THE MASK

THE MASK
XOFIA



15 tahun yang lalu, pukul 22.00 waktu Indonesia barat.


sebuah asap keluar dari atas pabrik, semua orang berlarian keluar ruangan. Api semakin besar ingin melahap pabrik tersebut.


seorang pria dan wanita berlari kearah yang berbeda. Mereka masuk ke dalam pabrik menghiraukan api yang semakin besar itu.


"Dian carilah Dela dia mungkin berada di ruangan itu. Aku akan cari jalan keluar" sorak pria berkacamata itu.


wanita bernama Dian itu pun langsung memasuki ruangan yang bertulis "jangan masuk"


ruangan yang isinya hanya ada seorang anak perempuan tengah terbaring pulas di atas kasur. Sayangnya kedua tangannya diikat beserta kakinya.


tubuhnya terbaring pulas di atas kasur itu. Dian langsung mengambilnya membawanya keluar dari ruangan itu, dan..


BRAK!!!


kayu jatuh tepat di atas belakang Dian membuat wanita paruh baya itu pun langsung tak sadarkan diri.


"sayang!!!!" teriak seorang pria dari depan. kaget melihat istrinya yang ditimpah kayu panas.


"Lucas... bawa anaknya kita, jangan sampai mereka menemukannya.. pergilahh" ucap Dian dengan nada kecil.


Lucas memegang pipi Dian lalu membawa anak perempuan itu keluar dari pabrik.


ia membawanya ke dalam mobil, pergi jauh dari kebakaran yang besar itu. Mobil melaju kencang, berusaha pergi jauh dari area tersebut.


suasana tampak mencekam, hanya ada pria dan anak perempuan itu. Lucas memegang erat anaknya yang masih terbaring pulas itu. Air matanya mulai berjatuhan banyak, mengingat pengorbanan istrinya.


kesedihan sangat terlihat dari Lucas yang sakit hati melihat istrinya yang meninggal karena insiden kebakaran itu.


tiba-tiba...


BUGH!!!!!


mobil tiba-tiba hilang keseimbangan, entahlah sepertinya ban mobil tiba-tiba kempes.


seorang pria dan anak perempuan itu pingsan dengan darah yang berhamburan. Pria itu terlempar dan anak perempuan pingsan di tempat.


"de-dela..." suara kecil namun bergema di sekujur jalan. Lucas menghembuskan nafas terakhirnya, dan...


...***...


pagi ini, Daeva, lili, dan Anthony tengah berada di suatu ruangan. Suasananya sangat mencekam, tidak ada tanda-tanda damai. Tegang, semua menatap ke arah Daeva.


"hal yang bapak lakukan pada kami bukannlah suatu hal yang baik! jika bapak ingin mengintrogasi kami bapak harus tenang. cara berbicara bapak saja seperti menjadikan kami tersangka"


"dav.. " Anthony bersuara, dari raut wajahnya ia sangat menghawatirkan Daeva. Terutama mendengar perkataan Daeva.


belum sempat berbicara, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke ruangan. tampaknya dia adalah kepala kepolisian.


ternyata dia ada disini..


"ada apa ini?" seorang pria paruh baya bertanya. "Arga, apa yang kau lakukan?"


"ini pak, saya sedang mengintrogasi anak-anak, mereka sempat masuk ke jalur kuning yang sudah kami pasang..."


"hemm, tidak usah. Lagi pula mereka masih anak-anak jangan terlalu memaksakan mereka.." kata pria paruh baya itu.


"ba-baiklah pak.." Arga diam, ia tiba-tiba menghadap pada ketiga anak remaja muda itu "kalian boleh pergi, tapi jika aku melihat kalian lagi, maka selanjutnya kalian tidak bisa pergi!"


Daeva, Lili terutama Anthony pun keluar. pandangan Anthony tidak kemana-mana, hanya memandang Daeva.


Daeva pergi menuju kelasnya, diikuti Lili dan Anthony.


"hei, Li, apa kau merasa ada yang aneh?" tanya Anthony pada Lili.


"tentu saja, apa kau tidak dengar apa yang dikatakan Daeva..? waktu dengar nada suaranya yang tegas, buluku langsung merindingg. Vibesnya Daeva, seperti orang yang ingin menusuk. Bahkan, matanya sangat tajam"


"betull, tapi kenapa Daeva tiba-tiba seperti itu yah?"


"tak tauu, tapi saya menyukainya.."


"apa maksudmu? kau mau teman kita gila?!"


"dasar begoo, bukan begitu. Sikapnya! dulu awal-awal Daeva sangatlah penakut, malu, dan tidak tegas. Tapi, setelah beberapa hari ia berubah!"


"tapi, saya tetap menyukainya yang dulu.."


"cihhh.." Lili meninggalkan Anthony, lalu pergi menghampiri Daeva.


Dilihat dari jauh, Daeva tampak sedang memikirkan sesuatu. Kosong, seperti itulah raut wajahnya.


"Lili, saya harus pulang... " Daeva langsung mengambil tasnya, lalu meninggalkan kedua remaja itu. Anehh, kenapa Daeva tiba-tiba berubah..


"sudah kubilang, dia seperti bukan 100% dirinya.." kata Anthony dari sudut pintu.


ada apa yah?? kok saya merasa aneh, setelah beberapa hari ini


TINGG!! TONGGG!!!


bel berbunyi, seorang pria berpakaian jas hitam membuka pintu. Pria itu nampak kaget melihat siapa yang mengetok.


lelaki, berpakaian hitam itu tiba-tiba saja menusuk lyan menggunakan pisau. Darahnya mulai bercucuran keluar, dan lelaki itu menusuk lagi di area lain. Membuat darah Lyan semakin bercucuran.


"ji-jika kau membunuhku, ka-kau akan melihat kemarahan iblis yang akan data-tang!" ucap Lyan bernada rendah.


"bodo amat!" lelaki itu langsung mencabut pisau dari perut lyan. lalu pergi meninggalkannya sendiri.


...***...


DEG!!!


langkahan kaki seseorang tiba-tiba berhenti.


gadis itu nampak kaget, melihat seseorang tergeletak di lantai. Darahnya tidak berhenti keluar. Gadis itu langsung membawa pria itu kedalam.


ia langsung memeriksa apa yang terjadi. ternyata pria itu ditikam oleh seseorang. Ia pun segera mengambil langkah pertama.


20 menit kemudian...


"n-nyonya?" Lyan kaget, dengan kedatangan Dela.


"hm.. siapa yang menikammu?" ucap Dela to the point.


"seorang pria.. entahalah siapa dia, tapi dia terlihat seperti orang yang ada di foto kedua orang tuamu.."


"ma-maksudmu.. pria itulah yang membunuh, kedua orang tuaku?" Dela segera mengambil sebuah foto didalam ruangannya. Ia memberikan foto itu kepada lyan.


dan yah.. Lyan menunjuk salah seorang pria. Pria yang berada persis disebelah kedua orang tuanya. Ia memakai berbagai jas hitam, dengan jam berwarna emas.


wajahnya tidak asing, ada salah satu ciri khas yang persis. Ia seperti temannya.


"baik_


DEGGG..!


tiba-tiba angin mulai berhembus kencang; badai mulai terlihat; petir dan kilat menyambar; sepertinya akan terjadi sesuatu.


"Lyan!"


"iya, nyonya?"


"menurutmu apa yang akan terjadi jika identitas ku ketahuan?"


Lyan diam tidak berani berkutik, sejujurnya terlihat dari wajah Dela dia tampak kebingungan. Pria itu tidak ingin membebani tuannya. Ia memilih diam selagi masih mendapat kesempatan.


"apa kau tau, sejarah dari ruangan XOFIA?"


"tentu nyonya. Ruangan ini merupakan tempat warisan dari orang tuamu, engkau menghabiskan waktu dari kecil untuk merawat ruangan ini sampai dan akhir engkau juga menghabiskan waktu mencari tau siapa yang membunuh orang tuamu."


"benar, sebelum aku membalaskan dendam ku aku ingin mencari tau sesuatu."


"bagaimana rencanamu nyonya?"


"kau tau, ada seekor ular yang memangsa anak burung, kau tau kenapa?"


"karna ular itu menemukan anak burung itu?"


"salah... karna seorang ibu burung yang meninggalkan anaknya. Jika dia ada bukan anaknya yang mati melainkan ibu burung tersebut.."


"jadi, maknanya aku akan membuat diriku seperti anak burung itu.."


"kenapa nyonya?"


"karna... jika aku memilih ular yang menerkam anak burung itu, aku akan menjadi seseorang yang ganas. lebih baik aku dimangsa dan remes terlebih dahulu lalu merancang semuanya..."


dan...


*bersambung...


haii, nanti ada waktunya semua kasus dari episode pertama itu diungkap yah..