
Sore hari memanglah nyaman tuk di rasakan karena suasananya yang memanjakan mata, walau kadang kala tak semuanya berjalan sesuai rencana, dalam suasana tenang di waktu itu, angin adalah pemeran utama karena wataknya yang penurut.
Angin memanglah pemeran utama, akan tetapi jangan sesekali lupakan sang mentari yang melukis dan membentuk siluet hasil tirruannya dari sinar jingga indahnya.
Dari atas langit jingga sana, dapat dilihat di dalam kawasan hutan hujan belahan barat daya Pulau Sotus, Kevin beserta Cassy dan sepupunya Tiany juga Pak Jeffry kini sedang berdiri mematutkan pandangan mereka ke suatu objek di hadapannya.
Mata mereka melihat dengan jelas objek itu, namun tidak dengan dugaan dan pikiran mereka yang menganggapnya tak nyata bahkan hampir saja salah satu di antara keempat orang itu beranggapan bahwa ia kini sedang bermimpi lalu mencoba tuk membangunkan dirinya sendiri.
Objek yang mereka lihat mungkin saja dapat dianggap sebagai suatu kemustahilan jika berada di tengah hutan seperti ini.
‘Apa? Kenapa? Dan bagaimana?’
Jika seseorang dapat membaca pikiran, maka pertanyaan di atas merupakan suatu hal yang dapat ia temukan saat ini di dalam otak mereka berempat.
Rasa penasaran bercampur kebingungan terus menerjang rongga dada keempat orang itu tanpa belas kasih akan hati nurani yang berlilit duri.
“Pak Jeff! Ini emang villa yang sering bapak kunjungi yah? Kok bisa ada bangunan lain sih di sampingnya.”*Kevin
“Saya juga baru pertama kali lihat tuan!”*Pak Jeffry
“Vin! Kenapa yang kayak gini bisa ada di sini sih? Emang kamu tahu soal ini?”*Cassy
“Loh? Kedai roti ini apa manfaatnya di bangun di situ? Emangnya nggak ada yang larang yah?”*Tiany
“Sorry Cass! Tapi aku juga gak tahu.”*Kevin
“Untuk mengetahui apa yang terjadi, bagaimana kalau kita sebaiknya mencari tahu dengan masuk ke dalam.”*Pak Jeffry
“Good job Pak Jeff”*Kevin
“Iya nih! Mending masuk dulu, terus cari tahu. Daripada kita nganggur dan jadi kebingungan nggak jelas gini!”*Cassy
“Iya Cass! Kalau gitu masuk barengan yuk!”*Tiany
“Yaudah, kita barengan aja! Siapa tahu di dalam ada hal yang gak baik”*Kevin
“Saya berpikir demikian tuan!”*Pak Jeffry
Perundingan mereka di akhiri oleh Pak Jeffry yang sebelumnya mengusulkan untuk meneliti lebih dalam tentang bangunan yang ada di hadapan mereka kini.
Walau mereka berjalan dengan tersendat-sendat, akan tetapi kekompakan dari masing-masing pribadi sangan terlihat seperti solidaritas yang tak ada batasnya, bagaikan sebuah kelompok dalam peperangan dari kerajaan terpencil.
Bangunan yang sedari tadi mereka pelototi adalah sebuah kedai roti usang tak terpakai namun terlihat seperti masih dirawat dan kini berdiri kokoh tepat di samping villa milik keluarga kevin.
Jika dari segi objek, memang tak ada yang salah dengan bangunan itu, akan tetapi keanehannya terasa begitu menusuk karena tempat berdirinya kedai itu adalah sebuah hutan belantara milik pemerintah, di tambah dengan dugaan dan juga setahu Pak Jeffry yang bernyatakan bahwa tidak ada satu pun bangunan di dalam distrik hutan hujan ini selain properti milik keluarga ‘Adinata’, dan terlebih lagi keluarga besar Kevin hanya memilliki satu property di dalam distrik hutan hujan bagian barat daya ini yaitu villa yang akan kevin beserta rombongannya tempati untuk liburan.
Maka dari sanalah mereka sangat heran dan kebingungan mengenai hal ini, bahkan mereka sempat khawatir dengan keamanan berliburnya yang mungkin akan terganggu nantinya.
Kedai usang itu cukup besar dan memiliki dua lantai dengan tinggi yang hampir menyamai villa keluarga Kevin.
Dari luar, kita dapat melihat bahwa satu lantai bangunan itu memiliki dua buah jendela besar yang tertutupi kain cokelat krem dari dalam, jendela itu tidak saling bersebelahan dan kelihatannya agak berjauhan.
Di teras bawah kedai roti itu, terpasang beberapa pasang meja dan kursi layaknya coffee shop, namun bedanya ialah, kursi-kursi di sana hanya terlihat seperti sebuah pajangan karena tak pernah dipakai untuk keperluan sebagaimana mestinya.
Dan terakhir yang dapat dilihat dari luar bangunan itu adalah sebuah pintu putih berbahan kayu dengan tinggi sekitaran dua meter dengan hiasan besi yang tergantung di depannya.
Kevin, Cassy, juga Tiany dan Pak Jeffry kini telah berada di depan pintu kedai roti aneh itu dengan rasa yang tak dapat di jelaskan tuntas oleh kata-kata, akan tetapi raut wajah mereka menandakan bahwa ada sirat rasa takut dan kecemasan sedang menggebu di dalam hati yang berserakan.
“Ehh Vin! Kamu kan cowok, bukain sana pintunya.”*Cassy
“Enak aja nyuruh-nyuruh.”*Kevin
“Dih! Cemen amat sih jadi laki.”*Cassy
“Jangan berantem lagi dong Cass! Nggak baik kalau temen berantem terus.”*Tiany
“Yah habisnya, kita dari tadi di sini cuman berdiri aja nggak masuk-masuk.”*Cassy
“Kalau gitu biarkan saya saja yang buka!”*Pak Jeffry
“Silahkan Pak! Pak jeffry emang baik banget, nggak kayak yang di sebelahnya.”*Cassy
“Emangnya kenapa hah? Ada masalah?”*Kevin
“W..oh! Yah jelas Ada!!!”*Cassy
“Cass! Udah! Nggak baik berantem kalau di dalem hutan.”Tiany*
“Wahh! Makasih banyak loh Tiany udah ngingetin.”*Kevin
“Iya Vin! sama-sama.”*Tiany
“Mulut kamu tuh emang pedes yah Vin!”*Cassy
“Iya! Kenapa? Sama aja kan kayak kamu yang kalau bicara pasti otak orang panas.”*Kevin
“Huhh!!!”*Cassy
“Udah Cass! Jangan di lanjutin, biarin aja.”*Tiany
“Oke deh kalau gitu, aku nggak akan mulai lagi!”*Cassy
“Nah! Gitu dong, kan kalau nggak marah jadi cantik hehe…”*Tiany
“Gombal aja kamu Ti!”*Cassy
“Iyalah! Kan obat marah kamu itu, ya..h di puji.”*Tiany
“Dari mana kamu tahu.”*Cassy
“Ada deh, hehe…”*Tiany
Sesudah memerhatikan candaan cassy dan tiany, pak jeffry kemudian membuka pintu kedai roti itu dan membuat kevin beserta dua gadis di sampingnya terdiam sejenak sambil menunggu pintu kayu itu terbuka lebar sehingga keempat orang itu dapat melihat sebagian isi ruangan dari ambang pintu tempat dimana mereka berdiri.
Pak jeffry membukanya secara perlahan sehingga ia membutuhkan beberapa detik untuk membuka pintu kedai yang memang tak dikunci itu.
Dan setelah waktu berlalu sekian detiknya, pintu itu pun terbuka lebar lalu membuat delapan pasang sorot mata dari keempat orang mematutkan pandangannya ke segala arah.
Pandangan kevin tertuju pada sebuah meja barista yang tampaknya agak sedikit berdebu, namun mesin dan perkakas di meja itu sangatlah lengkap layaknya kedai kopi di pusat kota.
Sebaliknya, cassy dan tiany justru lebih focus kepada tata’an meja dan dekorasi yang begitu indah nan rapi tersusun, bahkan tak kalah dari kedai kopi ataupun roti di pusat kota sana. Pak heffry sendiri saat ini lebih memilih meanulusuri setiap bagian bahkan tiap sudut yang ada di dalam ruangan itu dan menelitinya se detail mungkin.
Perasaan dari keempat orang itu membuat mereka bingung sendiri, entah hendak tuk berekspresi dan menyerukan rasa takjub, atau malah sebaliknya.
Mereka berempat tanpa sadar telah berjalan masuk ke dalam ruangan utama di kedai itu sembari membulatkan mulut tuk hendak berkata ‘wow’ dikarenakan waktu yang kian detiknya berjalan dan membuat mereka merasa takjub akan keanehan yang terpantul dalam bola mata masing-masing.
Langkah kaki membuat mereka berpencar tanpa isyarat dan membuat keempatnya terpisah akan satu sama lain, seakan-akan diri mereka dikuasai oleh sihir yang mengambil rasa penasaran dan juga perhatian mereka.
Dari sisi jendela sebelah kanan, dapat dilihat Cassy yang kini tengah memerhatikan barang-barang unik dan antik.
Matanya tak dapat terlepas dari berbagai macam aksesoris juga serangkaian barang dengan desain dan bentuk aneh yang solah-olah memuntahkan aura pemikat bagi siapa saja.
Di belakang tuan putri keluarga ‘Berly’ itu, terdapat Kevin sang tuan muda keluarganya sedang asik melihat buku-buku tua di rak panjang nan tinggi yang bersampingan dengan meja barista kedai roti itu.
sorot mata Kevin juga tampaknya terlihat sama dengan apa yang Cassy pancarkan dari mata indahnya.
Namun pikiran dan rasa perhatian Kevin berbeda, karena dirinya lebih berfokus untuk menelaah seluruh buku itu seolah mencari jarum di dalam tumpukan jerami yang katanya tidak akan ada seorang pun dapat menemukannya ataupun berpaling tuk tidak mencarinya, bagai terkena candu sang budak cinta.
Di sebalikan tempat antara Cassy dan Kevin, Tiany juga nampak seolah tertarik begitu kuat tanpa rasa ingin lepas bagaikan magnet dan besi.
Dari tempat ia berdiri, Tiany sedari tadi juga mematutkan matanya kepada lukisan-lukisan indah yang terpajang di dinding putih kecokelatan kedai roti itu, akan tetapi sorot matanya sangatlah berbeda dengan apa yang Kevin dan Cassy perlihatkan.
Tiany memancarkan sorot mata yang mempunyai ciri khas tersendiri saat ia merasakan decakan kagum.
Tak jauh berbeda dengan Pak Jeffry yang perhatiannya diambil oleh sederetan foto tua yang telah berubah kekuningan karena usia simpannya sudah terlalu lama.
Tiga pulu menit mereka habiskan dari dalam sana, dan inilah saatnya sang kegelapan sebentar lagi akan menerjang hutan, namun keempat orang itu tak menyadari bahwa jarum jam menunjukan panahnya di angka 5:30. Kevin, cassy beserta tiany juga pak jeffry, saat ini masih berada di tempat semula mereka berdiri dari satu setengah jam yang lalu dan anehnya, kelakuan orang-orang itu tak jauh berbeda daripada sebelumnya.
“aauuuhhh…”
Tanpa pernah disangka, aungan serigala terdengar begitu jelas di telinga Kevin sehingga pandangan matanya yang sedari tadi terpaku oleh rak berisi buku-buku tua itu, kini teralih bahkan ia sendiri sempat terkejut karena aungan serigala itu dan seolah tersadar dari kelakuan anehnya semenjak ia melewati ambang pintu kedai roti lalu masuk ke dalam.
Setelah ia tersadar, sontak Kevin memabalikkan badannya dan mendapati kedua temannya beserta kepala pelayannya Pak Jeffry bertingkah aneh.
Karena perasaannya yang mengganjal, ia akhirnya memutuskan untuk menegur mereka satu per satu walau segenap perasaan takut menyergap hatinya.
“Cass! Cassy! Kamu lagi ngapain? Cass!”
Sekali dua kali bahkan tiga kali ia mencoba tuk berbicara dan menegur Cassy, akan tetapi hasil dari usahanya itu menandakan sebuah kegagalan, ditambah dengan rasa cemas takut juga khawatir bersatu padu di dalam rongga dadanya setelah ia mencoba tuk melakukan sesuatu terhadap Cassy yang pikirnya ia dapat menyadarkan temannya itu.
Walau telah mencoba berbagai usaha, hasilnya tetap saja membuahkan kesia-siaan, namun ia tak mau pantang menyerah dan memutuskan untuk mencari tahu juga berusaha sekuat mungkin.
“Cass! Hei! Kamu kenapa nggak jawab aku?”
Kevin kembali bertanya setelah mencoba tuk menarik tubuh Cassy, akan tetapi tubuhmya seolah terjerat dengan sesuatu yang begitu erat, sehingga tak mudah bahkan kemungkinannya tidak akan lepas.
Hatinya terus saja bertambah resah setiap ia gagal melakukan sesuatu yang ia pikir dapat mengalihkan pikiran cassy.
Jangan Tanya soal apa yang dirasakan kevin saat ini, karena mimik wajahnya telah menggabarkan kesedihan dan ketakutan juga ketidak percayaan akan hal yang tengah terjadi di dalam ruangan itu