
Sejak sore itu, Nova menghadapi hal baru. Bukan alarm seperti di mimpinya. Tetapi suara "siapa yang suruh kasih tau," itulah menjadi irama dalam hidupnya. Suara nya terdengar begitu kering dan serak.
"Bisa diam, nggak?" Bentak Nova disaat dirinya sedang duduk di halaman kamarnya.
"Siapa suruh kasih tau?" Nova mendengus kesal. Bulu kuduk nya jelas telah merinding. Tetapi ia tetap terlihat baik\-baik saja.
"Nggak ada yang suruh. Inisiatif," jawab Nova ketus. Ia merasa tengkuk nya dingin dan tentu saja menggelikan.
"Kamu mau di cekik, ya?" Dengan gerakan spontan, Nova menyentuh tengkuknya. Ia merasakan kehangatan menjalar di tengkuknya. Sebagai gantinya, ia merasakan dingin di tangannya.
"Bisa pergi, nggak?" Seru Nova hampir frustasi. Ia merasakan hembusan angin di telinganya. Ini menganggu.
"Kamu ngapain, Nov? Teriak\\-teriak sendiri?" Nova menggeleng. Kak Tiara kini duduk disampingnya. Suasana malam ini terasa antara hidup dan mati.
"Kalau boleh jujur, kamu itu unik. Aku membaca wajah mu?" Nova terkekeh. Unik darimana nya? Kak Tiara mengangguk untuk memastikan.
"Wajah mu itu sedikit seram dan sarkastik. Tetapi setelah kenal, kamu itu anak\\-anak banget, tau," jelas kak Tiara sambil mengedipkan sebelah matanya. Nova tertawa. Ia tidak pernah menyangka wajahnya begitu sarkastik di mata orang.
Nova mengeluarkan handphone nya. Lalu menunjukkan sebuah Poto kepada Kak Tiara.
"Wajah ku berevolusi, nggak?" Kak Tiara mengamati wajah Nova dengan wajah yang di handphone bergantian.
"Ini kamu?" Tanya Kak Tiara menunjuk Poto seorang perempuan memakai jaket jeans dan celana Levis. Nova mengangguk. Kak Tiara menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mata nya nyaris terbelalak.
"Nova, Nova," panggil Kak Tiara terbata\-bata. Perlahan kak Tiara bangkit dan melangkah mundur. Nova kebingungan.
"Kenapa?" Kak Tiara menggeleng\-geleng frustasi.
"Nggak. Nggak mungkin. Tiara berhentilah bersikap aneh," Nova semakin tidak mengerti dengan monolog Kak Tiara.
"Kak, ada apa?" Tanya Nova berjalan mendekati kak Tiara. Tetapi wanita itu mencegahnya. Menyuruhnya untuk tetap disana.
"Kamu menyeramkan. Wajah mu menyeramkan. Kamu yakin,,,,,, kamu nyata?" Tepat setelah Kak Tiara mengatakan dirinya menyeramkan, Nova merasa sesuatu mencekik lehernya. Nova memekik kesakitan.
"Aaaaaargh. Saaaaakkhhh,,,,,ikht," Kak Tiara menutup telinganya. Nova berusaha melepaskan cekikan itu. Walaupun kedua tangan nya terlihat sedang memegang lehernya sendiri.
"Dia melihat ku, Nova! Kau harus bertanggung jawab!" Kali ini suara berat mendominasi indera pendengaran nya. Nova menggeleng.
"Siiiakh,,,pa,,,,aaaaa,,,,,," Nova tidak sanggup melanjutkan ucapan nya. Napasnya tercekat secara sempurna. Hingga ia mendengar suara sendal menaiki anak tangga. Perlahan cekikan itu memudar.
"Nova!" Disaat bersamaan semuanya kembali seperti semula. Tetapi sebelum semua itu lenyap, suara itu kembali berbisik pelan, "dia selalu berhasil mengusir ku,"
Kak Tania menatap Nova yang berkeringat dan wajah pucat. Kemudian Kak Tania juga melihat Kak Tiara yang jongkok sambil menutup kedua telinganya. Kak Tania mendekati Nova.
"Kamu baik\\-baik aja?" Tangan Kak Tania menepuk pundak Nova. Ini sulit dipercaya. Nova memeluk Kak Tania. Tangis nya pecah disana.
"Bagaimana wajahku Di mata kalian?" Tanya Nova disela\-sela tangisannya. Kak Tania mengelus punggung Nova.
"Kenapa? Ada apa?" Kak Tania malah balik bertanya. Nova melepaskan pelukannya. Ia menatap Kak Tiara yang masih setia dengan posisinya.
"Apa kalian melihat wajahku sedikit mengerikan?" Tanya Nova pelan.
"Ah, tidak. Terlihat dingin mungkin iya," kak Tania menelusuri wajah Nova. Nova mengusap\\-usap wajah nya kasar.
"Maafkan aku. Seseorang tidak terlalu menyukaiku. Mungkin saja yang kalian lihat adalah dia. Kalau mau tau aku yang sebenarnya, lihat Poto itu," Nova berterus terang. Ia yakin, seseorang menutupi aura wajah aslinya. Kak Tiara mengangkat kepalanya. Mata gadis itu sedikit sembab.
"Apa yang kamu lihat, Tiara?" Tanya kak Tania mendekati kak Tiara. Kak Tiara menarik napas berkali kali.
"Wajahnya emang berbeda dengan yang di Poto. Tetapi wajah mu yang tadi sangat menyeramkan. Aku,,,,, hanya terkejut. Maafkan aku," Kak Tiara angkat suara. Kak Tania berjalan mendekati handphone Nova dan mengambilnya. Kak Tania berdecak kagum. Nova di handphone terlihat sangat manis dan anggun. Jadi yang selama ini mereka lihat? Dengan tenang kak Tania duduk dan menatap keduanya bergantian.
"Kamu manis. Mungkin yang dikatakan Nova benar, tidak ada yang salah disini. Nova nggak menginginkannya, kan?" Nova mengangguk pelan. Kak Tiara bangkit dan mendekati Nova. Lalu mengulurkan tangannya.
"Sekali lagi, aku minta maaf," Nova tersenyum manis. Menurut Nova, ia sedang tersenyum manis. Tetapi Di mata Kak Tiara dan Kak Tania, dirinya sedang tersenyum licik. Sungguh miris.
Keduanya kembali ke kamar. Berusaha melupakan kejadian itu. Sedangkan Kak Tania, perempuan tenang itu sudah berencana untuk memanggil sebuah ahli lukis, untuk melukis wajah Nova. Tania tahu, ada yang tidak beres dengan penghuni barunya. Ia menceritakan kejadian itu kepada suaminya.
Cup
Suaminya mengecup keningnya dan tersenyum.
"Nggak usah khawatir. Kalau 'dia' capek, 'dia' pergi sendiri nanti," mendengar penuturan suaminya, ia hanya tersenyum penuh haru.
Esok harinya, Tania tidak sengaja bertemu dengan Maura yang sedang menaiki anak tangga. Tania memanggil nya dan menyuruh nya untuk masuk ke rumahnya. Maura menurut.
"Berarti Wajah yang kita lihat selama ini?" Tania menggeleng. Maura terdiam seribu bahasa.
"Lalu bagaimana dia yang sesungguhnya?" Tanya Maura lagi. Gadis itu terlihat antusias mendengar jawaban Tania. Tanpa ia sadari, ia sedikit membungkukkan badannya ke depan. Bahasa tubuh seseorang, ketika ia menyukai suatu obrolan.
"Manis. Banget. Nggak bohong," jawab Tania memberi penekanan kecil di setiap ucapannya. Maura tidak menduga.
"Aku berencana memanggil ahli lukis hari ini," ujar Tania dengan nada kecil. Maura mengangguk.
"Semoga hasilnya yang terbaik, ya, kak" Kak Tania tersenyum dan menyuruh Maura untuk segera ke kamarnya. Karena Kak Tiara akan pergi sebentar lagi. Kak Tania tidak akan membiarkan gadis kecil malang itu sendirian. Harusnya malam itu, Kak Tiara tidak membiarkan Nova duduk di halaman sendiri. Walau hanya sedetik.
Ketika Kak Maura keluar dari rumah Kak Tania, mereka berpapasan dengan Kak Tiara. Tania menunjukkan ekspresi kaget bercampur khawatir. Melihat ekspresi itu, Maura segera menaiki anak tangga. Nova tidak boleh sendiri.
"Tiara, buru\-buru, nggak?" Tanya Kak Tania kembali tersenyum ramah. Kak Tiara menggeleng, "nggak kok, Kak. Ada apa?" Tania menyuruhnya untuk memasuki rumahnya.
Lalu mulai bercerita, "langsung aja, nih. Mental Nova sedikit terganggu. Selama perjalanan menuju Batam, ia bermimpi buruk. Membuatnya sulit membedakan nyata dengan mimpi. Kamu tadi malam membiarkan nya diluar sendiri, ya?"
Tiara mengangguk lalu berkilah, "hanya lima menit. Aku buang air," Tania menjentikkan jarinya.
"Walau hanya sedetik. Jangan biarkan gadis itu sendiri. Pikirannya begitu hancur saat ini. Kamu ingat kejadian mati lampu itu, kan?" Tiara mengangguk pelan. Diam\-diam Tiara mulai merinding.
"Kamu nggak perlu cemas. Apalagi takut. 'dia' tidak mengincar kita. Tetapi mengincar Nova," ujar Tania, memberikan tanda kutip dengan tangannya. Tiara mengangguk paham.
"Kalau kamu takut, Nova semakin tersiksa, seperti kejadian mati lampu itu. Juga kejadian tadi malam," Kak Tiara mulai mengingat dua kejadian itu. Benar. Semakin Kak Tiara memekik, semakin tersiksa si Nova.
"Udah jam tujuh. Nanti kamu telat," Kak Tiara buru\\-buru pamit setelah Kak Tania memperingati nya.
Kak Maura tidak mendapati Nova dikamar. Maura mulai berteriak memanggil gadis itu.
"Apa, kak?" Kak Maura bernapas lega. Nova berada dikamar mandi.
"Ku kira kamu keluar," Kak Maura segera menuju kasurnya yang berada disebelah kasur Nova. Betapa terkejutnya Kak Maura ketika melihat kasur Nova berpenghuni. Alias, Nova masih terlelap. Kak Maura mulai berpikir keras. Mana Nova yang asli? Ia teringat ucapan Tania yang mengatakan kalau Kak Maura dan Kak Tiara tidak boleh menunjukkan ketakutan. Ketakutan mereka akan menyiksa Nova.
"NOVAAAAA!!!!" Teriak Kak Maura sekencang mungkin. Nova terbangun dari kasurnya. Napas nya tersengal\\-sengal. Matanya berkunang\\-kunang.
"Kak Maura?" Suara parau khas bangun tidur milik Nova membuat Maura menoleh. Maura tersenyum.
"Susah banget bangunkan kamu," Kak Maura harus berbohong. Nova menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sesaat ia kembali teringat dengan ucapan Kak Tania yang mengatakan bahwa Nova yang mereka lihat bukan Nova sesungguhnya. Agak merinding. Tetapi ia menepis perasaan itu.
"Maaf ya, kak," Kak Maura mengacungkan jempolnya. Nova memanggil nya. Kak Maura bergumam sebagai jawaban.
"Kak Tiara masih mandi?" Tanya Nova mulai bersiap\\-siap untuk mandi. Kak Maura mulai bertanya dalam hati. Gadis itu mendengar nya.
"Cuci kaki sebentar, setelah itu pergi lagi," Nova mengangguk. Tepat pukul delapan, Kak Tania mendatangi kamar mereka. Akan tetapi kali ini Kak Tania tidak sendirian. Ada seorang pria dewasa yang berada dibelakang nya. Kak Maura dan Nova mempersilakan kedua tamu tersebut masuk. Kak Tania terus mengajak Maura dan Nova mengobrol. Nova agak aneh dengan keberadaan lelaki tersebut. Apa tujuan nya datang kemari? Jika hanya diam dan berkutat dengan tab nya.
Hampir satu jam mereka berada disana untuk sekedar berbasa\\-basi. Setelah itu kak Tania dan lelaki tersebut mohon pamit.
"Kak," Kak Maura menoleh.
"Tamu laki\-laki tadi, nyata, kan?" Kak Maura tertawa.
"Ya iyalah," Nova mengelus dadanya. Setidaknya sejauh ini ia hanya mendengar tidak melihat.
"Ngapain kesini kalau tidak berbicara sepatah kata pun?" Kak Maura menggidikkan bahunya.
"Kebiasaan Kak Tania tuh, kalau datang bawa tamu. Katanya body guard," Nova ber\-oh ria. Tetapi sejurus kemudian sebuah suara serak menyangkal nya.
"Dia melukiskan wajahku. Ya, pria itu dengan lancang melukis wajahku," Nova terdiam. Ia jadi penasaran seperti apa wajahnya di mata orang lain.
"Dia tidak salah, kau seharusnya pergi," bisik Nova pada dirinya sendiri.
"Kau membawanya. Bagaimana aku pergi?" Nova terlihat bingung. Kak Maura tanpa sengaja melihat Nova yang sedang bermonolog. Ia ingin memanggil Nova untuk mengalihkan. Tetapi ia urungkan. Diam\\-diam Kak Maura berusaha mendengar kan.
"Apa yang ku bawa?" Nova merasa tidak membawa sesuatu apapun itu.
"Aku tidak tahu nama nya. Aku hanya merasakan,"
"Kalau gitu, jangan ganggu siapa pun. Oke?" Terasa hembusan di telinga Nova. Hembusan itu berhasil membuat bulu kuduk Nova meremang secara sempurna.
"Oke. Satu pesan, ketika kamu lihat lukisannya, jangan kaget. Kalau kaget, bersiaplah untuk hidup yang sulit," Nova tidak menjawab sampai suara dan aura aneh tersebut menghilang.