
Arakan awan masih terbentuk di langit sana, beterbangan ke sana dan kemari walau tak tahu arah tujuan.
Ia mengambang di atas demi melindungi manusia yang bernaung di bawahnya di saat sinar matahari menyengat kulit dengan begitu panasnya.
Namun ketika malam, sang awan sendiri tak tahu fungsi dirinya selain hanya berupa pembawa hujan dan petir di kala bumi ingin bersedih.
Di malam yang sunyi ini, jarum jam telah menunjukan pukul 11:18, di mana saat ini sang waktu tak lama lagi akan menjemput hari baru pada saat pertengahan malam tiba.
Di waktu ini pula, sebuah mobil putih yang bannya di penuhi oleh becekan tanah dan lumuran lumpur kini tengah menelusuri jalan bebatuan di baluri tanah untuk menembus masuk ke dalam hutan hujan.
Mobil putih itu tak lain adalah kendaraan yang di tumpangi oleh Kevin dan Cassy agar dapat sampai di villa tempat mereka berlibur bersama Tiany dan di temani oleh Pak Jeffry.
Cuaca di sana tak begitu mendukung, karena di atas hutan tersebut terdapat segumpal awan hitam yang bertebaran menutupi langit dan menyelimuti malam, bersiap tuk mengeluarkan juga meluapkan gemuruh amarah beserta kisah sedihnya.
Mobil putih yang di tumpangi oleh Kevin dan Cassy, saat ini masih berusaha sekuat mungkin melawan beceknya tanah dan licinnya lumpur yang di sebabkan oleh rintikan air dari awan hitam di atas hutan tersebut.
Awan hitam itu masih saja menyelimuti hutan tempat di bangunnya villa keluarga ‘Adinata’ sedari beberapa jam lalu, akan tetapi ia belum pernah menumpahkan ataupun memuntahkan seluruh amarahnya.
Ia sedari tadi hanya menurunkan setetes air yang menjadikan sarana penghubung berupa jalan bebatuan di lumuri lumpur itu basah terguyur air, sehingga mobil yang akan melintas di atasnya akan mendapatkan hambatan, dan saat ini hambatan itu tengah di alami oleh mobil tumpangan Kevin dan Cassy.
Beberapa menit kemudian, setelah mobil putih tumpangan Kevin dan Cassy itu berubah warna menjadi cokelat yang sebelumnya berwana putih bersih akibat lumpur, akhirnya mereka dapat menemukan keberadaan villa ‘Adinata’ beserta bangunan tua disampingnya, sehingga kedua orang itu bernyatakan telah sampai di tujuan.
Sesudah Kevin membangunkan Cassy yang tertidur pulas sedari mereka berada di utara, ia pun akhirnya bersiap-siap untuk turun lalu beranjak masuk ke dalam villa yang kini nampaknya telah di huni oleh seseorang.
Dengan setengah sadar, Cassy lalu mengikuti semua gerakan Kevin meski ia sendiri tak tahu sedang mengerjakan apa, pikirannya hanya menuntun dirinya tuk bergantung kepada kevin meski kesadarannya tak begitu pulih.
“saya sudah konfirmasi pembayarannya yah pak!”
“iya kak!”
“kalau begitu saya langsung turun aja yah pak.”
“silahkan kak! Sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada kakak karena telah memilih kami sebagai costumer.”
“hehe… iya pak sama-sama!”
Sesudah Kevin mengucapkan kata balasan dari ucapan terima kasih yang di katakan supir mobil di hadapannya itu, ia langsung menarik gagang pintu mobil tersebut lalu keluar dari dalamnya dengan diikui oleh Cassy yang sempat terkejut akibat gerakan Kevin.
Keluarnya kevin dari mobil putih itu, ia lantas melangkahkan kakinya menuju villa walau dengan lankahny itu ia ambil dengan sangat hati-hati karena jalanan becek berlumpur dapat mengakibatkan pakaiannya kotor.
Cassy sendiri nampaknya telah menguasai kesadaran dirinya sehingga ia tak lagi berjalan dengan rangkulan dari Kevin agar ia dapat berjalan dengan lebih-hati-hati.
Langkah kaki kedua orang itu hampir selaras, meninggalkan bekas pijakan dari alas sepatu mereka di atas tanah yang lumayan becek akibat gerimis hujan.
Kini mereka berdua telah berada di halaman depan villa besar itu, namun langkah Kevin sontak terhenti ketika Pak Jeffry membuka pintu villa yang bahannya terbuat dari kayu milik keluarga ‘Adinata’ tanpa pernah ia duga sebelumnya.
Saat pintu kayu itu terbuka, Kevin memang menghentikan langkahnya, akan tetapi Cassy tetap melanjutkan langkah kakinya bahkan ia juga menambah kecepatan jalannya sehingga tampak seperti sedang berlari, meski ia tahu bahwa pakaiannya akan terlumuri oleh bercak lumpur yang terbesit dari hentakkan kakinya.
Alasan Cassy saat ini berjalan dengan langkah cepat adalah ia melihat sosok wanita yang bukan lain adalah Tiany sepupunya.
Cassy berlari menuju pintu itu dan hampir menyenggol Pak Jeffry saking inginnya ia bertemu dengan sepupunya itu.
Pak jeffry sendiri hanya dapat memaklumi karena ia tahu bahwa cassy saat ini tak dapat lagi menahan rasa bersalah juga rindunya kepada Tiany.
Sesampainya Cassy di sana, ia langsung memeluk sepupunya itu dengan erat seolah tak ingin lepas darinya.
Melihat kejadia haru itu, Pak Jeffry beserta Kevin hanya dapat tersenyum dan sesekali menampakkan gigi mereka karena tingkah laku kedua gadis itu.
Malam semakin larut, dan tak lama lagi ia akan berada di pertengahan lalu akan mengganti hari ini dengan hari esok yang lebih baik.
Bulan purnama di waktu ini juga masih terlihat begitu jelas, ia menyemburkan sinar putihnya dan menepis segala kegelapan di malam hari yang bisa ia tembus.
Arak-arakan awan pun kini nampaknya tak terlihat lagi, entah kemana ia pergi terbawa oleh sang angin.
Di malam yang dingin ini, Kevin, Cassy, Tiany, dan juga Pak Jeffry kini tengah berkumpul di ruangan tengah di dalam villa milik keluarga ‘Adinata’, keluarga kevin.
Di dalam sana, mereka berempat saat ini sedang duduk melantai untuk beristirahat dengan di temani oleh secangkir cokelat hangat yang tak akan pernah lupa ditaburi marshmallow di atasnya agar menambah cita rasa baru dan menenangkan.
Dengan minuman manis dan juga sepiring besar cemilan yang berada di hadapan mereka masing-masing, keempat orang itu sedari tadi terus saja membahas sebuah topik yang alurnya tak menentu di dalam pembicaraan yang ringan, bahkan sesekali terdapat candaan terlintas di dalamnya.
“Tiany! Kamu kok bisa langsng ada di villa?”*Kevin
“Kamu kok nanya aku sih?”*Tiany
“Yahh…
Sebenernya aku penasaran aja.”*Kevin
“Seharusnya tuh aku yang nanya sama kamu Vin! Kamu dari mana aja sama si Cassy baru bisa pulang malam kayak gini.”*Tiany
“Duhh! Gimana yah jelasinnya. Cass! Kamu aja deh yan jelasin.”*Kevin
“Loh kok jadi aku?”*Cassy
“Kan kamu yang jadi biang keroknya.”*Kevin
“Kalian kok saling nuduh? Bukannya kalian berdua yang pergi?”*Tiany
“Nggak tahu tuh Kevin, jadi cowo kok gak mau tanggung jawab.”*Cassy
“Haduehhh…
Ujung-unjungnya pasti aku juga yang di salahin.”*Kevin
“Haha…”*Pak Jeffry
“Yah emang harus kamu Vin! Kan kamu tuh cowo”*Tiany
“Iya deh iya!”*Kevin
“Aku gak ngatain kamu loh Vin.”*Cassy
“Tapi kan sama aja huh!”*Kevin
“Hehehe…
Sorry Vin!”*Cassy
“Tapi kalau boleh saya tahu, tuan Kevin dan nona Cassy pergi ke utara untuk apa yah? apakah ada keperluan atau yang lain?”*Pak Jeffry
Mungkin gitu deh Pak Jeff!”*Cassy
“Iya Pak Jeff! Kami tadi ke utara cuman ada keperluan.”*Kevin
“Ohh jadi gitu ceritanya? Tapi sebelumnya saya minta maaf atas ketidaknyamanan anda karena ini perintah langsung dari ibu anda tuan, apakah saya masih bisa mengajukan satu pertanyaan lagi?”*Pak Jeffry
“Iya Pak Jeff! Tanya aja gak apa-apa kok, iya kan Cass!”*Kevin
“Iya Pak! Bapak gak usah segan sama kami hehe…”*Cassy
“Kalau begitu, bolehkah saya tahu ada keperluan apa? kok bisa sampai pergi ke utara tanpa pamit atupun memberi tahu saya dahulu?”*Pak Jeffy
“Hmm…
Kalau itu sih alasannya aku sama cassy pergi ke utara gara-gara kita mau ke apotik ambil obat karena perut Cassy katanya lagi sakit.”*Kevin
“Iya Pak Jeff! Yang di bilang Kevin itu emang bener.
Aku tadi memang udah sakit perut gara-gara gak makan dari siang.”*Cassy
“Jika demikian, maafkanlah kekurangan saya karena tak bisa memahami situasi anda nona Cassy.”*Pak Jeffry
“Ah! Gak apa-apa kok Pak Jeff! Ini juga bukan salah bapak.”*Cassy
“Kalau begitu saya sangat berterima kasih kepada anda non!”*Pak Jeffry
“Iya Pak Jeff! Sama-sama.”*Cassy
“Kalau begitu boleh saya ke belakang untuk menyiapkan makanan?”*Pak Jeffry
“Iya pak silahkan!”*Tiany
“Silahkan pak jeff!”*Cassy
“Iya Pak Jeff masuk aja!”*Kevin
Pak jeffry lalu kembali ke dalam setelah Tiany,Cassy, dan juga Kevin kompak mengucapkan kata yang menyilahkan dirinya untuk kembali ke dapur belakang agar dapat menyiapkan sebuah hidangan bagi ke tiga anak itu.
Seperginya Pak Jeffry ke dapur, Kevin kemudian mengusulkan sebuah ide kepada Tiany dan Cassy agar tidak merasa bosan selama menunggu hidangan yang di siapkan oleh kepala pelayannya itu.
“Cass! Kamu gak bosen apah?”*Kevin
“Hmm…
Kayakya aku emang bosan deh vin, karena kia dari tadi cuman bicara-bicara gak jelas doang dari tadi.”*Cassy
“Ohh gitu yah?”*Kevin
“Iya Vin!”*Cassy
“Kalau kamu Tia? Kamu gak ngerasa bosen?”*Kevin
“Sebenernya sih aku juga bosen Vin hehe…”*Tiany
“Jadi kita sama semua dong!”*Cassy
“Kayaknya gitu sih Cass.”*Tiany
“Kalian mau gak bosen lagi?”*Kevin
“Iya nih Vin!”*Cassy
“Iya Vin!”*Tiany
“Nah…
Kalau gitu kita main tebak kartu ‘werewolf’ ajah yuk!”*Kevin
“Bagus tuh Vin!”*Cassy
“Iya Vin! Kita main itu aja.”*Tiany
“Kalau gitu aku ambil kartu nya dulu yah!”*Kevin
“Emang kamu nyimpennya di mana Vin?”*Cassy
“Aku simpan kartunya di tas Cass!”*Kevin
“Ohh…”*Cassy
“Kamu simpan kartu itu di tas kamu Vin?”*Tiany
“Iya Tia! Aku nyimpennya di tas, kamu tahu di mana tasnya? Soalnya Pak Jeffry tadi bilang kalau dia udah nurunin semua barang dari mobil.”*Kevin
“Iya Vin aku tahu kok Pak Jeffry nyimpen tas kamu di mana?”*Tiany
“Pak Jeffry simpan tas aku di mana Tiany?”*Kevin
“Kayaknya dia tadi simpannya di kamar lantai dua deh Vin!”*Tiany
“Oh oke! Kalau gitu aku mau ke kamar dulu.”*Kevin
“Iya Vin!”*Tiany
“Hati-hati yah Vin!”*Cassy
“Iya Cass kamu tenang aja!”*Kevin
Ide tersebut hanya berupa sebuah permainan yang dapat dimainkan oleh beberapa anggota saja, dengan menggunakan kartu sebagai alat perantaranya.
Permainan itu memanglah sangat umum dan begitu wajar dimainkan saat sekelompok orang tengah merasa bosan karena sedang berada dalam lingkungan yang tak dapat mengakses jaringan internet.
Usulan Kevin itu bukanlah hal yang tidak terencanakan, melainkan hal tersebut telah ia rencanakan sebelumnya.
Kevin memang sengaja membawa kartu terseut dari rumah, karena ia berpikir bahwa saat berada di villa nanti pastinya akan sagat membosankan jika tak ada hiburan sedikitpun, dan akhirnya ia lalu memutuskan untuk membawa beberapa permainan yang ia siapkan dan simpan dengan aman di dalam tasnya.
Mengenai tanggapan Tiany dan Cassy, mereka berdua tentu saja sangat berantusias dengan usulan Kevin itu, karena menurut mereka hal tersebut akan sangat-sangat menghibur hati dan menghilangkan rasa bosan juga kejenuhan.