
Hujan mulai mengguyur kawasan pusat kota, gemuruh awan seolah menampakkan kesedihan juga amarahnya, kegelapan kini menaungi langit kota, dalam suatu ruangan rintik sendu nan kelabu mulai menyergap seluruh hati peserta tes seleksi, kecemasan dan rasa was-was tampak bermunculan dari wajah ke wajah setiap detiknya.
Kevin putra adinata, seorang anak bungsu yang berasal dari keluarga konglomerat pulau sotus dengan kemampuan juga potensi akademik ysng tidak terlalu menonjol itu tak jauh berbeda dengan calon kandidat lainnya, ia kaget juga khawatir tidak kepalang melihat namanya tercantum sebagai salah satu peserta terbaik dengan urutan ke-4 dari atas.
Saat ia mendengar namanya di sebutkan dalam acara penutupan acara di ruang aula, kesadarannya sempat terguncang dan ia mengira bahwa namanya kembar dengan seseorang sangking tidak percayanya bahwa itu dirinya. Dua jam yang lalu ia masuk ke dalam ruangan tes seleksi itu, ruangannya cukup besar dan interiornya juga lumayan berkelas, alat-alatnya pun semua barang branded terkenal.
Detik kala ia masuk lalu duduk di kursi bagian belakang, ia pasrah dengan takdirnya dan menyerah begitu saja walau selama ini dia tak pernah menyerah sekali pun.
Setiap detik ia lalui dengan rasa kalang kabut, keringat dingin pun tanpa sadar mulai bercucuran di pelipisnya.
Begitu lembar jawaban ia kerjakan, seketika pikirannya seolah terhenti dan menemui jalan buntu, meski beberapa bulan ini ia meluangkan waktunya untuk bersungguh-sunguh dalam pelajaran dan segala macam ***** bengeknya, serasa waktu yang dituangkannya hanya demi pelajaran itu terbuang sia-sia bahkan tak ada satupun darinya yang utuh naik ke dalam soal ini.
Sekalipun ada beberapa soal yang mengangkat secuil materi pelajarannya, namun bagi dirinya soal tersebut tak dapat ia jumpai jawabannya karena pengembangan dan perpaduan konsepnya terlalu tinggi.
Akhirnya lembar jawaban itupun ia isi dengan asal dan tebakan yang entah benar atau salah, harapan kevin mulai runtuh dari hatinya yang segenap ia kumpulkan sebelum memasuki ruangan ini, penyesalan diri mulai muncul di benaknya setelah ia keluar dari ruangan itu.
Ketika di penghujung acara penutupan, kevin kala itu masih tak percaya dirinya berhasil dan bahkan mendapat lebih dari dugaannya, lulus saja ia merasa tak percaya, terlebih lagi kini ia adalah salah satu murid yang akan melanjutkan sesi tes babak ke-2 untuk menyeleksi kepantasan diri juga potensi dalam memasuki program kelas khusus.
Respon ibunya waktu itu berbanding terbalik dengan kevin yang terkejut tak kepalang, ibu kevin justru memeberi respon kagum kepada anknya tanpa ragu sedikitpun bahwa nama yang di sebutkan itu benar adanya.
Tanpa meminta persetujuan dari kevin, ibunya langsung memasang kabar saat ini kepada keluarga besar Adinata, alhasil kevin hanya pasrah dan memendam rasa curiganya.
Ia berniat untuk kembali ke sekolah ini dengan tujuan untuk meminta pertanggung jawaban dan kepastian bahwa dirinya memang lulus dengan nilai tertinggi urutan ke-4 dari pihak berwajib.
Bukan berarti kevin tak rela dan senang bahwa fakta dirinya kini telah lulus tes, namun kejanggalan hatinya membuat ia bertanya-tanya akan kebenaran yang sebenarnya.
Ibunya merasa harus berterima kasih pada pimpinana direktur dengan alasan silhturahmi.
Oleh sebab itu setelah melalui rangkaian acara di ruang aula, kevin beserta ibunya pergi menemui direktur sekolah langsung di kantor tempat ia bekerja untuk berterima kasih sekaligus pamit undur diri meninggalkan sekolah.
Di dalam kantor itu kevin hanya terdiam dan hanya memandangi sekelilingya, di samping Kevin ibunya justru nampak sedang asik berbincang dengan bapak direktur itu. Prof. Dr. Alpheaus Robinson, itulah nama yang tertera di atas papan nama sang direktur, ia seorang pria tua yang masih menjabat di sekolah ini karena kegeniusannya juga kesetiaannya terhadap sekolah ini begitu tinggi.
Selama masa jabatannya, pengaruh maupun kepiawaiannya dalam membimbing siswa-siswi sekolah ini sangatlah besar dan telah menorehkan sejarah besar bagi perkembangan sekolah.
“Hebat yah anak ibu bisa lulus dengan nilai yang baik, wajar sih kalau kevin ini pintar, kan ayahnya juga dulu salah satu murid terbaik yang pernah saya didik, jadi kecerdasan ayahnya nurun ke anaknya, pan biasanya emang gitu kan bu.” sahut direktur itu saat di penghujung obrolannya dengan ibu kevin alih-alih memuji kevin langsung di hadapan ibunya
“Ahh… nggak kok pak, kevin anak saya ini orangnya tidak seperti yang bapak bayangkan, dia masih polos, belum banyak pengalaman”
timpal ibu kevin menangkis pujian sang direktur itu dengan perendahan diri.
“Kalau gitu kami pamit dulu yah pak, nanti kalau sudah masuk saya titip kevin sama bapak yah, biar belajarnya tambah giat.” sambung ibu kevin setelah ia ucapkan kata-kata tadi dan hendak tuk pergi
Ban mobil mulai berputar, gas telah tertancap dengan kecepatan rendah, hujan yang sedari tadi mengguyur kota kini telah sirna, sinar mentari mulai menampakkan dirinya kembali, tampak segerombolan orang masih duduk dan berjalan-jalan santai di area lapangan juga pelataran parkir sekolah ternama pulau sotus, sebahagian dari mereka tampak bahagia nan gembira, namun sisanya hanya mengekspresikan rasa kecewa yang merobohkan semangat.
Semua yang menerima kabar baik pastinya akan menyiratkan kegembiraan tersendiri begitupun dengan yang menerima pernyataan buruk pastinya akan mengekspresikan rasa sedih juga kecewa, namun beda halnya dengan kevin saat ini.
Setelah ia beranjak dari sekolah itu sampai kepada melajunya mobil yang dia tumpangi, tak pernah sedetikpun ia merasakan kepuasan walau kegembiraan juga tengah menerjang, bukan hanya soal kelulusannya saja, namun suatu perkara yang tak dapat diakali manusia justru paling mengganggunya.
'Liontin' yang ditemukannya dari dalam tas saat ibunya pergi, membuat secuil ingatan tentang mimpi yang ia kisahkan dalam tidurnya kembali menyergap pikiran dan imajinasinya.
Akan tetapi, lagi-lagi ia hanya mengambil kesimpulan yang masuk akal dan segara membuyarkan pikirannya lalu kemudian berbincang dengan ibunya
“Mah…! mamah, aku kayaknya nggak yakin deh soal pengunguman tadi, aku sih kayak nggak percaya gitu sama hasil tes ku, yah karena jawaban yang aku isi saja masih ngasal, masa sih bisa ada di urutan empat, mana mungkin kan mah! Kalau mamah percaya nggak?”
“Aduh Kevin anak mamah… kamu masih nggak percaya?, nih mamah kasih tahu yah! Tadi kita pergi ke ruangan direktur buat apa coba? Hah! Ya karena mamah pengen pastiin itu nama kamu apa bukan, terus mamah percaya deh di akhir-akhir pas pak direktur bilang nama kamu itu urutan ke empat tanpa mamah pernah nyebutin nama kamu! Nah, secara tidak langsung pak direktur tuh udah tahu bahwa kamu itu lulus dengan nilai tinggi! Gitu, paham kamu.”
“Tapi kan mah, bisa aja pak direktur itu bohong, aku masih nggak percaya ah! Masa sih aku bisa sampai ke situ?”
“Ihh!!! Anak ini dibilangin malah ngeyel, kamu tuh terima aja loh, kan bagus juga, gimana sih? Heran aku, punya anak kok kayak kamu Kevin.”
“Yah aku masih nggak percaya aja gitu, hmm… kaget! Semacam kagetlah mah, jadi ceritanya besok aku mau ke sini lagi, buat mastiin heheh”
“Kamu mau mastiin gimana lagi, hah! Udahlah vin, jangan ajak mamah ngomongin ini lagi! Ennek tau nggak mamah dengernya kalau kamu ngotot ajah! Lama-lama mamah bisa tambah tua gara-gara bicara terus ama kamu, pasti sukanya bikin mamah naik pitam ajah. Kalau kamu masih belum percaya juga silahkan aja pastiin sendiri ke sana, tapi mamah nggak mau ngantarin apalagi nemeni kamu yah vin!”
Bincang kevin bersama ibunya dari dalam mobil selama perjalanan pulang, hingga ia tak sadar lagi akan kecurigaannya terhadap rahasia takdir yang begitu indah walau hati dan pikirannya menolak.
Jalanan masih basah selepas mentari memanas, bekas hujan di setiap helai daun pepohonan yang berjejer rapi terawat di pinggir jalan juga masih terlihat, kegelapan saat gemuruh awan kini telah sirna di sergap sinar matahari.
Waktu kini menunjukan pukul 12:43, matahari telah tepat berada di atas kepala. Mobil yang ditumpangi kevin akhirnya telah sampai di depan pintuh rumah berwarna emas kecokelatan milik keluarga ayahnya 'Adinata'', ibu dan anak itu pun serentak keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah mewah keluarga mereka.
Begitu masuk kedalam rumah, kevin langsung menerobos pelayan yang menyambutnya di ambang pintu dengan sedikit menoleh ditambah senyum simpul, langkah kakinya ia percepat melewati ruangan-ruangan besar untuk sampai di kamarnya yang berada di atas loteng.
Kevin lebih memilih tidur di kamar loteng dengan alasan ia ingin melihat rasi bintang pada malam hari dengan menggunakan teleskopnya, kamarnya itu tidak sebesar kamar-kamar lain yang berada didalam rumahnya, namun cukup tuk ditempati oleh beberapa orang dewasa bertubuh besar nan tinggi.
Secercah cahaya menembus kaca jendela kamar kevin, kicauan burung sayup-sayup terdengar dari pohon besar juga berdaun lebat yang tepat berada di dekat jendela kamarnya itu, beberapa serangga terbang hinggap di sela sela kaca jendela, namun seketika serangga itu lekas pergi saat kevin membuka pintu dengan tergesa-gesa.
Ia kemudian membuka dua kancing bajunya untuk mendapatkan sedikit ruang karena baru saja ia berlari dari tangga lantai dasar menuju kamarnya ini.
Tas yang di tentengnya sontak ia buka lalu membongkar isinya tuk menemukan kedua liontin yang salah satunya entah darimana ia dapatkan.
Liontin milik gadis tadi berwarna putih dengan permata berbentuk oval berwarna biru Kristal dan tak pernah ia lihat sebelumnya, namun liontin yang entah sejak kapan ada di dalam tasnya itu persis dengan apa yang dilihatnya dalam mimpinya pagi ini.
“Jika memang betul ini liontin di villa itu, apakah aku benar-benar pernah pergi ke sana untuk mengambilnya? Seingatku di dalam mimpi tadi pagi aku memang mengambil liontin itu dan menaruhnya dalam tas yang ku bawa ke sana, ataukah kejadian ini suatu kebetulan?”
gerutunya dalam hati sembari berpikir keras.