The Lost Way

The Lost Way
Maura?!



 


Setelah Nova memastikan bahwa ia benar\-benar dalam pesawat, ia mulai mengatur pikirannya kembali. Ia mulai sulit menentukan mana kenyataan dan mana mimpi. Sudah dua kali dalam hari ini ia mengalami hal aneh.


Kalau begitu, Jiah, Bu Tinah, Kak Maura, dan Kak Tiara, semuanya hanya mimpi! Tidak bisa dipercaya. Ia memukul\\-mukul kepalanya. Ia merasa sangat pusing. Ia ingin segera sampai dan menghubungi orang tua nya. Menceritakan semua kejadian aneh dalam hidup nya.



Pesawat mulai landing. Nova bersiap\\-siap untuk turun. Ia sempat berpikir. Akankah kost yang ditinggali nya nanti sama seperti dalam mimpinya? Jika iya, Nova tidak akan tinggal disana. Tidak akan?!



Nova turun dari pesawat dan memasuki bandara Hang Nadim. Ia memperhatikan sekitar dengan seksama. Memastikan bahwa ia tidak akan masuk ke dalam dunia mimpi yang ketiga kalinya. Setelah mengambil kopernya, Nova berjalan menuju luar bandara. Ia mulai mencari taksi.


Akhirnya ia memilih untuk menaiki taksi berwarna kuning menyala. Taksi tersebut mulai berjalan. Nova berharap ia tidak menemukan sesuatu yang berkaitan dengan mimpinya. Ia menelepon mamanya. Tetapi sinyal tidak terlalu bagus. Nova mengurungkan niatnya.


"Mau kemana, kak?" Nova terdiam. Haruskah ia mengatakan tempat dimana kost nya berada. Tetapi ia tidak mungkin mencari tempat lain dalam waktu sehari.


 


Ah Nova, lagi pula ngapain dipikirkan. Itu hanya sebuah mimpi. Tidak nyata dan tidak ada.


 


"Legenda, pak," taksi tersebut mulai berjalan ketempat yang telah ditentukan. Jalan nya berbeda, pikir Nova. Taksi tersebut berhenti disebuah rumah bertingkat tiga. Sangat beda dengan yang ia mimpikan. Bentuk kost yang ia mimpikan hanya berlantai satu dan kamar nya berada di sepanjang lorong.


"Terima kasih, pak," Nova keluar dari taksi tersebut dan membawa barang\-barang nya menuju rumah tersebut. Yang pertama harus ditemui adalah ibu kost. Ia berharap wujud ibu kost nya tidak seperti di dalam mimpi nya.


Seorang wanita langsing dan tinggi datang menghampirinya. Wanita itu tersenyum manis. Sangat manis. Nova mulai menyapa.



"Oh kamu, Nova, ya?" Nova mengangguk sopan. Wanita itu mengajak nya untuk memasuki rumahnya terlebih dahulu. Nova tidak menolak.



"Saya pemilik kost ini. Semoga kamu nyaman ya," ujar wanita cantik itu menyuruhnya untuk duduk. Nova berhasil dibuat kagum oleh paras wanita tersebut. Tidak hanya itu, rumah wanita itu juga sangat manis. Begitu lah kesimpulan Nova.


Wanita itu berjalan ke arahnya dengan dua gelas teh hangat ditangan nya. Melihat teh tersebut, Nova teringat teh buatan Bu Tinah. Ya ampun Nova, sadar lah. Itu hanya mimpi. Sebuah ilusi.


"Diminum," titah wanita itu ramah. Nova mengambil nya dan mulai meminum nya.



"Nama saya, Tania,"


 


Deg


 


Nova berusaha memulihkan pikirannya. Wanita yang bernama Tania itu terlihat bingung dengan ekspresi Nova.


"Ada apa? Kamu kelelahan?" Nova mengangguk pelan. Kemudian menggeleng.



"Ah, masih tergabung antara dengungan pesawat mungkin, Bu," sahut Nova berusaha tidak membuat wanita itu khawatir.


"Ah, ya, bisa saja. Kamu nggak perlu panggil saya ibu. Panggil saja kakak," Nova menyengir dan meminta maaf. Nova kembali bermonolog dalam hati.


"Kak, kalau boleh tau, kamar saya dimana, ya?" Kak Tania beranjak dari sofa nya. Kemudian mulai mengajak Nova untuk berjalan mengikuti nya.


 


"Kamar kamu di lantai dua. Disana kamu akan tinggal dengan dua orang perempuan lebih tua darimu," kini mereka berdua mulai menaiki anak tangga. Nova bernapas lega. Keduanya kini tiba disebuah ruangan besar. Berisi empat ranjang. Ada sebuah dapur kecil dan juga dua buah kamar mandi.


 


"Nggak keberatan, kan?" Nova menggeleng.


"Sama sekali tidak, Kak,"


"Atau jangan\-jangan, kamu penakut, ya?" Canda Kak Tania. Nova terkekeh. Tidak lama, seseorang keluar dari kamar mandi. Tetapi lagi\-lagi Nova menampilkan ekspresi kagetnya. Membuat Kak Tania bertanya lagi.


"Kenapa?" Bahkan ekspresi Nova berhasil membuat seseorang yang keluar dari kamar mandi itu juga kebingungan.



"Kak Maura,,," tanpa disadari, Nova menyebut nama itu. Nama yang seharusnya tidak akan pernah ada di dunia nyata.



"Ya, saya Maura. Kamu kenal saya?" Kini tubuh Nova mematung dan juga membeku. Lidahnya tidak bisa berkata apa\\-apa. Seseorang yang ia duga Kak Maura itu, ternyata namanya Maura. Sebulir cairan bening keluar. Kak Tania masih terus bertanya\\-tanya.



"Nova, kamu baik\\-baik saja?" Nova mengangguk lalu menggeleng lalu mengangguk lagi. Kini kak Tania sedang berbincang dengan perempuan yang bernama Maura tersebut.



"Ini nyata, kan?!" Seru Nova panik. Kak Tania segera menghampiri Nova dan menduduki nya di kasur yang masih kosong. Kak Tania mengangguk.



"Ini nyata, sayang. Kamu baru mimpi, ya di pesawat?" Nova mengangguk lemah. Jiwa nya terus meronta ingin kembali ke Jakarta. Perempuan yang bernama Maura itu berjalan mendekatinya.



"Kamu mimpi ketemu saya?" Nova mengangguk. Dari segi apapun, wanita ini mirip sekali dengan Maura yang berada di mimpi nya. Salah siapa bermimpi sepanjang itu?



"Wah kamu hebat. Kamu juga calon mahasiswa, ya?" Nova lagi\\-lagi hanya mengangguk.



"Oh, ya nanti kamu akan tinggal bersama aku dan Kak,,,,"



"Tiara," ucap Nova pelan. Entah mengapa ia ingin melanjutkan ucapan Kak Maura. Tiba\\-tiba saja perempuan itu menjentikkan jarinya.


"Lagi\-lagi kamu benar," hati Nova mencelos. Hidup nya serumit itu ternyata. Kalau begitu, akankah semua kejadian\-kejadian dalam mimpi nya akan terlaksanakan? Kalau begitu, dimana dia akan bangun nanti setelah mendengar suara lengkingan yang memekakkan telinga itu? Oh, tuhan. Nova mengacak\-acak rambutnya. Kak Tania menatap nya iba.


"Aku tidak mau, aku tidak mau," ucap Nova berkali\\-kali. Membuat dua perempuan itu terheran\\-heran.



"Nggak mau apa, Nova?" Tanya Kak Tania.



"Biarlah nama kakak sama dengan tokoh di mimpi ku. Tetapi aku tidak mau mengalami kejadian sama seperti mimpiku. Nggak mau," isaknya kemudian. Kak Maura mengelus punggung Nova serta memberikan kekuatan dengan gadis malang tersebut.


"Nggak. Nggak akan. Kami pastikan, kita aman. Oke," hibur ykak Maura, tersenyum. Nova mengangguk. Kenapa ia harus sebodoh ini sih? Mencampurkan urusan nyata dengan mimpi. Toh kesamaan nama hal yang wajar, bukan?


 


Setelah memastikan Nova membaik, Kak Tania kembali keluar kamar. Sedangkan Kak Maura harus bersiap-siap untuk bekerja. Ia sebenarnya tidak tega meninggalkan Nova sendiri. Tetapi setelah ia berpikir bahwa Tiara akan pulang sebentar lagi, ia jadi merasa lebih tenang.


"Kalau ada apa-apa, atau nggak nyaman, pergi aja ke rumah Kak Tania. Ok?" Nova mengangguk. Ia masih di dalam pikiran konyolnya. Kalau semua kejadian itu akan terjadi di dunia nyata, kemana pergi nya ia setelah membuka mata disaat suara melengking itu begitu menyiksa indera pendengaran nya?