
Hari ini Nova kembali melihat dua orang wanita yang paling ia hindari. Ia tidak suka dengan cara mereka bicara. Membuat nya merasa hidupnya di lempar ke masa lalu yang pahit. Wanita itu selalu tersenyum. Nova mengabaikan nya.
"Bagaimana kabar Nova?" Nova diam seribu bahasa. Apa yang diinginkan dari wanita itu? Mengapa mama dan papa nya memanggil nya ke rumah?
"Nova ayo kita ke mall!" Ajakan Kak Tania jauh lebih menarik daripada berbincang dengan wanita\\-wanita itu.
"Hai Nova! Kamu hanya sedang membuat imajinasi mu sendiri. Ayolah jawab pertanyaan ku," pinta wanita berambut hitam dengan manisnya. Nova tidak tertarik.
"Ayo," wanita itu tersenyum lebar. Tidak sia\\-sia usahanya. Tetapi Nova justru menjalankan kursi rodanya dan meninggalkan mereka.
"Hai Nova! Aku disini," Nova terus berjalan. Wanita berambut panjang itu mengejar nya dan berhasil menangkap kursi roda Nova.
Tidak usah ditanya apa yang terjadi selanjutnya. Nova akan mengamuk dan melempar semua barang yang ada disekitar nya. Ia benci. Mengapa ia tidak dihargai. Ia hanya ingin berbuat baik pada Kak Tania, Kak Maura, Kak Tiara, dan Jiah. Soal Yudi, ia tidak pernah melihat nya lagi sejak dirinya kecelakaan. Tentu saja Nova menganggap dirinya kecelakaan mobil.
Wanita berambut hitam menepuk pundak Nova. Tepukan itu bisa menghipnotis Nova saat ini. Benar saja, Nova berubah menjadi diam.
"Kamu ingat dengan siapa kamu bertemu saat di bandara?" Nova mengangguk.
"Bagaimana orang nya, Nova?" Saat ini mereka hanya ingin menjalankan perintah dari pihak kepolisian. Mungkin untuk terapi akan dijalankan esok hari.
"memiliki rahang kokoh, rambut bergelombang hitam, kulit putih bersih," psikiater berambut panjang itu telah merekam apapun yang mereka ucapkan.
"Kemana dia pergi, Nova?"
"Denpasar,"
"Apa saja yang kalian bicarakan?" Wanita berambut hitam itu berjongkok di hadapan Nova. Nova melihat wanita itu lalu tersenyum.
"Ia memberikan ku kotak cokelat susu. Untuk saudaranya di Batam. Hanya itu, dia pergi," wanita berambut panjang itu mengirim pesan suara kepada orang tua Nova, pihak kepolisian, dan detektif. Tidak perlu waktu lama untuk mengecek orang yang dimaksud Nova.
Pihak kepolisian dan hukum telah berencana akan menjatuhkan hukuman mati kepada orang yang melakukan tindakan kriminal seperti itu. Ia menggunakan orang lain, untuk kejahatan nya. Nova bernasib malang.
Wanita berambut hitam berdehem. Nova terkesiap. Ia mengerjap\\-ngerjapkan matanya.
"Ngapain kalian disini?" Wanita berambut hitam hanya tersenyum manis.
"Melihat mu, Nova! Kamu memprihatinkan. Aku iba padamu," Nova tersenyum miring. Lalu berteriak. Tidak lama kemudian Nova menangis sekencang\\-kencangnya. Wanita berambut panjang kini ikut berjongkok di hadapan Nova.
Kedua orang tua Nova sedang menunggu was\\-was. Mereka tidak boleh menganggu anak mereka. Kondisi Nova bukan hanya berdampak buruk pada Nova. Tetapi juga Stevan. Tidak sedikit dari teman Stevan yang menganggap kakaknya memiliki gangguan kejiwaan. Stevan tidak pernah menanggapi omongan kosong itu.
"Cropte pergi!" Nova menangis ketakutan ketika sosok Cropte yang dinyatakan mati itu, kini hadir di hadapannya. Cropte hadir dengan keadaan kedua bola mata yang putih polos. Guratan urat di wajah yang timbul, dan mulut yang mengeluarkan darah.
Wanita berambut hitam menepuk pundak Nova kembali. Nova terdiam. Ia tidak mengerti dengan perasaannya. Terkadang ia takut, ia cemas, kemudian senang, dan kini ia merasa hampa.
"Cropte nggak ada, Nova. Ayo katakan itu sekarang!" Nova masih diam. Wanita itu terus merayu. Hingga akhirnya Nova mengatakan nya.
"Mereka hanya imajinasi, Nova," Nova kembali mengikuti apapun yang dikatakan wanita itu.
"Apakah kamu mau berjanji dengan ku?" Nova mengangguk.
"Aku akan menyadarkan mu, kalau kamu menganggap mereka hanya imajinasi," Nova mengangguk lagi.
Wanita itu berdehem. Nova kembali terkesiap. Nova mengacak\\-acak rambut nya. Nova mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya.
"Gimana? Baikan?" Nova mengangguk. Wajah Nova tampak mengeras. Nova melihat sosok Jiah, yang mulai terbakar. Siapa yang membakarnya?
"Jiah!" Teriak nya histeris. Ia harus menyelamatkan kawannya tersebut. Tetapi wanita itu mencegahnya. Nova meronta\\-ronta. Ia benar\\-benar seperti orang kehilangan akal sehat.
"Apa yang ingin kamu dekati?" Nova menatap tajam wanita berambut hitam itu. "Selamatkan Jiah!" Wanita berambut hitam itu mengangguk. Lalu berdiri dan menepuk pundak Nova. Nova kembali berada di alam bawa sadar.
"Nova harus pulang. Ia tidak bisa bersama mu lama\\-lama. Ia punya keluarga," ucapan wanita berambut hitam itu sedikit membuat nya tenang.
"Ia tidak terluka seperti yang kamu lihat," Nova mengangguk.
"Sekarang, ulangi semua ucapan ku tentang Jiah!" Nova mengulangi nya. Psikiater itu meminta nya untuk mengucapkan nya dengan lantang. Setelah aman, psikiater itu kembali berdehem.
Nova tidak melihat apapun. Ia tersenyum. Psikiater menanyai alasan Nova tersenyum.
"Jiah kembali dengan selamat," kedua wanita itu menghela napas lega. Salah satu dari mereka berjalan keluar kamar dan memanggil Stevan untuk menemani kakak nya. Stevan menurut. Walaupun ia sedikit ragu dan takut akhir\\-akhir ini.
Kedua psikiater itu berjalan menuju ruang tengah. Dimana kedua orang tua Nova berada. Kedua orang tua Nova menyuruh psikiater itu duduk dan menikmati masakan Mama Nova terlebih dahulu. Hari sudah hampir petang.
"Bagaimana?" Tanya Mama Nova seperti biasanya. Ia selalu berharap anaknya segera sadar. Ia rindu Nova yang dulu.
"Ada banyak tokoh di dalam alam nya. Kita baru menyelamatkan dua," wanita berambut hitam itu menunduk. Mama Nova tersenyum.
"Sebuah kabar gembira," gumaman Mama Nova membuat kedua wanita itu semakin terenyuh.
"Bagaimana dengan pihak kepolisian?" Tanya psikiater itu ragu\\-ragu. Kini Papa Nova yang angkat bicara.
"Sedang diselidiki. Tidak terlalu susah. Karena Nova menjelaskan nya dengan cukup detail," pihak kepolisian akan segera melacak siapa saja yang melakukan penerbangan ke Denpasar hari dimana terjadi nya kecelakaan.
Setelah berbincang\\-bincang, kedua psikiater itu pamit. Mama Nova membersihkan ruang tengah dan berjalan menyusul suaminya ke kamar Nova.
Nova menghamburkan pelukannya ke mama dan papa nya. Stevan tersenyum melihatnya. Stevan ikut berpelukan.
Psikiater emang telah berhasil membunuh dua tokoh imajinasi Nova. Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Cropte memiliki dua wajah. Mereka baru membunuh satu wajah. Sayangnya mereka membunuh wajah Cropte yang manis.