
Angin berhembus kencang, meniup ranting-ranting pohon dan menyapu semua dedaunan kering yang berserakan dia atas tanah.
Langit malam ini cerah, tanpa terlihat segumpal awan sedikitpun.
Bulan di saat pertengah malam ini juga tengah bersinar dengan bangga tuk menereangi semua kegelapan.
Dari balkon villa milik keluarga ‘Adinata’ itu, nampak Kevin kini tengah asik berbicara bersama kedua orang gadis berparas layaknya putri kerajaan, cantik nan rupawan.
Di malam tanpa awan ini, mereka bertiga sedang asik menikmati kesejukan dan juga kesunyian di hutan belantara yang diiringi oleh bunyi-bunyian dari serangga juga hewan-hewan di sana.
Dari atas sana, di bola mata indah mereka tegambar sebuah pemandangan indah yang menampakkan sebuah hutan belantara dengan hamparan pepohonan.
Hutan tersebut nampak rapi dan memiliki pohon dengan tinggi yang hampir sama jika dilihat dari atas, sehingga Kevin beserta Cassy dan Tiany kini dapat leluasa memandang jauh ke ufuk barat sana.
‘Huuffttt…’
Hembusan nafas Cassy bernada, membuat kedua orang yang berada di sampingnya itu sontak meliriknya sejenak karena merasa terganggu akan suara nafas itu.
Meski tak memedulikan dan menghiraukan suara yang mengusik ketenangannya, entah kenapa Kevin masih memalingkan wajahnya saat cassy mengeluarkan suara hembusan nafasnya itu.
Walau Tiany dan dirinya terusik terhadap hal tersebut, akan tetapi Kevin melihat Cassy dengan pandangan yang berbeda, bahkan amat jauh berbeda dari Tiany yang sorot matanya menyiratkan sebuah kekesalan.
Pandangannya itu tak dapat diartikan sebagai pandangan biasa, karena sebuah gejolak rasa nampak begitu nyata terkobar di bola mata indahnya.
Silang beberapa menit, Cassy masih tak sadar bawha ia sedari tadi sedang di pandangi oleh sepasang mata.
Hingga saat Cassy sadar akan perlakuan Kevin terhadap dirinya itu, ia lantas menegurnya sambil mendaratkan sebuah tamparan ringan di bahu lebar teman lelakinya itu sehingga lagi-lagi menimbulkan suara yang mengusik ketenangan Tiany.
“Heh Vin! Maksud kamu apa hah?”*Cassy
“Apaan sih Cass! Gajelas banget deh…
Masa langsung main pukul aja. Sakit tahu!”*Kevin
“Kamu dari tadi liatin aku kan Vin? Ayo ngaku!”*Cassy
“Nggak kok! Aku tadi cuman ngeliat bintang yang di sana, dan kebetulan kamu ada pas di samping aku jadi kelihatannya aku yang sengaja curi pandang ke kamu.”*Kevin
“Halah! Bohong!”*Cassy
“Dih! Kamu jadi orang kok gak percaya amat sih sama aku.”*Kevin
“Yah emang aku gak percaya sama kamu.”*Cassy
“Yaudah deh terserah kamu aja! Nanti jadinya aku juga yang bakalan badmood lagi kalau berantem sama kamu.”*Kevin
“Itu kamu paham!”*Cassy
“Please deh! Kalian berdua tuh ribut banget tahu nggak!”*Tiany
“Sorry Tiany! Ini sih Kevin emang kerjaanya suka bikin orang jadi emosi.”*Cassy
“Loh! Kok malah nuduh aku? Kan kamu duluan yang ajakin aku bicara.”*Kevin
“Nah kan! Berantem lagi…”*Tiany
“Iya..iya tia aku minta maaf! Aku bakalan diam.”*Cassy
“Udah ah! Aku mau turun aja, soalnya kalian pasti gak bakal berhenti.”*Tiany
“Loh…
Kok kamu mau turun sih?”*Cassy
“Udah jangan Tanya aku lagi, aku mau turun”*Tiany
“Loh Tiany?”*Kevin
“Kamu sih Vin!!!”*Cassy
“Ujung-ujungnya pasti aku huh!”*Kevin
“Emang kamu!”*Cassy
Tiany terlihat meninggalkan Cassy dan Kevin berdua di atas balkon sana.
Namun anehnya, raut wajah manisnya itu menyiratan sebuah kegembiraan yang dapat diartikan bahwa tindakan yang ia lakukan saat ini bukan berdasarkan alasan ia meninggalkan Kevin dan Cassy berdua dalam satu ruang lingkup, melainkan dirinya memiliki sebuah alasan tersendiri.
Suasana di luar sana seketika hening saat Tiany pergi meninggalkan Kevin dan Cassy berdua, hanya tersisa sebuah suara dari riuhnya angina yang sedang sibuk bertiup.
Sesekali sang angin juga melintas dengan keras, sehingga beberapa ranting dan juga dedaunan pohon ikut tertiup dan menimbulkan suara.
Selain suara dari angin dan beberapa dengungan serangga di balik semak-semak belukar, tak ada lagi bebunyian di sekitar balkon tersebut, hingga selang beberapa menit kemudian kedua orang itu kembali membuka pembicaraan dan mencairkan suasana yang sedari tadi telah mendingin, sedingin lemari es.
“Dingin yah Cass!”
“Iya Vin!”
“Huufftt…”
“Kenapa?”
“Gak kok! Gak ada apa-apa.”
“Terus kamu tadi nge-helain nafas maksudnya apa?”
“Ohh…
Aku cuman pengen legain perasaan aku aja.”
“Ohh gitu…
Btw Vin! Kamu gak kepikiran soal yang tadi.”
“Yang mana Cass?”
“Itu loh…
Yang pas aku ‘teleportasi’”
“Hmm…
Gimana yah? sebenernya sih aku juga kepikiran dan ngerasa aneh gitu. Tapi mau gimana lagi, kan ini emang nyata.”
“Kalau ini mimpi gimana?”
“Yah kalau emang ini beneran mimpi sih…
Aku gak kepengen bangun.”
“Loh kenapa?”
“Yah soalnya aku gak mau ninggalin kenangan kita yang spesial hehe…”
“Kamu ada-ada aja deh Vin! Hahaha…”
Suasana kembali seperti semula, hangat dan tenang.
Namun saat ini situasinya berbeda, karena kini suasana di antara kedua orang itu terasa begitu hangat dan lembut daripada sebelumnya sehingga siapapun yang merasakannya pasti ingin tinggal lebih lama akibat kenyamanannya.
Senyum lebar tergambar di mimik wajah Kevin dan Cassy saat setelah mereka berdua berbicara walau hanya sebentar.
Kedua orang itu tampak amat sangat menikmati pemandangan indah malam ini.
Dengan serbuk bintang yang terpapar di atas langit sana, malam ini terasa begitu sempurna, sehingga membuat seseorang akan mempunyai keinginan untuk mengabadikan momen bahagia ini.
Kevin kini menyandarkan tangannya di atas pagar pembatas balkon itu agar ia dapat lebih menikmati dan mendalami kebahagiaan-nya.
Cassy sendiri saat ini sedang duduk bersantai sembari membaca beberapa majalah di atas sebuah kursi ayunan berbentuk bulat dengan bahan yang terbuat dari rotan.
Keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing, namun di hati mereka tertanam sebuah bunga merah mudah, pertanda perasaan bahagi dengan makna tersendiri yang tak pernah tertanam sebelumnya.
Bunga merah muda itu belum siap tuk bermekaran, akan tetapi ia mungkin sebentar lagi akan menjadi sebuah ladang yang cantik dan dipenuhi oleh mekaran bunga.
Di bawah balkon itu pula, nampak Pak Jeffry kini telah menyiapkan seluruh makanan yang nantinya akan menjadi makan malamnya bersama Kevin, Cassy, dan juga Tiany.
Hidangan itu terdiri dari sebuah pisang yang di olesi selai almond, sebuah telur orak-arik, dan juga beberapa potong buah sebagai penutupnya.
Meski hidangan tersebut terdengar sederhana, namun jangan kira bahwa makanan tersebut adalah makanan biasa.
Karena harga dari semua hidangan tersebut jika di pasarkan di restoran, maka harganya setara dengan dua kali lipat harga steik yang di jual di sebuah restoran kelas menengah.
Sedari Tiany turun dari balkon tersebut, ia langsung menuju ke dapur untuk melihat-lihat makanan yang di persiapan oleh Pak Jeffry.
Akan tetapi, kesibukan di dapur saat ini mendorongnya untuk ingin membantu Pak Jeffry, sehingga niat awal ia pergi ke dapur terpaksa ia kurung.
Langkah kakinya ia ambil dengan hati-hati, agar kiranya tak mengusik kesibukan Pak Jeffry.
Seketika Pak Jeffry tersadar bahwa seseorang kini berada di sampingya, ia kemudian menoleh dan mendapati Tiany yang tersenyum memprlihatkan gigi rapihnya.
Keduanya lantas saling menegur dengan nada rendah dan terlihat akrab.
“Loh kok nona tiany bisa ada di sini? Bukannya tadi anda pergi ke balkon bersama tuan Kevin dan nona Cassy?”
“Hehe…
Iya Pak Jeff! Aku tadi emang dari sana, tapi aku gak mood ada di sana. Jadinya aku turun deh buat lihatin Pak Jeff masak.”
“Ohh…
Jadi seperti itu yah non?”
“Iya Pak hehehe…
Btw Pak Jeffry masak apa? Aku bantuin yah…”
“Lebih baik anda tidak usah repot-repot mengeluarkan tenaga demi membantu saya non! Apalgi sekarang saya sudah masak dari tadi, dan sekarang saya hanya tinggal menyelesaikan plate-ing nya saja.”
“Ohh jadi gitu! Padahal aku pengen bantu masak loh biar bisa sekaligus belajar juga hehe…”
“Haha…
Anda memang sangat bijak nona Tiany.”
“Tapi ini beneran udah siap? Atau masih lama slesainya?”
“Nggak kok non! Ini udah mau saya taruh di atas meja makan.”
“Kalau gitu aku panggil Kevin dan Cassy buat turun yah Pak Jeff!”
“Jika itu yang anda inginkan…
Saya mohon bantuannya.”
“Yaudah! Aku langsung naik yah.”
“Hati-hati yah non!”
“Iya Pak Jeff!”
Niat baik Tiany lagi-lagi terpaksa ia pendam karena Pak Jeffry menolak bantuan darinya.
Akan tetapi, meski demikian Tiany tidak putus semangat dan bahkan ia kembali menawarkan bantuan kepada Pak Jeffry sehingga akhirnya ia rela kembali ke balkon yang jaraknya dari dapur cukup membuat nafas seseorang seperti telah berlari di sebuah lapangan.
‘fiuhhh…’
Tiany menghela napas akibat lelah karena, saat ia berada di dapur dan ingin kembali ke balkon untuk memanggil Kevin dan Cassy turun ke bawah, ia memilih untuk berlari agar dapat sampai lebih cepat.
Namun tindakannya itu membuat dirinya terengah-engah dan membuat keringatnya pun ikut bercucuran karenanya.
Setelah ia berlari dan sampai di balkon itu, Kevin dan Cassy lantas keheranan bahkan mereka sedikut terkejut karena kedatangannya.
Kevin beserta Cassy kini merasa bingung akibat melihat dirinya bercucuran keringat walau tak sebanyak saat seseorang sedang berolahraga.
Meski seperti itu, Kevin melihat dirinya dan menduga bahwa Tiany berlari dari bawah untuk sampai ke sini.
Walau dugaan Kevin benar, ia tetap menyanyakan penyebab tiany bercucuran keringat dan terlihat sulit untuk bernafas.
“Tiany! Kamu kenapa? Kok bisa sampai keringetan gitu?”*Kevin
“Tia! Kamu habis dari mana? Kok bisa sampai ngos-ngosan sih…”*Cassy
“Tia! Kamu gak apa-apa? Sini duduk dulu…”*Kevin
“Gak usah Vin! Aku gak apa-apa.”*Tiany
“Beneran?”*kevin
“Iya beneran! Aku gak bohong”*Tiany
“Tia! Kamu lari yah?”*Kevin
“Iya! emangnya kenapa?”*Tiany
“Tiany!!! Kok kamu lari sih…
Kamu lupa yah kalau kamu itu punya asma hah?”*Cassy
“Oh iya yah! aku lupa Cass! Hehe…
sorry.”*Tiany
“Aduhh tia! Kalau kamu pingsan gimana? Ini kan di tengah hutan.”*Cassy
“Udah! Aku gak apa-apa kok.”*Tiany
“Kamu itu gimana sih!”*Cassy
“Iya Tia! Kamu gak boleh kayak gitu…”Kevin
“Iya..iya aku bakal lebih hati-hati dan ingat lagi lain kali!”*Tiany
“Inget loh! jangan sampai lupa.”Cassy
“Iya Cass!”*Tiany
“Oh iya! Kamu ada perlu apa sampai balik lagi ke sini? Pakai lari-larian lagi.”Kevin
“Itu Pak Jeff!”*Tiany
“Kenapa sama Pak Jeff?”Cassy
“Aku ke sini buat manggil kalian untuk ke bawah, soalnya kata Pak Jeffry makanannya udah mau di siapin.”*Tiany
“Ohh…
Jadi gitu? Kirain apaan.”*Kevin
“What!!! Kamu lari-larian dari dapur ke sini cuman buat manggilin kita? Kok kamu bisa sampai segitunya sih Tia!!!”*Cassy
“Hehehe…
Aku terlalu semangat cass!”*Tiany
“Ada-ada aja kamu Tia! Hahaha…”*Kevin
“Kamu bikin aku khawatir tahu nggak!”*Cassy
“Iya Cass aku minta maaf!”*Tiany
“Huh!”*Cassy
“Yaudah! Kalau gitu kita lansung turun aja yuk!”*Kevin
“Iya nih! Sekarang juga anginnya tambah kenceng, nanti bisa-bisa kita kena flu lagi.”*Cassy
“Kalau gitu…
Yuk turun!”*Tiany
Ketiganya berjalan beriringan, menimbulkan suara hentakkan kaki di setiap langkahnya. Dengan Cassy yang berada di tengah-tengah antara Tiany dan Kevin, mereka bertiga lalu serempak melewati lorong berhiaskan lukisan-lukisan indah serta beberapa jajaran foto keluarga adinata dari masa ke masa.
Dari mimik wajah mereka bertiga, tersimpulkan sebuah ikatan pertemanan yang nantinya akan sangat sulit tuk terputus meski kedepannya akan terjadi sebuah kerenggangan di dalam ikatan tali itu.
Semuanya seolah berjalan dengan lancar untuk saat ini, namun para pewaris keluarga konglomerat itu tak akan pernah tahu tentang apa yang akan mereka dapati juga hadapi di masa depan, karena lembaran hidup mereka telah terbuka, dan kertas yang nantinya akan menjadi sebuah sarana, tempat tertuangnya seluruh kisah mereka bertiga yang akan di penuhi oleh keanehan dan ketegangan, meski di antaranya terdapat kebahagiaan.
Halo semuanya....
Beberapa Minggu ini aku gak update karena lagi nyaipin bab baru😔
Tapi sebagai gantinya, aku langsung update 3 episode loh...
Sekalian ini adalah episode terakhir untuk bab pertama😁😁😁
Selamat membaca para readers ku🤗🤗🤗
love you so much ☺️🙏😊😘
See you in the new chapter 😘😘😘
Bye....