
Fajar mulai menyamambut hari, sang mentari menerpa seluruh pelosok kota. Embun yang berada di permukaan daun jatuh silih berganti, menyirami tanaman meski hanya setetes.
Udara kota pulau Sotus tampak sejuk, beberapa burung kini mulai beterbangan mencari makan, sesekali mengicaukan suara indahnya. Beberapa pohon juga menjatuhkan daunnya, terhembus oleh angin, mengikuti arahnya walau tak tahu tujuan mereka ada di mana.
Hari telah berganti, memulai semuanya kembali. Harapan yang tak sempat tuk tergapai, kini bisa di raih lagi, meski tidak tahu hasil akhirnya nanti.
Segelintir orang di kota itu mulai melakukan aktivitasnya, ada yang memulai harinya dengan berlari di taman, ingin menyehatkan badan. Ada pula yang memulai pagi hari ini dengan beraktivitas ala kadarnya, sarapan ataupun berangkat kerja. Semua orang di sana terlihat bahagia, meskipun ada beberapa di antaranya yang tak merasa demikian.
Di sebuah rumah yang megah nan luas, terlihat para pelayannya tengah sibuk mengurusi pekerjaan mereka. Para pelayan di rumah itu memilik tugas masing-masing, mereka terbagi-bagi dalam sebuah kelompok yang berdasarkan lokasi pekerjaan mereka terletak di mana.
***
Kring kring ...
Alaram di kamar Kevin mulai berbunyi, menyuruhnya tuk bangkit dari tidur. Anak bungsu keluarga adinata itu tak ingin membuka kelopak mata, malas karena kantuk telah menguasai seluruh tubuhnya.
Saat ini ia sadar, tetapi amat malas malas tuk bangkit menjalani hari, sehingga untuk mematikan alaram yang membuatnya terbangun itu, dia hanya menyodorkan tangan, menekan tombol on/off.
Silang lima menit, alaram yang berdiri di atas meja sebelah kanan kasurnya itu kembali berbunyi, memeinta dia untuk bangkit.
Loh? kok bunyi lagi sih!!! gerutu Kevin dalam hati, merasa aneh karena tangannya telah ia gunakan tuk mematikan alaram tersebut,
Kring kring …
Alaram itu masih berbunyi, membuat kevin marah dan bergerutu.
“Argghhh!” Karena marah, Kevin mengambil alaram itu, memangkunya di atas paha.
“Heh, Kamu bisa diem gak sih, hah!” Remaja yang berusia lima belas tahun itu mengetuk pelan kaca alaram, mengajaknya berbicara seperti manusia.
Sesudah ia mengoceh tak jelas, Kevin kemudian beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, ingin membersihkan diri. Kamar mandi yang tidak begitu luas, hanya berukuran sepertiga dari luas kamarnya.
Namun, kamar mandi itu tidak sebiasa kamar mandi pada umumnya, dan mungkin melebihi keindahan kamar mandi di sebuah hotel berbintang.
Tentu di dalamnya berisi sebuah bathtub berbentuk bulat, cermin dengan lebar yang memenuhi seluruh sisi dinding bagian kiri, dan bahkan terdapat sebuah televsi berlayar kecil terpasang di sana, sangat menyenangkan bila seseorang berdiam diri di dalamnya.
Selangkah demi selangah kemudian berlalu, ada sebuah prasangka yang tak baik kini menaungi hati Kevin, membuat anak itu merasa bingung, memikirkan hal apa itu.
Sesampainya dia di depan pintu kamar mandi, terlintas sebuah potongan kenangan yang indah.
Namun sayang, ia tak dapat mengingat potongan-potongan itu dengan jelas. Sebuah potongan yang membuatnya mengingat kejadian semalam, kejadian dengan segenap serpihan kenangan.
Memikirkan hal itu, membuat hatinya bertanya-tanya mencari kejelasan. Namun, ia tetap saja tak bisa menemukan jawaban atas perasaan gundah yang telah tertancap di dasar hatinya itu.
Mungkin aku cuma terlalu capek, jadinya malah ngelantur gini kan, haduh! batinnya mengambil kesimpulan, menepis segala rasa yang membuat otaknya bingung.
Kevin berlalu, masuk ke dalam kamar mandi dan mulai menyiapkan keperluannya, memutar keran yang mengalirkan air panas, sembari mengambil sabun untuk menyelupkannya ke dalam air agar berbusa.
***
Jauh di bawah kamar loteng milik putra pewaris adinata itu, kini terdapat ibu Kevin yang tengah asik mengoleskan selai ke beberapa permukaan roti gandum, menyiapkannya terlebih dahulu agar anak bungsunya itu tidak kesusahan lagi.
Ia mengoles selai cokelat yang berpadu dengan renyahnya kacang almond, ditemani oleh suara merdu lantunan musik dari gesekan piring hitam yang di putar melalui gramofon klasik, peninggalan keluarga Adinata secara turun temurun.
Kevin kok belum turun sih? dia membatin seusai mengoles selai pada potongan roti terakhir, menanyakan keberadaan anaknya di dalam hati.
“Ini udah lambat loh, duh!” ibu dari Kevin itu melirik arlojinya, melihat waktu yang telah menunjukan pukul 07.15, di mana pada saat ini mereka semestinya harus berada di sekolah untuk menghadiri ujian seleksi.
Ujian seleksi yang akan menentukan nasib Kevin beserta keluarganya di masa depan. Namun malangnya, peluang bagi anak bungsu keluarga adinata itu amat kecil, sehingga untuk bisa terseleksi di sana mungkin tak ada harapan, dan parahnya ia tak akan lulus.
Ruangan yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh keluarga saat melangsungkan acara makan bersama itu terlihat besar, dengan sebuah lampu gantung yang berada tepat di tengah-tengah meja panjang sebagai penerangan.
Di kedua sisi dinding ruangan itu, tertempel berbagai macam bingkai dengan ukuran yang beragam, membingkai lukisan indah karya pelukis dunia.
Tak tertinggal, terdapat empat buah guci berwarna putih dengan lukiskan pemandangan alam yang masing-masing di tempatkan di setiap sudut ruangan, menjadi sebuah dinding keelokan.
Ruang makan itu berada di sebelah timur, membutuhkan beberapa langkah dari tangga utama agar dapat sampai ke sana.
Meski terbilang berdekatan dengan tangga utama yang melingkar. Namun, untuk melihat seluruh isi ruangan itu, maka seseorang harus sedikit lebih mendekat ke depannya.
“Bi Rumi! bisa tolong panggilin Kevin nggak? Soalnya dia belum datang.” Ibu Kevin berdiri dari tempat duduknya, beranjak pergi ke ruang tamu untuk meminta Bi Rumi agar segera memanggil Kevin yang tak kunjung turun dari kamarnya.
“Baik Bu Adri!” jawab Bi Rumi, dengan memanggil tuan rumahnya itu dengan sebuah nama singkat, Adriana. Namun lengkapnya, ibu Kevin itu bernama Grace Adriana Mia Adinata. Nama indah yang memiliki arti tertentu, Kecantikan Hati seorang Bangsawan Adinata.
“Nggak usah Mah! aku udah turun kok.” Kevin mengambil langkah terakhir, menuruni tangga yang di tengahnya terbentang karpet ungu gelap.
"Baru selesai siap-siapnya?" sahut Andriana saat melihat anak bungsunya itu turun dari tangga, meliriknya dengan tatapan sinis.
Ia lalu berjalan menghampri, ingin mengajaknya masuk ke dalam ruang makan.
“Lemot banget sih jadi cowok, kamu tahu ini udah jam berapa Vin, hah?” dia melanjutkan ucapannya, memarahi Kevin yang datang terlambat.
“Iya mah, iya!” jawab Kevin ketus, sambil berjalan mengikuti ibunya yang pergi menuju ruang makan.
Orang baru bangun juga, masa langsung di marahin sih, huh! gerutu Kevin dalam hati, sebal karena pagi ini ia disambut dengan sebuah amarah.
***
"Kamu kenapa lagi sih Vin, muka kamu kok lusuh banget? Cerita dong sama mamah.” Adriana memegang tangan Kevin, mengelusnya lembut dengan segenap hati keibuan.
Mau cerita, tapi asal usulnya gak jelas. Kalau gitu nggak usah deh, pikir Kevin, mengurung niat untuk membicarakan rasa bingung yang ia rasakan beberapa saat lalu.
“Gak baik tahu, kalau kamu terus-terusan ngelamun kayak gitu …,” lanjut wanita dengan wajah yang masih terlihat muda itu, merayu anaknya agar mau berbicara.
“Jadi gini Mah—” ucap Kevin, memutuskan dirinya untuk bercerita mengenai hal tadi.
Namun, kata yang hendak ia keluarkan itu terpotong dengan kedatangan Bi Rumi, membawa sebuah nampan berisi dua buah gelas minuman.
“Selamat pagi Bu Adri dan nak Kevin! Maaf yah bibi langsung motong, tapi bibi bawa minuman nih buat kalian.” Bi rumi berjalan mendekati meja makan, sembari meletakkan dua gelas berisi minuman yang ia bawa dari dapur.
“Iya bi! Gak apa-apa kok. Tapi, yang bibi bawa ini apa?” balas Adriana pada Bi Rumi dengan ramah, sambil menyanyakan minuman yang disediakan untuknya.
“Aku bawa minuman spesial dong buat Bu Adri! Nih ….” Bi rumi menyodorkan segelas jus buah kepada Adriana, majikannya.
Kevin dan ibunya tampak begitu akrab dengan Bi Rumi, tanpa memandang derajat maupun status sosial.
Kedua anak dan ibu itu memperlakukan Bi Rumi dengan ramah, karena ia adalah seseorang dengan hati yang amat baik nan lembut, dia juga amat gemar menolong sesama.
Selain itu, Bi Rumi juga merupakan salah satu pelayan senior yang telah bekerja di kekediaman adinata bahkan saat ia baru berumur empat belas tahun.
Di mana saat itu kakek Kevin yang kini telah pensiun dan meinikmati masa-masa tuanya, masih menjabat sebagai kepala perusahaan dan juga kepala keluarga besar adinata.
“Wah! Bibi emang paling tahu sama kesukaan keluarga ini.” Adriana mengambil gelas berisi jus buah yang di sodorkan sang pelayan baik hati itu, ingin meminumnya segera.
“Hehe, Bu Adri bisa aja! Oh iya, kalau boleh tahu nak Kevin berangkat ke sekolah jam berapa yah?” tanya Bi Rumi, membuat Kevin sontak berhenti mengunyah roti yang hampir masuk ke dalam tenggorokannya.
Kevin lalu menelan roti itu sekaligus setelah mendengar pertanyaan dari Bi Rumi yang menyadarkannya bahwa hari ini merupakan hari penting, hari ujian seleksi di sekolah dambaan seluruh anak cerdas pulau Sotus.
“kamu kenapa diam aja vin?” Adriana terhenti saat hendak meminum jus buahnya, curiga dengan Kevin.
“A-aku,”-Kevin melirik Bi Rumi, memberinya sebuah tanda-“aku bakal berangkat sekarang kok bi!” ucap Kevin terbata, menjawab pertanyaan bi rumi.
“Jangan bilang kalau kamu lupa Vin, soal hari ini!” Adriana meletakkan segelas jus yang ia genggam, kecurigaannya bertambah.
Pertanyaan itu membuat Bi Rumi terdiam, tak beriani mencampuri urusan antara ibu dan anak.
Yah ketahuan deh, yaudah lah minta maaf aja, daripada masalahnya makin runyam, pikir Kevin, tak ingin membuat masalah menjadi besar.
“hehe … aku minta maaf yah Mah! soalnya aku bener-bener gak inget sama sekali,” ucap Kevin, meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
“Aduh Vin! kamu itu gimana sih,” keluh Adriana, memaklumi kesalahan anak tersayangnya itu.
“Yaudah, kalau gitu biar mamah aja yang antar kamu, sekarang!” lanjut Adriana, menyatakan bahwa ia akan mengantar anak pemalasnya itu ke sekolah.
O**h no, bisa-bisa nanti urusannya makin panjang lagi duh! batin Kevin saat mendengar lontaran kata ibunya itu.
Ia tak akan bisa tahan walau hanya semenit ketika bersama ibunya dalam sebuah acara. Meski selama ini, dia selalu saja mendapat hal sial seperti sekarang.
Hufftt…
Anak bungsu dari keluarga Adinata itu menghela nafas, pasrah dengan apa yang nanti akan di hadapinya.
“Iya mah!” Kevin hanya dapat mengiyakan, terkejut mengetahui bahwa ibunya akan ikut ke sekolah.
“Kalau gitu mamah siap-siap dulu yah! kamu tunggu di sini sambil habisin sarapan yang Mamah udah buatin.” Wanita yang nampak menggunakan gaun panjang berwarna hitam itu berbalik, berjalan menuju kamarnya. Sebelum ia kembali ke kamar untuk bersiap menemani Kevin, Bi Rumi terlebih dahulu memberi salam berupa anggukkan kecil, tanda hormat.
Kevin kembali menyantap sarapannya, menghabiskan segelas susu dan dua lembar roti dengan olesan selai cokelat kacang almond. Dia mempercepat makannya agar dapat menghabiskan semua menu sarapan itu sebelum ibunya kembali dari kamar.
“Ayo nak Kevin cepetan! Nanti Bu Adri keburu datang,” ucap Bi Rumi, mendesak tuan muda kesayangannya itu untuk segera menghabiskan sarapan yang kini ia santap.
“Iya Bi! Bi Rumi nggak usah khawatir, soalnya kan kalau mamah lagi siap-siap, pasti bakal lama banget,” jawab Kevin, bergurau.
“Haha, nak Kevin gak boleh gitu sama orang tua, nggak baik tahu!” Bi Rumi tertawa mendengar jawaban Kevin, tapi ia juga tak lupa untuk selalu memberi nasehat.
“Iya Bi Rum! Aku cuman bercanda doang kok, hehehe!” timpal Kevin, menjelaskan bahwa ia hanya sekedar bergurau.
“Oh gitu toh! Tapi ngomong-ngomong, kalau udah gak ada yang nak Kevin butuhin, Bibi izin balik ke dapur yah.” Bi Rumi mengambil nampan yang sebelumnya ia bawa dari dapur, sembari meminta izin kepada Kevin untuk meninggalkannya sendiri di dalam sana.
“gak ada kok Bi! Aku juga udah kenyang.” Kevin berdiri dari kursi, lalu meneguk setetes susu terakhirnya.
“Yaudah, kalau gitu bibi pamit yah!” sang pelayan itu mulai mengambil langkah, hendak tuk kembali ke dapur dan meninggalkan Kevin. Namun sebelum sang pelayan itu pergi, ia menundukkan kepala.
Melakukan hal yang sama saat Adriana lekas berjalan. Sebuah tanda hormat yang telah terjaga semenjak awal mula keluarga ini terbentuk.
Kayaknya gak ada orang nih, kabur ah! batin Kevin setelah memperhatikan sekitarnya, ia tak menemukan seorang pelayan pun.
Anak bungsu itu lantas mengambil langkah dengan cepat, menuju pintu yang tak berada jauh dari ruang makan. Tepatnya berada di depan tangga, berjarak sekitar dua puluh meteran lebih.
Kevin berencana kabur dari rumah, menghindari ibunya.
Dia memang kerap melakukan hal-hal semacam ini, bersikap nakal dan tak mencerminkan perilaku seorang anak dari keluarga besar.
Alasannya, ia hanya tak ingin pergi bersama ibunya ke sekolah untuk melaksanakan ujian seleksi. Dia malas mendengar ocehan dan beberapa jilatan dari orang dalam yang pastinya akan menghampiri mereka berdua, sehingga membuat kupingnya panas.
Setelah sekian langkah, saat ini Kevin telah berada di ambang pintu. Dia berhenti sejenak untuk bersembunyi lalu melihat keadaan di luar rumah, apakah aman baginya untuk terus berjalan menuju pelataran parkir dan mengambil sebuah sepeda gunung yang akan ia tumpangi.
Fiuhh a**man kok! ucap Kevin dalam hati saat kedua netranya tak mendapati satu orang pekerja pun di luar rumah.
Namun walau begitu, ia tak akan bisa sampai di pelataran parkir dengan mudah. Karena untuk tiba di sana, kakinya harus berlari melewati jalan yang berjarak tiga ratus meter lebih.
Sebuah jalan dengan hamparan rumput hijau dan beberapa pohon rimbun di kedua sisinya, tertanam sejajar nan rapih.
Bahkan di setiap jarak tujuh puluh meter, terbangun sebuah air mancur dengan segerombolan ikan yang berfungsi sebagai penyejuk mata.
Tak berhenti di sana, Kevin pun harus mengayuh sepeda dari pelataran parkir untuk menuju pintu gerbang utama.
Gerbang polos dengan tinggi lima meter berbahan dasar besi dan baja, meski di setiap sudutnya terdapat ukiran-ukiran sederhana berbentuk segerombol bundaran bunga tulip putih.
***
Ha ha ha … nafas Kevin tersengal setelah ia berlari sejauh tiga ratus meter, melewati jalan panjang dengan batu alas berwarna kuning kecokelatan.
Kini Kevin telah berada di area parkiran, siap mengambil sepeda yang sering ia gunakan sebagai kendaraan pribadi. Sebuah sepeda gunung sederhana, tetapi amat nyaman tuk di kendarai.
Kevin berhenti sejenak sebelum ia mulai mengayuh sepeda, menyandarkan tangan di atas lutut lalu sedikit membungkuk. Tenaganya cukup terkuras, hingga memutuskan untuk beristirahat walau semenit.
***