
Siang itu suasana lebih terik dari siang sebelumnya. Nova sangat menikmati permainan yang diadakan. Kapan lagi ia akan bersenang\-senang setelah ini? Ia melihat ada banyak orang hari ini. Semua begitu menikmati acara siang itu.
"Ji, hari ini lebih ramai ya," Jiah menatap Nova terheran\\- heran. Setahu Jiah sama saja.
"Apa ada mahasiswa tambahan, ya?" Jiah menyadari sesuatu dari Nova. Jiah berusaha tenang.
"Nggak ramai, kok. Perasaan mu aja mungkin," Nova menatap Jiah yang sedang melihat nya dengan tanda tanya besar. Melihat ekspresi Jiah, Nova langsung menunduk. Nova menyadari nya kesalahan yang kesekian kalinya.
"Maaf membuat mu tidak nyaman," Jiah menggeleng. Bukan seperti itu maksudnya. Hanya saja, ia iba dengan temannya kini. Jiah mendekatkan dirinya ke telinga Nova.
"Malam ini nginap rumah ku aja, ya. Gimana?" Nova diam. Apakah kehadirannya akan merepotkan?
" Aku tinggal bersama kakak ku. Kami hanya berdua," Jiah berhasil membaca pikiran Nova. Tanpa pikir panjang Nova mengiyakan. Ia butuh penenangan saat ini. Nova dan Jiah kembali fokus kepada permainan nya. Permainan kali ini tidak susah. Mereka hanya perlu menyusun kata dalam bahasa asing.
Malamnya, Jiah dan Nova pulang dengan motor Jiah. Malam ini Nova akan menginap di rumah Jiah. Ia berharap setelah ini, pikirannya kembali jernih. Jiah menawarkan makan malam di tepi jalan. Nova menyetujui.
" Warung itu aja, gimana?" Tunjuk Nova, kesebuah kedai kecil di pinggir jalan. Kedai tersebut seperti nya menjual soto. Jiah menggeleng. Bukan karena tidak menyetujui nya. Akan tetapi tidak ada kedai yang ditunjuk Nova. Jiah tidak mengatakannya. Ia takut kalau Nova semakin terpuruk.
Setelah mereka menghabiskan makanan mereka, keduanya kembali menuju rumah Jiah yang ternyata tidak terlalu jauh dari kampus mereka. Sesampainya di rumah Jiah, keduanya disambut hangat oleh kakak Jiah yang berpenampilan sederhana namun keren.
" Kawan mu?" Jiah mengangguk. Nova mengulurkan tangan, " Nova, kak," perempuan yang dipanggil kak itu menerima uluran tangan Nova.
"Naya," ketiganya tersenyum. Jiah segera mengajak Nova pergi menuju kamar.
Melihat design dan warna kamar Jiah, ia jadi teringat kamar nya yang berada di Jakarta. Apakah dirinya dan Jiah mengalami kesamaan dalam warna favorit?
"Suka warna peach, Ji?" Jiah meletakkan tasnya di atas meja belajar. Kemudian mengangguk. Jiah berjalan menuju lemari dan mengeluarkan dua buah kaos polos berwarna pink dan jingga. Lalu ia melemparkan kaos berwarna pink untuk Nova.
"Iya, aku suka kali warna peach. Kamu?" Sahut nya dan kembali bertanya. Nova mengangguk. Jiah memastikan. Keduanya saling bersorak heboh setelah mengetahui bahwa keduanya pecinta warna peach.
"Nggak nyangka ketemu teman jauh, pecinta warna peach," ujar nya berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar nya. Nova tertawa dan mengiyakan.
Malam itu keduanya saling bercerita tentang kehidupan mereka di masa lalu. Tanpa mereka sadari, jam telah menunjukkan pukul satu malam. Nova melihat Jiah telah terlelap. Nova juga segera tidur. Sebelum ia memejamkan matanya, ia mendengar handphone nya berbunyi. Pertanda pesan masuk. Terlalu malas badannya untuk berjalan menuju tasnya yang tergantung dibelakang pintu kamar Jiah. Nova memilih untuk mengabaikan pesan tersebut dan terlelap.