
Keesokan paginya, ia terbangun karena Jiah yang membangunkan nya. Setelah itu ia mandi dan pergi menuju dapur untuk membuat sarapan. Jiah dan Nova tampak bahagia. Jiah bercerita bahwa ia belum pernah mempunyai teman yang bisa diajak untuk bercerita bersama. Jiah termasuk anak yang sedikit introvert.
"Mana kakak mu?" Jiah menggidikkan kedua bahunya.
"Mungkin masih tidur," keduanya kini sedang menyantap sarapan mereka. Ada sesuatu yang Nova syukuri hari ini. Ia tidak mendengar suara alarm yang mengganggu nya malam ini.
"Pindah sini aja, gimana?" Tanya Jiah disela\\-sela sarapan mereka. Nova memasukkan suapan nasi putih campur telur tersebut ke mulutnya. Ia mengedipkan mata nya dua kali. Ia juga tampak berpikir\\-pikir.
"Keadaannya seperti yang kamu lihat. Kami hanya berdua," Nova tersenyum.
"Aku pikirkan dulu," setelah itu mereka menghabiskan sisa sarapan yang tinggal sedikit lagi. Kemudian keduanya pergi menuju kampus. Nova sangat menikmati udara pagi ini. Jiwa nya merasa tenang pagi ini. Andai dari kemarin ia seperti ini. Ia sering bertanya pada dirinya sendiri, mengapa dirinya harus merasa dihantui? Itu menyulitkan, bukan?
Sesampainya di kampus, mereka segera menuju ruangan mereka. Ketika membuka tas, Nova teringat dengan pesan yang belum ia buka semalam. Ia membuka handphone nya dan membuka pesan tersebut.
"\*\*\*Kemana aja kemarin? Kenapa nggak pulang? Kami nggak mengganggu, kan\*\*\*?"
Deg
Jantung Nova berhenti berdetak untuk sementara. Matanya terus menatap pesan tersebut tanpa sedikit pun berkedip. Ia mencoba untuk melihat nomor pengirim. Berasal dari nomor yang tidak dikenal. Tidak mungkin Bu Tinah, atau Kak Tiara atau Kak Maura, atau Kak Gita dan Kak Eliza. Nova menyimpan nomor semua penghuni kost nya.
Pikirannya kembali bergulat. Hatinya merasa tidak nyaman. Menerima tawaran Jiah adalah langkah terbaik sebenarnya. Tetapi ia tidak tahu harus bagaimana mengatakan pada Bu Tinah bahwa dirinya tidak nyaman disana.
Jiah menghampirinya. Melihat Nova yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya, Jiah segera mengambil handphone Nova yang tergeletak di atas meja. Jiah menatap layar ponsel tersebut. Jiah menarik napas berat begitu selesai membaca isi pesan tersebut.
"Kayak nya kamu harus terima tawaran aku," kata Jiah menghapus pesan tersebut dan mengembalikan ponselnya kepada Nova. Nova mengangguk kaku. Tanpa disadari, setitik air mata keluar dari mata bulat Nova. Jiah semakin khawatir.
"Nov, kamu baik\\-baik aja, kan?" Jiah menyentuh pundak Nova, sesekali menepuknya. Nova mengusap pipi nya kasar. Ia mengangguk.
"Aku mau pindah," Jiah menatap temannya dengan tatapan iba. Bahkan sangat iba. Jujur, Jiah belum pernah mengalami apapun yang dialami oleh kawannya tersebut. Ia juga tidak pernah berharap itu terjadi.
"Ya udah nanti kamu ambil semua barang kamu, baru kita pindah, oke?" Nova menggeleng. Jiah kebingungan.
"Aku mau ke Jakarta, Jiah," tangis Nova terdengar semakin jelas. Beberapa orang yang ada disana mengalihkan pandangan nya menuju Nova dan Jiah. Mereka bertanya melalui isyarat. Jiah hanya menjawab, 'tidak ada apa\\-apa'
"Jiah," perempuan yang berada disampingnya menyahut.
"Bising. Mer....re....ka.... Bising. Telinga ku sakit," Jiah menutup kedua telinga Nova. Nova terus menunduk. Suara\\-suara yang ia dengar tidak seperti suara riuh nya para mahasiswa. Suara kali ini terdengar dekat dan memekakkan.
"Jangan lihat kedepan," perintah Jiah yang diangguki oleh Nova. Beberapa orang yang melihat mereka menyangka bahwa Nova sedang sakit. Bahkan ada seorang kakak tingkat yang mendatangi mereka dan menanyakan kondisi Nova.
"Saya sehat kok, Kak" jawab Nova berusaha melihat kakak berwajah manis tersebut. Tetapi bukan wajah kakak tersebut yang menjadi pusat perhatian nya. Suara dengungan itu terasa semakin kuat di telinga nya. Jiah berteriak histeris.
"Kenapa?" Tanya Nova lirih. Sangat lirih. Kakak tingkat tersebut dengan sigap menyuruh beberapa orang untuk mengambil kotak p3k. Telinga Nova berdarah. Diluar dugaan. Kakak tingkat tersebut juga telah menawarkan untuk membawa Nova ke tempat yang lebih aman dan sunyi dari keramaian. Tetapi secepat mungkin Nova menolak. Ia tidak suka sunyi. Ia tidak mau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi lagi. Cukup telinga nya berdarah.
"Pulang aja gimana?" Tanya kakak tingkat lainnya. Nova sekuat mungkin menggeleng. Tidak akan.
"Ke rumah ku?" Tawar Jiah. Nova diam tampak berpikir\\-pikir. Lalu menggeleng. Ia tidak ingin sendiri. Itu inti nya. Beberapa orang yang mengerumuni mereka mulai terlihat bingung. Kakak tingkat tadi juga terlihat mulai bosan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, pikir Jiah menatap semua orang yang berdiri mengelilingi mereka.
"Hentikan! Sakit!" Pekik Nova di tengah kesunyian. Semua terlihat bingung.
"Apa yang dihentikan?" Tanya kakak tingkat berusaha sabar. Nova menggeleng. Lalu berbisik kepada Jiah, "suara mereka sangat melengking, Ji," Jiah tersenyum pahit. Semua yang ada disana menatap Jiah dengan tatapan bertanya\\-tanya.
Jiah menyuruh Desi yang merupakan teman satu jurusan mereka untuk menggantikan posisinya. Desi menyetujui. Jiah perlahan keluar dari keramaian dan mulai berjalan menjauhi Nova. Kemudian ia juga mulai menceritakan apa yang dialami gadis malang tersebut.
"Jiah! Jangan cerita!" Sontak semua kaget mendengar pekikan dari Nova. Bagaimana bisa Nova mengetahui nya. Bahkan ia saja tidak tahu siapa yang berada disampingnya kini.
Jiah menelan ludahnya. Kakinya mematung. Lidahnya Kelu. Setelah di tepuk pundaknya oleh mahasiswa lainnya, Jiah mulai melangkah kembali mendekati Nova.
"Maafkan aku," lirih Jiah merasa bersalah. Darah yang keluar dari telinga nova kian menderas. Tidak ada satupun obat yang berhasil membuat nya berhenti. Nova mengangguk.
"Mereka memarahi ku, Ji," kini siapapun yang berada disana diam mematung. Satu persatu mulai mundur perlahan, setelah itu berlari untuk menjauh. Siapa sangka hidup Nova akan menjadi seperti ini?