
Beberapa orang dari pihak kepolisian mulai menyelidiki nama\-nama yang melakukan penerbangan ke Denpasar pada hari terjadinya kecelakaan. Setelah mendapatkan semua nya, pihak polisi mulai mencari orang ataupun keluarga dari nama\-nama tersebut.
Disisi lain, kedua orang tua Nova mendatangkan dokter untuk memeriksa kesehatan anaknya. Sambil menunggu kedatangan psikiater. Tidak ada yang menyangka bahwa Nova akan mengalami ini semua. Papa Nova berusaha keras untuk bangkit dalam pekerjaan nya. Ia harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk anaknya.
"Kaki nya masih sakit Nova?" Nova menggeleng. Dokter tersebut berusaha memapah Nova. Melatih Nova untuk berdiri.
"Aww,,,," Nova meringis. Ia merasa kaki nya sedikit sakit. Dokter itu kembali memeriksakan kakinya dan juga tangan kirinya.
"Nova jangan banyak buang tenaga, ya?" Nova mengangguk lemah. Ia berada dalam fase normal saat ini. Setelah memberikan obat kepada Nova, dokter tersebut kembali menuju Mama Nova dan berbincang.
"Terimakasih, Dok," dokter tersebut tersenyum dan pergi meninggalkan rumah Nova.
"Eh, Nova! Kayaknya kami mau pergi deh," Nova terkejut mendengar suara Kak Maura pagi itu.
"Ke mana, Kak?" Tanya Nova sedikit gelisah.
"Kami harus kembali. Kamu udah baikan, kan?" Nova menunduk, memandangi kakinya. Ia mengangguk.
"Jangan sedih dong, Nov. Kami nanti kapan\\-kapan datang, deh," Nova mengangguk lemah. Ia harus kehilangan Kak Maura.
"Cuma Kak Maura, kan?" Kak Maura menggeleng. "Kak Tania dan Kak Tiara juga," Nova mengucurkan air mata nya.
"Kapan, Kak?"
"Nanti sore. Kamu baik\\-baik, ya," Nova mengangguk patuh. Mama Nova melihat interaksi anaknya tersebut pada sosok yang tidak ada. Apa yang terjadi padanya? Kenapa anak nya terlihat murung? Mama Nova membuka pintu kamarnya. Nova mendongak melihat kehadiran mamanya.
"Kamu kenapa? Wajahmu terlihat sedih?" Nova mengusap airmata nya kasar.
"Ma, itu Kak Maura menyalami mama. Dibalas dong," Mama Nova tidak mengerti. Ia hanya berpura\\-pura mengulurkan tangannya. Nova terkekeh.
"Kak Maura nya disana, ma," Nova menunjuk dua langkah di belakang Mama Nova. Mama Nova tidak menggubris. Ia mendatangi Nova, menggenggam kedua bahunya.
"Mereka akan pergi. Mereka punya urusan," Nova mengangguk. Mama Nova berharap anaknya segera sadar. Walaupun harus membuat anak gadisnya berpikir bahwa mereka telah kembali.
Mama Nova membawa Nova ke ruang makan. Disana, mama nya menyuapi anaknya cake. Nova menikmati cakenya.
"Buatan Kak Maura ya, Ma?" Mama menggeleng. "Mama dong," Nova mengacungkan jempolnya. "Enak," Mama Nova tersenyum tipis. Ia seperti mengurusi Nova lima belas tahun yang lalu.
"Hei, jangan sentuh tengkuk ku dong!" Seru Nova merasa tengkuk nya dingin. Ia merasa bulu kuduk nya meremang.
"Mama kamu jahat! Dia menyuruh kami untuk pergi! Kami, kan suka disini," suara anak kecil itu kini terdengar iba. Akhirnya anak kecil itu menangis. Membuat Nova menutup kedua telinganya.
"Nova kenapa?" Ia melihat mama nya. Lalu menceritakan kejadiannya. Mama tertawa.
"Mama nggak jahat. Keluarga mereka mencari mereka. Kamu nggak tahu, kan?" Nova terperangah. Bukankah mereka keluarga yang lengkap? Siapa keluarga yang mencari mereka?
"Mama nggak bohong, kan?" Wanita paruh baya itu menggeleng pasti. Nova bernapas lega. Tidak lama kemudian, ia terdiam.
"Kalau semua pergi, ia akan kesepian," ya, walaupun kehadiran makhluk aneh itu mengesalkan, tapi ia menyadari sesuatu. Ia tidak kesepian.
****
Dua Minggu setelah hari itu, Nova hanya sesekali berbicara sendiri. Hanya sesekali gadis itu berteriak, menangis dan tertawa sendiri. Psikiater itu tidak bosan\-bosannya mendatangi Nova. Pihak kepolisian telah mencari sosok tersangka. Hanya tertinggal lima orang yang masih dalam tahap penyelidikan.
Sementara para wartawan dan reporter sudah berkali\\-kali melakukan siaran pencarian tersangka. Pihak kepolisian meminta agar melaporkan sosok tersangka kepada kepolisian terdekat. Beberapa Intel juga ada yang turun tangan untuk mencari pelaku.
***
Papa Nova sedang mengajak Nova berkeliling perumahan. Tampilan nya sedikit lebih baik. Sudah hampir tiga bulan ia bertingkah seperti orang kehilangan akal sehat. Mama Juga tidak terlalu susah mengajak anak nya membersihkan diri. Biasanya selama tiga bulan ini, Nova selalu memberontak ketika diajak untuk mandi. Seperti anak kecil, bukan?
Papa Nova dan Nova melihat kedatangan empat orang berseragam polisi mendatangi rumah Nova. Nova terlihat tidak peduli. Papa Nova mulai merasa tidak enak. Ia mengajak Nova untuk kembali. Nova meronta\\-ronta. Akhirnya, Papa Nova menelepon Stevan yang berada di rumah untuk menemani kakak nya berkeliling.
Bersusah payah istrinya mengajak anaknya untuk keluar rumah. Tetapi kini, ia membawa anaknya kembali. Papa Nova tidak tega. Setelah Stevan datang, Papa Nova berjalan menuju rumah.
"Selamat pagi, Pak," sapa salah satu polisi menjabat tangan Papa Nova. Kedua nya saling berjabat tangan.
"Pagi juga," setelah mempersilahkan ke empat polisi itu masuk, salah satu polisi itu mulai berbicara. Mama Nova datang membawa lima cangkir kopi dan menyuruh polisi\\-polisi itu menikmati nya. Mama Nova juga menyediakan biskuit.
"Jadi begini, Pak, Bu," Papa Nova menggenggam jemari istrinya. Ia takut istrinya kenapa\\-kenapa.
"Kami telah melakukan penyelidikan. Kami juga menyuruh beberapa televisi untuk menyiarkan berita ini, guna mencari tersangka," kedua orang tua Nova mulai khawatir. Apakah tersangka tidak berhasil ditemukan? Sehingga anaknya yang dituduh bersalah? Tolong jangan libatkan anak itu! Nova bahkan tidak bisa menyadari keberadaan dirinya sendiri.
"Ibu bapak harap tenang. Kami menemukan pelakunya," serentak keduanya menghela napas.
"Tapi...."
"Tapi apa, Pak?" Suasana pagi itu terasa begitu menegangkan. Pak polisi itu mengeluarkan beberapa kertas semacam berkas.
"Ini identitas pelaku. Kami ingin menanyakan hal ini dengan anak anda. Benarkah orang ini?" Kedua orang tua Nova saling berpandangan. Papa Nova menelepon Stevan dan menyuruh nya untuk pulang bersama Nova.
Sepuluh menit kemudian, Stevan dan Nova telah sampai di rumah. Stevan membawa Nova hingga berada disamping papa nya. Papa Nova menyerahkan salah satu kertas yang berisi Poto seorang pria.
Nova langsung mendorong kertas tersebut. Membuat semua yang berada disana terkejut. "Kenapa?" Tanya Mama Nova, khawatir.
Stevan menurut. Ia mengantar kakaknya kembali ke kamar kakak nya. Sementara keadaan ruang tamu sudah kembali menegang.
"Jadi emang benar, lelaki ini yang memberikannya kotak cokelat susu kepadanya," Papa Nova menganggukkan kepalanya.
"Tapi permasalahannya satu, Pak, Bu," kedua orang tua Nova menunggu polisi itu melanjutkan kalimatnya.
"Lelaki ini telah meninggal lima tahun yang lalu," Mama Nova berteriak. Papa Nova memeluk istrinya. Sementara itu para polisi hanya menatap sepasang suami istri itu dengan tatapan prihatin.
"NGGAK! NGGAK MUNGKIN! MUNGKIN ADA YANG MENYAMAR! IYA, KAN? BISA JADI, KAN?!" Mama Nova benar\\-benar histeris. Membuat Stevan yang berada di kamar kakaknya merasa takut. Tetapi ia tidak mungkin meninggalkan kakaknya sendiri.
"Maaf, Pak, Bu. Awalnya kami mengira seperti itu, tetapi kami telah menyelidiki kotak tersebut. Tidak ada DNA siapapun disana," Mama Nova menjambak rambutnya. Ia tidak percaya.
Bagaimana mungkin kotak tersebut nyata sementara pemberi nya tidak?! Gimana?!
"Terdengar aneh memang, tetapi kejadian seperti ini emang ada, Pak, Bu. Jadi kami telah menganggap kasus ini selesai. Tapi kami tidak akan mengumumkan nya. Karena kami masih khawatir jika ini ulah manusia jahat," Mama Nova telah menangis. Matanya telah bengkak dan sembab. Ia mendongak menatap suaminya.
"Apa ini juga berpengaruh dengan imajinasi anak kita?" Papa Nova terdiam. Ia tidak berpikir sampai sana tadi.
"Pak, bisakah kotak tersebut kita kuburkan saja, saya khawatir ini berkaitan dengan mentalnya. Walaupun tidak mungkin, sih," ke empat polisi itu saling bertatapan.
"Kami diskusikan dulu, Pak,"
***
"Nova, sampai jumpa," pamit Tasya tersenyum manis.
"Terimakasih hari\\-hari nya," sambung suara nyaring lainnya. Nova tidak bisa melihat wujudnya.
"Kalian kemana?" Tanya Nova. Stevan kaget melihat kakak nya berbicara sendiri. Sejujurnya Stevan masih belum terbiasa.
"Kamu pernah ngusir kami, dulu. Ingat, kan?" Nova tampak berpikir. Kemudian ia menggidikkan bahunya.
"Pernah," tukas anak kecil tersebut mengingatkan.
"Aku lupa. Terus kalau kalian pergi, aku?" Stevan memeluk kakaknya. Ia tidak tega melihat kakak nya histeris seperti saat ini.
"Pilihan nya dua. Anggap kami nggak ada, atau menyusul kami," Nova memekik tidak terima. Stevan mengelus punggung kakaknya.
"Mereka nggak ada, Kak. Hanya Stevan disini. Sentuh mereka kalau ada, Kak!" Nova menatap adiknya. Ia melepaskan pelukannya. Nova mendekati Tasya. Tasya menjauhi nya.
"Kami nggak pergi hari ini. Kami menunggu keputusan," Nova menangis.
"Keputusan siapa?!" Tanya Nova sedikit membentak. Tasya menggeleng.
"Entah lah, Nov," Stevan kembali mendekati kakaknya.
"Udah disentuh, Kak?" Nova menenggelamkan kepalanya ke badan adiknya.
"Nggak. Dan nggak akan bisa," Stevan tersenyum tipis. Perubahan yang cukup baik.
***
Kedua wanita menyebalkan itu kembali hadir. Nova jengah sebenarnya. Tetapi ia tidak bisa menghindar. Wanita berambut hitam itu mengajak nya berbasa\-basi lalu menepuk pundaknya. Anehnya, setiap wanita itu menepuk pundak nya, ia selalu menjadi hampa.
" Mereka akan pergi! Mereka semua akan hilang! Aku sama siapa?!" Teriak Nova dibawa alam sadar saat wanita berambut hitam itu bertanya tentang imajinasi nya.
"Kami disini selalu ada untuk mu. Keluarga mu, teman\\-teman mu. Emang nya mereka pergi kemana? Kapan?"
Wanita berambut panjang selalu merekam nya. Nova mengusap air mata nya kasar. Nova menghela nafas panjang.
"Mereka akan pergi setelah keputusan. Mereka nggak tahu keputusan siapa. Mereka masih ada, aku mendengarnya. Tetapi suara mereka terdengar pelan dan menjauh,"
Klik.
Mereka yakin, jawaban Nova sangat berpengaruh untuk pihak kepolisian dan orang tua Nova. Ia mengirim rekaman suara Nova sebelum Nova kembali disadarkan.
Satu pesan yang berisi suara Nova berhasil membuat pihak kepolisian menyetujui permintaan Papa Nova. Mereka mengubur kotak tersebut. Nova merasa hampa. Telinga nya begitu sunyi. Psikiater itu memberitahukan kepada orang tua Nova, untuk membiarkan Nova menikmati hidupnya. Karena Nova termasuk anak yang mengalami tekanan hidup yang tinggi.
Mama Nova memeluk Nova. Meminta maaf pada putrinya. Ia terlalu keras mendidik putrinya. Ia tidak pernah membiarkan anaknya menikmati dunia walau hanya sesaat. Rasa khawatir mama nya berhasil membuat Nova terkurung dan akhirnya didera rasa kesepian. Akhirnya imajinasi\\-imajinasi itu datang tanpa diundang.
Tetapi Nova masih tetap harus diterapi. Butuh waktu tiga tahun untuk memulihkan mental Nova kembali. Umurnya kini 23 tahun. Ia sudah mulai normal seperti dulu.
Disaat dirinya sudah normal seutuhnya, seorang lelaki datang menjenguknya. Ia tidak tahu siapa lelaki itu. Nova pernah melihatnya, dimana?
"Yudi?" Lelaki itu tersenyum. Mama Nova membawa Nova ke dalam kamar. Anaknya sudah pulih. Anaknya tidak akan seperti dulu lagi!
"Lupakan apapun tentang laki\\-laki itu!" Nova terdiam. Lalu mengangguk.
"Emangnya Nova pernah kenal, ya sama dia? Tadi Nova cuma tebak asal, lho," ini salah satu bentuk kesembuhan Nova. Ia sadar, dirinya masih mengingat masalah itu, tetapi ia telah berhasil menepis nya. Ia bahkan kini harus berbohong pada mamanya. Padahal lelaki tadi emang benar\\-benar mirip Yudi dalam khayalannya.
Mama Nova tersenyum. Nova membalas senyuman mamanya. Trauma? Itu masih ada. Ia tidak mau melanjutkan pendidikannya. Ia juga tidak mau keluar rumah terlalu lama. Ia tidak mau melihat orang yang tidak dilihat orang lain. Ia juga tidak mau mendengar suara pesawat. Ia akan selalu Menangis jika mendengarnya. Ia juga takut dengan mobil. Ia trauma dengan motor dan taksi.
Nova emang sembuh, tetapi tidak dengan traumanya.