The Lost Way

The Lost Way
berdarah



Nova terbangun ketika ia merasa cahaya menembus matanya. Ia mengedipkan matanya dan berusaha untuk membuka nya. Hal yang pertama ia rasakan adalah badannya yang sedikit pegal. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul enam pagi.


Ia segera terduduk dan bersiap-siap untuk mandi. Ia melihat Kak Tiara yang tidur nyenyak. Ia mencoba untuk mengeluarkan suara. Sedikit parau. Ia menyentuh lehernya. Tidak sakit, pikir Nova lalu memasuki kamar mandi.


Setelah mandi, ia segera membuat sarapan. Melihat Kak Tiara yang masih tidur, ia jadi merasa bersalah. Karena ulahnya, wanita itu kelelahan. Ia membuat sarapan untuk Kak Tiara juga.


"Kak, aku pergi dulu, ya. Sarapan nya diatas meja," ujar Nova di telinga Kak Tiara. Kak Tiara menyadari suara Nova langsung terbangun.


"Eh, Nov. Nggak istirahat aja, dulu?" Mendengar namanya dipanggil, Nova menoleh dan menggeleng.


"Ada praktek, kak," kak Tiara hanya mengangguk dengan mata sayunya. Kemudian kembali terlelap. Nova segera menuruni anak tangga dan memesan taksi online.


"Nova!" Panggil Kak Tania, saat dirinya sedang menunggu taksi. Nova menyahut. Kak Tania mendekat.


"Kamu yakin mau tetap pergi? Apa nggak istirahat dulu?" Nova menggeleng. Tidak mungkin ia meninggalkan praktek pertama nya. Taksi online sudah datang. Dengan wajah khawatir, Kak Tania melambaikan tangan nya.


"Hati-hati," Nova tersenyum lalu ikut melambaikan tangannya. Taksi tersebut mulai melaju. Didalam taksi, Nova terus berharap semoga taksi yang ia naiki ini bukan seperti taksi kemarin. Yang hanya bisa dilihat oleh Nova.


Sesampainya di ruang nya, Nova didatangi oleh Yudi. Heh, apakah Yudi juga sejurusan dengan nya? Lelaki itu duduk di kursi depan Nova. Ia tersenyum dan memandangi wajah Nova dengan bertanya-tanya.


"Kamu kelihatan lelah. Ada sesuatu tadi malam?" Seperti nya Yudi mulai memahami kejanggalan pada Nova. Nova menggeleng. Yudi tidak percaya. Nova memastikan.


"Selamat pagi, semua," Nova bernapas lega, ketika suara Pak Bambang menyelamatkan nya. Semua dengan kompak menjawab salam dari Pak Bambang.


"Oke, seperti yang saya bilang, hari ini kita akan melakukan praktek dalam tata hidangan. Tetapi perlu diingat, bahwa ini bukan hanya sekedar praktek. Saya akan bertanya-tanya dengan kalian juga," semua mengangguk. Nova terlihat gugup. Apakah ia bisa mengingat apa yang ia pelajari tadi malam? Bahkan kehadiran makhluk-makhluk itu, telah mendominasi dalam pikiran nya.


"Baiklah, sekarang semua menuju ruang praktek nya!" Begitu perintah Pak Bambang diucapkan, semua segera bangkit, pergi menuju ruang praktek.


Ruang tersebut terlihat sangat luas. Warna salmon membuat ruangan tersebut terlihat formal tetapi santai. Ada banyak stainless yang tersusun rapi. Disini lah dirinya akan melaksanakan praktek untuk pertama kalinya.


"Kamu berhutang cerita dengan ku, oke," suara Yudi terlihat penuh penekanan. Tolonglah, ia baru dua Minggu mengenal lelaki itu. Ia tidak bisa sembarang menceritakan sesuatu pada orang yang tidak dikenal.


Untunglah Nova masih mengingat sedikit tentang apa yang dipelajari nya. Ia bisa menjawab pertanyaan dari Pak Bambang. Walaupun terbata-bata.


"Lain kali belajar dengan fokus," huh, andai lelaki kepala tiga itu tahu, bahwa dirinya sudah belajar mati-matian, namun ternyata diganggu.


Setelah praktek selesai, Pak Bambang membiarkan mereka untuk beristirahat. Nova merasa badannya semakin sakit. Suara nya perlahan mengecil dan serak. Merasa badan nya tidak enak, Nova memilih untuk pulang. Ia juga telah mengirimkan pesan kepada guru pelajaran berikutnya.


"Nova!" Ia mengabaikan panggilan dari Yudi. Apa urusannya dengan lelaki itu? Tetapi akhirnya Yudi berhasil mengambil lengan Nova, membuat Nova terhenti. Ia menghembuskan nafas kesal. Ia tidak ingin menoleh kebelakang. Melihat wajahnya sama saja merespon panggilan nya.


"Aku antar," kejadian taksi aneh itu hanya sekali. Untuk apa ia terus-menerus ketakutan seperti itu?


"Terima kasih atas bantuan nya. Tetapi aku udah pesan taksi nya," Nova menoleh sekilas kebelakang lalu menarik tangan nya. Tidak bisa.


"Yudi," seru Nova tegas, penuh penekanan. Lelaki itu menariknya menuju parkiran motor. Keras kepala.


"Naik," Nova masih berdiri disamping Yudi yang telah menaiki motornya. Sebenarnya bisa saja ia lari dan kabur. Tetapi menolak kebaikan orang, tidak baik.


"Waktu istirahat hampir habis," Nova memperingati Yudi. Berharap lelaki tersebut akan menepuk jidat, lalu membiarkan nya pergi.


"Terimakasih, duluan," pamit Nova begitu mereka sampai di kost Nova. Yudi tersenyum tipis. Ia merasa iba dengan wajah Nova yang pucat.


"Bisa jalan sendiri? Wajah mu pucat banget, lho," Nova mengangguk. Ia berharap setidaknya ia bisa berjalan sampai rumah Kak Tania saja, sudah cukup. Kakinya serasa dipotong-potong.


"Ya udah, sana masuk," Nova berbalik dan berjalan. Baru saja, lima langkah ia berjalan, ia merasa dirinya dihempas ke tanah. Ia tidak bisa melihat.


"Tuh, kan," hanya suara Yudi yang terakhir kali ia dengar. Yudi mengangkat gadis itu hingga depan rumah seseorang. Yah, itu rumah Kak Tania.


Kak Tania terkejut melihat Nova tidak sadarkan diri. Kak Tania segera menghampiri lelaki itu dan mengajak nya untuk masuk ke rumahnya. Nova diletakkan diatas sofa Kak Tania.


"Dia kenapa?" Tanya Kak Tania memperhatikan wajah pucat Nova. Yudi menceritakan apa yang ia lihat. Kak Tania mengangguk.


"Syukurlah. Nggak tahu nasibnya kalau dia memaksakan diri menaiki taksi itu," hening beberapa saat. Yudi menyadari jika ia harus segera kembali. Ia bangkit dari duduk nya dan berpamitan dengan Kak Tania. Kak Tania mengantarkan nya hingga ambang pintu.


"Terimakasih, Yud," Yudi tersenyum dan mengangguk lalu kembali berjalan menuju motornya dan mengendarai nya. Kak Tania kembali ke dalam rumahnya.


Melihat Nova yang tertidur pulas, Kak Tania membuatkan teh hangat untuk Nova ketika sadar nanti. Sambil menunggu Nova sadar, Kak Tania memainkan ponselnya. Tetapi benaknya terus memikirkan wujud Cropte.


Apakah makhluk tertampan dari banyak nya makhluk yang ia jumpai di dunia lain itu, masih disini? Bahkan ia mencari mangsa baru. Kalau begitu, siapa mangsanya di masa lalu dan di masa yang akan datang nanti?


"Aku marah padamu," Nova dapat mendengar suara amarah seseorang. Kak Tania memanggilnya Cropte. Nova terdiam kaku.


"Yudi. Yah, namanya Yudi. Berhasil membuatku marah,"


Kreeek


Nova merasa punggungnya dicakar oleh kuku-kuku panjang dan runcing. Ia hanya bisa mengeluh tanpa bersuara.


"Untuk apa dia mendekati, mu?" Untuk apa makhluk itu bertanya ketika dirinya sedang tidak sadar? Tidak bisa berpikir apa, hah?!


"Aku berusaha baik untuk menjemput, mu dan dia datang," kini ia sedikit berbisik. Nova berusaha bangkit dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengedip-ngedipkan matanya.


"Jawab, manis," lagi-lagi sengatan itu terasa di telapak kakinya. Kak Tania merasa sesuatu yang terjadi dengan Nova, mulai menepuk-nepuk tangan dan pipi Nova. Nova bernapas lega. Setidaknya masih ada orang yang membantu nya untuk sadar.


"Nova, aku tahu, dia datang. Bangun!" Kak Tania menggerakkan jemari Nova. Membuat Nova perlahan mulai membuka mata dan sadar.


"Kak,,,Tania," lirih Nova, pelan. Sangat pelan. Kak Tania menggenggam tangan nya. Kak Tania benar-benar seperti kakaknya. Walaupun Nova anak pertama, ia dapat merasakan betapa menyenangkannya punya kakak.


"Syukurlah. Nih, minum dulu," Kak Tania membantu Nova untuk minum. Nova merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Dia nggak mengganggu, kan?" Tanya Kak Tania. Nova menggeleng. Kemudian ia teringat dengan cakaran di punggung nya.


"Punggungku,,,, sakit," mendengar keluhan Nova, Kak Tania segera memasukkan tangan nya kebalik baju Nova untuk memastikan bahwa disana tidak ada sesuatu.


"Maaf," ucap Kak Tania sebelum memasukkan tangannya. Nova mengangguk lemah. Kak Tania merasa tangan nya menyentuh sesuatu cairan kental. Ia mengeluarkan tangan nya dan terkejut begitu melihat darah di tangannya. Keduanya sama-sama tidak bisa berkata-kata.


Tanpa menunggu persetujuan Nova, Kak Tania mengangkat baju Nova dan melihat punggung gadis itu yang terdapat tiga cakaran. Dari cakaran itulah, darah tersebut berasal. Nova menangis sesenggukan. Kak Tania mengambil tisu dan membersihkan darah tersebut. Ia emang pernah mengalami hal seperti Nova. Namun ia tidak pernah mendapatkan cakaran seperti ini. Cropte lebih jahat, sekarang.