The Lost Way

The Lost Way
bunuh diri



Pagi ini Nova harus pergi ke kampus nya. Ia melupakan semua sakit dan lebam di badannya. Ia tidak ingin membuang waktu nya sia-sia disini. Bukannya mudah untuk mendapatkan izin pergi kesini.


Baru saja ia turun dari kamarnya, sosok yang ia kenal sudah berada di depannya. Siapa lagi kalau bukan Yudi yang menyebalkan. Pria itu duduk di motornya.


"Yuk!" Ajaknya, santai. Nova menatap tajam lelaki itu. Tetapi yang ditatap malah tidak peduli.


"Udahlah, nggak usah ditolak," Nova memutar kedua bola matanya malas. Lalu berjalan mendekati lelaki tersebut berada.


"Aku yang mengantarkan mu, Nova!" Bentak Cropte dengan suara besar nya itu. Nova terhenti sejenak. Apakah Cropte melakukan sesuatu jika dirinya tetap pergi bersama Yudi?


"Nanti kamu menjemput ku pulang ya," Yudi terkejut melihat Nova berbicara sendiri. Tetapi ia kembali sadar, bahwa Nova bukan seperti yang lain. Itulah alasan ia mengikuti gadis tersebut.


"Ada yang nggak suka ya?" Tanya Yudi bercanda. Nova tersenyum tipis.


"Gara-gara kamu, fans aku marah semua," Yudi tertawa.


"Nanti deh waktu pulang," Yudi berbicara pada sosok yang tidak dapat dilihat itu.


"Awas kalau nggak," Nova memberitahukan jawaban Cropte. Yudi tersenyum. Keduanya berangkat ke kampus.


Di kampus nya, Nova bukan sosok yang heboh atau periang atau apa lah itu. Ia gadis yang pendiam dan suka memperhatikan orang. Sehingga tidak banyak yang berbicara padanya.


Ketika jam istirahat, ia berjalan menuju kantin. Sebelum memasuki kantin, ia terlebih dahulu melewati lapangan. Ia menoleh untuk melihat jalan luar kampus. Ada warung makan kecil di seberang jalan. Kali ini, warung itu mirip dengan di mimpinya.


"Hai," Nova tersentak. Ia menoleh dan mendapati gadis yang tersenyum. Ia tidak mengenal gadis tersebut. Hanya saja, kalau dilihat dari wajahnya, gadis tersebut mirip Jiah. Oh, tuhan. Mengapa harus seperti ini lagi?!


"Jiah?" Tanpa sadar Nova mengatakan kata tersebut. Perempuan itu tampak takjub.


"Wah, padahal kita belum kenalan, lho,"


Deg


Benarkah gadis dihadapannya itu, Jiah? Ia menggelengkan kepalanya.


"Hei, kamu kenapa?" Tanya gadis itu sedikit khawatir. Nova berusaha tenang.


"Tidak ada. Nama kamu siapa?" Tanya Nova berbasa-basi. Perempuan itu mengerutkan keningnya.


"Padahal udah kamu sebut tadi," apa? Serius?


"Jiah?" Tanya Nova tidak percaya. Gadis itu mengangguk manis. Ia memejamkan matanya sebentar. Kemudian ia memberanikan diri untuk menyentuh tangan gadis tersebut. Itulah yang ia ingat dari Yudi.


Deg


Nova mendongak kan kepalanya. Kosong. Tidak ada siapapun disana. Bahkan gadis itu tidak ada. Apakah ia hanya berhalusinasi? Tidak! Tadi gadis tersebut begitu nyata berbicara didepannya.


"Nova!" Ia manatap pria berkulit kuning Langsat itu. Yudi ikut berjongkok didepannya.


"Kenapa?" Nova menggeleng. Wajahnya sedikit pucat. Nova menunjuk warung makan yang ada diseberang jalan. Yudi mengikuti arah tangan nya.


"Ada warung makan disana?" Yudi tidak melihat apapun. Ia menggeleng. Nova tertunduk lemah. Ia mengusap-usap wajah nya.


"Udah nggak usah dipikirkan. Ayo kita makan," Yudi membantu Nova untuk berdiri. Gadis itu tidak menolak. Keduanya berjalan menuju kantin, memilih kursi paling depan lalu Yudi pergi memesan makanan.


Yudi kembali dengan membawa dua mangkuk. Nova melihat seorang gadis hampir menabrak Yudi. Ia ingin berteriak untuk mengingatkan lelaki itu. Tetapi ia sadar, gadis itu terus berjalan melewati lengan Yudi. Nova menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Kenapa ia melihat yang tidak seharusnya ia lihat?


"Nah, untuk mu," Yudi menyodorkan mangkuk berisi mie ayam.


"Terima kasih," Yudi hanya mengangguk dan fokus dengan makanan nya. Nova mencari gadis yang hampir menabrak Yudi tadi. Tidak ada.


"Kamu kenapa, Nov? Cerita lah," Nova menghembuskan napas panjang. Lalu mulai bercerita tentang pertemuan nya dengan gadis yang bernama Jiah.


"Mungkin tokoh mimpi mu mau bertemu kamu secara nyata," Nova tertawa hambar.


"Kalau begitu, berarti Kak Tiara dan Kak Maura juga ingin bertemu aku?" Jelas tidak. Kak Maura dan Kak Tiara nyata. Yudi menghentikan kegiatan makan nya. Ia tampak berpikir.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Tanya Yudi penuh misteri. Nova memijat pelipisnya. Ia sudah tidak lapar lagi.


Keduanya kembali ke ruang masing-masing. Nova mulai memperhatikan asisten chef Bambang menjelaskan tentang nama-nama alat masak.


"Pulang sama ku, ya," ah, suara Cropte mengganggu. Ia hanya mengangguk sekali lalu kembali mendengar penjelasan.


Sepulang dari kampus, ia mengikuti kemauan Cropte. Ia tahu, itu pilihan yang salah. Nova emang merasa dirinya menaiki mobil, tetapi semua mata melihat dirinya berjalan. Cropte memanipulasi dan Yudi tidak bisa membiarkan begitu saja.


Ia mengikuti Nova dari belakang. Nova tahu itu. Nova sadar, dirinya di manipulasi. Tetapi ia tidak merasakan jika dirinya sedang berjalan dibawah teriknya matahari.


Hingga dirinya sampai di persimpangan jalan raya. Mobil yang Nova naiki terpaksa berhenti karena lampu merah. Tetapi sesuatu terjadi diluar dugaan. Mobil yang Nova naiki malah terus melaju dan sangat kencang. Nova berteriak. Ia berusaha keluar dari mobil tersebut. Karena ia juga sadar, supir mobil tersebut tidak akan pernah mendengar.


"Hentikan! Ini membunuhku!" Teriak Nova histeris. Beberapa klakson mulai berbunyi menegurnya. Bahkan ia bisa mendengar suara sirine mobil polisi.


"Ayolah, aku mencintaimu. Kau harus sama seperti ku," Cropte berbicara dengan tenang. Apa maksud makhluk itu? Ia menginginkan kematian Nova?


Nova juga mendengar suara Yudi yang berteriak menegurnya. Ia menoleh kebelakang. Tetapi percuma, ia tidak menemukan sosok Yudi.


"Yud! Yudi, tolong aku!"


Brakkkkk


Seketika semua menjelma menjadi gelap dan sunyi. Ia yakin, semua orang yang melihat nya akan berpikiran kalau dirinya gila atau tidak waras atau hal-hal serupa lainnya. Bagaimana bisa dirinya berjalan melewati keramaian jalan raya? Terdengar gila bukan? Cropte, dimana makhluk itu? Apakah ia akan lari dari masalah ini? Dasar pengecut, umpat Nova dalam hati. Sebelum mendengar suara sirine ambulan.