
Matahari kini telah dilahap lautan ufuk barat sana, ujung sinarnya masih menyorotkan sekilas cahaya. Langit malam akhirnya terlihat, gemintang yang mengisi lukisan angkasa ikut serta tuk menyinari kegelapan bumi. Bulan sabit yang melengkung indah selalu menjadi pengganti matahari, sinar putihnya begitu lembut nan halus seolah memancarkan sebuah keistimewaannya tersendiri.
Waktu menunjukan bahwa malam masih panjang, memberi kesempatan bagi setiap orang. Kilau gemilang cahaya yang tercipta dari penerangan kota begitu indah, terlihat jelas dari mata bahwa kota pulau sotus memanglah anggun tuk di pandang, cahaya emasnya teramat sangat sedap tuk diambil kesempatan menjadi permanjaan mata.
Di salah satu dari ribuan lampu yang menjadi penerangan kota, rumah keluarga besar milik ‘Adinata’ berada di selanya. Keluarga kevin itu kini tengah mengadakan pesta jamuan bersama beberapa kerabat jauh mereka, terutama dari keluarga ‘Berly’ yang menjadi tamu utama dari jamuan itu, keluarga yang juga mempunyai kediaman di daratan kota pulau sotus. Jamuan itu begitu besar hingga memakai seperempat dari halaman belakang kekediaman kevin bersama ibunya yang kira-kira besar halaman itu tak kurang dari 5 hektar.
Acara jamuan itu juga sangatlah meriah, ditambah dengan interior mewah dan berkelas layaknya pesta yang diadakan di sebuah kerajaan. Kursi tamu berjejer dengan rapi mengelilingi meja bundar, semerbak harum aroma bunga beigtu pekat tercium dari seperangkat rangkaian bunga tropis indah yang menjadi langit-langit pesta jamuan itu, terdapat juga sebuah panggung di bagian depan untuk melintaskan serangkaian acara penyambutan. Iringan musik klasik dari sekelompok pengiring juga menambah suasana. Meja tempat tersimpannya hampir semua jenis makanan terpasang di tengah-tengah acara jamuan itu. Atmosfer kemewahan nan keanggunan bak kerjaan kini mulai terasa begitu kental di dalam sana. Sorotan media tentunya tak akan tertinggal di dalam acara ini, terdapat beberapa reporter dari stasiun televisi dengan perizinan keluarga besar kevin yang senantiasa stay di beberapa tempat untuk mengambil berita masing-masing. Alam juga nampaknya kini sedang bersahabat dengan mereka, karena langit malam hari ini begitu cerah di tambah dengan perkiraan cuaca yang juga tak menandakan akan terjadinya sesuatu. Jamuan itu bahkan menghadirkan sederat artis papan atas dari berbagai penjuru pulau Negara mereka.
“kevin hai!!!”
“ehh cassy! Kamu ternyata ada di sini? Kapan kamu datangnya? aku dari tadi nyariin kamu loh”
“baru aja tadi aku datang sama rombongan yang terakhir”
“ohh gitu, omong-omong kita udah seminggu yah nggak ketemu semenjak hari itu”
“iya nih udah lama, apalagi kamu jarang nelpon juga. Tapi aku seneng banget loh bisa datang di jamuan keluarga kamu”
“pastinya dong. Menurut kamu gimana acara jamuan ini?”
“yah… mewah banget sih sebenernya dan ramai juga, tapi aku nggak suka aja kalau banyak orang”
“loh kenapa nggak suka kalau orang yang diundang banyak?”
“nggak tau juga sih, tapi kayaknya aku risih aja gitu karena mau ngelakuin hal yang bebas tapi banyak orang, jadinya kan malu, apalagi ini acara jamuan yang bahkan di sorot media vin!”
“ohh gitu ya cass! Aku minta maaf deh sama kamu kalau gitu”
“udah nggak apa-apa kok, aku cuman risih dikit aja kok, biasanya juga pas lagi acara aku juga kayak gini”
“ kalau kamu nggak keberatan, aku punya solusi cass, mau nggak?”
“jangan yang aneh-aneh kamu vin! Ini acara keluarga kamu loh, nanti kita kena masalah”
“nggak kok, nggak bakalan. Aku udah tahu apa yang harus kita lakuin, tenag aja cass”
“beneran kamu yah. Awas loh, jangan seret aku ke dalam masalah”
“iya… beneran. Aku enggak akan seret kamu ke dalam masalah kok, lagian aku juga udah minta izin sama ibuku”
“ohh yah?... kalau gitu kapan kamu mulainya?”
“nanti aja, pas udah di pertengahan acara”
“emangnya kamu mau rencanain apa sih vin? Kok nunggu di pertengahan acara”
“kamu nggak usah tahu apa rencana dari solusi aku. Kalau soal nunggu di pertengahan acara, alasannya mah gampang”
“apa alasannya sampai kamu bilang gampang?”
“yah alasannya cuman buat orang enggak curiga aja kalau aku atau kamu hilang pas nanti di cariin”
“loh emangnya kamu cuman bakal di cariin di awal acara gitu? Kan kamu itu yang jadi tuan muda di sini vin!”
“tenang ajah, ibuku udah jamin kalau aku enggak bakal ngejamu tamu lagi dari pertengahan acara sampai di penghujungnya cass! Jadi kita punya banyak waktu”
“kalau aku gimana? Kamu mau aku di cariin sama ibuku”
“nah kalau itu aku nanti bakal kasih tahu ibuku buat nyari alasan soal kamu”
“perasaan aku nggak enak deh vin! Emangnya apa sih solusi kamu hah?“
“udah! Ikutin aja sih cass apa susahnya? Atau kamu nggak mau?”
“iya…iya aku mau. Yaudah deh aku ikut ajah ama kamu, tapi kalau ada masalah kamu yang tanggumg loh vin!”
“iya biar aku aja yang tanggung kalau misalnya ada masalah, kamu enggak usah khawatir”
Tamu terus saja berdatangan seiring dari tiga puluh menit saat acara jamuan itu di buka, dan kini hampir dari semua tamu undangan telah datang sembari berbincang ringan bersama kerabat tuk sekedar melepas rindu. Kevin juga sama halnya dengan yang lain namun ia sedikit lebih sibuk daripada para tamu undangan, bahkan tak kalah sibuk dibanding para pelayan karena harus selalu sigap tuk sekedar menyapa sebagai tuan muda rumah acara jamuan ketika segerombolan orang datang mencarinya. Begitupun dengan ibunya yang juga sibuk menjamu para tamu undangan dari beberapa keluarga kerabat dekatnya maupun tamu undangan lain yang juga tak kalah pentingnya.
Acara jamuan itu akhirnya di mulai setelah menunggu selama kurang lebih 35 menit agar semua tamu undangan datang, dengan pertanda diadakannya penyambutan singkat yang dilakukan di atas panggung. Acara itu dimulai dengan basa basi antar keluarga konglomerat sampai di penghujung acara. Dalam pesta jamuan ini, ada beberapa acara yang berunsur hiburan hanya semata-mata untuk menghibur para konglomerat itu. Acara pesta jamuan itu berlangsung dengan apa yang memang seharusnya diharapkan.
Para keluarga di dalam sana tampak ceria nan bahagia karena mendapat kesempatan untuk saling melepas rindu sembari berbincang satu sama lain soal kehidupan glamor mereka.
Tak terasa pesta itu telah melahap sebagian waktunya tuk dimeriahkan, dan kini sisa waktu orang-orang yang berada di dalam sana hanya tinggal seperdua saja dari awal dimulainya jamuan ini. Bersamaan dengan waktu yang telah di habiskan separuh tuk acara, kevin dan juga cassy pun beraksi untuk meluncurkan rencana yang ia anggap solusi itu, mereka memulai aksinya dengan memerhatikan sekeliling lalu kemudian perlahan berjalan mundur tanpa memunculkan kecurigaan sedikitpun kepada orang-orang. Kevin sesekali memberi tanda kepada cassy untuk melangkah mundur dengan menepuk ringan tangannya dan bersusah payah tuk tidak terlihat. Jika di pandang sekilas, mereka hanya berdiri berdampingan tanpa timbul rasa curiga, namun nyatanya jika kita menjelikan mata tuk menyaksikan mereka, maka dapat dilihat dengan jelas bahwa kedua orang itu sedang memerhatikan sekelilingnya dengan seksama dari sorot mata yang tajam.
“vin! Udah mau nyampe belum?”*berbisik
“sabar cass, tinggal dikit lagi”*berbisik
“kalau gitu cepetan, jangan lama-lama
jalannya!”* berbisik
“yah sabar dong, kalau buru-buru jadinya nanti orang-orang pada curiga, kan aku bisa kena masalah cass apalagi nanti bakal merembes ke kamu juga”*berbisik
“yaudah cepetan, mumpung tamu-tamu lagi asik nontonin panggung!”*berbisik
“iyah… cass iya!”*berbisik
Setelah melangkah mundur sekian banyaknya, akhirnya mereka berdua sampai di dalam dapur belakang yang berdampingan dengan tempat didirikannya panggung yang hanya berbatas dengan tembok yang dihiasi rambatan tumbuhan berdaun lebar nan tebal. Tanpa berdialog mengucap syukur karena telah berhasil lolos dari acara yang menurut mereka membosankan itu, kevin dengan menarik tangan mungil cassy pun berlari secepat mungkin agar terhindar dari sepasang mata para pelayan rumah yang sedang berjaga di dalam. Mereka berdua berlari dari dapur menuju ruang tengah untuk menaiki tangga dengan melewati berbagai rintangan agar tidak tertangkap basah sedang menyelinap keluar dari pesta jamuan lalu masuk ke dalam rumah.
Pelarian dan usaha kevin dan cassy pun akhirnya dapat terbayarkan karena telah selamat sampai tujuan, tanpa menimbulkan secuil kecurigaan dan keganjalan sedikitpun. Kini dua orang itu berada tepat di depan pintu kamar loteng rumah milik kevin, cassy yang tak tahu apapun tentang rumah ini sedari tadi memendam pertanyaannya agar tak menimbulkan suara dan menghambat mereka. Dan kini tanpa rasa ragu dibenaknya, ia akhirnya melontarkan berbagai macam pertanyaan kepada kevin mengenai seputar rumah ini.
“ehh vin! Kita kan udah di dalam rumah, kenapa masih aja lari-lari?”
“iya… soalnya tadi ibuku bilang kalau mau keluar dari jamuan lebih cepat, tidak ada yang boleh tahu tanpa terkecuali termasuk para pelayan yang tidak bertugas di pesta itu!”
“emangnya kenapa kalau kita ketahuan sama orang yang ada di dalam rumah, nggak apa-apa kan?”
“ibuku bilang alasannya yah karena tidak semua pelayan di dalam rumah ini tuh asli!”
“hahh? Gimana-gimana? Pelayan yang nggak asli? Maksudnya apa sih vin!”
“maksudnya… pelayan di sini itu ada sebagian yang menyamar dan aslinya mereka itu bekerja buat jadi mata-mata ayahku, lebih singkatnya mereka itu cuman pura-pura doang sebagai pelayan, aslinya mereka itu mata-mata yang di perintah langsung oleh ayahku buat ngejaga rumah dan melaporkan keadaan setiap jam”
“yah itu karena tugas mereka banyak, termasuk ngelaporin apa yang aku perbuat selama ayah nggak ada. Dan kalau nanti kita ketahuan! Ayahku bisa marah besar karena beranggapan bahwa aku itu nggak menghormati para tamu dan juga para kerabat jauh yang datang ke sini”
“tapi kalau cuman segelintir doang, kan masih banyak yang memang pelayan asli dan bukan mata-mata ayah kamu, kenapa kita takut ketahuan dan lari-lari nggak jelas kayak gini?”
“masalah yang aku pikir juga itu cass! Aku dan bahkan ibuku sendiri tidak tahu siapa diantara ratusan pelayan rumah ini yang jadi mata-mata dan siapa yang bukan, alasannya singkat doang yaitu professionalitas”
“ohh gitu yah ceitanya! Tapi kalau…”
“udah cass stop pertanyaan kamu sampai situ! Nanti waktu kita habis cuman buat ngejelasin kamu tentang sistem rumah ini”
“yaudah deh… nanti aja pertanyaannya, lagian sih kamu kok punya rumah sendiri berasa kayak rumah orang lain aja!”
“ya aku juga nggak tahu harus apa, ibuku aja bingung cass!”
“udah… udah nanti aja ngebahas ini, sekarang yang penting focus dulu sama tujuan kamu vin!”
“huu..hh siapa yang bikin lambat siapa yang marah! Dasar kamu cass”
“iya..iya emang aku kok kenapa ada masalah hah?”
“enggak… nggak ada”
“kalau gitu yaudah buka aja pintunya, ehh tapi omong-omong ini ruangan apa yah?”
“kalau ruangan ini tuh kamar pribadi aku, tenang aja… enggak ada kamera atau apapun di sini”
*melirik ke sekitar ruangan*“hahh!! Ini? Kamu yang bener aja vin, masa rumah kamu segedong istana terus kamar kamu luasnya cuman kayak kamar mandi aku sih?”
“jangan ngeledek dong cass, ini emang kamar aku, walaupun kecil tapi barangnya enggak(nila/harga)”
“iya sih… barang-barang kamu tuh emang aku enggak sepelein, tapi yah agak gimana gitu dengan ruangan ini!”
“gimana apanya? Ini ruangan paling aman dan bahkan enggak pernah sekalipun di datangin pelayan loh, kecuali ibuku dan bi’ siti si pelayan pribadi aku”
“ohh… jadi kamu pilih kamar ini cuman buat ngerahasia’in kelakuan kamu yang nakal toh”
“becanda aja kamu cass! Udah duduk dulu di kursi sana, aku mau ngambil sesuatu”
“iya aku duduknya nanti, masih mau ngeliatain ruangan ini”
“yehh… ternyata kepincut juga kamu cass! sama kamar aku”
“iya jujur aku kepincut sih sama kamar kamu, soalnya unik aja gitu loh”
“makanya cass! Kalau menilai sesuatu itu harus kenal lebih dahulu, jangan cuman ngasal doang”
“iya vin aku tahu kok!”
Setelah berbincang juga sedikit bergurau, kevin maupun cassy terus terdiam dan hanya menyibukkan diri dengan dunia mereka masing masing. Cassy menyibukkan dirinya dengan melihat kamar dan barang barang kevin. Kekaguman tiba-tiba saja muncul dalam benaknya itu setelah melihat beberapa benda luar biasa yang berada di dalam ruangan sempit milik kevin itu, dan bukan hanya kagum akan benda-benda itu, bahkan ia juga sesekali memakainya apabila dapat ia coba tanpa seizin dari si pemilik benda itu sekalipiun. Kevin sendiri kini tengah sibuk membongkar lemari pakaiannya tuk mencari sesuatu yang pernah ia sembunyikan di dalamnya, namun kecemasannya mulai terlihat saat ia tak menemukan apa yang dicarinya di dalam lemari pakaian itu setelah membongkar hampir sebagian darinya.
Ketika ia membongkar bagian yang belum tersentuh, akhirnya ia dapat menemukan apa yang di carinya sedari tadi. Tangannya kini menggengam sebuah kotak yang di lapisi kain hitam dan diikat dengan pita warna. Kevin lalu memanggil gadis yang berada di hadapannya itu dan hendak akan ia perlihatkan kepadanya.
“cass!!! Sini lihat apa yang aku pegang”
“apa yang kamu pegang? Coba sini aku lihat”
“ini loh cass! Masa kamu enggak inget?”
“apaan sih, bikin kepo aja! Ayo cepetan dibuka biar aku inget itu apa”
“jeng ..jeng..jeng!!! ini liontin kamu yang aku temuin loh”
“ohh yah? Mana coba, sini biar aku lihat”
“ini nih ambil aja! Lagian itu punyamu kok, tapi kalau yang satu ini aku temuin di dalam tasku jadi bisa dibilang liontin ini punyaku”
“tunggu dulu deh vin! Ini liontin bukan punyaku tapi kayaknya aku pernah lihat ini deh?”
“hah? Kalau bukan punyamu terus siapa? Mungkin keluarga kamu kali cass, soalnya kan tadi kamu bilang cuman pernah liat doang, so bawa pulang aja sana”
“bukan vin! Ini bukan punya aku atau keluargaku vin soalnya aku baru inget!”
“ingat apa cass? Jangan bikin ngegantung dong!”
“aku ingat kalau liontin ini tuh mirip dengan yang aku temuin di mimpi”
“wait what’s!!! mimpi kamu! Jangan bercandaan dong cass, kamu tuh bisa aja sih!”
“iya vin! aku enggak bohong apalagi becanda. Aku serius pernah mimpiin nemuin liontin ini, dan lagi jangkanya belum cukup dua minggu”
“Cassy! Jangan bilang kalau kamu mimpi nyimpen liontin ini di ransel kamu!”
“tunggu vin biar aku ingat dulu…”
“iya yaudah cepetan sana, aku udah mulai nggak tahan soal ini!!!”
“hmm… apa yah…?”
“cass ayo buruan!”
“hmm… ohh aku inget vin! Iya aku inget sekarang”
“iya apa enggak cass jawabannya? Buruan nyahut”
“yang ku ingat sih emang beneran aku tuh nyimpennya dalam tas. Tapi kok kamu bisa tahu sih?”
“ohh no..no..no! ini enggak mungkin kan?”
“mungkin apa vin? Kamu kok kelihatan cemas gitu, bikin kwatair aja!”
Thank's for support this novel 🤗🤗🤗
I Love you All