
Ya, ia sudah mulai membiasakan diri dengan suara-suara aneh itu. Bahkan kini ia bisa terlelap dengan suara bising. Ia juga lebih berhati-hati ketika mengirim pesan atau berbicara dengan orang.
Tidak terasa sudah dua minggu waktu terlewatkan. Bukan berarti selama seminggu ia bahagia. Ia justru selalu sengsara.
Malam ini, ia harus menyelesaikan beberapa tugas yang diberikan oleh Pak Bambang, guru masaknya. Ia harus memahami tatanan dalam menyusun makanan diatas piring. Atau sering dikenal dengan istilah food plating.
Sudah jam dua belas malam. Namun ia masih harus memahami teknik-teknik dalam menata makanan tersebut. Ia berbaring diatas kasur nya. Seperti biasa, ia ditemani oleh suara-suara aneh. Ada yang cekikan, ada yang berteriak, ada yang meraung. Ia tidak peduli.
"Sampai kapan kamu belajar?" Suara nyaring itu terdengar menggema. Nova menggaruk telinganya.
"Dijawab Nova!" Bentak suara bariton dan serak lainnya. Entah suara siapa. Nova sekilas memperhatikan Kak Tiara yang tertidur pulas. Betapa ringan nya hidup wanita usia 21 tahun itu.
"Jangan iri, sama dia. Dia aja iri sama kamu," suara anak kecil itu kini tertawa sangat besar. Nova menutup bukunya, memilih untuk tidur. Tepat sebelum matanya terpejam, ia melihat sosok bayangan hitam dan tinggi berdiri di sudut ruangan. Nova berusaha tidak melihat. Tetapi bayangan itu semakin jelas.
"Hai Nova, kamu kembali," setelah itu ia merasa lehernya disengat. Ia berusaha untuk tidak bersuara. Tetapi lehernya terasa seperti disengat listrik. Ia memohon agar bayangan hitam itu pergi. Tetapi bayangan hitam itu justru tertawa, membuka mulutnya yang berisi gigi taring.
"Ayo katakan sesuatu, Nova manis," dasar gila! Bagaimana mau bicara, kalau pita suara nya saja tertekan. Ia menggerakkan kedua kakinya. Jemari nya berusaha menahan kasur. Untuk menahan rasa sakit di leher nya.
"Kenapa menangis? Ini menyenangkan," bahkan Nova tidak sadar jika dirinya menangis. Ia hanya berpikir ini mimpi. Dengan begitu, ia akan bangun sebentar lagi.
"Ayo katakan sesuatu, yang bisa membuat ku pergi!" Nova nyaris kehilangan napas. Dengan terbata-bata, ia mulai mengucapkan sesuatu.
"Kkaaa,,,,,mmmmu,,,,,kheeebba,,,hat!" Terdengar suara tawa yang menggema. Tidak lama kemudian ia mendengar ucapan terimakasih. Bersamaan dengan itu, cekikan tadi menghilang entah kemana. Napasnya tersengal-sengal. Tubuhnya berkeringat. Ia tidak bisa tidur. Padahal besok ia harus masuk untuk praktek.
Nova mencoba untuk menelan ludahnya sendiri. Sakit. Itu yang pertama kali ia rasakan. Seperti sebuah luka yang masih merah, kemudian dituangkan air lemon. Perih.
"Nova?" Ia menoleh ke arah yang memanggil. Ternyata Kak Tiara terbangun. Semoga kak Tiara tidak mendengar kejadian tadi.
"Ya,"
"Kamu nggak tidur? Udah malam, lho," Nova hanya mengangguk. Maafkan Nova yang tidak bisa memberikan jawaban apapun untuk Kak Tiara. Ia sangat susah untuk berbicara.
Melihat Nova tidak seperti biasanya, Kak Tiara mulai beranjak dan berjalan menuju Nova. Nova telah memejamkan matanya.
"Kamu baik-baik aja, Nova?" Hanya anggukan yang bisa Nova berikan. Kak Tiara menyentuh punggung tangan Nova.
"Ya ampun, Nov! Kamu sakit gini, kamu bilang baik-baik aja?!" Kak Tiara tersentak saat menyentuh punggung tangan Nova yang sangat panas. Nova membalikkan badannya menghadap Kak Tiara. Matanya Nova tampak sayu sekali. Kak Tiara, menyentuh dahinya.
"Aku ambil handuk kecil sama air dulu, ya," Nova mengangguk lemah. Ia hanya ingin istirahat. Namun tiba-tiba lehernya disengat. Apakah menurut mereka ini permainan yang menyenangkan?
Kak Tiara kembali dengan membawa air di dalam wadah dan handuk kecil dicelupkan didalamnya. Kak Tiara mengompres dahi Nova. Nova menikmati sensasi dingin nya air yang memasuki pori-pori kulit nya.
" Leher kamu kenapa, Nov?" Tanya Kak Tiara yang melihat ada lubang kecil tetapi dalam, di leher Nova. Nova menggeleng. Ia tidak bisa bersuara. Kak Tiara bangkit dan menyalakan lampu kamar mereka. Nova merasa silau ketika ia membuka matanya. Tidak hanya itu, ia melihat lima orang berbaju hitam berdiri dihadapannya. Wujud orang tersebut mirip dengan bayangan hitam sebelumnya. Nova terbelalak. Ia ingin berteriak, tetapi pita suara nya tertekan. Tangan nya bergemetar. Bayangan-bayangan itu tertawa terbahak-bahak.
Kak Tiara yang menyaksikan itu, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia yakin, Nova sedang melihat sesuatu. Ia tidak ingin mendekati Nova. Ia segera menghubungi kak Tania. Beruntung, ponsel Kak Tiara berada di saku piyama nya.
Kini ketakutan Kak Tiara semakin menjadi-jadi. Nova tidak hanya berkeringat dingin. Gadis kecil itu, perlahan melayang dari kasurnya. Kak Tiara menutup mulutnya dengan tangannya. Ia tidak boleh takut. Tetapi ia hanya sendiri disini. Bagaimana ia tidak ketakutan? Dengan tangan bergetar, ia kembali menghubungi Kak Tania.
Nova merasa tubuhnya terangkat mulai panik. Ia berusaha untuk turun, tetapi sosok-sosok menyeramkan itu menahannya. Ini penyiksaan. Ia tidak dibiarkan untuk bersuara. Air mata nya telah mengalir deras.
"Jangan takut, bermain lah dengan kami!" Suara wanita dewasa yang berasal entah dari mana itu terdengar sangat dekat dari indera pendengaran nya.
"Ini menyenangkan. Percayalah!" Nova menggeleng lemah.
"Sabar, yang ditunggu belum datang," otak Nova terus berpikir. Siapa yang dimaksud 'yang ditunggu'?
"Baiklah, dia sudah datang. Ayo!" Suara-suara aneh itu bersorak bahagia. Apakah dirinya menjadi sajian untuk orang 'yang ditunggu', tadi? Nova benar-benar lemah. Hanya tangisan senjata terakhirnya. Tetapi semakin Nova menangis, 'mereka' semakin bahagia.
Tangan Nova bergerak dengan sendirinya. Kak Tiara melihat Nova yang menampar-nampar pipinya sendiri.
"Jangan Nova!" Lirih Kak Tiara. Ia mencoba untuk menghubungi Kak Tania berkali-kali. Tidak ada jawaban. Ia tidak bisa mengirim pesan. Jari-jari nya sangat gemetar. Kak Tiara ingin menghubungi kak Maura. Tetapi ia tidak ingin membuat Kak Maura kepikiran.
Nova merasakan sakit di pipinya. Ia tidak bisa mengendalikan tangan nya.
"Ayo lagi! Hihihi,"
Plakk
"Berhasil! Wuahahahaha," tubuh Nova terasa diayun-ayun. Bahkan mereka mulai menggerakkan tubuh Nova tidak sesuai fungsi sendi nya. Sendi engsel hanya untuk satu arah, digerakkan ke segala arah. Kak Tiara tidak tega melihatnya.
"Hentikan!" Seru kak Tiara dengan sisa-sisa suara nya. Tetapi tidak berhasil. Kak Tiara ingin berjalan keluar kamar dan mengetuk pintu rumah Kak Tania. Tetapi untuk bangkit saja, kaki nya bergetar. Tidak sanggup.
Nova merasa tubuhnya melayang dengan sempurna. Ia sempat melirik ke bawah. Dirinya tidak berada di ranjang lagi. Kepalanya pusing. Semua berputar-putar. Kaki nya diputar kebelakang. Aww, pekik Nova dalam hati. Mungkinkah tulang nya patah? Kak Tiara terus menangis sambil berkata, "hentikan," Nova mendengar nya. Tetapi ia tidak bisa berbicara sedikitpun.
"Apa kamu mau, wanita itu diajak bermain juga? Kelihatan nya lebih seru?" Nova menggeleng. Jangan libatkan Kak Tiara. Cukup dirinya yang tersiksa.
Suara tawa lagi-lagi memenuhi ruangan.
"Sayang sekali. Padahal seru," Nova menggeleng. Sampai kapanpun, jangan lukai siapapun.
"Wah seperti nya dia datang lagi! Kenapa dia selalu menghancurkan permainan, sih!!" Pekik suara nyaring dengan nada tidak sukanya. Apakah yang dimaksud mereka Kak Tania lagi?
Benar saja, tidak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk. Kak Tiara berjalan dengan cepat dan membukakan pintu nya.
"Berikan pada ku! Aku mau bicara dengan Tania!" Pinta suara berat. Seketika tubuhnya terlempar dalam kondisi melayang. Nova tidak tahu, dimana ia akan terjatuh. Ia juga tidak tahu, apakah badannya akan baik-baik saja setelah ini.
Kak Tania sedikit tercengang. Namun dengan cepat, ia berlari dan menangkap tubuh Nova yang terjatuh. Pandangan Nova menghitam.
"Kamu baik-baik aja?" Ingin rasanya Nova berteriak, "aku sakit! Aku tersiksa!"
"Kak, nggak sebaiknya di obati dulu?" Tanya Kak Tiara duduk disamping Kak Tania.
"Dia nggak sakit. Ambilkan air putih," tidak lama Nova merasa badannya sedikit membaik. Apakah Kak Tania juga mengalami hal yang sama, dulu?
Kak Tania menyodorkan gelas yang berisi air putih dan membantu Nova untuk minum. Perlahan tenggorokan Nova mulai membaik. Tetapi masih perih.
"Apakah ada seorang laki-laki sekarang?" Tanya Kak Tania. Nova mengangguk pelan.
"Tinggi, putih, dan senyum nya manis?" Lagi-lagi Nova mengangguk. Kak Tania bergumam.
"Perkenalkan, dia Cropte," deg. Bagaimana bisa? Kak Tania mengelus rambut nya.
"Hai Tania! Senang bertemu dengan mu," kini Nova benar-benar kehilangan kesadaran.