The McNaught

The McNaught
Kepulangan



Suasana di seluruh penjuru kota Pulau Sotus masih terlihat begitu ramai di lalui oleh masyarakatnya.


Sebagian darinya memilih tuk menaiki sebuah kendaraan agar dapat lebih cepat sampai di tujuan, namun separuhnya lagi justru lebih memilih tuk berjalan kaki dengan santai ataupun menaiki sepeda dengan tujuan dan maksudnya tuk melihat suasana kota yang begitu indah di saat malam telah menerjang dan menyelip segala cahaya.


Di waktu ini, orang-orang akan selalu berangsur keluar dari rumah hanya tuk melihat pemandangan malam yang spesial.


Malam ini adalah malam yang akan terasa begitu berbeda daripada malam biasanya, karena saat ini seluruh penduduk Pulau Sotus akan menyaksikan serangkaian acara dengan maksud tuk merayakan tanggal yang bertepatan dengan dibangunnya kota ini oleh sang pendahulu.


Tentu semua penduduk kota akan berbahagia malam ini, namun sayangnya hal ini tak akan dapat mengambil perhatian terlebih membangun kegembiraan dari seorang wanita paruh baya yang kini sedang duduk termenung di atas sebuah kursi taman belakang rumahnya.


Pandangannya sayu, dan matanya hanya menatap kekosongan, badannya pun terlihat begitu lemas dan tergulai lemah di atas kursi.


Dari sudut taman itu, di sebuah pintu kaca yang menjadi peratara tuk masuk ke dalam rumah.


Terlihat beberapa pelayan kini tengah memandangi majikannya yang telah hanyut dalam kekhawatiran, sembari memberikan rasa simpati secara diam-diam dari dalam hati mereka masing-masing, karena tak tega melihat sang tuan rumahnya kini tengah bersedih.


Wanita paruh bayah yang bukan lain adalah ibu kandung Kevin itu tak menyadari keberadaan para pelayanya karena begitu sibuk dengan pikirannya yang selalu menerka-nerka.


Sebelum ia menerima sebuah telepon, ibu Kevin masih dalam kondisi baik-baik saja. Akan tetapi, setelah ia menerima telepon dari Pak Jeffry, sang ketua pelayan yang kini bertugas tuk mendampingi Kevin beserta dua orang temannya berlibur. Ia langsung terjatuh dan tanpa sadar telah memecahkan handphone yang dipakainya tuk menerima kabar buruk dari Pak Jeffry.


Dalam kabar yang ibu Kevin terima dari Pak Jeffry, tenyatakan bahwa Kevin telah menghilang bersama Cassy sedari Pak Jeffry keluar dari bangunan usang kedai kopi itu bersama Tiany sepupu Cassy.


Pak Jeffry berani menyatakan kehilangan Kevin kepada ibunya sekaligus majikannya karena ia telah menyimpulkan pendapat bahwa Kevin dan Cassy telah hilang entah kemana, dan alasan ia menyimpulkan hal yang demikian adalah sebuah kenyataan bahwa dirinya sendiri telah mencari keberadaan mereka berdua di dalam villa juga sekitarnya, dengan di bantu oleh Tiany dan juga beberapa bodyguard yang dikirim ibu Kevin tuk menjaga keamanan Kevin dan teman-temannya walau dalam keadaaan bersembunyi.


Sang waktu terus saja berjalan, melahap segala derita juga kesenangan, tanpa memikirkan perasaan orang yang tersakiti.


Lemari jam yang letaknya tak jauh dari ibu Kevin menunjukan pukul 10:24 dengan jarum panjang indahnya, namun ibu Kevin sendiri tak memerhatikan jam itu dan hanya menatap kosong sebuah tanaman bunga anggrek yang di tanam secara berurutan dan berbaris rapi.


Akan tetapi setelah sedetik kemudian, perhatiannya sontak beralih karena deringan ponselnya yang begitu keras mengusik ketenangan dan juga pendengarannya.


Deringan itu menandakan bahwa sebuah panggilan telah masuk dari nama yang bertuliskan ’scrt’ dengan artinya yang hanya di kethui oleh ibu Kevin.


Setelah mengalihkan pandangannya dan melihat nama aneh itu tertera di ponselnya yang berdering, ibu Kevin lantas mengangkat panggilan itu walau layar ponselnya kini telah rusak dan pecah.


Sesudahnya ia menekan tombol terima, ia tak mengucapkan sepatah kata pun bahkan kata sambut yang biasa di ucapkan oleh orang orang saat menerima panggilan, tak ia ucapkan.


“Lapor Bu! Kevin dan Cassy telah kami temukan di daerah utara, mereka memesan taksi melalui ponsel cassy yang telah kami lacak sedari tadi.”


“Apa? Kalian sudah nemuin mereka?”


“Iya Bu! Kami telah menemukan mereka.”


“Mereka baik-baik aja kan?”


“Sepeti yang kami saat ini lihat dengan mata kepala kami sendiri, sepertnya kita dapat mengira bahwasanya mereka dalam kondisi yang sangat baik karena kami sesekali mendapati mereka berdua berdua sedang tertawa bersama.”


“Kerja yang bagus! Kalian langsung ambil saja mereka dan turuti semua kemauannya.


Tapi ingat, kalian tidak boleh terlihat mencurigakan, dan penyamaran kalian harus sempurna.


Jika sampai kalian ketahuan oleh Kevin, saya akan mengambil tidakan yang tidak akan pernah kalian duga. Paham!”


“Baik Bu! Kami mengerti dan akan berusaha semaksimal mungkin.”


“Saya berikan tanggung jawab keamanan anak saya dan temannya kepada kalian.”


“Baik Bu! Kami akan menanggung semuanya dan menjalankannya dengan lancar tanpa ada masalah.”


“Bagus! Kalau seperti itu, saya akan menutup teleponnya.”


“Baik bu!”


Tuuut…


Dering ponsel saat ibu Kevin menutup panggilannya berbunyi, menandakan ia telah memutus jaringan telepon antara dirinya juga seorang pekerjanya yang sedang menyamar menjadi supir taksi tuk menjemput Kevin beserta Cassy.


Setelah ibu Kevin menutup panggilan tersebut, ia lantas membuang nafas yang di tahannya sedari tadi karena kondisi saat ia berbicara dengan pekerja suruhannya itu sangatlah tegang.


Seketika nafas leganya terhembuskan, tergambar jelas di wajahnya sebuah kegembiraan yang tiada tandingnya, meski rasa khawatirnya tak kunjung runtuh karena ia terus menanti kepulangan anaknya dengan selamat sampai ke rumah.


Di sebuah jalan yang jauh dari keberadaan kediaman ’Adinata’ di pinggir kota sana, terdapat Kevin dan Cassy sedang menanti sebuah kendaraan yang dapat mengantarnya kembali ke hutan,agar mereka dapat melanjutkan liburannya bersama Pak Jeffry juga Tiany.


Dari tempat Kevin dan Cassy saat ini, mereka berdua telah melihat sebuah mobil yang nantinya akan menjadi tumpangan tuk kembali ke barat daya.


Mobil dengan warnah putih tulang itu berjalan dalam kecepatan sedang, meski jalan yang di lewatinya kini nyatanya sedang tak dilalui oleh sebuah kendaraan lain.


Silih waktu berlalu, mobil putih itu saat ini telah berada di hadapan dua orang itu, mengisyartakan bahwa ia bersiap tuk ditumpangi oleh Kevin juga Cassy.


Akan tetapi niat di kedua hati sepasang teman itu seperti mengurung diri di dalam sangkar, karena mereka berdua seolah ragu tuk memakai kendaraan tersebut agar dapat kembali ke hutan, dengan alasan yang terbesit di dalam hati walau kejelasannya tak menentu.


Samar-samar di hati Kevin dan Cassy, terdengar suara yang mengarahkan mereka untuk tidak menaiki taksi di hadapannya, namun waktu terus berjalan, memaksa keduanya untuk menjawab dengan keputusan yang berada di kedua pilihan.


Sehingga dengan tekad yang kecil, Kevin dan Cassy lalu menaiki taksi itu dan rela tuk menepis segala keresahan juga kecurigaan yang membuat hati mereka terasa gundah dan bimbang.


“Malam pak!”*Kevin


“Malam kak!”*Supir


“Bapak sudah terima konfirmasi tujuan kami?”*Cassy


“Kalau gitu silahkan pak! Kita langsung jalan aja.”*Kevin


“Baik kak!”*Supir


“Bapak bisa cepetan dikit nggak? Soalnya sekarang udah jam setengah sebelas!”*Kevin


“Baik kak! Saya siap menerima segala permintaan dan juga tetap menjaga keamanan pelanggan saya.”*Supir


“Kalau gitu, tolong kerjasamanya yah pak!”*Kevin


“Siap kak!”*Supir


Setelah menjawab pertanyaan Kevin, pekerja keluarga ‘Adinata’ yang menyamar itu lantas menancapkan gas mobilnya lalu bersiap tuk menulusuri jalan yang lengang.


Sepanjang jalan yang akan Kevin dan Cassy telusuri, hanya memperlihatkan beberapa kendaraan lain melintas di samping mereka, bahkan jarak waktunya pun relatif berjauhan.


Roda ban terus berputr tanpa henti, ia hanya dapat patuh kepada seorang yang memandunya dari dalam mobil, baik itu belokan atupun laju kecepatan, semuanya ia patuh tanpa bungkam.


Mobil putih yang kini dikendarai Kevin beserta Cassy, terus melaju dalam kecepatan tinggi, menelusuri jalan dan melawan arah angin. Dari dalam kabin mobil itu, tampaknya Kevin juga Cassy sedang terlelap dalam tidur karena merasa badan mereka sangat letih untuk terus terjaga di dalam suasana mobil yang begitu menenangkan pikiran dan hati.


Kedua orang itu tentu tak bisa menolak suguhan dari sebuah kenyamanan yang hanya berasal dari sebuah mobil biasa namun mampu membuat orang terlena akan ketenangannya.


Meski tidur dengan posisi duduk, nampaknya mereka berdua telah nyaman dan berkelana ke alam mimpi, meski sesekali kelopak mata keduanya masih terbuka akibat guncangan mobil yang di akibatkan oleh jalan bebatuan.


Di sebuah distrik hutan hujan Pulau Sotus bagian barat, nampak sebuah bangunan yang menjulang tinggi dan begitu menonjol jika dilihat dari atas menggunakan helikopter atupun sejenisnya.


Salah satu dari dua bangunan itu adalah sebuah villa besar yang luas bangunannya tak kira-kira, bahkan terdapat sebuah danau di belakangnya.


Satu bangunan lainnya hanyalah berupa toko kedai roti usang yang telah lama ditinggalkan oleh pemiliknya sehingga menjadi kumuh dan tidak terawat sama sekali, namun bangunan itu masih menyimpan banyak misteri dan keganjalan jika dilihat dari kejadian hari ini, kejadian malang yang di alami oleh Kevin, Cassy, Tiany, beserta Pak Jeffry.


Akan tetapi beruntungnya, mereka dapat keluar dari sana meski telah melewati beberapa kesulitan. Dan terlebihnya lagi, cassy mendapatkan sebuah kemampuan yang berasal entah dari mana.


Walau Kevin dan Cassy keluar lebih cepat dari bangunan tua mengerikan itu, akan tetapi Pak Jeffry juga Tiany sendiri kini akhirnya telah terbebas dari cengkraman bangunan itu, yang tentunya mereka berdua harus melewati beberapa kesulitan, sama halnya dengan Kevin dan Cassy.


Meski jarak waktu Pak Jeffry dan Tiany terpaut jauh dari Kevin juga Cassy, dan bahkan bersilang beberapa jam diantaranya, akan tetapi mereka berdua masih bisa bersyukur telah keluar dari sana dengan selamat.


Dan saat ini, seteleh Pak Jeffry juga Tiany telah keluar dari sana, mereka berdua lantas beranjak pergi dari tempat itu dan menuju ke dalam villa untuk membereskan beberapa barang yang mereka bawa dari rumah juga membersihkan sarana yang nantinya akan digunakan sembari menunggu Kevin dan Cassy kembali dari utara.


Di dalam villa itu, Pak jeffry membersihkan beberapa ruangan yang nantinya akan di gunakan sebagai tempat istirahat mereka.


Tiany sendiri hanya dapat membantu Pak Jeffry di bagian dapur, karena ia di batasi oleh Pak Jeffry tuk bekerja demi kesehatannya.


“Pak Jeff! Kevin sama Cassy ke mana sih?”


“Waktu bapak menghubungi orang yang melacak mereka berdua, sepertinya tuan kevin dan nona Cassy saat ini berada di utara!”


“Hah? Kok mereka bisa pergi ke sana?”


“Saya juga kurang tahu nona Tiany.”


“Terus aku ditinggal lagi huh!”


“Sebaiknya nona Tiany tidak usah mengambil kesimpulan yang membuat anda marah, lebih baik anda istirahat saja sambil menunggu tuan Kevin dan nona Cassy datang.”


“Kalau gitu aku gak marah lagi deh! Tapi masalahnya aku juga nggak mau istirahat Pak Jeff!”


“Terus nona Tiany mau apa?”


“Saya mau bantuin Pak Jeffry susun barang aja, supaya nunggu Kevin dan Cassy waktunya gak terasa.”


“Wah! Nona Tiany memang sangat baik dan mempunyai hati yang lembut.”


“Ah! Pak Jeff bisa aja.”


“Haha… maafkan ucapan saya yang lancang nona.”


“Iya! Gak apa-apa kok, namanya juga becanda.”


“Anda memang sangat pengertian non!”


“Makasih atas pujiannya Pak Jeff!”


“Iya sama-sama!”


“Kalau gitu aku pergi ke dapur aja yah Pak Jeff! Aku mau lap debu yang ada di piring.”


“Silahkan non! Saya mengizinkan anda karena menurut saya itu adalah pekerjaan yang cukup ringan.”


“Makasih Pak Jeff!”


“Sama-sama non!”


Setelah perbincangan singkat itu, Pak Jeffry lalu kembali bekerja, membereskan segala keperluan yang akan digunakan oleh mereka nantinya.


Tiany sendiri saat ini tengah beranjak dari tempatnya dan menuju dapur tuk membersihkan beberapa piring dan alat-alat lainnya yang berdebu akibat tak pernah terpakai selama beberapa bulan.