The Lost Way

The Lost Way
tidak mungkin



Nova mulai mencium aroma karbol. Tidak hanya itu. Ia juga mendengar suara sang mama yang berbisik di telinganya.


"Sayang, bangun yuk. Nggak kasian sama mama?" Ia merasa tangan nya digenggam oleh sang mama. Ingin rasanya ia menjawab, namun lidahnya Kelu.


Ia berusaha untuk membuka matanya. Ia juga berusaha menggerakkan jarinya.


"Ayo sayang! Kamu bisa!" Seru mama nya dengan isakan tangis. Nova yang mendengar nya menjadi tambah semangat. Ia berusaha lebih keras. Saat ini, ia hanya butuh bangun, lalu menceritakan semua yang dialami nya. Ia sudah tidak sanggup menjalani semua nya sendiri.


Makhluk-makhluk itu terlalu jahat untuk dirinya. Lihatlah! Bahkan mereka melukai Nova.


"Ayo sayang. Mama melihat matamu berkedip," mamanya benar. Nova telah berkedip sekali tadi. Seketika saraf nya mulai merasakan rasa sakit di sekujur tubuh nya.


Silau. Nova menyipit kan matanya. Ia melirik mama nya yang berada disamping ranjangnya. Wanita itu kini menangis bahagia. Mamanya memeluk nya erat. Nova berusaha tersenyum. Ia juga ingin membalas pelukan mamanya. Tetapi tangan nya tidak bisa digerakkan.


"Nova sayang, kamu kembali. Mama panggil dokter dulu, ya," Nova mengangguk lemah. Semua tubuh nya benar-benar sakit.


Tidak lama, seorang dokter dan dua suster wanita menghampiri nya. Dokter tersebut memeriksa badannya.


"Syukurlah, anak ibu baik-baik saja. Ini sesuatu yang ajaib!" Dokter wanita itu menepuk-nepuk pundak mama Nova. Mama Nova refleks memeluk dokter.


"Tapi ia tetap harus dirawat selama seminggu. Lukanya bukan luka biasa," Nova berpikir-pikir. Sekuat apa mobil yang menabrak dirinya? Sang mama berterimakasih kepada dokter. Kemudian ruangan itu kembali sepi. Hanya ada dirinya dan mama nya.


"Pa, Nova udah sadar," mama menelepon papanya. Tangan nya yang tidak lagi kencang itu, bergemetar hebat.


Mama Nova menghampiri Nova dan mengelus pucuk kepala Nova. Nova berusaha menggenggam tangan mamanya. Mama Nova masih saja menangis.


Pintu ruangan nya terbuka. Sosok papa telah berdiri disana. Tanpa aba-aba, sang papa segera menuju Nova dan memeluk nya.


"Perjuangan kita nggak sia-sia, ma," sang mama mengangguk. Air matanya masih saja berderai.


"Siapa yang memberitahu mama sama papa? Apa kak Tania?" Tanya Nova akhirnya. Setelah ia bisa mengendalikan tubuhnya. Mama Nova diam. Begitu pula dengan Papa Nova. Nova menatap keduanya bergantian.


"Kak Tania?" Tanya Mama Nova hati-hati. Nova mengangguk. Mama menggeleng.


"Atau Yudi?" Papa mengerutkan dahinya. Lalu menggeleng.


"Polisi?" Keduanya mengangguk. Lalu kembali seperti semula.


"Udah berapa hari Nova disini? Sejak kapan mama sama papa datang?" Mama Nova membantu nya untuk minum terlebih dahulu. Nova meneguk air nya dengan bantuan mama nya.


"Udah sebulan. Mama sama papa selalu disini, sayang," kini Nova yang mengerutkan keningnya. Sebulan? Selama itukah?


"Perasaan Nova kecelakaan mobil nya baru sehari,"


"Mobil?" Tanya mama memastikan. Nova mengangguk pasti. Kini mama menatap papa Nova. Papa Nova menggidikkan bahunya.


"Udah kamu istirahat aja dulu. Nanti kita bicara lagi, ya," Nova mengangguk patuh.


"Nanti kalau Kak Tania atau Yudi datang, bilang terimakasih ya, ma," mama Nova mengangguk. Jujur, mama Nova sempat bingung dengan nama yang disebutkan oleh anaknya.


Nova kembali memejamkan matanya. Hanya sedetik. Kemudian ia kembali terbangun.


"Kenapa sayang?" Tanya mama sedikit kaget.


"Nova takut tidur. Nova takut Cropte," wajah bingung Mama Nova tidak bisa ditutupi lagi.


"Cropte? Siapa Cropte?" Nova bingung harus menjawab apa. Hingga akhirnya ia memilih untuk menceritakan sosok Cropte.


"Cropte yang membuat kamu kecelakaan?" Nova mengangguk.


"Harusnya Nova pulang sama Yudi aja. Nggak sama makhluk aneh itu," mama Nova tidak mengerti apa yang diucapkan anaknya. Ia meminta bantuan suaminya. Suaminya juga sama.


"Papa bisa bilang Cropte nggak ada. Tapi Yudi, dan Kak Tania, nggak bisa dibilang nggak ada. Mereka banyak melakukan hal baik, ma. Mereka menolong Nova, pa," seru Nova sedikit histeris. Bagaimana bisa, mamanya mengatakan Yudi dan Kak Tania tidak ada?


Mama Nova kembali menenangkan Nova. Nova masih terlihat tidak terima.


"Ma, pa, bisakah Nova bertemu Kak Tania atau Yudi? Nova mau bilang terimakasih," kini Nova sedikit melunak. Papa Nova menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nanti, ya. Kamu istirahat dulu," ujar Mama Nova lembut. Nova menggeleng. Ia takut tidur. Ia tidak mau didatangi Cropte atau Tasya atau siapapun itu.


"Nova takut tidur, ma. Nova mau ketemu Kak Tania," Mama Nova mengelus pipi anak nya.


"Kak Tania nggak ada, nak," Nova membelalakkan matanya.


"Kak....kak Tania.....me...Ning...gal?" Mama Nova melihat Papa Nova. Tidak mungkin keduanya mau berbohong. Mama menggeleng.


"Itu hanya tokoh, dalam mimpi mu, nak," Papa Nova ambil alih untuk berbicara. Nova menggeleng. Ia benar-benar bingung. Nova tidak terima.


"Kak Tania ada!" Seru Nova tidak terima. Napasnya mulai tidak teratur.


"Kalau ada, ketemu dimana kamu?" Tanya Papa Nova yang kini duduk disamping mamanya.


"Ketemu di kost, pa. Kak Tania pemilik kost yang Nova tempati, pa," kedua orang tua Nova saling berpandangan.


"Kost?" Nova mengangguk. Mama Nova tersenyum getir.


"Kamu di Jakarta, nak," Nova terbangun dari tidurnya. Ia tidak merasakan sakit lagi. Ia terkejut.


"Hati-hati, kamu masih sakit," ujar papa memperingati.


"Sejak kapan Nova ke Jakarta? Apa kata Kak Tania waktu Nova dibawa ke Jakarta?" Papa Nova mengusap wajahnya kasar. Mama Nova kembali menangis.


"Kamu emang dari awal di Jakarta, nak. Kamu belum menyentuh Batam," tidak! Tidak mungkin! Batin Nova memberontak.


"Nova udah kuliah dua Minggu disana, ma, pa. Jangan bohong sama Nova dong, pliissss," Nova merasa dipermainkan. Baik papa maupun mama Nova kini menghela napas berat.


"Itu hanya mimpi mu selama koma, nak," terang Papa Nova. Mimpi? Kenapa harus ada kata-kata mimpi lagi, sih? Ia menatap mama dan papa nya tajam.


"Tolong jangan bohong sama Nova," Mama Nova mengelus punggung tangan anaknya.


"Kami nggak bohong, sayang," Nova frustasi. Bagaimana mungkin, sosok Kak Tania ternyata mimpi? Kalau begitu, dimana pembatas mimpi dan nyata Nova terakhir kali? Mengapa ia harus dipermainkan, sih?!


"Mama cerita. Kamu dengar, ya," Nova mengangguk lemah.


"Pesawat yang kamu naiki, kecelakaan. Sejak itu, kamu berada disini," pesawat? Apa, sih? Pesawat yang mana? Nova menangis. Ia berteriak-teriak tidak terima. Papa Nova memanggil dokter. Mama Nova berusaha menenangkan anaknya. Nova tidak peduli dengan sakitnya. Bahkan pikiran nya tidak dapat mengingat dengan baik. Itu lebih menyakitkan.


"NOVA KECELAKAAN MOBIL! NOVA UDAH KULIAH! NOVA NGGAK ADA NAIK PESAWAT SELAIN HARI ITU! HARI ITU, PESAWAT NOVA BAIK-BAIK AJA, MA!?" Mama Nova semakin menangis. Ia tidak tega melihat anak nya seperti itu.


Papa Nova datang dengan beberapa dokter. Dokter tersebut berusaha menenangkan. Namun gagal. Akhirnya sang dokter menyuntikkan obat tidur kepada Nova. Tidak lama, tubuh Nova melemah dan akhirnya tertidur.


"Kenapa anak saya, dok?" Tanya Mama Nova, panik dan takut.


"Bapak dan ibu, bisa ikut saya," kedua orang tua Nova mengikuti saran dokter tersebut. Keduanya kini berada didalam ruangan dokter tersebut.


"Maaf sebelumnya, pak, Bu," kedua orang tua Nova mengangguk santun.


"Seperti nya Nova mengalami sesuatu yang nyata dalam komanya. Hal itu membuat dirinya tidak terima dengan keadaan sebenarnya. Kurang lebih semacam delusi," mama Nova terisak-isak. Papa Nova merangkul istri tercinta nya. Memberikan kekuatan dari rangkulannya.


"Kami sarankan, ananda Nova dibawa ke psikiater. Satu lagi, jangan ungkit apapun yang ada didalam mimpinya. Kalau ia bertanya, diamkan saja dulu," lelaki paruh baya itu tampak kebingungan. Anak mereka terjebak dalam mimpi.


"Baiklah, dok. Terima kasih, kami pamit dulu," sang dokter tersenyum. Papa Nova menggandeng tangan Mama Nova. Menyusuri koridor rumah sakit dan kembali ke ruangan dimana anak mereka dirawat.