
Rembulan kini menerangi langit malam, sinarnya menggulung kegelapan. Sang bintang pun juga ikut menghiasi angkasa, menjadi lukisan indah di langit.
Di salah satu rumah pinggir kota, terdapat sebuah kamar persegi panjang bernuansa barat di dalamnya, dengan luas yang cukup tuk ditempati seseorang berbadan besar nan tinggi.
Di dalam sana, terlihat seorang remaja tengah duduk bersimpuh di lantai kamarnya. Wajahnya nampak lesuh, tatapan matanya pun kosong, entah apa yang kini ia pikirkan.
Dia hanya menatap layar monitor laptop, sesekali menyeduh teh hangat beraroma khas bunga melati yang tak lagi mengepulkan asap.
Sepiring roti sandwich di depannya tak tersentuh sedikit pun, anak berparas tampan itu beralasan tak memiliki nafsu makan, sehingga mereka sedari tadi hanya tinggal menganggur.
Otaknya terasa berat, dan dengan berani ia pun rela menelantarkan pekerjaan yang diberikan oleh ibunya tadi sore.
"Kevin!!!" teriak seorang wanita paruh baya dari luar pintu berbahan dasar kayu dengan kualitas tinggi kamar loteng rumah pinggiran kota itu.
Rumah yang begitu elegan nan mewah, hingga siapa pun yang berkunjung pasti akan tercengang dengan keindahannya.
Remaja yang usianya baru menginjak 15 tahun itu terkesiap, menoleh ke arah sumber suara.
Wanita yang tadi berteriak ialah ibu kandung dari anak itu. Dia tampak marah, kesal karena mengkhawatirkan kondisi anaknya yang tak pernah makan sedari siang.
Dari teriakan ibunya, nama remaja itu terucap dengan jelas. Kevin, itu adalah nama panggilannya. Namun, lengkapnya ia bernama 'Kevin Putra Adinata'
Seorang pewaris keluarga konglomerat dari kalangan atas di sebuah ibukota provinsi pulau Sotus. Pulau yang di sebut-sebut sebagai pulau khayalan, karena keelokan dan keindahannya mengalahkan kota cahaya. Bahkan, sumber daya alamnya pun melimpah ruah.
"Kevin ayo buka pintunya!" Wanita yang belum terlihat tua itu mengetuk pintu kamar, membuat Kevin beranjak dari tempat duduknya.
"Apaan sih Mah?" sahut Kevin sesaat setelah membuka pintu kamarnya.
Di balik pintu itu, terdapat ibunya yang masih memiliki wajah rupawan.
"Hmm …." Ibunya melirik tubuh Kevin selama beberapa menit, mulai dari rambut hingga ujung kaki, seolah ingin menilai.
Kevin sendiri tak mengeluarkan sepatah katapun, diam seribu bahasa. Ia lalu melangkah kembali ke tempatnya semula, tanpa menghiraukan kelakuan ibunya.
"Kamu emangnya nggak lapar, hah? Kok sandwich nya belum di makan sih. Kamu itu belum makan apapun Vin, dari siang!" Ibunya menerobos masuk, mengikuti Kevin yang kembali ke sebuah tempat di dekat jendela lalu melipat tangan.
Setelah ia mengutarakan kekhawatirannya, suasana jadi hening, tak ada suara sedikitpun kecuali suara bising deruan angin yang berasal dari luar jendela. Kevin pun tak mau berbicara, hanya menatap kosong bayangan kaca jendela.
***
Silang beberapa menit Kevin tidak menanggapi ibunya, sehingga dengan terpaksa wanita dengan usia 30-an itu melangkah pergi dari kamar.
"Aku lagi sibuk Mah! Jadinya kan aku nggak sempet buat makan," ujar Kevin dengan sedikit takut, setelah ia melihat ibunya mulai mengambil langkah untuk pergi.
"Hah, tugas? Kamu pikir mamah gak tahu Vin,"-wanita berpakaian santai itu melirik layar monitor-"kalau di laptop kamu nggak ada catatan," ucap sang majikan di rumah besar itu, emosinya meluap.
"Si-siapa bilang kalau aku—" jawab Kevin terbata mengelak ibunya, sembari menggeser tubuh agar dapat menutup layar monitor.
"Udah Vin, kamu gak usah bohong! Mamah tadi jelas-jelas liat laptop kamu kok." Ibu kevin mendekat, mencoba tuk menggeser tubuh anaknya yang menghalangi layar.
Melihat pergerakan ibunya, Kevin sontak menyingkir dengan menggunakan kedua lututnya, berjalan seperti bayi yang merangkak. Ia berencana kabur, karena sebentar lagi telinganya akan mendengar ribuan kalimat dan nasehat yang terlontar dari mulut wanita berpakaian santai itu.
"Eits …,"-ibu Kevin menarik kera baju anaknya-"kamu mau kemana Vin? Mamah Gak bakalan biarin kamu kabur lagi!" lanjutnya setelah ia menahan Kevin yang hendak kabur.
"Hehehe …." Kevin tertawa, tahu bahwa dirinya tak akan bisa kabur dari ibunya
Duh! Gimana nih, ketahuan kan jadinya, gerutu Kevin dalam hatinya, tak tenang karena tertangkap basah.
Kevin tahu ia akan di marahi, dan itu adalah hal yang biasa bagi setiap anak. Namun baginya, hal ini adalah suatu perkara yang amat berat untuk di jalani. Karena beberapa jam kedepan dia akan terus duduk terdiam mendengar semua ocehan ibunya, dan itu sangat menghabiskan tenaga.
***
Dugaan Kevin pun jadi nyata, ia di marahi oleh ibunya hampir sejam. Badannya letih, telinganya panas, mulutnya pun bungkam karena takut durasi amarah ibunya makin panjang dan masalah menjadi berbelit-belit.
"Makan yah Vin, awas kalo kamu gak makan!" ujar ibunya pada Kevin dengan amarah yang mulai reda, berniat tuk menutup omelannya.
"Mamah tuh sebenernya paling malasVin, kalau soal marah-marah. Tapi kalau kamu yang mancing mah …,"- ibunya mencubit pipi Kevin, kulitnya halus seperti bayi-"Mamah bakal ladenin," lanjutnya setelah menarik pipi anak bungsunya itu sekuat mungkin.
Aauhhh…
Kevin meringis kesakitan, pipinya yang chubby nampak merah karena cubitan dari ibunya.
Dia hanya dapat merintih sakit, tak melawan. Ibu kandungnya itu memang sering kali melakukan hal itu, karena gemas dengan wajah anaknya yang rupawan.
"Apaan sih mah! sakit tahu …." Kevin memegang pipinya yang memerah, panas dan sedikit nyeri.
"Iya, aku makan kok! Tapi nanti, aku mau mandi dulu," ketus Kevin dengan wajah yang cemberut, masih memegang kulitnya yang halus.
"Ingat loh, awas kalau kamu gak makan!" timpal ibunya, sembari menunjuk kearah wajah Kevin, tanda peringatan.
"Iya ih! Aku makan kok, mamah gak usah khawatir." Kevin berdiri dari tempat duduknya, perlahan mendorong ibunya keluar dari dalam kamar.
Di usia 15 tahun badan Kevin telah melebihi tinggi wanita yang saat ini ia pegang, bahkan ia pun sepertinya dapat mendekap seluruh tubuh ibunya.
Jelas bertanda bahwa dia telah memasuki masa pubertas, badannya semakin besar dan menjulang tinggi di setiap harinya.
"Ingat yah Vin! mamah gak ngawasin kamu makan malam ini, soalnya papah kamu tadi lagi pengen nelpon," timpal ibu Kevin, menjelaskan halangannya yang tak sempat menemani Kevin makan malam, karena ayah dari anak bungsunya yang kini tengah berada di luar negeri itu, ingin membicarakan sesuatu.
"Siap komandan!" respon Kevin dengan nada gembira, wajahnya pun tampak sumringah mendengar hal tersebut.
Ibunya pun keluar, ia dengan segera menutup pintu berbahan dasar kayu dan bergagang besi, ingin beristirahat.
Huufftt…
Kevin menghela nafas saat setelah ia menutup pintu dengan rapat, lega karena ibunya telah meninggalkan kamar.
Kamar kevin berada di lantai tiga rumah mewah Adinata, sendiri bertengger di sudut. Kamar itu tak sebesar ruangan lain di dalam rumahnya, ruangan yang luasnya setara dengan sebuah kafe bar.
Kevin lebih memilih untuk beristirahat di atas sana, hanya karena ia tak menyukai kamar yang amat luas, sehingga dapat menampung belasan orang di dalamnya.
Dari pintu, hanya butuh beberapa langkah bagi Kevin untuk dapat sampai ke tempat tidur, sebuah kasur yang berdampingan dengan dua buah meja kayu berwarna putih di sisi kiri juga kanan.
Di sudut kamarnya itu pula, terdapat sebuah lemari pakaian setinggi dua meter, dengan lebar yang nyaris memakan setengah dari panjang ruangan itu. Sehingga Kevin dapat dengan leluasa menyimpan bajunya, juga barang-barang pirbadi.
***
Waktu terus berlalu, meninggalkan segala sesuatu dengan kejam tanpa perasaan.
Kini, Kevin berjalan keluar dari kamar, setelah menghabiskan lima belas menit di atas kasur tuk merehatkan otot-ototnya yang terasa pegal.
Dia berjalan menuju dapur, melihat apakah masih ada makanan yang tersisa baginya.
Untuk sampai ke dalam dapur, ia harus menuruni dua buah tangga dari empat tangga yang berdampingan membetuk lingkaran, dengan sebuah lampu gantung yang terbuat dari kaca berbentuk kristal sebagai penerangan.
Di lantai tiga rumah itu, terdapat dua buah tangga yang saling melengkapi untuk membentuk lingkaran, dengan fungsi sebagai perantara lantai dua dan lantai tiga.
Sisanya lagi, di lantai dua juga terdapat hal demikian, tetapi tangga itu berarah terbalik dengan tangga di atasnya. Namun, perihal penerangan, mereka semua terikat dengan lampu gantung berbahan kaca berbentuk kristal itu.
Secara keseluruhan, lampu gantung itu berwarna putih bening, karena bahan dasarnya memakai kaca, meski besi yang mengait seluruh kaca itu terbuat dari emas asli. Akan tetapi, jika di lihat secara seksama, lampu itu mengeluarkan cahaya kuning sedikit buram ke putih.
"Besar amat sih, nih rumah!" Kevin menuruni anak tangga terakhir, pegal karena ratusan anak tangga baru saja ia turuni.
Kevin saat ini mulai berjalan ke dapur, tapi sebelum itu, ia harus melewati beberapa ruangan lagi.
Dari anak tangga terakhir itu, Kevin dapat melihat sebuah ruang tamu. Di sana terdapat delapan buah sofa yang mengelilingi sebuah meja Bonaparte Klasik, sofa dengan warna salak brown di bagian bantalannya, dan sedikit garis emas pada warna di sela-sela pinggirannya.
"Bi! Makanan di dapur udah habis?" Kevin berlari masuk ke dalam dapur, melewati gorden sebagai perantara dapur dengan lorong. Gorden yang warnanya bercampur dengan mewahnya emas dan mencoloknya merah, dari paduan indahnya gorden cascades dan draperies.
"Waduh, maaf udah habis nak Kevin," jawab antusias satu-satunya pembantu yang kini berada di sana, dengan suara lembut dan juga wajah yang teduh, ia seolah terlihat sebagai obat penenang di kala hati sedang gundah.
"Yah … ternyata udah habis," keluh Kevin, tak mendapat makanan karena terlambat.
Dia kemudian duduk berdekatan dengan wanita yang terlihat telah berumur itu, wanita yang seakan telah menjadi ibu kedua baginya.
"Nak Kevin mau makan? Mau bibi buatin nggak?" sambung pembantu itu, seketika ia melihat semangat Kevin meredup, wajahnya pun menunduk, tanda kecewa.
"Mau dong Bi …"-Kevin mendekat, menarik tangan pembantu itu-"bikinin aku yang spesial ya, Bi!" lanjutnya, memohon kepada wanita tua itu, berharap agar laparnya dapat terpuaskan dari hasil masakannya.
"Yaudah, nak Kevin tunggu di sini dulu yah! Bibi mau bikin makanan buat kamu," sahut wanita itu lagi, menerima permintaan Kevin.
"Yey, thank you Bi Rumi …," timpal Kevin dengan raut wajah yang bahagia, senang karena makanannya akan dibuat. Terlebih, masakan buatan dari Bi Rumi merupakan makanan kesukaannya, tak tertandingi oleh buatan restoran.
Mereka berdua nampak begitu akrab, layaknya seorang ibu dan anak. Namun, di hati Kevin ibu kandungnya tetaplah nomor satu.
Kini Kevin hanya dapat menunggu, dengan perut yang berbunyi karena kosong.
Sesekali, ia juga mengajak Bi Rumi untuk berbicara, menerangkan segala keresahan hati dan juga kekhawatirannya mengenai ujian esok hari. Ujian seleksi untuk masuk ke sekolah terbaik di pulau Sotus, tapi permintaan IPK-nya amat tinggi sehingga remaja yang tak menonjol dalam bidang apa pun itu, kesulitan dalam menghadapi hal tersebut.
***
Kilau gemintang kini menerangi langit malam, bergantung membentuk ukiran abstrak, tetapi amat indah tuk di pandang. Bulan purnama, ia sedari tadi telah menyinari bumi dari kegelapan, cahayanya terpantul di atas permukaan laut biru, menambah kesan romantis.
Dari sebuah gazebo yang berada di taman belakang salah satu rumah pinggir kota, terlihat seseorang sedang duduk bersantai di atasnya, mencoba tuk mencari ketenangan.
Rumah tempat berdirinya gazebo itu memiliki taman belakang yang besar, sebesar lapangan golf.
Di setiap sudutnya, tertanam berbagai macam jenis bunga yang sedang memamerkan kecantikannya, selaras bermekaran. Rumah yang tak lain adalah kekediaman Kevin.
Remaja umur lima belas tahunan itu duduk nyaman di atas gazebo, mencari udara segar. Ia pergi ke sana setelah menyantap makanannya dengan lahap, makanan yang dibuatkan oleh Bi Rumi.
Gazebo itu tak berjarak jauh dengan dapur rumahnya, sehingga anak berwajah rupawan itu dapat sampai di sana tanpa perlu mengeluarkan keringat.
Silang beberapa menit sesampainya ia di sana, mata Kevin mengarah ke atas, menikmati indahnya langit malam. Badannya kini terlentang, hendak tuk mengistirahatkan tubuh yang letih. Dari kilau netranya, terpancar sebuah lukisan abstrak yang tercipta dari beberapa rasi bintang, indah meski tak jelas bentuknya.
"Wih keren." Kevin bangkit dari tidurnya, terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat.
Seketika itu, ia langsung memanjakan matanya, melihat keindahan malam ini.
Loh kok? Kevin bertanya dalam hati, melihat sebuah bintang seolah bergerak maju. Kedua netra indah itu tak berhenti melihat bintang yang membuatnya membatin, memastikan apakah penglihatannya itu benar.
Kevin tak percaya, melihat sebuah bintang yang seolah mendekati bumi. Matanya dengan jelas melihat bintang itu mendekat, tapi ia masih tak percaya.
Beberapa kali Kevin menggosok matanya, memastikan kejadian itu memang benar-benar terjadi.
Ini emang beneran loh, Kevin membatin, menyatakan bahwa bintang itu memang mendekati bumi.
Tanpa berpikir panjang, ia kemudian duduk rapih, bersila. Setelah itu, ia mulai menutup mata, mencoba tuk memikirkan sesuatu.
Samar-samar di lubuk hati anak itu, ia mengucapkan sebuah kata. Kata yang nanitnya akan mengubah hidupnya, membalik segala fakta. Namun, sayangnya ia mungkin tak akan tahu perubahan itu.
Waktu terus berjalan, mengalirkan segala kenangan. Dengan pikiran yang tenang, Kevin membuka kelopak matanya, ingin melihat semua keindahan itu kembali.
Secara perlahan, netranya melihat suasana malam itu. Suasana yang amat langka, di mana sebuah bintang berekor atau yang biasa disebut sebagai komet, melintas indah di atasnya.
Komet itu melintasi atmosfer bumi, orbitnya membentuk hiperbola, dengan satu titik yang menjuntai ke bawah, lainnya hanya meninggalkan serabu-serabut indah.
"Wah … i-ini beneran?" Kevin terpesona, lehernya mendongak ke atas, melihat keindahan yang tak pernah ia temui sebelumnya. Namun, dia terlena akan keindahan itu, sehingga tanpa sadar kelopak matanya kembali tertutup, menidurkan kesadaran yang tak tersadarkan dengan sendirinya.