THE MASK

THE MASK
episode 3 special



26 Juni


seorang pria paruh baya sedang berjalan menuju sebuah rumah kecil kayu dipinggir sungai, dersik angin menghembus besar dari timur membuat jalannya semakin cepat.


Ting!!!


bunyi bel berbunyi dari luar. Seorang pria menunggu dengan ramah dari luar, berharap disambut dengan hangat oleh sang pemilik rumah.


"iyaa, siapa?" seorang gadis tiba-tiba tertegun ketika melihat sesosok pria yang datang mengetuk rumahnya. Wajahnya panik berusaha untuk keluar dari semuanya dengan segera.


"permisi, apa kau heleni? cuci kepala sekolah dari sekolah SMAN 1?" sontak pertanyaan itu membuat gadis itu bergetaran.


"maaf kita lagi si-" tiba-tiba saja Ganggang pintu tertahan oleh sebuah tangan besar.


"aku butuh berbicara denganmu, hanya sementara"


...***...


seorang gadis memberikan sebuah teh hangat pada pria paruh baya itu, menyambutnya dengan hangat dirumah.


"kau tinggal sendiri?"


"semenjak kakek meninggal aku tidak punya siapa-siapa dan hanya mengurus diriku sendiri"


"hubungi aku jika kau butuh sesuatu.." tiba-tiba pria itu memberikan sebuah name card beserta nomor telponnya.


"a-aku tidak tau harus mulai dari mana"


"tidak apa, kau bisa mulai dari apa yang kau lihat"


"saat itu, waktu aku ingin menuju ke pemakaman kakek. Aku melihat seorang wanita, tidak. Dia tidak seperti wanita, dia seperti anak gadis SMA. dia memberikan bunga hitam dipemakaman kakek. Dia tidak sendiri, dia bersama seorang pria, dan pria itu ada dalam mobil"


"lalu, apa kau melihat wajahnya?"


"tidak, tapi aromanya sangat kuat. Aroma coklat, entah mengapa saya ingin bersembunyi ketika melihatnya."


"apa cuman itu?"


"sebenarnya, saya juga pernah bertemu dengannya pertama kalinya saat kasus Bu Debby. saat itu saya sedang berada di toilet, tiba-tiba saya awalnya mendengar seperti ada seseorang yang membunuhnya ditoilet. Aku cuman bisa diam tidak bergeming"


"mengapa?"


"saat itu semua siswa tidak di toilet hanya aku dan Bu Debby. Tiba-tiba saat pintu terbuka, aku mendengar dari dalam toilet seperti ada yang menyadap dirinya. Sesuatu menusuk-nusuk nya, aku mendengarnya. Aku takut itulah mengapa aku diam. Namun, anehnya aku mencium bau coklat pertama kali. Aku mencoba mengintip dan melihat siapa dalang dibalik kasus ini.."


"dan siapa dia?"


"dia anak baru itu. Daeva, dia terkenal karna wajahnya yang imut dan polos, aku tidak sangka dia seperti itu. Gugup rasanya, aku langsung bersembunyi dan menutup mulut sekeras-kerasnya. Keesokannga aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah karna takut menemuinya lagi."


"lalu setelah kasus itu terjadi, apa kau tidak melaporkannya ke polisi?"


"tidak, ketika aku melihatnya dari jauh. Dia bersikap seolah-olah dia tidak melakukan apa-apa padanya. Untungnya saat itu tiba-tiba ada yang datang meskipun dirinya tidak ditangkap"


"baiklah, untuk sementara ini kau berlindung lah disini. Aku akan mengurusnya.." pria paruh baya itu sontak berdiri, menjabat salam gadis kecil itu. Ia beranjak kecewa ketika mendengar hal yang terjadi saat itu.


"tapi, ngomong-ngomong perusahan apa ini?" ucapnya ketika melihat iD card itu "Xavier".


...***...


1 Juli


seorang pria tengah duduk disebuah restoran mewah, hanya berisikan mereka berdua. Pria itu menatapnya rimbun penuh arti.


"apa kau sudah menunggu lama?" ucap seorang lelaki tiba duduk usai datang dari ujung barat.


matanya tajam penuh dendam, "kau ingat soal pabrik Xavier yang sudah lama tutup?" ucapnya.


"iya, tentu tuan. Perusahan yang dibangun lebih dari 30 kandidat dari petinggi-petinggi yang luar biasa bersama denganmu"


"ya, kau benar. Namun sayang, semenjak kau dikirim ke Amerika tiba-tiba saja terjadi peristiwa yang mengenaskan"


"aku ingat. Saat itu seseorang memberitahuku setelah aku menjalankan misiku"


"hanya kau, produk dari Xavier yang tidak gagal saat itu. Gedung tiba-tiba saja terbakar yang menghanguskan banyak anak. Tidak ada yang tersisa, hanya saja itu terjadi karna salah satu karyawanku ketika mengetahui rencana perusahaanku"


"ada apa tuan? bukankah saat itu terjadi karna kebakaran?"


"ya, tapi, awalnya karyawanku bersetuju membawa anaknya sebagai eksperimen. Namun, mengetahui bahwa anak-anak yang dibuat sebagai eksperimen ini hanyalah alat untuk memusnahkan manusia dia akhirnya membuat kekacauan itu dan membakar habis gedung itu"


"a-apa yang terjadi selanjutnya?"


"dia berusaha untuk memberitahukan hal itu ke publik dan mengambil anaknya. Aku langsung bertindak cepat dan menyuruh awak buahku membunuhnya beserta istrinya"


"lalu anaknya?"


"saat kami datang, anaknya menghilang entah kemana. Itulah sebabnya aku memanggilmu kemari"


"agar apa?"


"aku ingin kau menyamar menjadi seorang murid di SMAN 1 untuk mengintai seorang anak. Sudah lama kasus pembunuh berantai terjadi dan itu semua adalah kandidat-kandidat yang bergabung di perusahaanku. Aku curiga dia masih hidup"


"siapa dia?"


"aku telah menulusuri ke cucu anak kepala sekolah, Turman. Dia berkata dia adalah saksi dari kejahatan itu namun ia mengurung dirinya agar tidak diketahui oleh pelaku" pria itu sekejap mengambil sebuah berkas foto dari bilik tasnya.


"apanih? gadis ini?"


"ya, namanya Dela. Namun sepertinya dia telah mengubah namanya menjadi Daeva"


"baik, akan kulaksanakan"


...***...


2 Juli setelah pertemuan.


dia...


anak baru itu, tampak biasa saja. Wajahnya datar seolah tak terjadi apa-apa. Seluruh siswa menatapnya, berjalan menuju salah satu bangku yang tak jauh dari bangku Daeva. Tatapannya tajam melihat ke arah Daeva.


entahlah, dia seperti anak yang pendiam dan memiliki banyak rahasia. Tak bisa di tebak.


setelah meninggalkan kelas masuklah salah satuh guru. Pelajaran pun dimulai semua siswa belajar begitu pun dengan Rian.


...***...


Istirahat mulai, tidak terasa seluruh murid mulai berkeliaran begitupun dengan Daeva, Lili, dan Anthony.


sepertinya benar apa yang dikatakannya, sebagai manusia yang sama aku bisa merasakan hal itu.


Sesosok lelaki tiba-tiba datang, masuk ke sebuah toilet. Lelaki itu berbelit-belit masuk kedalam, ia mengambil handphonenya kemudian menelpon seseorang.


"sepertinya bukan hanya aku yang tidak gagal dari eksperimenmu!"


"sudah ku katakan jika dia kabur, aku tidak tau jika ia masih hidup"


"dia sedang berkeliaran. Kupikir kau sudah membunuhnya?"


"aku juga berpikir seperti itu. Sepertinya saat menjalankan rencana ku ada seseorang yang menyembunyikannya."


"jadi begitu, apa ini semacam jebakan?"


"entahlah, sepertinya pelayan itu yang menyembunyikannya. Aku harus segera melenyapkannya"


"kau harus segera mencarinya, jika tidak perusahaanmu akan gagal!"


"aku ingin kau memancing kemarahan Dela dan cobalah untuk membunuhnya. Itu akan mengundang kemarahannya"


DING...!!


panggilan terputus, lelaki itu pergi meninggalkan tempat. Beranjak ke suatu tempat.


...***...


4 Juli, saat Lyan sekarat.


TINGG!! TONGGG!!!


bel berbunyi, seorang pria berpakaian jas hitam membuka pintu. Pria itu nampak kaget melihat siapa yang mengetok.


lelaki, berpakaian hitam itu tiba-tiba saja menusuk lyan menggunakan pisau. Darahnya mulai bercucuran keluar, dan lelaki itu menusuk lagi di area lain. Membuat darah Lyan semakin bercucuran.


"ji-jika kau membunuhku, ka-kau akan melihat kemarahan iblis yang akan data-tang!" ucap Lyan bernada rendah.


"bodo amat!" lelaki itu langsung mencabut pisau dari perut Lyan. lalu pergi meninggalkannya sendiri.


...***...


Lelaki itu memasuki mobil merah yang terparkir tidak jauh dari rumah Dela, ia membuka penutup kepalanya dan menelpon seseorang.


"aku sudah membuatnya sekarat, sekarang apa rencanamu?"


"temui sahabatnya, pisahkan lah mereka apapun caranya. Aku harus mendapatkan produkku yang sempat gagal"


"bagaimana jika dia tidak ingin mengikuti mu?"


"bagaimana pun caranya, dia adalah produkku. Alatku.."


...***...


6 Juli sebelum keraguan mulai..


"jadi maksudmu, pembunuh itu sedang mengincar sesuatu dari para petinggi-petinggi itu dia bukanlah orang biasa? dan satu-satunya harapan adalah mencari tau keberadaan cucu kepala sekolah?"


"yah.."


"gue gak bisa sekarang, gue harus pergi kerumah Daeva. Lo mau ikut apa engga?"


"gak...gue harus ketemu Jonas dan membahas soal ini"


"terserah lo.."


setelah pembicaraan selesai Anthony meninggalkan Lili. Ia pergi meninggalkan Lili duluan tanpa mengucapkan seperser kata pun.


sedangkan Lili, hanya diam. dirinya termenung memikirkan sesuatu.


sepertinya ini waktunya...


"aku dengar kalian meragukan satu sama lain, sepertinya kalian sangat cocok. Dibandingkan dirinya dengan si Dela"


"Dela? Dela siapa?"


"ingin tau sebuah kebenaran?"


Lili menatap Lamat lelaki itu, kebenaran? siapa? mengapa?


perempuan itu mengikuti gerak-geriknya, ia pergi ke suatu tempat. Tempat yang besar, perusahaan yang mewah itu dimasuki oleh dua orang remaja.


Lili melihat sisi salah satu ruangan yang mewah, ia menunggu di atas sofa besar cream, ia mewaspadai sesuatu.


"selamat datang, pasti kalian telah menunggu lama" ucap seorang pria paruh baya berjas hitam datang.


"aku langsung pada intinya, mengapa kalian membawaku kesini?" ucap Lili, tajam.


"tenang, aku hanya ingin membicarakan temanmu. Daeva"


...