THE MASK

THE MASK
day-1 for plans



malam ini seseorang berteriak dari dalam kandang penjara. Berteriak layak binatang buas, kegilaan Dela benar-benar tidak terkontrol, Jack mendesah kesal padanya. Gadis mungil itu tidak berhenti mengincar banyak orang,


"kau tau siapa dia?" ucap Dela tersenyum lekat.


"dasar psikopat, wanita siapa lagi yang kau incar!" ucap Jack keras.


"stt! Jangan terlalu memaksakan dirimu suaramu bisa habis. Dia adalah kakaku, kau tau aku membunuh banyak orang. Tanteku, guru waliku, kepala sekolahku bahkan orang tidak bersalah. Hanya karna satu hal saja yang belum terungkap"


"penyebab pasti ayah dan ibuku meninggal! Aku membunuh banyak orang untuk mencari keberadan siapa pelaku pasti dari kematian ibu dan ayahku dan ternyata orang-orang tersebut bergabung dalam progam penelitian tidak berguna itu! Dan lihatlah. Rupanya kakaku sendiri juga bergabung,"


"dengar gadis gila, aku tidak bergabung dalam program brengsek itu. Merekalah yang menyuruhku untuk melakukannya!"


Jack menatap tak percaya akan alasan yang dilontarkan Dela, rasa pedih-lesu terlihat dari seluk wajahnya, baru kali ini ia mengasihani pembunuh berantai.


"aku sebenarnya tidak ingin menyakitinya, namun aku harus! Kali ini aku akan melepaskanmu hidup-hidup, setelah ini kau boleh melaporkanku pada pihak kepolisian, tapi kau tidak dapat menahan gejolak hatiku"


Dela tetiba melepaskan rantai Jack, Jack berdiri tak percaya. Kini dia bisa keluar hidup-hidup dan pulang kerumahnya kembali.


"aku pastikan akan melaporkanmu setelah masalahmu selesai" ucap Jack terakhir kalinya.


...***...


Lili kaget melihat sosok lelaki yang berdiri didepannya, damn!


"lo kok tiba-tiba muncul, ada apa?" celetuk Lili. Riann hanya senyum ria melihat Lili.


"lo mau ikut dan melihat sesuatu yang luar biasa?"


"cih, gue gak tertarik sekarang kembali kekelasmu, begitupun denganku" lewat Lili, sayangnya tangannya seketika dicegat oleh Rian. Lili menatap kebingung pada lelaki itu, mengapa dan siapa?


"lo gak mau tau rahasia dari pembunuh berantai yang viral ini?" Lili menatap tak percaya, bagaimana dia bisa membahas hal itu? dan siapakah dia, apa yang dirinya ketahui dari pembunuh berantai itu?


flasback on:


Seorang pria tengah berlari kecil dipinggir jalan, menatap sekelilingnya. wajahnya aneh bak dikejar maut. BRUK! tak sengaja ia menabrak seseorang, mata takjub melihat sosok orang tersebut. A**nthony. Pria paruh baya itu menatap sendu anak lelakinya, kerinduannya menanti disaat kali pertama bertemu, dirinya langsung memeluk anak laki-lakinya itu.


Anthony menatap tidak percaya melihat kepulangan sang ayah, bagaimana bisa? dan dari mana saja dirinya selama ini? tubuh ayahnya lebam tak terhitung banyaknya, bajunya kusut nan kotor, Anthony menatapnya lamat. Rasa sakit telah menghujam disekujur tubuhnya, dirinya tidak mampu melindungi ayahnya, tangisan pilu keluar mentah-mentah, dirinya kehilangan akal sehatnya.


"ayah, pasti sangat ketakutan diluar sana. Maafkan Anthony ya yah" cenges Anthony tersendu-sendu.


"tidak apa-apa nak, kamu pasti sangat rindu ayah. Ayok kita kembali kerumah" Jack akhirnya bisa kembali kerumah dan mengeluarkan kerinduan pada anaknya.


sesampainya di rumah, Jack menatap lama rumahnya. Rupanya terjaga rapi meski dirinya tidak dirumah, padahal biasanya Anthonylah yang malas bebersih.


"ini dia makanannya, silahkan dimakan" ujar Anthony menyiapkan makanan pada sang ayah.


"ternyata kau jadi pandai menjaga rumah selagi ayah tiada"


"hehe, jadi bagaimana ayah bisa kembali? apa ada seseorang yang mengurung ayah?"


"yah begitulah. Saat ayah sedang duduk dibar tiba-tiba ada seorang perempuan menghampiri ayah, dia membawa ayah kedalam rumahnya. Rumahnya sangat megah, ada patung megah di alun-alun dekat tangga. Tapi, tiba-tiba perempuan itu jadi gila. Dia memasukan ayah disebuah ruangan yang sangat jauh dan gelap. Didalamnya ada sebuah penjara yang lumayan banyak dan ayah dikurung disitu. Namun, siapapun yang akan masuk tidak dapat menemukan lokasi penjara itu"


"mengapa?"


"sebelum masuk kepenjara ada ruangan yang terdapat beberapa lukisan. Salah satu lukisan itu mengarah ke penjara dan yang lain tidak. Namun, kau tidak akan bisa mendengarkan teriakan dari ruangan tersebut"


"karna?"


"bahan dinding Penjara itu, adalah kalsibot. Dimana semua bunyi yang dipantulkan tidak dapat didengar orang dari luar"


"apa ayah liat wajahnya?"


"tidak. Wajahnya tertutupi topeng, ayah tidak dapat melihat pelakunya. Tapi yang jelas dia adalah seorang gadis"


"selama ayah pergi aku sempat bertemu dengan pelaku, namun dia sangat cepat aku tidak dapat bertemu dengannya. Dia sepertinya bisa berubah menjadi pria"


"ayah tidak tau? kupikir ayah tau karna tinggal dirumahnya"


"ayah tidak tau, sulit menjangkau dari dalam."


apa itu adalah pelayannya?


flasback off:


Sebuah mobil datang dari ujung Mentari, tertampak mobil itu memasuki sebuah halaman besar dengan gedung bertingkat mewah yang ada di tengah halaman. Lili kaget melihat gedung setinggi itu, matanya berbinar-binar menatap kemewahan yang terlihat.


Mobil terpakir didepan, belum lama beberapa karyawan datang berguyuran. Seperti memberi penghormatan kepada mereka, Lili tak habis pikir dengan sesosok Rian yang tiba-tiba membawanya ke tempat mewah ini.


Apa cuman aku yang merasa bahwa ini semua palsu? Dia sangat tenang, aku harus waspada pada apa yang akan ia perlihatkan..


"selamat datang, pasti kalian telah menunggu lama" ucap seorang pria paruh baya berjas hitam, datang.


"aku langsung pada intinya. Mengapa kalian membawaku kemari" ucap Lili menatap tajam.


"tenang, aku hanya ingin membicarakan temanmu. Daeva" sontak penuturan pria itu membuat Lili menatap tajam. Pandangannya tidak beralih kesemua gerak-geriknya.


"ada apa dengan dirinya? Langsung pada intinya. Jika kau berani macam-macam pada sahabatku, lihat saja pembalasannya"


"wow. Tenang. Aku tidak akan macam-macam dengan produk eksperimenku"


"produk eksperimen? Apa maksudmu?" Lili mengeryitkan alisnya.


"kau pikir temanmu itu bernama Daeva? Salah. Namanya adalah Dela, dia adalah salah satu orang yang pernah dijadikan sebagai manusia percobaan dari eksperimen yang pernah dilakukan perusahaan Xavier. Kala itu, pabrik yang telah dibangun tiba-tiba terbakar dan percobaan yang telah dilakukan selama ini habis dilahap api merah itu. Melihat Daeva aku jadi yakin bahwa dia adalah produk kami yang selamat dari besarnya api kala itu"


"bagaimana kau bisa yakin hanya dengan melihat sekilas? Dan apa maksudmu soal eksperimen itu, apa kau menjadikan manusia sebagai kelinci percobaan?"


"ya, aku menjadikan manusia sebagai kelinci percobaan. Untuk mengetes kekuatan berburu mereka. Rian adalah produk salah satu produk kami yang berhasil selain Daeva, ia kami kirim ke Amerika untuk menjalankan misinya. Aku berencana untuk mengirim Daeva agar dia tidak berlaku kotor disini sayangnya itu sudah terlambat"


"apa maksudmu berlaku kotor? Dan maksudnya dengan kata terlambat?!"


"sebeluimnya aku selalu melihat berita terkait pembunuhan yang pelakunya sama sekali belum didapat, aku menjadi yakin bahwa manusia biasa tidak akan mampu bersembunyi pada waktu yang lama. Produk yang kubuat memiliki kecerdasan yang tinggi dalam memanipulasi dan bersebunyi, mereka bahkan lebih kuat dari pada manusia biasa"


"jadi maksudmu, Daeva adalah dalang pembunuh semua ini? mengapa kau tidak melaporkannya pada polisi?"


"dia masih belum yakin saat itu, itulah mengapa aku datang kesini untuk mengecek kebenarannya. Betul saja, saat melihatnya lebih dekat aku baru sadar. Tapi, kami tetap tidak bisa melaporkannya ke polisi. Tidak ada bukti yang akurat" sambung Rian.


"lalu apa yang akan kalian lakukan untuk melaporkannya?"


"aku dengar didalam rumahnya terdapat ruangan yang isinya adalah penjara. Mungkin kah didalamnya bisa dijadikan bukti? Sayangnya kita tidak tau-menahu soal ruangan itu., jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa"


"aku tau dimana rumahnya, akan kuberi tau alamatnya pada kalian"


"percuma saja, kami tidak bisa masuk. Jika orang asing yang masuk ke ruamhnya ia akan curiga.."


"bagaimana jika aku yang masuk? Aku tidak masalah mengorbankan diriku, yang penting orang-orang dapat terhindar dari iblis sepertinya"


"apa kau tidak apa? Resika yang ditam,pung cukup besar, belum tentu kau akan selamat darinya"


"tidak apa, aku siap menanggung semuanya" tegas Lili, gadis berumur18 tahun itu, dengan berani pergi menuju rumah Dela. Semiliring angin membuyur masuk keraganya, ketakutannya seolah terkesima dan tak datang lagi.


"mereka bertiga akan terpisah dengan sendirinya, kita hanya perlu membuatnya saling berperang. Dengan begitu aku bisa merebut produkku kembali"


"lalu bagaimana cara kita membuatnya bertengkar?"


"kau pergilah membututinya, dia pasti akan selamat. Setelah ia keluar dari rumah itu, tabraklah dia. Jika ia masih memegang bukti itu, buang. Kita harus membuatnya dituduh habis-habisan, bukan membuatnya ditangkap karna bukti bodoh itu"


"baiklah.."