
“Misi kak! Coffee latte sama Hot chocolate nya mau di taruh di mana yah?”
“Oh! Di sini aja mas!”
Sesudah perkataan yang di ucapkan Kevin terlontar, Cassy dengan segera menyampingkan beberapa potong roti di atas meja mereka berdua.
Melihat perilaku tersebut, sang pelayan lantas menyimpan minuman yang sedari tadi dibawanya itu ke atas meja lalu berpamit kepada Kevin dan Cassy tuk pergi ke tempat semula ia berada.
Supermarket tempat Kevin dan Cassy kini berada, nampaknya tak ramai akan pengunjung.
Mungkin karena letaknya yang tidak begitu sistematis, apalagi tempat berdirinya bangunan itu hanyalah di sebuah anak kota Pulau Sotus.
Di dalam sana, beberapa pelanggan hanya sesekali melintas di dekat Kevin juga Cassy, dan terlihat mencari sesuatu yang diperlukannya.
Suasana di dalam ruangan itu tentunya begitu sunyi karena pengunjung yang jarang berbelanja sehingga ruangan itu hanya di kelilingi oleh suara bising hembusan angin dari pendingin ruangan yang berdiri di setiap sudut.
Jika seseorang melintasi rak-rak yang menjulang ke atas dan tidak memerhatikan sekitarnya, ia mungkin tak akan mendapatkan seorangpun pekerja di dalam supermarket itu, karena ruangan tersebut hanya di huni oleh beberapa pegawai yang jumlahnya tak melebihi lima belas orang.
Di ujung supermarket berukuran sedang itu, terlihat Kevin dan juga tentunya Cassy sedang asik berbincang, sehingga tanpa sadar, minuman yang tadi diantarkan oleh salah seorang pelayan di toko roti itu mulai mendingin karena terpapar angin dari pendingin ruangan yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk.
Kedua orang itu bahkan tak memerdulikan roti mereka yang disisanya dengan tujuan agar dapat dinikmati bersama minuman-minuman di hadapannya. Alasan utama dari terabaikannya makanan itu ialah suatu perbincangan yang keseruannya mengalahkan perasaaan seorang anak saat berada di sebuah taman hiburan.
“Vin! Aku mau pakai yah, please!!!”
“Nggak Cass! Aku dari tadi udah bilang gak akan ngizinin kamu.”
“Tapi kan aku baru pakai dua kali Vin! Sekali ini aja, aku mohon Vin! Izinin aku.”
“Aku gak bakal ngelarang kamu! Asalkan kekuatan kamu tuh bisa terkendali dan kamu tahu pengguanaannya juga efeknya apa ke tubuh kamu.”
“Aku kan udah bilang Vin! Kalau aku tuh gak ngerasain sakit atu apapun dan aku ngerasa biasa aja pas pakai ini, nggak ada yang aneh-aneh kok Vin.”
“Maka dari itu Cass! Kalau kamu merasa baik-baik aja, berarti kamu tuh belum tahu apa-apa soal kemampuan kamu.”
“Hubungannya apa sih Vin???”
“Kan aku tadi udah jelasin Cass! Masa kamu gak ngerti juga.”
“Iya! Aku ngerti kok.”
Seketika pembicaraan itu terhenti begitu saja, tanpa ada penutup ataupun kejelasan dan penyelesaian dari apa yang mereka bahas. Kevin memalingkan wajahnya ke kanan, dan dari matanya ia dapat melihat sebuah rak berisi penuh dengan makanan ringan.
Cassy sendiri kini tengah menyilangkan tangannya di antara rongga dada juga bahu mungilnya sembari tanpa sadar menekuk kedua bibir merah tebalnya yang mengkilap walau tak menggunakan perias bibir bahkan pelembab sekalipun.
Jika dilihat sekilas, mereka berdua tampak seolah biasa-biasa saja, namun jika di simak lebih dalam, maka siapapun itu dapat memahami bahwa mereka berdua saat ini tengah marah antara satu sama lain.
Akan tetapi, meski demikian tingkah mereka berdua dapat menimbulkan suara tawa dari seseoarang yang menyimak keadaan itu, karena seolah tengah melihat sepasang kekasih yang sedang bermusuhan.
Setelah semenit kemudian, Kevin masih saja mengabaikan Cassy yang duduk di hadapannya, meski saat ini ia tak menelantarkan minumannya karena sedari beberapa detik lalu, ia telah meminum seperempat dari bagian hot chocolate-nya yang tengah mendingin diterpa hembusan angin dengan derajat rendah.
Cassy sendiri saat ini sedang menyeruput sisa kopi terakhirnya, dan setelah menghabiskan minuman tersebut, ia lalu angkat bicara karena tak tahan akan abaian Kevin yang terasa begitu menyiksa batinnya, walau dirinya sendiri menolak tuk merasakan hal tersebut.
“Vin! Kamu kok diam aja?”
“Hmm…”
“Ih! Kok kam jawabnya gitu sih!”
“Terus kamu mau aku jawab apa?”
“Tuh kan! Kamu ngambek, nggak seru ah!”
“…”
“Vin! Jangan ngambek dong!”
“Hmm!”
“Aku janji deh, gak bakal pakai kemampuan aku kecuali udah aku pelajari dengan baik!”
“Nah! Gitu dong, kan enak kalau kamu nurut sama aku.”
“Iya..iya aku bakal nurut sama kamu.”
“Yaudah, kalau gitu kita pulang aja yuk! Soalnya udah mau jam sepuluh nih.”
“Aku sih udah siap dari tadi Vin! Kopi aku jua udak habis.”
“Kalau gitu tungu aku habisin ini dulu yah Cass!”
“Yaudah cepetan habisinnya, jangan sampai keselek minuman.”
“Tapi roti masih ada dua, kamu mau bawa pergi?”
“Gak usah! Nanti pas di jalan aja kita habisinnya.”
“Oke deh kalau gitu.”
Mereka berdua akhirnya berbincang setelah beberapa menit lalu bermusuhan.
Kevin dengan segera menghabiskan minumannya setelah ia mengakahiri obrolannya bersama Cassy, meski nyatanya ia tak lagi menginginkanya karena niatnya tuk bergegas menaiki kendaraan menuju barat daya begitu menggebu-gebu.
Cassy sendiri saat ini hanya duduk bersantai melihati sekelilingnya dengan seksama, dan tanpa sadar ia sedang memandangi sebuah hiasan dinding yang menempel kuat di depannya.
Hiasan itu hanya berupa vas bunga yang di tanami oleh ilalang palsu berwarna cokelat bercampur krem.
Waktu berlalu tanpa menunggu, meninggalkan apa yang telah tertinggal dan tak seorangpun dapat mengambilnya kembali, meski dirinya sendiri telah merugi.
Jam yang melekat pada dinding di hadapan Cassy, dan tepat bersanding di atas hiasan vas bunga berbahan keramik yang di poles oleh cat putih pucat, menunjukan jarumnya telah berada di pukul 09:53, menandakan malam hampir menaiki puncaknya, sehingga tak lama lagi ia akan menjemput esok hari, hari yang baru.
Di waktu ini, Cassy beserta Kevin sedang berjalan keluar dari supermarket itu untuk mencari sebuah kendaraan yang dapat mengantarkan mereka kembali ke barat daya sana, tempat di mana Cassy menemukan kemampuan hebatnya pertama kali, namun sayangnya tak dapat ia gunakan dengan sembarangan karena belum mengetahui asal usul kemampuannya itu, atupun pemicu dan konsekuensi yang harus di hadapinya di masa depan.
Langkah kaki Kevin juga Cassy nampaknya beriringan, meski kecepatan dari kedua orang itu berbeda dan berselisih angka yang cukup tinggi karena panjang kaki mereka berdua tak sama.
Walau tak disadari oleh sebagian orang, salah satu pegawai di supermarket itu mengantar kepulangan Kevin dan Cassy dengan sebuah anggukan ramah saat ia telah mendapati Kevin beserta Cassy telah berada di ambang pintu dan bersiap tuk keluar dari tempat mereka memuaskan rasa lapar juga dahaga yang menguras habis tenaga di dalam diri.
Saat Kevin mendapati pegawai itu mengangguk kepadanya, ia lantas menarik tangan Cassy dan membalas anggukan itu dengan cepat, diikuti oleh Cassy yang paham dengan maksud Kevin menarik tangannya tuk berbalik.
Setelah rangkaian upacara pamit tadi, Kevin dan Cassy lalu melangkahkan kakinya keluar dari supermarket itu dan bersegera tuk berjalan mencari sebuah tumpangan yang dapat mengantar mereka sampai dengan selamat di tujuan.
Mereka lalu melanjutkan pembicaraan yang tertinggal di dalam tadi, dengan Kevin sebagai pembuka
“Cass! Kamu bisa pesa taksi gak?”
“Caranya?”
“Kamu nggak tahu pesan taksi?”
“Nggak! Emangnya kenapa?”
“Kamu beneran cass, gak tahu?”
“Iya Vin! Masa aku mau bohongin kamu.”
“Cassy!!!
Masa kamu bisa gak tahu hal sekecil ini doang. Hadeuhh…”
“Jadi ceritanya kamu ngejek aku Vin?”
“Nggak juga sih! Tapi hampir mirip lah”
“Maksud kamu gimana sih Vin? Kamu ledekin aku atau nggak?”
“Yah…
Aku cuman ngutarain pendapat aku aja.”
“Hehehe…
Jangan ngambek lah Cass!”
“Iya! Aku gak ngambek”
“Nah! Gitu dong. Kalau kamu gak marah kan cantiknya nambah.”
“Dasar tukang gombal!
“Biarin aja”
“Yaudah nih cepetan! Cara pesan taksi gimana?”
“Kamu punya handphone kan Cass?”
“Punya! Emangnya kamu mau ngelakuin apa?”
“Masih ada sisa daya-nya kan?”
“Masih ada kok! Kayaknya bisa bertahan sampai tiga jam deh.”
“Nah! Kalau gitu kamu pesan taksi lewat handphone kamu aja Cass!”
“Oh iya Vin! Aku lupa kalau pesan taksi bisa lewat online.”
“Sekarang udah inget kan? Yaudah, buruan pesennya.”
“Hehe…
Iya..iya aku pesen!”
“Cepetan!”
“Iya! Tapi kamu maklumin aku aja yah Vin, soalnya aku beneran lupa kalau pesan taksi tuh bisa online.”
“Iya Cass! Aku maklumin. Kalau gitu cepetan pesannya, jangan cuman bicara doang.”
“Iya! Sabar dikit kenapa, Huhh!”
Keduanya saling melempar kata dengan cukup lama, meski hanya berjalan meneapaki jalan yang lengang tanpa berpikir tuk beristirahat sejenak di sebuah kursi-kursi taman dengan jarak dua hingga tiga meter berjejer rapi di sepanjang trotoar.
Cassy kini memainkan ponselnya, mencoba tuk memesan taksi lewat jaringan online, namun kali ini ia tak begitu paham dengan sistem kerja dari taksi online karena sebelumnya, ia nyaris tak pernah menaiki kendaraan selain transportasi yang di berikan keluarganya ataupun transportasi dari kerabatnya.
Kevin yang melihat raut wajah kebingungan Cassy itu, lantas menarik ponsel dari genggaman Cassy lalu memperlihatkan sebuah cara untuk dapat memesan taksi melalui jaringan online.
Walau dengan rasa malu, Cassy terpaksa menepis kegengsiannya demi kebaikan dirinya juga bagi Kevin. Wajahnya nampak memerah menahan rasa yang kini berada di dalam hatinya, sebuah rasa manis bercampur oleh adukan semerbak harum taman bunga yang telah bersemi meski dirinya sendiri tak tahu taman di hatinya itu telah memekarkan bunga dengan lebatnya.
Setelah kevin mengambil alih ponsel Cassy, ia lalu memesan sebuah taksi melalui aplikasi sembari memperlihatkan kepada Cassy bagaimana tata caran pemesanannya, dengan niat tuk mengajarinya.
Akan tetapi niat tulusnya itu terabaikan oleh Cassy sendiri, karena saat ini pandangannya tidak terfokus pada penjelasan yang di berikan Kevin, melainkan ia hanya terfokus pada wajah yang hampir menyentuh permukaan kulit wajahnya.
“Kamu pahamkan sekarang Cass?”
“Pa..paham apa Vin?”
“Kamu belum ngerti?”
“Hah! Ak ngerti kok! Ngerti..ngerti”
“Serius kamu udah ngerti?”
“Iya! Aku udah ngerti kok.”
“Kalau gitu kamu coba praktekin apa yang aku jelasin ke kamu.”
“Hah? Praktek?”
“Iya praktekin cara yang tadi aku jelasin! Kan kamu bilang udah ngerti, jadi kamu bisa dong.”
“Hmm… tapi Vin?”
“Kamu belum ngerti kan Cass? Hayo jujur kamu.”
“Bukannya nggak ngerti sih tapi…”
“Tapi apa? Kamu gak ngerti kan? Yaudah deh kalau gitu, biarin aku jelasin sekali lagi biar kamu
ngerti dan paham.”
“Gak! Gak Vin! Kamu gak usah repot-repot.”
“Loh? Kamu kenapa nggak mau?”
“Hmm…
Yah gak ada alasan sih, tapi.”
“Gak ada alasan maksudnya?
“Yah…
Vin! Itu tuh! Itu.”
“Itu apa? Kamu gak usah ganti topik deh Cass.”
“Bukan!”
“Bukan?”
“Itu loh Vin! Mobil yang kamu pesan udah datang.”
“Mobil? Mana Cass?”
“Dari jalan sana.”
“Oh iya! Mobilnya udah datang. Tapi kamu tahu dari mana kalau itu mobil pesanan kita?”
“Kamu gak lihat deskripsi pesanannya? Kan disitu di tulis kalau mobilnya itu warna putih, terus nomor platnya juga sama.”
“Oh iya yah!”
“Makanya, kamu tuh harus lebih telit Vin!”
“Iya!”
Dari kejauhan, telihat sebuah mobil berwarna putih dengan model standar berjalan menuju ke arah Kevin dan Cassy.
Namun nampaknya, mobil itu tak terlihat seperti sebuah mobil yang di jadikan sebagai taksi online pada umumnya, karena di badan mobil tersebut tak telihat sedikitpun tanda atupun logo perusahaan atupun sebuah kelompok yang mengelolanya.
Meski deskripsi yang di sebutkan Cassy tadi menunjukan bahwa mobil tersebut adalah mobil yang di pesan Kevin dan telah jelas ternyatakan di layar ponsel Cassy bahwa ia telah berdekatan dengan mobil pesanannya.
Dan terlebih lagi, sepanjang mata memandang, Kevin dan Cassy tak dapat melihat keberadaan seseorang pun di jalan itu, bahkan mereka sama sekali tidak melihat sebuah sebuah kendaraan melintasi jalan tersebut selain mobil itu.
Halo para readers yang setia☺️☺️☺️
Selamat membaca yah....
Kalau ada yang salah ataupun kurang benar, mohon dikoreksi yah...
Author bakal selalu nerima kritik dan saran kalian demi kenyamanan para pembaca😉😉😊
See you in the next episode 😘😘😘