
Matahari kini berada tepat di atas kepala, menunjukan hari telah siang, namun udara yang menjadi sumber utama penunjang makhluk hidup itu masih terasa sejuk saat ia menerpa wajah.
Suasana kota saat ini begitu padat karena masyarakatnya sedang sibuk berlalu lalang mencari restauran ataupun toko makanan untuk membeli sesuatu yang dapat mengisi kembali energi mereka yang terkuras sedari pagi.
Mulai dari restauran hingga kepada toko makanan di pusat kota Pulau Sotus tentunya akan begitu ramai didatangi oleh pengunjung saat waktu makan siang tiba, restauran dan toko-toko makanan itu bahkan mendapat kesempatan untuk menjual habis dagangan mereka.
Akan tetapi, hal ini hanya berlaku untuk restaurant dan toko makanan yang berada di pusat kota maupun sekitarnya.
Dan benar saja bahwa diluar daerah tersebut, toko dan beberapa restaurant di sana memiliki nasib yang begitu malang dan bahkan banyak diantara mereka yang berakhir dengan menutup harapan dan usaha.
Di suatu sudut kota Pulau Sotus, nampak Kevin dan beberapa pelayan didekatnya kini sedang sibuk keluar-masuk dari dalam rumah untuk menyiapkan barang-barang yang ia perlukan selama liburannya nanti berlangsung. Ibu Kevin juga tentunya ikut berpartisipasi dan membantu anaknya itu tuk melengkapi segala kebutuhan pribadinya maupun segala sesuatu yang menyangkut keamanan dan kenyamanan Kevin agar kekhawatirannya dapat berkurang setelah ia melepas kepergian anak kesayangannya itu walau hanya semalam.
“Ehh Vin! Hati-hati kamu angkat barangnya!!!”
“Iya mah… kevin kuat kok.”
“Jangan sok-sok’an kamu jadi anak Vin!”
“Kevin beneran sanggup buat angkatin barang ini mah! mamah nggak usah khawatir.”
“Yaudah! Terserah kamu aja!”
“Udah! Mamah masuk aja dulu ke dalam, biar aku sama Pak Jeffry yang ngurusin di luar.”
“Kalau gitu mamah masuk dulu yah! Hati-hati loh Vin! Jangan sampai kejatuhan barang.”
“Iya mah!…”
“Pak Jeffry! Tolong jagain Kevin yah! Jangan biarin dia angkat yang berat-berat sama yang mudah pecah.”*Ibu Kevin
“Iya Bu! Saya akan berusaha membatasi tuan muda.”*Pak Jeffry
“Jangan sampai lalai yah Pak Jeff!”*Ibu Kevin
“Baik Bu!”*Pak Jefrry
Setelah mendengar persetujuan Pak Jeffry, ibu Kevin lantas membalikkan badannya lalu berjalan secara perlahan masuk ke dalam rumah, namun ia menyempatkan dirinya tuk singgah di ambang pintu utama agar dapat melihat anaknya itu sejenak.
Ia begitu khawatir tuk melepas kepergian Kevin karena hatinya saat ini tengah merasakan suatu keganjalan yang membuatnya tak rela untuk mengizinkan Kevin berlibur walau tujuan wisatanya ialah property keluarga besar ‘Adinata’ itu sendiri, namun apa daya jika Kevin akan kecewa terhadap dirinya jika kekhawatirannya itu ia kokohkan, ia hanya dapat berusaha sekuat mungkin untuk menjaga keamanan anaknya agar hatinya tak begitu merasaksn kegundahan akan keselamatan anaknya itu.
Ia memikirkan begitu banyak cara agar keselamatan Kevin terjamin, dan keputusan akhir yang ia ambil adalah dengan mengirimkan sekelompok bodyguard yang akan mengikuti Kevin dan teman-temannya secara diam-diam menuju villa tersebut.
Setelah cukup lama berlalu lalang menyiapkan keperluannya, akhirnya Kevin mendapat kesempatan tuk beristirahat, ia lalu melihat arloji yang terikat ditangannya itu dan mendapati jarum jam telah menunjukan pukul setengah satu siang.
Perutnya kini merasa lapar karena ia sedari tadi belum sempat untuk mengambil jatah makan siangnya.
Karena merasa kelaparan, Kevin akhirnya memutuskan untuk memanfaatkan waktu istirahatnya dengan menyantap hidangan di ruang makan agar ia tak merasa kelaparan lagi.
Kevin berjalan dengan cepat menuju ruang makan agar tak membuang waktu, akan tetapi langkahnya itu terhenti sebelum ia hampir memasuki ruang makan hanya karena mendapati ibunya yang saat ini tengah berbicara lewat telepon genggam.
Namun anehnya, ia merasakan atmosfer yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya saat ibunya tengah berbicara lewat telpon. Dengan rasa curiga, Kevin lalu mencuri pembicaraan ibunya itu dan berhasil menagkap sebagian pembicaraan mereka.
“Kamu sudah siap siang ini?”*ibu Kevin
“Siap Bu! Saya dan kelompok saya, sudah stay di tempat!”*Person on the phone
“Kerja bagus!”*ibu kevin
“Mah! mamah lagi telponan sama siapa?”
“Oh..ini sama si pelayan baru.”
“Emangnya mamah mau nambah pelayan di rumah lagi? Kan udah banyak.”
“Ah.. nggak kok, mamah cuman mau nambah pekerja kebun aja.”
“Oh… gitu yah?”
“Iya… ehh ngomong-ngomong kamu belum makan kan Vin?”
“Iya mah! Kevin belum makan siang.”
“Nah! Pas banget, mamah udah nyuruh Bibi Rumi masak kari kesukaan kamu.”
“Wihh… enak tuh.”
“Iya dong.”
Raut wajah Kevin seketika berubah setelah mendengar makanan kesukaannya itu di sebut dan segera melupakan topik pembicaraan ibunya yang ia curi.
Kevin memang anak dari seorang konglomerat tersohor, namun tak menutup kemungkinan ia suka dengan makanan yang bukan sekelasnya, dan kari kesukaannya itu hanya terbilang jika masakannya terbuat dari tangan Bi Rumi. Seorang pelayan rumah biasa yang di datangkan langsung oleh keluarga ‘Adinata’ dari Negara asalnya india.
Bi Rumi merupakan salah satu pelayan dengan usia kontrak kerja terlama di dalam sejarah keluarga besar ‘Adinata’, ia telah bekerja di keluarga itu dan meninggalkan negaranya sejak putra sulung atau dapat di sebut sebagai kakak kandung Kevin masih dalam kandungan, dan pada saat itu usianya baru menginjak delapan belas tahun.
Saat usia bi rumi mulai menginjak umur 25 tahun, ia telah menjadi salah satu orang terpercaya dalam keluarga ‘Adinata’ dan bahkan ia pernah di sanjung oleh kepala keluarga utama sebelum ayah Kevin yang terkenal dengan kekejaman dan sikap dinginnya.
Kepercayaan merupakan hal dasar juga pondasi dari suatu hubungan, dan saat itu bi rumi telah mendapatkannya, maka dari sanalah ia di percaya untuk mengurus semua keperluan pribadi anak-anak dari keluarga ‘Adinata’.
“Mah! Bi Rumi kok lama amat sih.”
“Yang sabar Vin! Bi Rumi tuh udah nggak muda lagi kayak dulu dan nurutin semua permintaan kamu.”
“Iya sih, tapi kan Bi Rumi udah terbiasa mah.”
“Walaupun udah terbiasa Vin, tapi kan yang namanya usia kalau udah nggak muda, pasti ngaruh dalam kinerja.”
“Ohh…”
5 minute later
“Selamat siang nak Kevin! Udah lama nunggu yah?”*Bi Rumi
“Iya bi! Udah dari tadi nih.”*Kevin
“Maafin bibi yah nak Kevin! Soalnya tadi di dapur lagi ada urusan lain.”*Bi Rumi
“Iya bi! Nggak apa-apa kok, kalau cuman nungguin masakan bibi mah… sampai malam sekali pun aku tunggu bi!”*Kevin
“Hahah… nak Kevin bisa saja. Kalau nggak ada keperluan yang lain, saya tinggal ke dapur yah nak.”*Bi Rumi
“Iya bi!”*Kevin
“Sesuka itukah kamu sama masakannya Bi Rumi Vin?”*Ibu Kevin
“Jelas dong mah! soalnya kan aku nggak pernah ngerasain kari lain yang bisa nandingin kari buatannya Bi Rumi.”
“Kalau mamah yang buat masih beda yah Vin?”
“Yah jelas bedah dong mah!”
“Jadi ceritanya kamu nggak suka makanan buatan Mamah!”
“Yah bukan gitu juga maksud Kevin mah! Kalau menurut Kevin, masakan mamah juga enak kok, tapi kalau nandingin karinya Bi Rumi, hmm… mungkin nggak bisa deh! Soalnya kari buatannya Bi Rumi tuh emang punya khas tersendiri mah!”
“Yaudah kalau gitu, cepetan di makan nanti keburu dingin karinya.”
“Iya mah!”
Keheningan seketika terjadi setelah ucapan terakhir Kevin ia lontarkan.
Kevin nampaknya sangat menikmati kari buatan Bi Rumi itu sehingga fokusnya hanya kepada makanan yang kini ia santap, bahkan ibunya sendiri ia abaikan.
Kini kari kesukaannya itu hampir habis ia makan dan hanya menyisihkan airnya saja, lalu dengan enteng ia memutuskan untuk menyeruput airnya juga karena tak ingin menyia-nyiakan makanan kesukaannya itu, akan tetapi Kevin sendiri tak sadar akan perilakunya itu yang dapat menimbulkan suara sehingga ibunya itu dapat terusik.
’Sruupthh…’
“Kevin!!! Kamu sadar gak sih hah?”
“Apa mah? kenapa?”
“Mamah Tanya kamu sadar apa nggak! Masa makannya kayak gitu.”
“Hah? Emangnya ada yang salah mah?”
“Kamu masih nggak ngerasa yah?”
“Ishh… mamah apaansih?”
‘Srrupthh’
“Kevin!!!”
“Ada apa sih mah?”
“Kamu beneran nggak inget kalau mamah dulu pernah ngingetin kamu hah?”
“Apa mah? kevin nggak inget tuh!”
“Hadeuhh! Kevin! Anakku sayang, mamah tuh ngelarang kamu buat makan kayak gitu”
“Ohh iya! Kevin lupa heheh…”
“Kebiasaan deh kamu kalau nemu karinya Bi Rumi!”
“Yah maaf mah! lagian ini tuh enaknya nggak main-main.”
“Walaupun gitu kamu harus tetep ngejaga suara kamu buat nggak keluar sama sekali!”
“Iya mah! maafin Kevin… tapi mah! aku mau tahu alasannya kenapa aturannya bisa kayak gitu.”
“Alasannya tuh; papah kamu nggak suka orang yang makannya kayak gitu, karena katanya bisa ngehancurin sopan satun sama tradisi acara makan kita”
“Tapi kalau soal tradisi keluarga kita, itu kan cuman berlaku pas keluarga besar kumpul buat makan malam mah!”
“Emang bener kalau tradisi makan kita itu cuman berlaku saat keluarga besar kumpul, tapi… ayah kamu itu kan penerus keluarga utama. Jadi sudah seharusnya kalau anak-anaknya itu punya sopan santun yang baik, nggak kayak kamu!”
“Ohh…”
“Paham kamu Vin! Awas loh kalau besok-besok gitu lagi.”
“Iya mah Kevin janji.”
“Gitu dong!”
“…”
“Ehh Vin! Mamah mau Tanya.”
“Mau nanya apa mah?”
“Kamu perginya sama siapa? Perasan dari tadi pagi kamu nggak pernah kasih tahu mamah.”
“Mamah serius loh Vin nanya-nya!”
“Iya mah! kevin becanda kok hehe…”
“Kalau gitu siapa yang mau kamu ajak pergi?”
“Aku rencananya bakalan berangkat bareng Cassy mah!”
“Cuman bareng sama Cassy aja?”
“Nggak kok mah! Aku juga ngajak sepupunya Cassy si Tia.”
“Emang kamu kenal Vin! sama sepupunya Cassy?”
“Iya dong.”
“Sejak kapan?”
“Pas mamah ngadain pesta! Tapi aku udah ketemu duluan sama dia di toko pas mau beliin mamah roti.”
“Hah? Jadi maksudnya kamu itu pertama kali ketemu sama sepupunya Cassy di toko? Terus kamu kenalan sama dia pas di pesta, gitu?”
“Iya mah! aku kemarin nggak sengaja ketemu dia pas habis dari kamar bareng Cassy.”
“Ohh…”
Pembicaraan panjang mereka sontak berhenti dan menyisahkan anggukan paham dari ibu Kevin mengenai penjelasan singkat anaknya itu tentang pertemuannya bersama sepupu Cassy di pesta jamuan yang diadakan beberapa lalu juga saat Kevin tak sengaja berjumpa dengannya di salah satu toko kue pusat perbelanjaan.
Setelah Kevin membersihkan air kari dengan cara yang lebih sopan, ia lantas berdiri dan membalik badannya lalu mengambil langkah tanpa mengucapkan sepatah kata apapun bahkan tak sedikitpun ia melirik ibunya yang sedari tadi tengah duduk di depannya itu menuju pintu utama untuk keluar ke halaman depan di mana mobil yang akan ia kendarai terparkir rapi dan memulai perjalanannya.
Ibunya itu tak mengomentari sikap Kevin juga tidak melontarkan kata-kata dan hanya membuntutinya dari belakang sembari menegnok punggung lebarnya.
Langkah demi langkah telah berlalu di makan waktu, dan saat ini kedua ibu anak itu tengah berada di halaman depan tempat di mana semua keperluan yang dibutuhkan untuk camping tersusun rapi di dalam mobil sedan berwarna putih dengan kualitasnya yang tak tertandingi, begitupun dengan harganya.
Kevin dan ibunya kini saling memandang dan hendak tuk memulai kembali percakapan mereka
“Mah! Kevin udah mau berangkat nih, takutnya nanti kalau tinggal lebih lama bakalan lambat nyampenya.”
“Kalau gitu yaudah sana kamu berangkat! Sekalian kalau kamu pulang bawain mamah oleh-oleh yah.”
“Mamah mah kebiasaan! Tapi yaudah deh, Kevin nanti bawain kalau nanti aku inget.”
“Harus diinget dong Vin!”
“Iya mah!”
Percakapan Kevin dengan ibunya cukup singkat, dan setelah mereka memutus pembicaraan tersebut, Kevin lantas menarik gagang pintu mobil kemudian membukanya lalu masuk ke dalamnya dan mengambil posisi duduk yang akan membuatnya merasa senyaman mungkin karena perjalanan akan terasa panjang bagi mereka nantinya
“Pak jeff!”*Ibu Kevin
“Iya Bu ada apa?”*Pak Jeffry
“Kamu udah masti’in semuanya lengkap?”*Ibu Kevin
“Iya Bu! Semua barang pribadi sampai keperluan di sana sudah lengkap dan telah saya cek ulang.”*Pak Jeffry
“Kalau gitu kamu berangkat sana! Kasian Kevin udah nungguin”*Ibu Kevin
“Baik Bu!”*Pak Jeffry
“Ehh tunggu bentar Pak Jeff!”*Ibu Kevin
“Iya Bu kenapa?”*Pak Jeffry
“Kevin kan bareng temennya, terus kamu mau jemput temen Kevin?”*Ibu Kevin
“Iya Bu! Tuan muda Kevin sendiri yang memerintahkan saya untuk menjemput teman yang akan di ajak.”*Pak Jeffry
“Ohh gitu yah?”*Ibu Kevin
“Iya Bu!”*Pak Jeffry
“Yaudah sana berangkat, nanti lambat! Tapi kamu hati-hati yah bawa mobilnya, nggak usah ngebut.”*Ibu Kevin
“Baik nyonya saya akan laksanakan.”*Pak Jeffry
“Pak Jeff!!! Jangan lupa yah soal yang tadi pagi”*Ibu Kevin
“Iya Bu! Saya akan ingat“
Matahari mulai condong ke barat, bertanda siang tak lama lagi kan berakhir dan siap tuk menyambut sore hari yang hangat.
Di langit sana, arakan awan terus saja bergejolak membentuk suatu lukisan abstrak, setiap menitnya ia selalu berjalan mengikuti arah angin dengan mengitari bumi walau tak tahu kapan ia kan sampai di haluan angan.
Sinar mentari juga kini tengah menembus sela-sela dedaunan pohon rimbun, cahayanya bagai melukiskan bayang-bayang penuh arti, bahkan sesekali menciptakan siluet indah ketika sang buritan datang menyepuh.
Dari atas sana, nampak sebuah mobil sedan berwarna putih elegan sedang melaju dalam kecepatan rendah menulusuri kawasan barat daya pulau impian sotus.
Di dalamnya, terlihat Kevin bersama kedua teman perempuannya sedang asik menikmati pemandangan jejeran pohon pinus di sepanjang jalan sembari membangun khayalan mereka masing-masing.
Jalanan itu cukup lengang jika di bandingkan dengan jalan-jalan lain yang berada di sebelah selatan hingga utara.
Wajar saja jika belahan barat daya Pulau Sotus ini adalah tempat tersepi apabila kita bandingkan dengan bagian lainnya, karena belahan Pulau Sotus satu ini ialah di mana tempat berkumpulnya seluruh pabrik dan ladang-ladang yang menanam berbagai kebutuhan pokok dari semua jenis bahan makanan.
Di belahan ini juga terdapat sebuah hutan hujan dengan luas yang tak terkira, dan dimanfaatkan oleh pemerintah dengan mengambil biaya dari para investor untuk melakukan pelestarian alam baik itu flora maupun fauna.
Dan tentunya, salah satu investor tertinggi dari program pelestarian ini ialah keluarga besar Kevin, ‘Adinata’.
“Pak jeff! Masih lama yah?”*Kevin
“Sebentar lagi tuan!”*Pak Jeffry
“Kalau Toko Kue Riri udah lewat belum?”*Kevin
“Mohon maaf sebelumnya, tapi kalau toko Riri saya sudah lewati”*Pak Jeffry
“Yahh Pak Jeffry kok nggak ngasih tahu aku.“*Kevin
“Sekali lagi saya minta maaf tuan”*Pak Jeffry
“Kalau gitu besok pas kita pulang jangan lupa singgah yah! soalnya mamah minta dibawain oleh-oleh.”*Kevin
”Baik tuan! saya tidak akan lupa”*Pak Jeffry
“Emangnya ini di mana sih vin? Kok bisa-bisanya ibu kamu minta di bawain oleh-oleh di tempat sepi kayak gini.”*Cassy
“Kamu nggak pernah ke sini cass?”*Kevin
“Nggak! Emangnya kamu pernah?”*Cassy
“Yah se..ring… nggak!!! Aku nggak pernah ke sini!”*Kevin
“Ohh… Btw pemandangannya bagus yah.”*Cassy
“Iya dong pastinya.”*Kevin
“Ehh Tia! Kamu gak bosen apa? Kok dari tadi cuman diem aja sih.”*Cassy
“Ah! iya nggak kok!”Tiany
“Iya nih si tia orangnya ngebosenin.”*Kevin
“Hehh tukang ledek!!! jagain tuh mulut kamu! Entar aku laporin yah sama mamah kamu Vin!”*Cassy
“Idihh… siapa yang di bilangin siapa yang marah, pake ngancem segala pula.”*Kevin
“Emangnya kenapa hah?”*Cassy
“Ya… gak apa-apa juga sih sebenernya.”*Kevin
“Kalau gitu diam aja! Jangan banyak omong, bikin sakit pala aja”*Cassy
“Loh ini gimana ceritanya sih? kan kamu duluan yang ajakin aku ngomong Cass!”*Kevin
“Yah soalnya kita dari tadi cuman diem-dieman, so aku cairin deh”*Cassy
“Terus salahnya aku di mana?”*Kevin
“Cari sendiri ampe ketemu!”*Cassy
“Udah Cass! Udah.”*Tiany
“Noh liat sepupu kamu! Lembut dikit napa, kok jadi cewek judes amat sih.”*Kevin
“Biarin aja, suka-suka aku dong.”*Cassy
“Iyain aja deh, daripada bikin emosi naik!”*Kevin
“Apa kamu bilang!!!”*Cassy
“udah! Biarin aja cass”*Tiany.
Pertikaian antara Kevin dan Cassy pun akhirnya berakhir setelah lerai-an Tiany berhasil membuat keduanya terdiam, lalu keadaan mobil kembali menjadi hening dan hampa seperti semula, mereka juga telah sibuk dengan pikiran masing-masing dan tanpa sadar bahwa kendaraan mereka mulai memasuki kawasan hutan.
Ban mobil yang awalnya berwarna hitam, kini beralih menjadi kecokelatan karena tanah di dalam hutan hujan itu cukup becek dan berlumpur.
Untuk masuk ke dalam sana, Pak Jeffry selaku supir yang memandu arah mobil, harus melewati beberapa rintangan seperti; tanah lumpur, jalanan berbatu, hingga kepada ranting-ranting kayu yang bergelimpangan.
Mobil sedan putih itu tak lagi nampak kemewahannya dan hanya terlihat seperti mobil sedan murahan berlumurkan percikan tanah berwarna cokelat, mobil itu juga sesekali melewati beberapa kesulitan sehingga dapat berimbas kepada mesin dan bahkan catnya yang senilai sebuah batangan emas.
Keadaan di dalam mobil masih saja hampa dan sunyi tanpa ada suara apapun kecuali deruan angin.
Mereka berempat termasuk Pak Jeffry hanya terdiam dan super sibuk dengan pikiran masing-masing seolah-olah berada di dunia sendiri.
Akan tetapi sesampainya mereka di depan villa yang akan di tempati, semuanya lantas terkagum tak terkecuali Pak Jeffry sekaligus bercampur heran karena tak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat di hadapannya.
Dan dengan rasa penasaran, Kevin juga Cassy beserta sepupunya Tiany lantas bertanya kepada Pak Jeffry.
“Pak! Kok bisa jadi kayak gini sih?”*Kevin
“Pak jeff tahu soal ini? Kalau kamu Vin tahu
nggak?”*Cassy
“Aku baru pertama kali lihat yang kayak gini loh!”*Tiany
“Maafkan saya tuan muda! Saya juga sudah lama tidak kemari.”*Pak Jeffry