The McNaught

The McNaught
Ide dari Kevin



Dari atas langit sana, di sebuah hutan hujan yang kini di terangi oleh sinar putih sang rembulan, nampak di bawahnya sebuah villa berukuran besar dan memiliki dua lantai.


Sebagian dari villa tersebut dikelilingi oleh danau yang airnya masih terawatt sehingga jernih dan sejuk tuk di pandang.


Sebagiannya lagi hanya di kelilingi oleh taman dengan bunga tropis yang sedang dalam masa pertumbuhan.


Villa tesebut berada tak jauh di dalam hutan barat daya, dan kini di dalam villa itu terdapat empat orang yang tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Satu diantara mereka sedang sibuk bekerja di dalam dapur, dan sisanya lagi saat ini hanya duduk bersantai di ruang tengah yang di mana ruangan itu dilengkapi dengan berbagai interior mewah bak mansion ratu, seperti jejeran sofa berbahan polyester dan berbalutkan kain maestro cokelat.


Tak lupa pula, villa itu juga menyediakan beberapa fasilitas layaknya hotel seperti kolam renang, ruang tidur dengan luasnya yang hampir seperti sebuah toko baju, dan yang paling tak terhindarkan adalah kamar mandi villa itu.


Kamar mandi di sana bahkan melebihi sebuah kamar mandi di hotel berbintang dengan tipe Presidential suite.


Di bagian dapur villa itu, terlihat seorang laki-laki dengan usia paruh bayah dan berpenampilan seperti seorang pelayan.


Rambutnya hitam yang di penuhi uban itu tersisir dengan rapi, bajunya solah nampak kokoh terpasang di badan tegapnya, wajahnya itu seolah memancarkan kesejukan dan ketenangan.


Pria yang berpenampilan rapih dan sejuk tuk di pandang itu bukan lain adalah Pak Jeffry, kepala pelayan utama keluarga konglomerat ‘Adinata’.


Dirinya saat ini tengah sibuk berlalu lalang di daerah dapur agar dapat menyiapkan sebuah hidangan bagi penerus keluarga-keluarga ternama itu, dan mungkin kini Pak Jeffry hampir menyelesaikan tugasnya dan bersiap tuk menata hidangan buatannya itu di atas meja makan agar dapat dinikmati oleh Kevin, Cassy, Dan juga Tiany yang kini sedang asik bermain kartu.


Di lain sisi pula, dari ruang tengah yang menjadi tempat bercengkramanya Kevin dan juga kawan kawannya itu, terasa sebuah suasana hangat dan penuh kegembiraan. Suasana tersebut berasal dari tingkah laku ketiga orang itu, karena saat ini mereka tengah merasa sangat gembira dan tak merasa bosan atupun jenuh sedikitpun akibat dari permainan kartu yang mereka mainkan saat ini.


“Vin kamu dapet kartu apa?”*Cassy


“Enak aja nanya-nanya kartu, kalau mau menang yah berusaha dong Cass! Jangan main curang.”*Kevin


“Dih! Pelit amat sih jadi orang, huh!”*Cassy


“Hahaha…


Kalian berdua lucu banget deh.”*Tiany


“Lucu? Kamu lihat dari sisi mana sampai kamu bilang lucu tia?"*Cassy


“Ah! Udah lah, aku gak mau jelasin sama kamu Cass!”*Tiany


“Loh? Kenapa?”*Cassy


“Karena kamu tuh orangnya paling cepet kalau soal ngambek, bahkan bisa sampai berhari-hari.”*Tiany


“Kamu seriusan tia? Hahaha…”*Kevin


“iya Vin aku serius! Soalnya dia tuh dulu pernah marahan sama ayahnya dan dia gak mau ajak ayahnya bicara sama sekali, bahkan marahnya sampai berhari hari loh.”*Tiany


“oh yah? hahahaha…”*Kevin


“Eh Tiany! Kamu jangan gitu dong…”*Cassy


“Iya..iya Cass! Aku minta maaf.”*Tiany


“Huh! Kalian semua sama aja”*Cassy


“Tuh kan marah lagi.”*Kevin


“Gak! Aku nggak marah!”*Cassy


“Terus apa?”*Kevin


“Gak tahu!”*Cassy


“Udah..udah jangan di lanjutin! Mending sekarang kita fokus main aja.”*Tiany


“Iya nih! Yuk fokus ke permainan.”*Kevin


“Aku gak mau ah!”*Cassy


“Loh Cass? Kamu kenapa lagi?”*Tiany


“Aku udah gak mood buat main, dan bete! Soalnya dari tadi aku terus yang kalah.”*Cassy


“Kan dalam permainan selalu ada yang menang dan yang kalah Cass! Yah wajar dong kalau gitu.”*Kevin


“Tapi masalahnya aku terus yang kena! Apalagi ini udah beberapa ronde.”*Cassy


“Yaudah…


Kalau gitu kamu ke balkon aja deh biar rileks.”*Kevin


“Iya Cass! Itu ide yang bagus supaya kamu bisa tenang.”*Tiany


“Tapi temenin aku yah!”*Cassy


“Iya aku bakal nemenin kok!”*Tiany


“Kalau kamu Vin? Mau ikut juga nggak?”*Cassy


“Kalau kamu mau aku ikut. Yah…


Aku bakal nurut aja.”*Kevin


“Kalau gitu kita langsung naik yuk!”*Cassy


“Yuk!”*Tiany


“Tapi kita ambil jaket dulu biar gak kedinginan.”*Kevin


“Iya! Kalau gitu kita ke kamar dulu buat ambil jaket terus naik ke atas.”*Cassy


Dengan berdiri secara kompak, Kevin beserta Cassy dan juga Tiany sontak berjalan menuju kamar masing-masing yang berada di lantai dua.


Di dalam villa itu terdapat beberapa kamar tidur, dan saat ini Kevin beserta ketiga orang lainnya hanya memakai tiga ruangan saja, karena dua orang diantaranya yaitu Cassy dan Tiany lebih memilih tuk tidur bersama agar tidak ketakutan saat salah satu dari mereka terbangun di tengah sunyi malam hari.


Ketiga kamar tidur itu terletak di lantai dua dan saling berhadapan, namun total seluruh kamar tidur di lantai dua villa tersebut terdapat empat ruangan, yang berarti dari keempat ruangan itu tersisa satu kamar tidur lagi.


Setelah menaiki anak tangga untuk sampai ke lantai dua villa ini, Kevin, Cassy, dan Tiany lantas telah berada di depan kamar mereka masing-masing.


Ketiga orang tersebut lalu masuk ke dalamnya untuk mengambil pakaian yang dapat melindungi badan mereka agar tidak kedinginan saat berada di balkon.


Walaupun saat ini awan hitam yang menyelimuti langit di atas hutan itu telah tiada, akan tetapi Kevin beserta Cassy dan Tiany tetap ingin memakai pakaian hangat supaya badan mereka tidak terserang flu.


“Cass! Kamu bawa jaket?”


“Aku bawa! Emangnya kenapa?”


“Nggak kok! Aku cuman ngira kamu gak bawa, dan pengen minjemin ke kamu. Soalnya aku bawa dua jaket dari rumah.”


“Ohh…


Tapi kenapa kamu bawa dua jaket?”


“Tiany..Tiany kamu lagi gabut yah? bisa-bisanya bawa dua jaket tapi gak tahu gunanya apa. Hadeuhh…”


“Hehehe…


yah maklumi aja lah”


“Hahaha…


suka-suka kamu aja deh Tia!”


“Hehe…”


Terjadi dialog singkat antara Cassy dan Tiany saat berada dalam kamar, namun dialog tersebut hanya berisi candaan belaka dan beberapa hal yang tidaklah begitu penting.


Di sisi lain pula, di sebuah kamar yang saat ini Kevin sedang berada di dalamnya, nampak dirinya kini tengah sibuk membongkar lemari pakaian.


Kevin di dalam sana tengah sibuk mencari jaket ataupun pakaian hangat yang dapat ia gunakan agar tidak kedinginan saat berada di atas balkon nanti.


Tangannya begitu cepat membolak balikan baju dan membongkar seluruh isi dari lemari pakaian, bahkan laci-laci kecil sekalipun ikut serta ia geledah. Akan tetapi sayangnya, usahanya itu tak kunjung membuahkan hasil sehingga membuat kepalanya kembali di pusingkan oleh hal ini.


Dengan rasa kecewa, Kevin akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam kamar itu karena ia tak menemukan apapun di sana, meski itu hanya sebuah sweater biasa.


Namun saat ia menuruni tangga, terlintas sebuah ide di benaknya yang menyatakan bahwa ia harus berusaha lagi agar dapat menemukan sebuah pakaian hangat, dan dapat bercengkrama dengan cassy juga tiany di atas balkon ber-atapkan langit malam.


Tanpa sadar dirinya berjalan dari lantai atas menuju ke bawah, kini Kevin tengah menuju ke dapur tuk menemui Pak Jeffry dan menanyainya perihal baju hangat ataupun sebuah jaket yang tak kunjung ia temukan sedari mencarinya beberapa menit lalu di kamar atas.


“Pak Jeff! Bapak tahu jaket saya ada di mana?”


“Kalau soal itu saya kurang tahu tuan! Karena kalau mengenai pakaian adalah urusan pribadi anda.


Tapi setahu saya, ibu tuan sepertinya menyelipkan beberapa baju hangat.”


“Ohh yah? bapak tahu gak baju itu di mana?”


“Sepertinya saya ingat bahwa ibu anda menaruh pakaian itu di dalam koper.”


“Tapi kok saya gak lihat ada koper di sini, selain punya Cassy sama Tiany?”


“Ohh! Kalau koper anda itu saat ini berada di dalam kamar saya.”


“Pantas aja dari tadi aku cari di kamar aku gak ada, ternyata sama Pak Jeff toh! Haduuhh…”


“Maafkan saya tuan!”


“Iya ga apa-apa kok! Kalau gitu aku langsung ke kamar Pak Jeff aja yah buat ambil tuh koper.”


“Baik tuan! Silahkan. Tapi sebelumnya saya minta maaf karena tidak menemani anda ke kamar tempat saya beristirahat malam ini.”


“Gak apa-apa kok Pak Jeff! Bapak lanjutin aja masaknya.”


“Siap tuan!”


Tanpa sempat mendengar lontaran kata terakhir Pak Jeffry, Kevin sontak berlari dari dapur menuju tangga agar ia dapat mengambil baju hangat berupa sweater yang di selipkan oleh ibunya di dalam sebuah koper.


Untuk menuju tangga tersebut, kevin harus melewati sebuah ruang makan lalu masuk ke dalam ruang tengah tempat ia bersama Cassy dan Tiany bermain tadi.


Setelah ia melewati ruang makan dan memasuki ruang tengah tersebut, ia akhirnya dapat melihat sebuah tangga yang melengkung naik ke atas dengan di lapisi oleh karpet merah maroon, layaknya tangga di sebuah kerajaan dalam certita dongeng.


“Eh Vin! Kamu dari mana?”


Tanya Cassy kepada Kevin saat ia melihatnya tengah berlari dari bawah menuju ke atas.


Namun pertanyaannya itu tak direspon oleh Kevin dan bahkan ia tak dilirik sedikitpun, sehingga ia merasa bahwa Kevin baru saja mengabaikannya dan anehnya lagi, hatinya kini seolah tersayat lalu menimbulkan luka yang terasa perih walau itu hanya sedetik.


Melihat Cassy yang terabaikan di hadapannya, Tiany refleks mengajak ia tuk mengobrol bersamanya dengan tujuan agar Cassy, sang sepupu sekaligus sahabatnya itu tak merasa seolah terabaikan dan juga seolah tak di anggap.


“Ehh Cass! Kamu kok benging aja sih?”


“Hah! Yah? kenapa Tia?”


“Masa kamu gak denger aku sih…”


“Hehe…


sorry-sorry aku tadi lagi mikirin sesuatu.”


“Ohh…


Btw itu Kevin kok lari-lari naik ke sini?”


“Gak tahu tuh! Mungkin lagi buru-buru kali.”


“Mungkin dia kelupaan sesuatu kali Cass!”


“Yah mungkin aja sih.”


“Kalau gitu kita ke balkon duluan aja yah Cass!”


“Biar nanti Kevin yang nyusul.”


“Yaudah, yuk!”


“Yuk”


Tampaknya, Tiany berhasil mengusir perasaan yang tadi Cassy rasakan sesaat ketika ia di abaikan oleh kevin yang tengah berlari dari bawah untuk naik ke atas.


Dan sekarang mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan Kevin lalu menuju ke balkon bersama-sama.


Balkon villa milik keluarga Kevin itu berada di ujung lorong lantai dua, sehingga Cassy dan Tiany hanya memerlukan sedikit langkah kaki agar dapat sampai ke tempat tersebut, namun mereka terlebih dahulu harus melewati sebuah lorong agar dapat sampai ke sana.


Setelah melewati lorong yang sepanjang dindingnya yang di pajangi lukisa-lukisan dari pelukis ternama, akhirnya Tiany dan juga Cassy sampai di depan pintu berbahan kaca dengan sedikit hiasan di sudut-sudut pinggirnya.


Dari dalam ruangan tersebut, Cassy dan Tiany telah melihat pemandangan dan semua fasilitas mewah yang berada di balkon itu, sehingga mereka berdua tak tahan untuk segera bercengkrama sembari menghirup angin malam dan bercanda riang di luar sana, meski udaranya dapat menggigilkan badan.


Bunyi gesekan pintu kaca yang dibuka oleh Cassy terdengar memenuhi lorong.


Ia dan Tiany kini tengah melangkahkan kaki, meski mata keduanya tertuju pada keindahan dari tataan balkon milik villa keluarga ‘Adinata’ itu.


Tanpa sadar, mereka berdua telah berada di tengah-tengah balkon tersebut dan dengan sesaat, datang sebuah rasa kagum terhadap apa yang mereka pandangi saat ini.


Tak jauh dari tempat Cassy dan Tiany saat ini berada, di sebuah kamar yang nantinya akan digunakan sebagai tempat tuk beristirahat, terlihat Kevin masih membongkar seluruh isi koper di hadapannya itu.


Isi dari koper itu nampak terurai akibat ulah Kevin yang mencari sweater hangatnya.


Namun ia sama sekali tak peduli dan hanya fokus untuk terus mencari dan mencari.


Setelah semuanya berserakan, alhasil Kevin kemudian telah menemukan sweater yang ia cari sedari tadi.


Tanpa menunggu lebih lama, ia kemudian berlari menuju balkon untuk ikut serta dalam naungan Cassy dan Tiany.