
Semakin hari tingkah Nova semakin memburuk. Ia tertawa sendiri, kemudian menangis. Setelah itu ia juga akan memekik ketakutan. Mama Nova tidak sanggup melihat keadaan anaknya. Adapun psikiater yang datang selalu dihardik Nova mentah\-mentah.
Sebenarnya Nova tidak tertawa sendiri. Ia sedang bercanda dengan Yudi ataupun Jiah. Ia juga tidak menangis sendiri. Ia sedang diganggu oleh Tasya. Ia heran mengapa semua tokoh itu bisa hadir disini.
Awalnya, Nova masih bisa menyadarkan bahwa dirinya halusinasi. Tetapi semakin hari, ia tidak pernah melihat tanda\\-tanda bahwa dirinya berhalusinasi. Itu artinya, semua nyata.
"Nova! Mama harus kayak mana? Biar kamu sadar?" Nova menatap sendu mama nya. Nova berusaha meraih tangan mamanya. Ia tersenyum.
"Nova sadar, ma. Mama menerima kehadiran mereka, kan?" Bahkan gadis manis itu terkadang berbicara tanpa logika. Mama Nova menggeleng.
"Jangan diladeni, nak," nasihat Mama Nova. Nova tidak pernah meladeni. Mereka yang memulai duluan.
"Aw, sakit. Jangan buat mama aku sedih," Nova berbicara pada Tasya yang sedang mengusili nya. Tasya hanya tersenyum seringai.
"Oke, aku tunggu, ya" Nova tersenyum.
"Nova! Lihat mama!" Perintah wanita paruh baya itu. Nova menatap mamanya.
"Lupakan mereka!"
"Mereka baik, ma"
Mama Nova bangkit dan meninggalkan nya di kamar. Mama Nova sudah sering menegur anaknya. Mulai dari bicara lembut bahkan hingga membentak sekalipun. Gadis itu diduga pengidap penyakit schizophrenia.
Nova menjalankan kursi rodanya mengikuti mamanya. Ia melihat mama nya duduk di ruang tamu bersama papanya. Kedua orang tua nya sedang berbincang dengan dua orang lelaki berseragam polisi, dua orang lelaki berjas hitam dengan kacamata bulat, dan dua orang wanita yang mencoba untuk berbicara dengan nya tetapi ia menolak nya mentah\\-mentah.
"Ada apa?" Nova mulai bertanya\\-tanya. Ia berusaha mendengar perbincangan orang\\-orang tua tersebut.
"Nova buat kue, yuk!" Kak Maura mengajak nya. Nova mengangguk, tetapi ia penasaran dengan perbincangan orang\\-orang tua tersebut.
"Ayo Nova! Nih ada bahan nya," Nova gelagapan. Ia menyetujui ajakan Kak Maura dan berjalan menuju dapur.
Semua yang berada diruang tamu menyadari ada sesuatu yang terjatuh dari dapur. Mama Nova meminta maaf atas tingkah putri mereka dan berjalan menuju dapur.
"Nova ngapain?" Nova menoleh dan menggeleng.
"Kami buat cake, nanti mama coba, ya," Mama Nova hanya tersenyum pasrah. Ia tidak sanggup melihat putri nya.
Mama Nova kembali berjalan menuju ruang tamu. Seorang polisi mengeluarkan kotak cokelat susu. Membuat beberapa orang disana bertanya\\-tanya.
"Maaf sebelumnya, Bu, Pak, kami menemukan kotak ini didalam tas Nova Arianti. Bahan kotak ini tidak mudah terbakar. Didalam kotak ini, ada bom waktu. Waktu yang tersetting yaitu empat puluh lima menit," Mama Nova menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Wanita paruh baya itu sangat shock.
"Tetapi, Pak, anak kami tidak pernah memiliki kotak tersebut. Lalu apa motifnya ia melakukan itu?" Kini Papa Nova angkat suara. Tidak ada yang berani menyentuh kotak tersebut. Karena kotak tersebut salah satu bahan penyelidikan.
"Ah, ya, Nova bercerita kemarin, ada seorang laki\\-laki yang memberi nya kotak tersebut untuk saudara nya," ucap seorang wanita berambut hitam pendek. Mereka mulai bertanya\\-tanya siapa sosok laki\\-laki itu?
"Kami hanya ingin memaksa nya mengeluarkan ingatan nya. Bukan mengoreknya lebih rinci," suasana semakin tegang. Mereka mendengar Nova yang berteriak kegirangan. Mama Nova lagi\\-lagi menangis. Sementara yang lain hanya diam memaklumi.
"Apa Nova bisa diajak bicara saat ini?" Tanya seorang detektif. Kedua wanita yang merupakan psikiater itu menggeleng.
"Halusinasi nya semakin kuat. Membuatnya keadaan nya jauh lebih buruk. Ia menikmati keadaan nya. Itu yang membuat kami kewalahan," penjelasan dari psikiater itu membuat mereka kembali membungkam.
"Kalau begitu, kita tunggu Nova hingga membaik," ujar polisi akhirnya. Setelah itu mereka berbincang ringan tetapi masih tentang Nova. Menurut mereka ini merupakan kejadian langka.
Setelah tiga jam berbincang\\-bincang, semua tamu penting itu mohon pamit. Kini tertinggal lah Papa Nova dan Mama Nova. Keduanya hanya diam tidak berkutik. Hingga sebuah pekikan menyadarkan lamunan mereka.
Kedua orang tua Nova berlari menuju dapur untuk melihat anaknya. Mereka mendapati Nova terjatuh dari kursi rodanya. Sang papa segera menuju putri nya dan membantu Nova untuk menaiki kursi roda nya kembali.
Namun Nova menggeleng. Ia menolak. "Kenapa?" Tanya Papa Nova.
"Tasya, pergi! Kamu nggak lihat kaki ku sakit?" Nova justru berbicara dengan sosok yang tidak ada.
"Bisa. Tetapi ada syarat," Nova menunggu ucapan Tasya berikutnya.
"Jangan berbicara pada siapapun kecuali aku," Nova menunduk lemah. Membuat Mama Nova bertanya\\-tanya. Nova kembali duduk di kursinya.
"Jangan dengarkan ancaman mereka. Mereka nggak ada, Nov," tegas Papa Nova membelai rambut Nova. Nova masih diam. Papa Nova membawa Nova berjalan menuju kamar Nova. Mama Nova mengikuti.
"Nova bisa jawab pertanyaan mama?" Tanya Mama Nova begitu sampai di kamar anaknya. Nova mendongak untuk melihat mama nya yang berdiri dihadapannya.
"Apa?"
"Siapa yang pernah memberi Nova kotak cokelat susu?" Tanya Mama Nova to the point. Papa Nova membesarkan matanya. Ia tidak menyangka istrinya se\\-frontal itu.
Nova tampak berpikir keras. Ia berusaha memejam matanya. Tidak berhasil.
"Entah," keduanya menghembuskan napas panjang. Tidak mudah.
"Pernah ketemu laki\\-laki di bandara, nggak?" Nova mengangguk cepat. Kedua orang tua nya sedikit bingung. Mengapa Nova ingat pertanyaan kedua dan lupa dengan pertanyaan pertama.
" Kayak mana orang nya?" Nova tampak berpikir lagi. Ia tertawa. Kedua orang tua nya semakin bingung.
"Jangan kayak gitu, ma, pa. Lucu," Nova menertawakan ekspresi kedua orang tua nya.
"Dia tinggi, kulitnya putih, itu aja," kedua orang tua Nova sadar, anaknya tidak bisa dipaksa untuk mengingat. Mereka berencana untuk menghipnotis anak mereka besok. Siapa orang tua yang tidak resah ketika mendapat kabar, bahwa anaknya penyebab kecelakaan besar. Tidak terlalu besar, tetapi sama saja.
"Good job, Nova," Nova tidak mengerti maksud suara anak kecil tersebut. Ia hanya diam dan menatap langit\\-langit kamarnya.
"Mereka hanya penasaran. Aku benci orang penasaran," Nova tidak menggubris. Ia telah terlelap.