassy, kalau nama kamu siapa?”
“kalau namaku Kevin Putra Adinata panggil aja kevin. Ehh ngomong-ngomong kamu dari keluarga ‘Berly’ yah? soalnya nama belakang kamu ada marga 'Berly' Kalau iya berarti kita kerabat jauh dong”
“ohh ya? kok bisa kebetulan sih, mungkin emang takdir kali yah? Apalagi kita tabrakan dua kali. Aku juga enggak heran sih kalau kita itu keluarga jauh, karena marga kamu tuh kayak pernah ibu aku singgung di acara keluargaku, dan isengnya aku nguping. Tapi setelah acara itu, aku nggak pernah lagi denger soal keluargamu, apalagi aku juga nggak pernah nanya serius soal keluarga kamu”
“ohh… gitu, berarti dari sekarang kamu bisa main ke rumahku dong tanpa minta alasan, dan di sana sekalian aja kamu liat liontin kamu yang ketinggalan”
“bisa aja sih. Apalagi akhir pekan depan jadwal keluargaku kosong, jadi aku ada kesempatan buat main ke rumah kamu, nanti malam aku cerita deh sama ibu aku soal kamu”
“jangan buru-buru cass, nanti kesannya nggak baik lagi, terus jadinya aku dikira sama ibumu maksa kamu buat main ke rumahku. Jelek dong nanti aku di mata keluargamu”
“iya deh… kalau gitu tunggu dulu beberapa hari baru nyinggung soal kamu”
“ kalau itu aku setuju, thanks yah cass… btw kamu mau ngapain datang ke sini? Ada masalah kah atau urusan yang penting?”
“nggak ada masalah atau urusan yang penting kok, aku datang cuman buat mastiin aja soal kelulusanku”
“ohh ya? Kalau gitu kita beneran sama persis dong tujuannya, soalnya aku kesini buat mastiin kelulusan juga sih sebenernya"
“kebetulan banget yah hahah…. Aku bahkan nggak ngira loh bakal ketemu kamu lagi di sini”
“yah sama juga, aku nggak habis pikir kita bakal ketemu, tapi sebenarnya memang udah aku rencanain sih buat ketemu kamu lagi agar bisa ngembaliin liontin yang kamu jatuhin”
“atas nama Kevin Putra Adinata dan Caroline Stephany Berly, anda berdua telah di persilahkan untuk masuk ke dalam ruangan”*staff kantor
“ehh! Vin kita udah di bolehin masuk tuh, yuk!”
“iya nih, yuk langsung masuk aja soalnya udah jam segini, nanti aku bisa lambat nyampe rumah”
Kevin beserta Cassy pun akhirnya masuk ke dalam ruangan pak kepala direktur tersebeut setelah sekian lama menunggu panggilan staff kantor. Terbesit perasaan takut di dalam hati kevin seketika saat ia mulai memijakkan kakinya ke dalam ruangan itu, tak terkecuali dengan Cassy yang rasa takutnya lebih besar di bandingkan dengan Kevin, mungkin karena ia adalah gadis polos yang rupawan. Ruangan itu sangat besar jika dilihat dari segi penataan kantor pada umumnya
“selamat pagi kevin dan Cassy, ada perlu apa bisa sampai repot-repot datan ke sini?”*direktur
“Pagi pak! Kami datang cuman mau mengecek nilai kami saja”
“iya pak pagi, aku juga sama dengan kevin. Aku ke sini buat mengecek nilai saya aja pak”
“ohh… jadi gitu yah! Kalau bapak boleh tahu alasannya apa yah? Coba kalian cerita satu-satu penyebanya!”*Direktur
“Baik pak saya duluan yang cerita. Jadi sebenarnya saya kurang percaya dengan pengumuman yang menyatakan nilai saya berada di deretan lima besar dengan nomor urut empat pak, karena selama seleksi berlangsung, saya kurang baik dalam menganalisis soal hingga tak sedikit dari soal tersebut yang jawabannya asal-asalan. Sampai-sampai dugaan saya ialah adanya kesalah teknis atau semacamnya”
“jadi ceritanya seperti itu ya vin? Kalau bapak sarankan, kalian semestinya harus percaya sama nilai dan kelulusan kalian, karena selama sekolah ini berdiri, tidak ada sekalipun pernah terjadi kesalahan teknis seperti contoh dugaan nak kevin. Saya bisa jamin kalau kalian berdua memang anak yang layak untuk menduduki bangku sekolah ini hanya dengan melihat dari apa yang kalian lakukan sekarang. Dan persoalan nak kevin yang menjawab asal-asalan, mungkin itu sudah menjadi keberuntungan kamu Kevin, sehingga jawaban yang kamu anggap salah menjadi benar dalam segi penilaian. Dan sekarang walau kamu, memberi tahu saya bahwa selama seleksi berlangsung kamu kurang baik menganalisa, bapak tidak akan mengubah sedikitpun keputusan yang tertera di atas lembar hasil, jadi kamu jangan khawatir dan lebih giatlah beajar untuk persiapan seleksi program khusus dan menyamai apa yang kalian peroleh!”*Direktur
“terima kasih banyak pak atas saran dan informasinya! Berkat bapak, perasaan yang mengganjal di dalam hati saya terasa mengalir terbuang”
“sama-sama kevin, seharusnya kalian memang seperti ini! Ohh iya, kalau nak Cassy apa boleh tahu alasannya datang ke sini?”*Direktur
“iya pak boleh kok! Alasan saya ke sini juga hampir sama dengan kevin, yaitu saya demikian mau mengonfirmasi nilai yang saya pikir datanya tidak valid karena saya yakin saat ujian tengah berlangsung, saya menjawab beberapa soal dengan jawaban yang saya yakini kurang tepat bahkan jauh dari benar, dan anehnya saya mendapatkan peringkat nilai urutan ke-2 sedangkan sepupu saya yang kecerdasannya lebih tinggi daripada saya sendiri tidak memasuki wilayah 10 besar. Saya ingin meminta tolong bapak untuk memverifikasi nilai ujian saya”
“hmm… bagaimana yah? Jika kita mendengar cerita dari kalian, mungkin saja demikian ada yang salah pada sistem penilaiannya, akan tetapi bapak telah memeriksa hasil ujian di wilayah peringkat ke-10 sampai ke-1 dengan tangan juga mata kepala saya sendiri, dan bapak memang yakin bahwa jawaban yang benar mendominasi ujian yang kalian kerjakan. Jadi kesimpulannya, nak Kevin juga nak Cassy tidak perlu khawatir mengenai hal ini karena penanganannya sudah lebih dari cukup. Namun jika kalian masih saja tidak tenang dan merasa risih, kalin bisa belajar dengan giat agar dapat menyamai hasil ujian kalian, karena bapak sangat yakin bahwa kalian pasti bisa”*Direktur
“baik pak kalau begitu, terima kasih atas waktunya, saya sangat berterima kasih”
“saya juga pak sangat berterima kasih atas saran dan waktu yang telah bapak tuangkan kepada kami, kalau begitu kami pamit yah pak”
“iya sama-sama, bapak juga senang menuangkan waktu demi calon siswa cerdas seperti kalian”*Direktur
Kevin juga Cassy pun akhirnya keluar dari ruangan direktur itu bersamaan dengan terbebasnya mereka dari beban yang ditanggungnya sedari kemarin, wajah mereka tampak sumringah saat berjalan beriringan menuju pelataran parkir tuk kembali ke rumah masing-masing. Tanpa berdialog sedikitpun, Kevin juga Cassy kini berada di gerbang sekolah. Sesaat mereka berhenti lalu saling menciptakan kontak mata yang begitu dalam selama semenit, hingga tanpa sadar mereka berada tepat di pertengahan gerbang itu seolah menjadi penghalang.
“kamu mau langsung pulang vin?”
“iya nih kayaknya. Kalau aku nanti singgah lagi, bisa-bisa ibuku marah sehari semalam!”
“ohh gitu yah hahah. BTW menurutku ibu kamu tuh seru deh orangnya kalau dilihat dari apa yang kamu omongin. Pastinya kamu nggak bosen dong dirumah karena punya ibu yang se humoris ibu kamu”
“ What!!! Sebaiknya kamu jangan ngeramal yang abstrak deh cass, jangan liat dari gambaran apa yang aku omongin soalnya kamu belum ketemu langsung sama ibuku, dia tuh orangnya suka kali gangguin anaknya, kan jadi sebel dirumah apalagi kalau udah marah. Behhh… bisa-bisa telinga kamu meledak cass gara-gara denger ibuku ngoceh mulu!”
“ohh yah? Hahaha lucu banget sih tingkah kamu sama ibumu vin. Tapi aku tebak nih… pasti ibumu sayang banget kan sama kamu, jangan bbohong loh vin”
“kalau itu mah nggak usah di Tanya cass! Ibuku itu loh kalau ngeliat aku ngelamun pasti aku di samperin cuman buat nanya dan ngehibur doang, lalu saking sayangnya tuh sama aku, ibuku bakal ngelakuin apa aja yang aku suruh kalau kemampuannya bisa!”
“widihh… ada yang jadi anak mamih nih uhuyy… pengen ketawa rasanya aku tuh vin dengar cerita kamu”
“iya juga sih. Bye”
Kendaraan yang dikendarai kevin mulai meluncur mennggalkan lingkungan sekolah juga Cassy yang tengah berdiri di samping gerbang sembari menunggu mobilnya datang, mobil sedan pribadi milik kevin itu melaju dalam kecepatan tinggi dengan menelusuri jalanan perkotaan yang indah akan kenaggunan arsitektur juga tataannya. Matahari berada tepat di atas kepala, cahayanya yag panas mulai membakar suhu perkotaan yang sejuk, aspal jalan pun ikut serta terbakar dengan ditambah gesekan ban mobil yang sedang berlalu lalang. Suasana kota kini tengah padat karena waktu makan siang telah menjenguk, restoran juga rumah makan mulai ramai di datangi pengunjung, rasa lapar juga telah merasuk dalam diri. Perut kevin seketika berbunyi keroncongn akibat lapar yang ia tahan, hingga terdengar oleh supir yang memandu sedan itu.
“tuan Kevin sepertinya sedang lapar. Apakah saya berhak untuk menyiggahkan mobil ini selama beberapa menit untuk menyempatkan membeli makanan agar tuan tidak kelaparan?”
“sepertinya pikiran bapak boleh juga saya ambil. Kalau begitu tolong singgah yah di toko roti yang biasa ibu saya kunjungi, karena sekaligus saya juga mau beliin sesuatu untuk ibu saya”
“baik tuan. Mohon tunggu beberapa menit lagi arena kita sepertinya akan sedikit terlambat akibat jam makan siang”
“iya enggak apa-apa. Lanjut aja yang penting selamat sampai tujuan”
“siap laksanakn tuan!!!”
Beberapa menit pun berlalu dimakan waktu, mobil sedan yang berkelas milik putra bungsu keluarga konglomerat Adinata itupun akhirnya tiba di depan pusat perbelanjaan yang di dalamnya terdapat toko kue tujuan Kevin. Tanpa menghiraukan yang lain, akhirnya ia langsung meluncur memasuki area pusat perbelanjaan itu dan menuju toko kue yang dimaksud, letaknya tak jauh dari pintu masuk sehingga memudahkan Kevin tuk sampai lebih cepat. Orang-orang tampak sibuk berlalu lalang dengan urusan pribadi mereka masing-masing, ada yang berjalan santai juga terdapat sebaliknya yang berlarian seolah di kejar waktu. Kevin hanya berjalan dengan santai menggunakan kakinya yang pajnjang. Ia cukp tinggi bagi anak seumurannya, bahkan mungkin saat ini tingginya bisa terbilang sebagai orang umur 20 tahunan. Toko kue itu semakin dekat dan tampak jelas di mata, di dalamnya ramai akan pengunjung yang memilah berbaga macam jenis makanan juga kue olahan, di dalam pikirannya Kevin telah menentukan kue yang akan di belinya agar tidak membuang waktu lagi. Beberapa jenis makanan kesukaan ibunya seketika lintas di dalam hatiya, dan ia lebih memilih tuk membeli 'Croissant'. Roti kesukaan ibunya kevin itu bukanlah seperti kebanyakan Croissant lainnya, namun roti itu memiliki ciri khasnya tersendiri, yaitu di setiap lapisannya yang berjarak, diisi oleh sebuah selai buatan asli toko dengan rasanya yang begitu fantastis dan mengejutkan saat setelah lumer didalam mulut, selai toko itu telah terkenal di segala penjuru pulau sehingga menjadi ikon tersendiri bagi mereka.
“misi mbak! Saya mau nanya nih, croissant nya udah habis yah?”
“maaf yah… yang anda katakan adalah benar adanya bahwa Croissant kami sudah habis. Tapi jikalau anda bersedia untuk menunggu, kami akan menyiapkan pesanana anda selama 15 menit”
“yah udah habis! Kalau gitu nggak usah deh mbak nanti aja, kelamaan saya nunggunya, soalnya kan saya lagi buru-buru”
“kalau begitu silahkan dilihat menu lainnya jika anda berminat. Terima kasih sudah dating di De lisyon cooky’s and bakery. Kami menunggu kunjungan anda kembali”
“maaf mengganggu, tapi boleh saya celah sedikit pembicaraannya? Saya kebetulan mau nawarin”
“maaf yah saya lagi nggak punya waktu, soalnya buru-buru”
“nggak apa-apa kok, cuman semenit doang. Lagian aku mau nawarin Croissant ku yang tadi kamu mau beli”
“ohh yah? Tapi kamu beneran mau nawarin kan?”
“iya… saya lagi nggak pengen makan croissant dan mau kembaliin lagi, tapi pas banget ketemu kamu yang kebetulan lagi nyari ini, yah jadi aku nawarin sekalian ke kamu soalnya pas ngeliat wajah kamu tuh kayak perlu banget yah sama croissant ini?”
“ohh gitu… thank you so much. Kalau ngomong penting tidaknya, kayaknya emang penting deh karena aku lagi pengen ngebeliin buat ibuku”
“tuh kan pasti penting. Kalau gitu aku nggak nawarin kamu buat beli deh, Nih ambil aja, aku ada lima potong dan nggak usah bilang utang budi, hitung-hitung buat perkenalan, siapa tahu nanti kita bakal ketemu lagi kan”
“kalau gitu makasih banget ya… berkat kamu aku bisa ngasih Croissant ini ke ibuku. Kalau gitu aku duluan yah, lagi buru-buru”
“iya enggak apa-apa kok hahah... santai aja”
Setelah mengambil lima potong roti dari gadis yang tampaknya seumuran dengannya itu, kevin sontak berlari meninggalkan area pusat perbelanjaan dan menuju pelataran parkir untuk kembali berkendara pulang ke rumahnya.
Saat ini kevin memikirkan ibunya yang sedang khawatir menunggu kepulangannya di rumah, ia menyadari bahwa kekhawatiran ibunya mulai naik karena sedari tadi ponselnya terus saja berbunyi akibat panggilan ibunya, dan malangnya ponsel yang ia bawa itu tertinggal di dalam mobil.
Saat mulai memasuki kawasan pinggiran kota, mobil kevin terpacu lebih cepat karena jalanan kota yang kini sedang lengang akibat jam makan siang telah usai, kecepatan mobil itu semakin bertambah hingga melaju begitu cepat melwati beberapa bangunan juga pepohonan yang melindungi jalan dari panasnya sinar matahari. Beberama menit kemudian dan akhirnya kevin telah tiba di depan pintu rumahnya, Nampak ibu Kevin kini tengah berdiri di ambang pintu tuk menunggu kepulangan anaknya sembari menahan rasa cemas di dada.
“mamahku sayang, Kevin pulang!!!”
“akhirnya ini anak satu yang bandelnya minta ampun pulang juga, dari mana aja kamu vin hah? Ternyata masih ingat rumah kamu yah!”
“yah dari sekolah lah tadi, dan lagi aku juga singgah di toko kue”
“kamu enggak khawatir apa sama mamah vin? Hah! Mamah itu udah nelfon kamu puluhan kali dan nggak ada satupun yang dijawabnya. Gara gara kamu mamah tuh hampir pingsan”
“ya maaf mah! kan Kevin tadi pas di toko kue ninggalin hp di mobil, jadi panggilan mamah nggak kedengaran sama Kevin”
“yah kalau gitu jangan di lupa dong, mamah tuh paling cemas kalau kamu nggak ngejawab panggilan mamah vin! Kamu tahu kan!”
“iya mah… iya kevin salah, kali ini aku bakal ngalah sama mamah. Berhenti dong marahnya mah! kevin udah capek-capek loh tadi singgah buat beliin roti kesukaan mamah”
“yaudah mamah enggak marah lagi, mana roti yang kamu maksud tadi hah?”
“yehh mamah... kalau roti aja langsung padam apinya”
“vin! Kamu nggak mau mamah kurung kamu lagi kan di rumah?”
“iya mah iya… yuk masuk aja ke dalam, biar nanti kevin kasih ke bibi buat di sajiin, udah mah sana pergi ke ruang makan sambil duduk manis”
wahhh.... akhirnya bisa up juga setelah sekian lama di tunda😄😄
Dukung terus novel ini yah para readers😊
kritikan anda sangat diperlukan untuk membangun novel ini