THE MASK

THE MASK
seorang anak burung



TING!!!


tiba-tiba saja ambulance berbunyi, ketika Lili hendak masuk ke dalam sekolah.


dilihatnya sebuah ambulance yang berbunyi hingga menyisikan banyak misteri.


tumben, apa ada korban lagi... batin Lili.


gadis itu pun masuk, tanpa memikirkan misteri dari ambulance yang lewat itu. Sayangnya sesampai dikelas ia terus memikirkan sesuatu.


hal yang sangat mengganggunya dari kemarin.


"Li..." panggil seseorang. Gadis itu menoleh dan mendapati teman kelasnya, Rahel.


"ada apa?"


"Lo tau gak, anak baru dari kelas Daeva? dia ternyata sangat terkenal di Instagram loh..."


"bodoamat..eh btw, Ra! tadi Lo liat ambulance lewatkan?"


"iya.. kenapa? temanku bilang ambulance itu dari sebuah apartemen.."


"apartemen?"


"iya... katanya ada yang meninggal disana, entahlah tapi dia meninggal dengan misterius.."


"maksudmu?"


"saat ditemukan, dia meninggal dengan cara tidur di bangku. Tidak ditemukan bekas luka ataupun itu, namun ia dinyatakan telah meninggal beberapa bulan lalu.."


"hah?!! kok bisa?"


"entah...polisi masih menyelidikinya."


...***...


KRINGG!!!


bel masuk sekolah, seluruh siswa masuk tanpa ada pengecualian.


seorang guru masuk ke dalam kelas Anthony, guru itu nampak biasa saja dibandingkan anthony yang menghawatirkan Daeva.


tumben tu anak gak masuk apa jangan-jangan dia sakit lagi. Memang kemarin dia sangat aneh setelah pemeriksaan terjadi, ahggg thon lo sebagai teman jangan pikir aneh-aneh lah...


"apa semuanya absen?" tanya salah seorang pak guru. Sayangnya semua murid diam tidak ada yang bersuara, entah kenapa mereka tiba-tiba saja diam. Padahal sewaktu Daeva menjadi anak baru semuanya malah heboh menghampirinya.


kenapa disaat ia tiada semuanya malah hilang?


"Daeva pak, dia sedang sakit" ucap anthony membuka suara. Meskipun ia tidak tau pasti apa yang terjadi kepada Daeva ia tetap berusaha agar gadis kecil itu tidak ada catatan alpha di absen kelas.


TING!!!!


30 menit setelah belajar akhirnya seluruh SMA n 1 itu istirahat. Semuanya berombongan pergi ke kantin. Namun, tidak dengan Anthony ia langsung beranjak pergi ke kelas Lili. Kelas XII IPA 4.


kelas yang paling ia tidak sukai. Meskipun Lili adalah sahabatnya bukan berarti ia tidak membenci kelas itu.


'musuh' seseorang yang ia anggap paling membencinya. Sejujurnya ia tidak suka ketika mampir ke kelas Lili tapi itu adalah salah satuh cara agar ia bisa ketemu dengannya.


"hei, kurle!" yah panggilan itu terdengar sangat jelas ditelinga Anthony. 'kurle' adalah kepanjangan dari kura-kura lemot.


Anthony berbalik dengan wajah yang cukup samar, ia sangat membenci panggilan itu. Sudah seharusnya panggilan itu hilang namun ternyata masih tetap ada.


"gue bukan kurle!" Anthony segera menghindar, dan pergi mencari Lili. Ia menemuka gadis itu tengah duduk sambil mengerjakan sesuatu.


baru saja ingin memanggilnya, tiba-tiba datang seorang lelaki memegang baju Anthony dengan erat. 'Brayen' orang yang suka mencari masalah dengan Anthony.


"wah-wah ternyata ada orang sudah berani melawanku..."


"gue gak ada masalah sama lo Brayen!"


"benarkah? la_


"ada apa thon?" ucap Lili datang tiba-tiba.


"gue mau bicara sama lo!" saat ingin pergi tiba-tiba saja Brayen memegang tangan Anthony, ia tersenyum kecil melihatnya.


sayangnya ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena ada Lili. Brayen takut pada Lili karna gadis itu bisa menjadi sangat berbahaya ketika marah, ia pernah mengalaminya ketika bertengkar dengan Lili.


SET!!!


Anthony menarik Lili dibelakang sekolah, Lili tampak bingung dengan sikap Anthony yang tiba-tiba berjauh dikeramaian, biasanya dirinya hanya berbicara langsung tanpa harus pergi kebelakang sekolah.


"ada apa?"


"hari ini Daeva gak masuk kelas, sepertinya dia sedang sakit.."


"tiba-tiba? tau dari mana kau?"


"hanya firasatku, tapi disisi lain gue merasa aneh sama sikap Daeva. Terlebih lagi sejak kemarin dia bertingkah aneh.."


"gue juga berpikir seperti itu, semenjak kita diintrogasi sama polisi Daeva jadi aneh, dan tiba-tiba menghilang. Lo aneh gak? sudah berbulan-bulan kasus pembunuhan berantai ini ada?" ujar Lili,


"maksudmu?" tanya Anthony bingung, sejujurnya ia juga merasa seperti itu. Maraknya pembunuhan semakin banyak dan ia masih khawatir akan keberadaan ayahnya..


"menurutku, pelaku yang membunuh semua orang tidak bersalah itu ada disekolah kita.."


"kenapa? seharusnya kan dari luar. Kenapa kau bisa berfikiran seperti itu.."


"An, dari mayat yang kita telusuri itu semua dia memiliki ciri khas tangan kidal, dia bukan orang biasa, dia bisa berubah menjadi laki-laki ataupun perempuan, jika dia pembunuh yang tidak profesional pasti dia akan tertangkap selang beberapa minggu"


"tapi yang dari dilihat pelakunya belum saja tertangkap, itu artinya ia sudah melakukan ini sejak lama dan yang pasti dia tidak sendiri. Ada orang yang selalu mengikuti arahannya"


"Jonas pernah bekata jika ada salah satu saksi yang pernah melihat wajah pembunuh itu. Yaitu cucu kepala sekolah.."


"sayangnya cucu kepala sekolah tidak masuk lagi dan entah kemana dia..lihatlah, banyak para petinggi, yang sudah terbunuh.."


"jadi maksudmu, pembunuh itu sedang mengincar sesuatu dari para petinggi-petinggi itu dia bukanlah orang biasa? dan satu-satunya harapan adalah mencari tau keberadaan cucu kepala sekolah?"


"yah.."


"gue gak bisa sekarang, gue harus pergi kerumah Daeva. Lo mau ikut apa engga?"


"gak...gue harus ketemu Jonas dan membahas soal ini"


"terserah lo.."


...***...


TING!!!


TING!!!


bunyi bel pintu.


"heum. Apa dia pergi? sepertinya dia tidak ada dirumah?" tanya anthony pada dirinya sendiri.


karna sudah 30 menit menunggu Anthony memutuskan untuk kembali pergi.


baru saja ingin beranjak pergi ia tiba-tiba mendapati Daeva yang sangat benar-benar berbeda. ia tampak seperti asing. Bajunya yang tampak elegan membuat sisi kecantikannya terlihat.


dia....


"a-anthony?" ujar Daeva membangunkan anthony dari lamunannya.


"ha-hah? ohh sa-saya mau kasih ini..." mendadak cara bicara Anthony berubah, entah karna gugup atau kaget.


"bunga mawar?"


"hah? l-lo gak suka?"


"ha-hah? suka kok. Masuk yuk.." ujar Daeva.


"o-okey.. "


kedua anak Remaja itupun masuk, tidak ada satupun pikirkan tentang mencurigai satu sama lain. Rumah Daeva yang besar itu masih sama. seperti waktu terakhir kali ia mampir.


DEG!!!


kini Anthony berada di tengah-tengah waktu yang tidak tepat. Ia merasa sangat canggung ketika melihat Daeva, padahal biasanya dirinya tidak seperti ini.


"mau teh?" tanya Daeva.


"i-iya boleh..." mendengar hal itu Daeva memanggil pelayannya, ia datang menghampiri Daeva seperti biasa.


"Lyan, tolong buatkan teh buat temanku.."


"baik, nyonya.."


Anthony kaget melihat pelayan Daeva. Sepertinya ia pernah melihatnya, entah dari manakah itu. Disisi lain ia kaget karna melihat sosok yang muda itu.


"apa dia pelayanmu?"


"yah. Dia pelayanku, namanya Lyan. Kalau boleh tau kenapa kau datang kesini?"


"oh.. sa-saya cuman memastikan kau tidak sakit, soalnya kau tidak masuk hari ini"


"ahh.. hari ini, saya ada urusan keluarga jadi saya tidak masuk"


"ouhh, dengan orang tuamu?"


"yah... bisa dibilang begitu"


Flashback :


seorang lelaki tengah berdiri disamping sebuah dinding. Tampaknya ia sedang mendengar perkataan kedua remaja.


lelaki itu nampak sangat serius mendengarkan pembicaraan mereka berdua hingga selesai.


"terserah lo.."


setelah pembicaraan selesai Anthony meninggalkan Lili. Ia pergi meninggalkan Lili duluan tanpa mengucapkan seperser kata pun.


sedangkan Lili, hanya diam. dirinya termenung memikirkan sesuatu.


sepertinya ini waktunya...


DUG!!!


tiba-tiba suara kaleng jatuh, tidak jauh dari lokasi Lili. Gadis itu berjalan mendekati sebotol kaleng, saat berbalik ia nampak kaget.


...***...


seorang gadis masuk kedalam sebuah ruangan besar. Ruangan yang penuh dengan benda-benda mahal dan klasik itu ia masuki dengan tenang.


gadis dengan pakaian yang berpakaian hitam diikuti warna emas itu sangatlah elegan. Ia tampak bersinar.


gadis itu menatap sebuah kursi dengan tatapan tajam. tak pikir lama, gadis itu mengambil sebuah pisau dapur.


"halo Kaka.. apa kau sudah lama menunggu?" ucap Dela.


tiba-tiba seseorang keluar dari balik kursi itu. ia menatap Dela dengan dalam, ia melihat adeknya sendiri sudah siap dengan pisau dapurnya.


"selamat datang dek, apa kau ingin melihat teknologi kencangnya kakamu ini?"


"tentu saja, aku ingin tau bagaimana kau membunuh perempuan itu.."


"tentu saja dengan teknologiku sendiri, Hahaha!"


"kakaku Faizah yang sangat cantik. Teknologimu sangat kuno, kau membunuh seseorang hanya dengan itu? heum bukankah itu akan sangat mudah didapati?!" Dela tersenyum kekeh. Betapa bodohnya kaka dalam mencari mangsa.


"adekku Dela, bukankah dia orang yang kau cari?! dia adalah orang yang ikut berpartisipasi dalam kematian ayah dan ibumu? seharusnya kau memujiku..!!! dasar adek BRENGSEK!!!!"


"buat apa aku berterimakasih, jika ternyata kakaku sendiri IKUT BERPARTISIPASI dalam kematian ayah dan ibuku?!!!!!"


Faizah kaget, melihat pernyataan Dela. Tidak disangka ia sangat pintar dalam mencari mangsa. Bagaimana ia tau jika dirinya juga ikut dalam program itu...?


"apa maksudmu?!! saya tidak pernah ikut dalam partisipasi BODOH itu!!!" ucap Faizah membalikkan keadaan.


"kau pikir saya bodoh?! kau tidak tau jika saya sudah membunuh banyak orang. Namun, banyak diantara mereka bukannlah yang kucari?! Sayangnya.. aku juga menikmatinya, aku tambah menikmatinya jika membunuh kakaku sendiri." Dela tersenyum lebar melihat ketakutan kakanya.


tidak disangka-sangka ternyata kakanya sendiri akan menjadi mangsanya.


"KAU PIKIR DENGAN KEKUATANMU ITU KAU BISA MEMBUNUHKU?!!! TENTU TIDAK AKU AKAN MEMBERITAHUKAN SEMUANYA BAHWA KAU ADALAH PEMBUNUH BERANTAI YANG SELAMA INI DIINCAR MASYARAKAT ITU!!!"


Dela justru tambah tersenyum, ternyata kakanya hanya mampu membunuh dari komputer tapi tidak didunia Maya, LEMAH!


DEG!!!!


*bersambung...


***halo guysss senang gak?? kan udah dibilangin, kalau nanti bakalan terungkap semuanya... episode berikutnya adalah episode special yah.. jangan lupa vote, like, dan komen bakalan seperti apa episode berikutnya...


bubbyeeee***...