The Lost Way

The Lost Way
dia berubah?



Tania dan pelukis itu keluar dari tempat Nova dan Maura. Keduanya berjalan menuju rumah Tania. Tania menyuguhkan kopi panas untuk lelaki tersebut.


"Jadi gimana?" Tania memulai topik pembicaraan. Lelaki itu memberikan tab nya kepada Tania.


"Itu yang saya lihat, Bu," Tania mengambil tab itu dan melihat lukisan yang ada didalamnya. Tania mengerutkan keningnya.


"Yang saya lihat tidak secantik ini. Mata dia tidak sebesar ini dan bibirnya tidak sekecil ini. Ini serius?" Selidik Tania. Raut wajah lelaki itu menegang.


"Serius, Bu. Untuk apa saya berbohong," melihat keseriusan lelaki itu, Tania mempercayai nya. Mungkin makhluk itu merubah dirinya ketika sadar dirinya sedang dilukis.


"Hmm,,,,kalau kamu melukis apa yang saya katakan, bisa?" Lelaki itu mengangguk yakin. Tania menyerahkan kembali tab milik lelaki itu dan mulai menyebutkan bentuk Nova yang selama ini ia lihat.


"Matanya tajam, tidak terlalu besar," lelaki itu hanya bergumam. Tangannya sibuk melukiskan apa yang dijelaskan oleh Tania.


"Hidungnya panjang dan kecil. Bibirnya gelap dan sedikit tebal. Alisnya rapi,,,,,,," Tania menjelaskan secara detail dengan apa yang ia lihat dari Nova.


Nova yang lain



Kurang lebih seperti itu


Lelaki itu hanya geleng-geleng kepala, tidak percaya bahwa yang dilihat Tania dengan yang dilihat dirinya berbeda jauh.


Nova yang dilihat oleh pelukis



Lelaki itu mengirim hasil lukisannya kepada Tania. Setelah itu, Tania memberikannya upah dan lelaki itu mohon pamit. Sekarang Tania mengerti tentang apapun dari Nova. Sungguh nasib yang malang. Tania mengirim gambar tersebut kepada Maura. Ia ingin memastikan bahwa yang dilihat dirinya dengan Maura sama atau tidak.


"Bagaimana?" Tanya Tania dalam pesan. Tidak lama, Maura membalas pesannya.


"Sama persis dengan yang selalu aku lihat, kak," baiklah, berarti Tania tidak salah lihat. Ia juga mengirim pesan itu kepada Tiara yang sedang bekerja.


Ternyata jawaban nya juga sama dengan Maura. Kini saatnya Tania mengirim gambar tersebut kepada Nova. Sebelum ia menekan tombol kirim, Tania terlebih dahulu berjalan pelan menaiki anak tangga. Entah mengapa ia menjadi begitu peduli dengan Nova. Apakah karena nasib gadis tersebut sama dengan nasibnya dahulu?


Nova menerima pesan masuk. Ia membuka pesannya dan melihat lukisan sedikit mengerikan. Ia melihat siapa pengirimnya. Kak Tania? Ia membaca pesan selanjutnya.


"Itu kamu Dimata kami,:-)," Nova menegak salivanya. Sulit untuk dipercaya. Ia teringat suara tadi, yang mengatakan jangan terkejut.


"Yah, kok ketauan, sih. Padahal tadi aku udah cantik," suara mengganggu itu lagi. Kali ini suara itu tertawa cekikan. Sedikit menyeramkan. Ia belum pernah mendengar suara tawa makhluk-makhluk aneh itu.


"Plis jangan ganggu," mendengar Nova yang memohon seperti itu, Maura melihatnya. Apakah ada sosok lain yang mengajak nya bicara? Sejak kapan?


"Aku benci! Kamu tahu!" Kini makhluk itu berseru kencang. Nova menutup kedua telinganya.


"Ya, tapi aku nggak kaget, lho," Nova berusaha tenang. Manik matanya melihat kak Maura yang menatap nya penuh waspada. Nova mengabaikan kak Maura.


"Ini pasti ulah wanita itu. Wanita yang datang sama pelukis itu, aaaaaaargggghhhh,,,,,,,, kesal," Nova merasa kepala belakangnya berat. Nova mengadu kesakitan. Maura tidak bisa membiarkan nya. Ia segera datang dan duduk disamping Nova.


"Duh, sakit. Siapa, sih itu duduk sembarangan?" Nova menatap Kak Maura dengan memberikan kode untuk pergi. Kak Maura tidak menangkap kodenya dengan baik.


"Baiklah, kamu menyakiti ku dua kali, Nova. Sekarang aku balas, tiga kali lipat," Nova menggeleng. Menyuruh kak Maura untuk segera pergi dari nya. Kak Maura hanya menurut. Diam-diam Tania memperhatikannya.


Melihat Nova yang sedang berjuang melawan dirinya sendiri, kak Maura menjadi iba. Ketika melihat gadis itu akan muntah, kak Maura segera berlari mengambil plastik dan meletakkan nya di depan Nova.


Tania yang melihat Nova hampir memuntahkan isi perutnya, segera berjalan memasuki kamar. Menyadari suara pintu terbuka dengan suara yang cukup keras, Nova menoleh.


"Yah, lagi-lagi perempuan itu datang. Aku pergi, kita lanjut nanti main nya, ya" hilang. Semua lenyap. Baik rasa sakit, maupun rasa mual itu kini telah lenyap. Tania berdiri tenang di depan pintu. Kak Maura segera mendatangi Nova dan menduduki nya di lantai. Nova hanya menunduk. Ada apa dengan Kak Tania? Makhluk-makhluk itu pergi begitu saja setiap melihat wujud Kak Tania.


Kak Tania berjalan menghampiri mereka berdua. Ia menyuguhkan air putih yang disediakan kak Maura kepada Nova.


"Kak,,," panggil Nova lesu. Ia tatap Kak Tania dengan tatapan sendu. Kak Tania menyahutnya.


"Kenapa mereka pergi ketika kakak datang?" Kak Tania menatap Nova dengan tatapan seakan-akan berkata,"aku?". Nova mengangguk. Kak Tania menggenggam tangan nya.


"Aku akan bercerita," kak Maura terlihat antusias. Wanita itu tampak nya menyukai cerita horor. Terbukti setelah beberapa kali menghadapi Nova yang super aneh itu, kak Maura selalu menyikapi nya dengan tenang dan nyaris lucu.


"Aku seperti mu, dulu. Maksud ku, makhluk aneh itu terus menyerang ku tiba-tiba. Aku dijuluki 'gadis gila', dulu. Hingga aku menikah. Semua menghilang begitu aku menikah," kak Maura bertepuk tangan dan berdecak kagum.


"Sekuat itukah cinta?" Kini kak Maura berpuitis. Kak Tania menepuk punggung kak Maura.


"Ada-ada aja," kak Maura menyengir.


"Sebelum aku menikah, mereka berbisik, 'berbahagialah. Kamu berhasil, selamat tinggal,'," semua yang ada disana merasa merinding. Nova sempat berpikir, jangan-jangan makhluk itu ada disini dari dulu. Atau jangan-jangan, makhluk itu mencari kaum jomblo? Kak Maura tertawa lebar.


"Disuruh nikah, tuh kayaknya," ceplos kak Maura menepuk pundak Nova. Nova menjelekkan ekspresinya. Kedua kakak itu tertawa.


"Apa karena aku punya pacar kali, ya, makanya aku biasa aja disini," Nova menaikkan sebelah alisnya. Kak Tania terlihat seperti memikirkan sesuatu.


"Mendatangi kaum jomblo, maksud mu?" Canda Kak Tania. Kak Maura menjentikkan jarinya. Nova geleng-geleng.


"Tapi menurut ku tidak," jawab kak Tania dengan intonasi serius. "Jadi?" Kak Tania menatap lekat-lekat wajah Nova.


"Alam bawah sadar mu sedang kacau. Mereka ingin menghibur, tetapi salah cara," pendapat kak Tania diangguki oleh Maura dan Nova. suasana siang itu menjadi suasana yang menenangkan bagi Nova. karena kehadiran kak Tania.


"seminggu ini kamu tinggal ditempat saya aja, gimana?" tawar Kak Tania pada Nova. sebenarnya Nova tidak keberatan. mengingat Kak Tania juga seorang perempuan riang dan mudah bergaul. tetapi Nova memikirkan satu hal. ia tidak mungkin mengusik kehidupan Kak Tania dengan suaminya.


"nggak usah deh, kak. terima kasih tawarannya," mendengar penolakan dari Nova, Tania justru lebih prihatin. di masa ia mengalami kejadian serupa dengan Nova, Tania selalu menginginkan orang-orang berada disekitar nya. ia menginginkan semua orang berbicara padanya.


"kalau kita jalan bareng, gimana? kuliah masih dua hari lagi, kan?" kak Tania seperti nya tidak mudah menyerah. ia mencari cara agar Nova merasa nyaman. walaupun rasa itu tidak selamanya. Nova menerima ajakan kak Tania.


"aku?" tanya kak Maura, memasang ekspresi berpura-pura sedih.


"kalau kamu nggak kerja, sihlakan," kak Maura bersorak senang.


"semoga Tiara iuga bisa ikut. seru nggak, sih kalau bisa pergi ramai-ramai?" kak Tania mengangguk antusias. Nova juga nggak kalah senang.


"mereka baik banget sama kamu. sayangnya, aku tetap nggak akan pergi," bisikan itu membuat bulu kuduk nya meremang. Nova mengipas-kipaskan tangannya di telinga nya. seperti sedang mengusir sesuatu. kak Tania mengerti. kak Maura memilih untuk tidak tahu apa-apa.


"jangan ganggu Nova,.......Cropte," Nova terlihat bingung dengan ucapan Kak Tania. kak Maura sedang mengira-ngira siapa Cropte.


suara tawa melengking di telinga Nova. Nova menyumbat telinganya dengan jarinya. suara tawa itu seperti anak kecil yang kegirangan.


"hahaha, dia masih mengingatku, Nova!" Nova membelalakkan matanya. Kak Tania tertunduk lesu.