THE MASK

THE MASK
tantangan



..."tantangan adalah sesuatu yang paling menakutkan ketika mata anda tidak bisa melihat tujuan akhir."...


...--henry ford--...


pukul 21.39 malam di atas gedung.


seorang gadis tengah mempersiapkan diri nya untuk melakukan sesuatu.


"TU-TUNGGU..." pak Turman memohon kepada Dela.


"bi-bisa kah, aku menulis pesan terakhir bagi seseorang??"


"tentu..." jawab Dela selagi memberikan kertas padanya. pak Turman yang melihat itu pun langsung menulis dikertas, dengan note panjang...namun baru saja ingin menyelesaikan hingga akhir, dela langsung mencekik lehernya.


mungkin bagi manusia biasa dela yang merupakan seorang gadis itu tak mampu mencekik seorang pria paruh baya bekepala botak itu. namun , tidak ada yang mustahil bagi dela.


"Dasar pria tua tak berbobot...buat apa menghabiskan waktu untuk anak- anak mu yang tidak tau diri itu...lebih baik kau mati!"


"lebih baik, aku mati dari pada harus disiksa oleh iblis seperti mu!" ucap pak Turman, mengelak dela.


mendengar akan hal itu dela tersenyum tipis, melihat keberanian pria tua itu. tanpa aba-aba ia pun mendorong pak Turman dari atap gedung, membuat semua orang yang berada di bawah kaget dan teriak histeris.


namun, dela adalah orang yang jeli. ia tak turun melalui tangga melainkan dengan menggunakan tali yang sudah ia eratkan di gedung lain.


ia lakukan tersebut agar ia tidak dapat dilihat oleh siapa pun, dan barang bukti hanya ada pada dirinya. cctv?? tidak ada satupun cctv yang merekap karna lyan sudah mematikan cctv-cctv tersebut.


...***...


Anthony yang melihat pak guru kepala sekolah itu pun, kaget. ternyata selama ini korban yang dimaksud adalah kepala sekolah nya sendiri.


ia berusaha untuk menyelamatkan pak Turman, namun sayangnya ia terlambat alhasil ia hanya bisa diam dan merenungkan perkataannya kembali.


"BERHENTI!!!" teriak seorang polisi dari belakang, membuat pemuda itu pun berbalik mengangkat kedua tangannya.


di kantor polisi.


dua orang remaja, perempuan dan laki-laki itu tengah berada di ruangan kecil sedang di interogasi oleh pihak kepolisian.


"jadi apa yang kalian lakukan disini?" tanya salah seorang polisi dengan tag name Jonas.


Lili dan Anthony diam, tak berkutik, mereka tak tau harus bilang apa.


"baiklah, begini saja... bagaimana kalau kalian beritahu apa yang kalian lihat..." ucap Jonas.


"ki-kita melihat pa-pak guru kita ja-jatuh dari atap gedung." ucap Lili gagap, entah karena kakinya sakit atau karna ia baru saja tau jika kepala sekolah nya meninggal.


"baiklah...kalian boleh pergi" ucap Jonas membiarkan Lili dan Anthony pulang.


mereka berdua pun akhirnya pergi meninggalkan Jonas sendirian.


"Lili!!!" teriak salah seorang polisi dari arah berlawanan.


"kak Aldi??"


"Lo ga papa?? aduhhh kenapa Lo pakek acara masuk segala..." ceramah Aldi, Kaka Lili.


"kak!! sini!!" Lili menarik Aldi keluar kantor, ia tidak ingin orang-orang mendengar perkataan dia dan kakanya.


"ka...Kaka ga selidiki kasusnya??" tanya Lili to the point.


"apanya?? kasus pembunuhan beruntun?? tidak...temanku yang mengurus nya...oh yang tadi, yang lagi ngeintrogasi kalian..." jawab Aldi.


"dengar ka...pokoknya, Kaka harus bilang temanya Kaka buat cepat cari pelakunya! pela_"


"ahhh, sudahlah mending kau tidak usah pikirkan itu...diamlah dirimu, dan jangan pergi-pergi! kaki mu jadi terluka gara-gara tidak dengar-dengaran..." potong Aldi "lagi pula, Anthony kenapa malam-malam begini kau mengajak Lili keluar?! malah pergi ke gedung kosong yang merupakan tempat kasus pembunuhan lagi..." lanjutnya.


"ma-maaf ka...lainkali saya hati - hati..."


"kalian pulanglah...Kaka masih ada urusan!" suruh Aldi. Lili dan Anthony pun pulang, meninggalkan Aldi sendiri di depan kantor.


karna kaki Lili terluka, Anthony pun terpaksa menyuruh taksi untuk mengantar Lili pulang, yahh sekaligus dirinya sendiri.


dari kantor hingga sampai dirumah Lili, Anthony tampak diam dan merenungkan sesuatu. Lili heran mengapa dari tadi sejak kematian kepala sekolah nya ia mendadak berubah.


bahkan tidak ada berbicara sekali pun, hingga pada saat mereka sampai dirumah Lili, tampak seorang gadis berpakaian piama pink di depan rumah Lili sedang menunggu kedatangan nya.


gadis itu tampak khawatir, dan gelisah akan sesuatu.


"Lili..." teriak daeva dari rumah Lili. gadis mungil yang memakai pakaian piama itupun langsung memeluk Lili.


rasanya gue pengen memeluk gadis itu. batin Anthony.


"ga papa kok bi, cuman luka sedikit...yuk masuk"


"ini...karna aku ga bisa lama-lama, Daeva kasih Lili ini...maaf yah Li, ga papa kan??"


"ga papa kok..." ujar Lili sambil tersenyum, entah bagaimana dia seperti tidak merasa aneh sedikit pun pada daeva.


...***...


kring !


kring !


kring!


bunyi alarm sekolah, menandakan waktu istirahat dimulai.


semua orang begitu senang karna bisa pergi ke kantin dan akhirnya jam pelajaran pun selesai. namun tidak dengan Daeva, ia tampak murung dan sedih karna Lili tidak datang.


Anthony yang sebangku dengan ya pun hanya heran dengan sikapnya, kali ini dia tidak sebegitu ceria dari pada sebelumnya.


"Va..." panggil Anthony dari samping. Daeva yang sepertinya sedang malas berbicara pun hanya menoleh ke arah Anthony.


"ma-mau ke kantin?" tanya Anthony berusaha untuk membuat mood Daeva kembali.


"kantin? baiklah..." jawab Daeva pelan, dia memang berkata "baiklah" namun tampangnya tidak seperti ingin pergi ke kantin.


di tengah perjalanan menuju kantin, tak ada satupun yang membuka pembicaraan, Daeva yang biasanya memulai pembicaraan itu hanya diam tak berkutik.


pengen bangat buat moodnya bagus , tapi apa boleh buat kalo sampe gue buat bisa - bisa harga diriku copot... batin Anthony.


"jelaskan padaku bagaimana Lili bisa terluka?!"


"di-dia terluka karna kena paku..."


"paku??bagiamana bisa?? jelaskan dengan detail!!"


"Lo tau teka-teki yang tidak bisa kita pecahkan?! teka - teki itu sudah ku pecahkan..." Anthony menggantung perkataannya "tempat tinggi yang dimaksud itu adalah gedung kosong yang pernah kita lihat... pemimpin yang dimaksud adalah kepala sekolah kita, pak Turman...dan arti tentang kepala botak itu...adalah deskripsi dari fisik pak Turman. itu semua jawabannya" lanjutnya.


daeva yang mendengar jawaban Anthony hanya diam, seperti memikirkan sesuatu "lalu pelakunya sudah tertangkap??"


"belum...bahkan pelakunya tampak hilang , saat dalam perjalanan ke atap gedung, gue ga lihat dia kabur...bahkan tidak ada yang melihat dia kabur ke bawah " jawab Anthony.


"apa dia meninggal kan teka teki??"


"tidak..." Anthony diam, mengingat kejadian tadi malam "ha... sepertinya ada, saat itu malam jadi gue ga bisa melihat lebih jelas... sepertinya di dekat sampah-sampah..." lanjut Anthony.


"jadi?? apa kita harus kesana??"


"pulang sekolah kita langsung kesana..." jawab Anthony menutup pembicaraan, langsung pergi ke kantin diikuti Daeva dari belakang .


pukul 01.58, setelah pulang sekolah.


setelah pulang sekolah, Anthony dan daeva pun segera menuju ke gedung kosong itu dengan menggunakan taksi.


tak takut, gedung yang sudah ada tanda garis polisi itu dilewati oleh Anthony dan daeva tanpa ragu.


dan sekarang posisi mereka sedang berada di atap gedung, mencari sesuatu.


Anthony yang mencari di sekitar rongsokan dan daeva yang bertugas untuk melihat-lihat.


"ini..." kata Anthony sambil menunjukan beberapa foto yang tersimpan di dalam plastik . foto - foto tersebut layaknya pazel, yang berhamburan .


"oh ini fo_"


"apa yang kalian lakukan disini?" ucap seseorang dari belakang mereka, membuat kedua remaja itu pun berbalik, dan....


*bersambung...


hai guys...jadi kali ini putri pengen banget, kalian ngasih tau tentang typo dan saran buat ceritaku...soalnya putri pengen untuk merevisi kembali cerita-cerita putri...


harap dapat memberikan bantuan yah semua 🤗


salam sehat selalu yah ...


#pembunuhan #kepala sekolah #tantangan #anthony #daeva #lili #tantangan #pazel**