The McNaught

The McNaught
The second meet



Kicauan burung yang kembai ke sarang sayup terdengar oleh telinga, matahari kini berwarna jingga pertanda hari telah usai dan siap tuk menyambut malam, mentari sebentar lagi akan sirna di lahap lautan ufuk barat sana.


Dari dalam kamar, kevin bersimpuh menekuk lutut sambil memeluknya, ia saat ini tengah asik menikmati siluet pepohonan yang diciptakan matahari dengan duduk di depan jendelanya seraya menikmati setoples camilan.


Tanpa sadar siluet bayangan dirinya juga tergambar di lantai kayu kamarnya, pikirannya menerawang ke dalam lautan imajinasi, kedua liontin tampak sedang digenggamnya dan sesekali ia mainkan di atas jari jemari tangannya.


“Siapa yang akan ku ajak bicara tentang hayalanku ini?” resahnya dalam hati.


Secara hal yang masuk diakal, ia tak lagi mempunyai perkara yang dapat membuat kekhawatirannya terbentuk, namun dalam dunia dongeng mungkin ia kini sedang merasa bimbang karena masalah liontin itu.


Tak ada satupun yang dapat ia ajak bicara mengenai hal ini bahkan ibunya sendiri, walau berusaha sekuat tenaga tuk menemukan seseoarang yang jika di ajaknya tuk berdiskusi tentang mimpinya itu tidak mengatakan bahwa dirinya itu berkhayal, ia tidak akan menemukan seseorang tersebut.


“Mungkin ada, tapi orang itu sama gilanya denganku jika ku ajak nimbrung dalam masalah ini.” pikirnya diam-daim.


“Kevin mamah bawain teh anget nih! Bukain dong sayang pintunya, kamu lagi ngapain hah, ehh vin! Cepetan dong! Tangan mamah udah pegel nih meganginnya.”


“Iya… iya mah bentar, jangan masuk dulu mah, tunggu aja dulu”


Refleks Kevin mencari cari tasnya untuk menyembunyikan kedua liontin itu, namun ibunya sudah tak sabaran sehingga membuka pintu tanpa seizin anaknya, alhasil ibunya mendapati kevin yang sedang menyembunyikan sesuatu ke dalam tasnya.


“Kamu kok lama banget sih vin, yah terpaksa mama buka aja langsung, tapi kok kayaknya kamu lagi nyembunyiin sesuatu dari mamah, apaansih main sembunyi-sembunyian gitu, kayak sama siapa aja kamu Vin! Coba mamah liat apa tuh dalam tas kamu!”


“Nggak ada kok mah! mamah aja kali yang salah liat, orang nggak ada apa-apa kok, udahlah mah jangan ngelantur bicaranya, ohh iya tadi kan mama mau nganterin kevin minum yah! Taruh aja mah di atas meja.”


“Yee… mamah nggak ngelantur, ya kamu jelas-jelas tadi nyembunyiin sesuatu dalam tas kamu, gimana sih! Kok mamah yang di tuduh, heran aku vin ama kamu, siniin tasnya biar mamah cek, siapa tahu kamu nembunyin apa gitu yang bahaya.”


“Beneran kok mah nggak ada apa-apa seriuasan, suer deh mah! kalau mamah nggak percaya ya cek aja sendiri di dalam tas”


Akhirnya ibu kevin mengambil tas di tangan anaknya itu lalu menggeledah isinya, namun tak dijumpainya sesuatu yang mencurigakan di dalam tas itu karena Kevin lebih dahulu telah mengeluarkan kedua liontin itu lalu ia genggam di tangannya dengan erat.


Setelah menggeladah tas itu dan tidak menemukan apapun di dalamnya, ibu kevin sontak melirik anaknya itu dengan tatapan sinis dan rasa curiga, lalu respon anaknya itu hanya senyum sok polos seperti tak terjadi apa-apa


“Nah… nggak ada kan! Pan udah kevin bilang mah kalau mamah itu salah lihat, masa sih anak sendiri di curigai heran aku mah sama mamah.”


“Idihh nih anak udah mulai ngejek orang tua yah kamu, belajar dari mana kamu vin hah! Sini biar mamah ulek mukanya pakai cabe, seenaknya ajah ngajarin anak mamah yang enggak baik.”


“Iya… iya mah maaf, nggak ada kok yang ngajarin anak mamah ini, siapa sih yang mau ajarin kevin kayak gituan, yang ada anak orang di takutin sama mamah.”


“Gitu yah kamu! Awas aja kalau kamu nyembunyiin sesuatu dari mamah, mamah orangnya kuat loh instingnya, sekali curiga bakalan mamah pantau kamu biar nggak kelepasan, nanti kamu jadi kayak kakamu lagi, kalau dibiarin malah kelepasan.”


“Iya deh mah, mamah instingnya kuat, lagian buat apa mamah pantau, kevin kan nggak nyembunyiin apa-apa.”


“Hihh! Ini anak satu juga lidahnya lancer amat kayak perosotan air, licin banget ngomongnya yah kamu, segitu percaya diri amat sih sama diri sendiri, awas kamu vin yah! Bakalan mamah pantau dari sekarang.”


“Terserah mamah aja deh! Udah yah mah udah, mamah kelur dulu soalnya kevin anak mamah yang ganteng ini mau mandi, soalnya sekarang udah mau malem, takutnya kevin nggak ganteng buat acara nanti malam.”


“Yaudah… mamah keluar dulu, yang bersih kamu ya mandinya jangan lupa buat diminum dulu tehnya, nanti keburu dingin jadinya kan nggak enak teh bikinan mamah.”


“iya mah kevin bakalan mandi yang bersih, bakalan minum duluh tehnya supaya bikinan mamah nggak jadi jelek rasanya. Udah mamah keluar aja, love you mah”


'hufft' desah kevin merasa lega saat ibunya mulai menutup pintu kamarnya itu.


Hari ini beruntung ia selamat dari ibunya, namun tak menjamin keesokan harinya maupun kedepannya dia akan selamat dari kecurigaan ibunya.


Setelah mematung beberapa menit, kevin kemudian beranjak mendekat ke lemari tuk menyimpan liontin-liontin yang digenggamnya itu, ia lalu mengambil dan membuka sebuah kardus berisi tumpukan barang-barang yang tak dipakai lagi, dari dalam kardus itu kevin mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan dibungkus kain halus dan diikat oleh pita warna.


Setelah kain yang menutupi kotak itu di buka, nampaklah sebuah kotak perhiasan yang tak diisi apapun di dalamnya.


Liontin itu kevin simpan di kotak perhiasan tadi lalu meletakkannya di bawah tumpukan lipatan baju. Dan kemudian ia melangkah menuju kamar mandi tuk membersihkan diri.


Malam telah tiba, bintang angkasa kini menghiasi langit bumi, sesekali burung hantu memamerkan suara indahnya, serangga malampun sahut-sahutan dari dalam semak-semak.


Malam ini langit begitu cerah, tak ada sedikitpun awan yang menghalang para gemintang tuk berkarya melukis alam, angin juga tampaknya lagi sedang bersahabat, bulan purnama terlihat jelas menerangi kegelapan malam.


Penerangan kota dapat terlihat di angkasa dan bangunan tinggi, begitu indah tuk memanjakan mata, cahayanya yang kekuningan membuat sebuah keistimewaannya sendiri.


Di sebuah rumah mewah pinggir kota, terlihat kevin yang sedang asik menikmati pemandangan itu dari kaca teleskopnya.


Sedarinya kevin makan malam bersama ibu dan beberapa kerabat dekatnya yang datang untuk mengucapkan selamat bagi dirinya, ia bergegas ke kamarnya untuk memanjakan mata dengan pemandangan indah malam ini.


Perasaannya kini tengah sedang baik di malam yang amat berarti bagi sekelompok orang dengan lulusan terbaik di sekolah ternama pulau sotus.


Rata-rata dari mereka, merayakan kelulusan dengan bergembira dan bermanja diri karena telah berhasil menggapai impian banyak kalangan muda. Tak terkecuali bagi putra bungsu keluarga Adinata itu.


“Kevin! Kamu lagi apa nak? Mamah bawain susu hangat nih buat kamu… mama langsung masuk aja yah, Vin!”


“Iya mah masuk aja langsung, nggak ngapa-ngapain juga kok. Cuman lagi liatin bintang doing mah.”


“Nih vin, mamah bawain susu buat kamu biar nggak haus, kan lumayan nemenin kamu ngeliat bintang, dari pada nyendiri mulu nggak ada kawan cowok atau ‘cewek!!!’ yang nemenin kamu.”


“Mamah mulai lagi deh, selaluu… aja ganggu kevin pas lagi seneng-senengnya manjain mata, suka banget sih gangguin anak sendiri.”


“Ngelawan aja kamu vin! Udah nih diminum susunya, jangan bilang nanti-nanti, yang ada jadi dingin tuh susu. ehh vin besok kamu jadi pergi ke sekolah nggak?”


“Iya mah jadi, emangnya kenapa kalau kevin pergi mah? jangan bilang mamah mau ikut karena takut kevin kenapa-kenapa yah…”


“Idihh! kegeeran kamunya. Nggak kok, cuman nanya doang, lagian kamu masa sih kagak percaya sama mamah, durhaka loh kamu nanti vin nggak mercayain ibunya!”


“Apansih mah durhaka kok di bawa-bawa. Bukannya kevin nggak percaya sama mamah tapi kevin mau mastiin aja kalau sistemnya mereka tidak ada yang salah. Kan kalau nanti sebenernya sistem mereka salah, kevin juga yang kena imbasnya mah, kevin tuh gamau digituin ,bikin sakit hati aja tau mah.”


“Yaudah deh terserah kamu aja deh vin, mamah percaya sama kamu.”


“Nah gitu kan enak kalau mamah percaya. Ehh tapi mah kayaknya ada orang deh yang nggak mau bicarain soal ini, katanya sih nanti jadi tua, hhh bener mah?”


“Durhaka kamu vin sama orang tua!!! Durhaka kamu yah. Heran aku tuh vin…vin, masa ia ada anak yang nistain orang tuanya sendiri, nanti lama-lama mamah kutuk kamu jadi batu vin iya mau kamu hah!”


“Serius amat mah, sampe bawa kutukan segala lagi, kayak di dongeng-dongeng aja, hadeuhh...”


“Ya kali mamah lagi ngewawancarain kevin, bukannya kita lagi bicara mah? masa bisa disamain dengan wawancara, ada-ada aja mamah ih.”


“CUKUP!!! Sampai di situ vin, jangan kamu lanjutin lagi… nanti mamah ulek kamu pake cabe biar di jadiin sambel, soalnya mulut kamu tuh pedes kek cabe rawit.”


Sontak ibu kevin keluar setelah melontarkan kata-kata terakhirnya dan membanting pintu kamar sangking jengkelnya dibuat oleh anak jahilnya itu.


Melihat tingkah ibunya itu kevin lantas tertawa kecil begitu bunyi bantingan pintu nyaring terdengar hingga lantai bawah rumah. Setelah puas memanjakan mata dengan pemandangan rasi bintang, kevin lansung mengambil posisi tidur yang nyaman di atas kasur empuknya, lalu kemudian ia terlelap dalam tidur panjang hingga pagi kembali menghampiri


Matahari mulai terbit dari ujung timur sana, kedamaian pun tampak terpancar dari sinarnya, membuat pepohonan juga hari kembali cerah nan ceria. Burung burung kembali bersahut-sahutan di atas sarang mereka. Kesejukan angin juga menambah riuh pagi yang terdengar oleh gendang telinga.


‘Tiit…Ttiit…Tiit’


bunyi alaram mulai terdengar bising dan membangunkan kevin yang tengah asik tertidur pulas sambil memimpikan suatu hal baik hingga senyumnya mengambang dalam tidurnya itu.


Kelopak matanya mulai terbuka hingga dilihatnya langit-langit kamar yang ditinggalinya itu, ia kemudian bangun dari tempat tidur sambil meregangkan tulang-tulang panjangnya.


Hari ini ia telah siapkan dengan begitu sedemikian rupa agar tak ada kesalahan sedikitpun nantinya, mulai dari perlengkapan perkakas sampai dengan pakaian juga telah tertata rapi di atas meja. Ia kini hanya perlu membersikan diri di dalam kamar mandi.


Waktu kini menunjukan pukul 07:30 am dan kevin baru saja keluar dari kamarnya dengan setengah berlari menuju ruang makan tuk sarapan pagi bersama ibunya. Saat ia sampai di ruang makan, kevin refleks mengambil kursi lalu duduk di atasnya sambil melihati menu sarapan di hadapannya itu tanpa melirik ibunya sedikitpun


“Wihh… anak mamah kok tumben cepetan bangunnya, lagi kesambet apa kamu vin bisa siap jam segini.”


“Nggak kok mah lagi pengen cepet aja, itung-itung belajar buat nanti kalau udah masuk sekolah, kan kevin anaknya pintar dan rajin mah, apalagi sekarang Kevin udah jadi siswa berprestasi!”


“Yehh… ini anak, kamu kok bisa sih sepercaya diri gitu, bukannya kemarin kagak percaya… malah hari ini di sombongin, gimana sih kamu jadi orang vin, nggak konsisten.”


“Yah lagian emang kenapa? Mamah nggak marah juga kan? Nggak keganggu juga kan? Kalau nggak mamah ya diem aja, jangan banyak omong sakit kuping kevin mah, denger omelan mamah mulu.”


“Ohh… jadi gitu vin, selama ini kamu anggep mamah bikin kuping kamu sakit!!! Kurang ajar kamu vin sama mamah sendiri.”


“Biarinlah, nggak ada yang ngelarang juga toh…”


“Pak Jeffry!!! Tolong kamu daftarin Kevin les lima bahasa sekarang juga, Tanya mentor yang ada disana kalau kevin akan belajar mulai sore ini.”


“Ya’… yah mamah jangan ngambek dong, masa kevin cuman becanda doang langsung mau dikirim belajar sehari full sih, aahhh mamah nggak asik ih, curang jadi orang.”


“Yah lagian siapa yang salah? Hah! Anak yang selalu ngeyel ke orang tua tuh harus di ajarin bahasa dan tata krama biar mulutnya tuh nggak licin kayak perosotan.”


“Yaudah deh… kevin bakalan nurut sama orang tua, nggak nimbrung mulu kalau di bilangin.”


“Nahh… gitu dong jadi anak, kan jadinya nanti mamah nggak cepet tua gara-gara kamu Vin, tiap hari ngajakin berdebat mulu!... Nah awas loh kamu tanggepin lagi kamu tuh udah janji.”


“Iyain aja deh biar mamah seneng, daripada kevin ngomong terus sama mamah kan jadinya kevin juga yang bisa kena masalah.”


“Nah loh!!! Tadi itu apa hah! Kamu mau mamah kirim beneran ke les bahasa iya vin iya?”


“Nggak mah… enggak, iya iya kevin yang salah, mamah yang selalu bener!”


Kevin pun akhirnya mengakhiri perdebatannya dengan ibunya, mereka berdua lalu lanjut menyantap kudapan yang telah terpapar di atas meja makan.


Waktu semakin memburu kevin hingga ia mempercepat acara sarapannya dan tanpa basa-basi lagi ia langsung menuju pintu rumah untuk menaiki kendaraan yang telah disiapkannya kemarin, di depan sana telah siap seorang supir bersama mobil pirbadi kevin.


Kali ini ia tidak bepergian dengan mengendarai sepeda kesayangannya karena waktu yang telah melarang.


Mobil yang dikendarai kevin pun mulai berjalan menelusuri pinggir kota dengan kecepatan sedang, sesekali tancapan gas naik dengan perlahan karena suasana jalanan kota yang sedang lengang, tak seperti hari-hari sibuk biasanya terutama di akhir pekan.


Mobil yang ditumpangi kevin semakin lama semakin melaju dengan kecepatan tinggi, dan berakibat baik bagi kedatangan kevin yang cukup cepat dibanding perkiraannya di rumah..


Setelah berkendara cukup lama dari rumah, mobil itupun akhirnya sampai di depan gerbang sekolah.


Karena pelataran parkir banyak yang tidak terpakai, jadinya kevin cukup memberi perintah kepada supirnya agar ia memarkirkan mobilnya setelah terlebih dahulu menurunkannya di depan gedung utama jajaran direktur karena kesabarannya yang tak berbendung lagi.


Langkah kakinya ia ambil panjang agar waktunya tak terbuang sia-sia, bagi kevin setiap detik adalah penting untuk tidak di sayangkan apabila ia melakukan sesuatu yang berharga bagi dirinya.


Untuk menuju ruang OSIS, kevin harus menaiki beberapa lantai juga beberapa koridor dan ruangan-ruangan yang besar nan panjang agar dapat sampai di tempat itu.


Lift tersedia di gedung itu, namun kevin lebih memilih menaiki anak tangga supaya tiba secepat mungkin di ruangan itu, langkah kakinya yang menapaki anak tangga ia ambil dengan tergesa-gesa hingga menabrak seseorang di ujung tangga lantai dua.


“Maaf… aku nggak sengaja, soalnya lagi buru-buru nih, maaf yah.”


“Iya enggak apa-apa kok, lagian aku juga tadi lari juga dari atas sana”


“Ehh… bukannya kita kemarin saling nabrak juga yah? Kebetulan banget ketemu lagi di sini. Kamu habis dari mana?”


“Ohh… ehh iya yah, kebetulan banget kita ketemu lagi di sini!”


“Ohh iya aku hampir lupa, kemarin kamu jatuhin barang loh, terus aku liat lalu simpen, siapa tau ketemu lagi dan eh ternyata emang iya. Tapi maaf yah aku nggak bawa barang kamu soalnya tadi pagi aku buru-bruu banget jadi lupa deh ngambilnya.”


“Oh yah? Kalau gitu simpen aja dulu nanti biar kamu kembaliin lagi kalau nanti ketemuan.”


“Makasih yah pengertiannya.”


“Sama-sama. By the way kalau boleh tahu barang yang aku jatuhin apa yah? Kok aku ngerasa dari kemarin malam nggak ada gitu barang yang hilang.”


“Ohh itu… barang yang aku temuin itu ‘liontin’ punya kamu”


“Hahh?... liontin! Perasaan aku nggak punya liontin deh.”


“Masa sih? Jelas-jelas aku kemarin nemuinnya di tempat kamu jatuh, dan di sana tuh nggak ada orang juga, apalagi pas acara kemarin nggak ada juga yang ngerasa kehilangan padahal kalau dilihat, itu liontinnya kayaknya mahal dan langka banget.”


“Iya sih betul juga… nanti coba aku cek pas kamu bawa, siapa tahu itu emang punya aku atau gimana.”


“Kalau gitu yaudah… nanti aku kabarin, nih nomor telepon aku ”