
Setelah membersihkan darah yang ada di punggung Nova, Kak Tania menyuruhnya untuk beristirahat di rumahnya. Nova tidak membantah. Biarlah dia disini daripada dirinya harus mengganggu Kak Maura.
Tidak butuh waktu lama untuk Nova terlelap. Mendengar dengkuran halus dari Nova, membuat Kak Tania yakin, kalau gadis itu telah tertidur pulas.
Kak Tania mengusap pucuk kepala Nova. Entah mengapa ia ingin berbicara dengan makhluk-makhluk yang sudah hampir lima tahun pergi dari nya.
"Hai, apa kabar?" Tanya Kak Tania sambil memperhatikan wajah Nova. Mulut Nova bergerak. Seperti orang mengigau.
"Hai, Tania. Aku baik. Sangat baik!" Itu jelas bukan suara Nova. Suara yang keluar dari mulut Nova terdengar nyaring.
" Mana kakak mu, Xiaxi?" Kini Kak Tania seperti berbicara dengan orang tidur.
"Oh, Cropte. Untuk apa kamu mencarinya? Kamu sudah melupakan nya bukan?" Kak Tania terkekeh kecil.
"Bicara dengan siapa kau?!" Kak Tania tersentak. Suara itu,,,. Suara kakek-kakek itu adalah suara yang paling ia takutkan dulu. Bagaimana bisa suara itu juga berada didalam tubuh Nova?
"Eh, anu, aku berbicara sendiri," jawab suara nyaring itu, gugup. Kak Tania mendengar nya.
"Enyahlah! Kau bahkan dulu hampir membunuh kami!"
"Aaaaaaakh!" Kak Tania terkejut, mendengar suara Nova berteriak. Itu suara Nova bukan suara yang lainnya. Kak Tania merasa bersalah. Ia mencoba menenangkan Nova juga dirinya.
"Jangan ganggu dia, oke?" Pinta Kak Tania takut-takut. Nova tertawa. Suara nya terdengar sangat menyeramkan.
"Kalian yang mengganggu nya!" Bentak suara bariton tiba-tiba. Kak Tania tahu siapa pemilik suara bariton tersebut. Ia pernah melihat wujud nya. Dulu Kak Tania menganggap lelaki tersebut nyata. Ternyata lelaki itu bisa merubah dirinya menjadi sangat seram.
" Apakah kami terlihat mengganggu nya?" Cropte tertawa mengejek. Kak Tania mengambil tisu dan membersihkan keringat yang keluar dari dahi Nova. Ia tidak tega dengan Nova. Tetapi ia harus menyelesaikan ini.
" Kalian ketakutan! Kalian juga terlalu penasaran! Bahkan kini kau melakukan nya karena penasaran, bukan!" Tangan Kak Tania sedikit bergemetar. Ada benarnya juga.
" Kalian tahu, suara kalian juga mengganggu nya!" Kini Kak Tania ikut terbawa emosi. Nova tertawa dalam tidurnya. Tidak lama, tawa tersebut berganti dengan teriakan panjang dan menyayat.
"Hentikan!" Teriak Kak Tania melihat Nova yang menangis kesakitan. Ia mencari-cari bagian tubuh Nova yang sakit.
"Dimana nova?" Tanya Kak Tania, prihatin. Tangan Nova menunjuk lengan atas nya. Kak Tania segera menyingkap baju Nova bagian lengan nya. Seketika Kak Tania tidak bisa berkata-kata.
Terdapat goresan yang cukup dalam di lengan gadis tersebut. Tetapi bukan itu masalah nya. Masalahnya ada di tulisan goresan tersebut. "Lusa"
Nova terbangun dan meringis saat merasa bagian tubuhnya yang terasa perih. Kak Tania menyuruhnya untuk tetap berbaring dan tenang. Kak Tania telah menelepon dokter kenalannya. Lengan Nova tetap harus diobati agar tidak terjadi infeksi.
"Kenapa, Kak?" Nova heran dengan raut wajah Kak Tania yang sedikit gelisah dan panik. Kak Tania menggeleng.
"Maksud tulisan ini apa, Kak?" Nova kini melihat lengannya yang tergores. Mengeluarkan darah segar. Bahkan darah itu kini menembus tisu yang berada diatas nya.
"Kamu baik-baik aja?" Tanya Kak Tania mengganti tisu yang berdarah tadi dengan tisu baru. Nova mengagguk.
"Kok bisa?!" Tanya dokter muda tersebut kaget begitu melihat lengan Nova. Tidak hanya itu, Kak Tania juga memberitahukan tentang goresan yang ada di punggung nya.
Dokter tersebut terlihat bingung.
"Kamu tawuran?" Pertanyaan Lugu itu keluar dari mulut dokter begitu melihat banyak nya cakaran-cakaran.
Nova dan Kak Tania bingung harus menjawab apa. Masalah nya, goresan-goresan itu membentuk kode-kode tertentu.
"Tapi kayak nya bukan karena tawuran, deh," dokter tersebut, tetap membersihkan goresan itu dengan tenang. Tidak ada yang merespon.
"Kamu percobaan bunuh diri?" Pertanyaan konyol kedua kalinya terlontar. Nova menahan tawa. Ia tidak pernah untuk mengakhiri hidupnya dengan tragis.
" Tunggu!" Dokter itu mengamati goresan di lengan Nova dengan seksama. Kini dokter tersebut juga menjentikkan jarinya. Keduanya saling bertatapan. Apa yang terjadi dengan dokter itu?
" Saya tahu. Tetapi saya tidak akan bicara. Karena dulu, kamu juga seperti ini, kan Tania?" Tanya menautkan kedua alisnya. Ia tidak pernah mengalami hal seperti itu. Itu mengerikan. Tania emang menjalani hidup nya yang mengerikan. Tetapi tidak seseram hidup Nova.
"Ah, ya kamu di bius, waktu itu. Sini punggung kamu!" Dokter itu menyuruh Kak Tania untuk berbalik badan. Nova melihat nya. Nova melihat bekas goresan yang sangat panjang di punggung Kak Tania. Apakah punggung nya juga seperti itu?
"Kamu lihat, kan Nova?" Nova mengangguk tidak percaya. Siapa sebenarnya Tania? Lalu mengapa Nova menjadi incaran selanjutnya?
Kak Tania menunduk lemah. Ternyata nasib nya tidak jauh beda dengan Nova. Dokter tersebut adalah dokter kenalan keluarga Kak Tania. Bahkan keluarga Kak Tania selalu mengandalkan dokter Frita ketika keluarga nya sedang sakit. Wajar saja, jika dokter tersebut mengetahui tentang Tania.
"Baiklah, ini saya kasih obat pereda nyeri, antibiotik, dan perban nya diganti sehari sekali," Nova mengangguk sambil menerima beberapa jenis obat yang diberikan dokter tersebut. Dokter Frita berdiri dari duduk nya. Menatap Kak Tania dan Nova bergantian.
"Kurangi interaksi dengan siapapun yang bukan dunia kalian," itulah petuah terakhir dari dokter Frita sebelum meninggalkan rumah Kak Tania. Kedua nya tercengang. Kak Tania mendekati Nova.
"Maaf, aku menyuruh mereka untuk tidak mengusik kita. Tetapi seperti nya mereka tidak suka dan malah menyiksamu," Nova tersenyum sambil menahan perih.
"Terimakasih, Kak. Tapi bolehkah aku tahu, kenapa mereka takut dengan kakak?" Tanya Nova sedikit penasaran. Kak Tania menggeleng.
"Aku selalu latihan tinju. Jadi ku pikir, mereka sering terkena pukulan ku," keduanya tertawa kecil. Benarkah? Apakah dirinya harus ikut tinju juga? Tetapi bukan itu tujuan nya pergi ke Batam.
"Dia salah. Dia nggak pernah tau alasannya," bisikan kecil namun penuh misteri itu kembali hadir di telinga Nova. Nova sedikit merinding. Ia ingin kembali ke kamarnya. Karena jam telah menunjukkan pukul dua belas siang.
"Kamu aman, kan diatas?" Nova mengangguk. Ia harus memaksakan diri untuk berani. Kalau boleh jujur, sebenarnya Nova sangat ketakutan. Bahkan ia selalu menangis akhir-akhir ini. Kenyataan lebih kejam dari mimpinya.
"Kamu harus melewati masa-masa ini untuk melupakan mimpi buruk mu itu," suara itu kembali terdengar. Tetapi ia tidak menggubris. Ia memilih untuk keluar dan sekilas melihat terangnya suasana. Disertai angin yang sepoi-sepoi. Ia menaiki anak tangga, hati-hati. Baru saja dirinya berada di anak tangga kelima, ia merasa tubuh nya terpental ke bawah. Ia menjerit.
"Nova!!" Setelah itu, semua menggelap.
"Ayo kita bermain-main lagi!" Suara anak kecil itu dengan tawa seringai nya.