
Karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk Nova tetap bertahan disana, akhirnya Jiah mulai menuntun Nova menuju motornya. Mereka pulang setelah mendapat izin dari kakak pembina yang memimpin mereka.
Nova terus terisak\\-isak disepanjang perjalanan. Tidak ada kata yang keluar dari mulut gadis itu. Jiah membawa motornya secepat mungkin. Lagipula jalanan kota Batam tidak terlalu ramai pada siang hari.
"Kost ku aja," ucap Nova pelan. Jiah mengerutkan dahinya. Kost nya? Ia gila apa? Jiah menggeleng. Nova terus memohon. Jiah tidak mau mendengarkan.
"Mereka marah aku dirumah mu," Jiah memberhentikan motornya tiba\\-tiba. Jiah menoleh kebelakang. Melihat Nova yang tertunduk lemah tidak berdaya. Jiah sangat prihatin. Siapa mereka yang dimaksud Nova? Apakah gadis tersebut bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain?
"Mereka siapa, Nov?" Tanya Jiah masih tetap melihat Nova. Nova menggeleng.
"Aku tidak tau. Aku hanya bisa mendengar," Jiah bernapas sedikit lega. Setidaknya teman nya itu tidak melihat. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya harus menjadi Nova. Jauh dari sanak keluarga dan nasibnya yang sedikit kurang beruntung.
"Oke kita ke rumahmu. Tapi aku disana juga, ya?" Jiah berpikir itu lebih baik. Nova butuh teman. Nova mengangguk.
Jiah kembali menjalankan motornya. Hingga mereka sampai di kost Nova. Kedua nya turun dengan posisi Jiah merangkul Nova. Keduanya melewati Bu Tinah. Bu Tinah tampak khawatir.
"Kenapa, nak?" tanya Bu Tinah segera menghampiri Nova. Nova tersenyum dan menggeleng. Jiah yang menjawab, " nggak enak badan, Bu," Bu Tinah hanya mengangguk.
"Awal masuk kuliah selalu begitu. Dulu saya juga begitu," Bu Tinah ikut membantu membawa Nova memasuki kamarnya. Nova menidurkan dirinya di atas kasur. Bu Tinah menatap telinga Nova tanpa disengaja.
"Ya ampun, sampai berdarah," Jiah mengangguk. Sedangkan Nova, gadis itu sedang berusaha untuk tidur. Ia ingin melupakan kejadian hari ini.
"Kok bisa?" Jiah menggeleng.
"Kepanasan mungkin, Bu," Bu Tinah hanya manggut\\-manggut.
"Ibu buatkan teh dulu, ya," ucap Bu Tinah sembari berjalan menuju pintu. Jiah hanya tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih, Bu," Bu Tinah keluar kamar. Jiah mengamati kamar temannya tersebut. Tidak ada yang aneh, pikir Jiah. Nova terlihat mulai terlelap. Jiah bersyukur dalam hati. Jiah merasa ingin ke kamar mandi sebentar. Gadis berambut ikal itu berjalan menuju kamar mandi untuk buang air kecil.
Ketika jiah keluar dari kamar mandi, ia melihat Bu Tinah memasuki kamar Nova dengan membawa segelas teh hangat di tangan nya. Bu Tinah meletakkan gelas tersebut diatas meja kecil yang terletak di samping ranjang Nova.
"Mungkin imun Nova, termasuk lemah," ujar Bu Tinah mengamati wajah Nova yang terlihat pucat. Jiah mengangguk. Kedua nya saling mengobrol hingga mereka menyadari Nova terbangun dari tidurnya. Nova terlihat begitu kaget dengan kehadiran Jiah dan Bu Tinah. Tangan Nova kini mengambil tas dan mencari\\-cari sesuatu.
"Cari apa, Nov?" Tanya Jiah. Nova menggeleng.
"Alarm," baik Bu Tinah maupun Jiah kini menatap Nova terheran\\-heran.
"Aku dengar suara alarm. Mana handphone ku," Jiah menggeleng. Lalu mengeluarkan handphone Nova dari saku Jiah. "Nah,"
"Dan satu lagi, tidak ada suara alarm apapun disini," jawaban Jiah membuat Nova harus menyadarkan dirinya secepat mungkin. Alarm itu lagi, batin Nova. Bu Tinah masih dengan tatapan nya yang kebingungan.
Jiah kembali melanjutkan obrolan dengan Bu Tinah. Gadis itu tampak menyukai obrolan mereka. Nova masih terdiam. Tangan nya mengotak\\-atik handphonenya. Jiah benar. Tidak ada suara alarm disini. Lalu dimana? Nova menghembuskan napas kasar. Bu Tinah menawarkan nya untuk minum teh hangat terlebih dahulu. Nova menurut.
"Eh Maura, baru pulang?" Tanya Bu Tinah. Gadis yang dipanggil Maura itu, tersenyum.
"Iya, Bu," Bu Tinah memperkenalkan Jiah dengan Maura. Setelah itu semua kembali ke tempat masing\\-masing.
"Kamu nggak pulang?" Tanya Nova masih duduk diatas kasurnya. Jiah menggeleng.
"Kakak mu?" Tanya Nova kembali.
"Biar aja, haha," Nova geleng\\-geleng kepala. Nova jadi ingin merasakan seperti apa punya kakak.
"Makan pakai apa?" Tanya Jiah. Nova tidak terlihat antusias. Mungkin gadis tersebut kehilangan selera makan.
"Aku pesan nasi padang aja, gimana? Udah pernah makan nasi padang, belum?" Nova menggeleng. Boleh juga, pikir Nova.
"Ya udah nasi padang aja," Jiah mulai berkutat dengan ponsel nya. Mereka delivery nasi padang. Jiah tidak tega untuk meninggalkan Nova. Kasian, pikir Jiah.
Pesanan mereka datang sepuluh menit kemudian. Kedua gadis tersebut mulai menyantap pesanan mereka. Sambil diselingi obrolan ringan. Entah mengapa Nova merasa lebih nyaman. Mungkin ia membutuhkan seseorang atau lebih untuk menemaninya.
"Kamu lahap banget makannya," tutur Nova melihat Jiah yang terus melahap makanan nya. Jiah mengangguk.
"Favorit ku banget," keduanya tertawa kecil. Nova merasakan telinganya yang kembali sakit. Perlahan ia mulai mendengar suara cewek yang memekik dengan nyaring. Disusul oleh suara berat yang berteriak. Keduanya saling bersahutan. Suara mereka tidak dapat diterima baik oleh telinga Nova. Nova merasa kesakitan. Tangannya mulai menutup kedua telinganya. Jiah mulai terlihat panik.
"Nov, Nov, kenapa lagi?" Tanya Jiah. Suara Jiah tidak bisa didengar baik oleh Nova. Ia kini mendengar suara tangisan anak bayi yang saling bersahutan. Nova menggeleng\\-gelengkan kepalanya. Berharap semua akan berakhir.
"Nova," panggil Jiah membantu Nova menutup telinganya. Lagi\\-lagi telinga Nova berdarah. Kini darah yang keluar lebih banyak. Jiah terus memanggil Nova. Tetapi seperti nya suara yang didengar Nova lebih keras dari panggilan nya.
Nova berteriak. Ia tidak sanggup. Matanya kini telah mengeluarkan cairan bening. Nova menangis.
"Saaaaakkkkiiiitttt," Nova terlihat seperti orang yang tidak waras. Jiah sangat panik. Gadis itu memutuskan untuk memanggil Bu Tinah dan siapapun yang berada disana. Nova terus bertarung dengan suara\\-suara itu. Nova memaksakan diri untuk tidak mendengar suara\\-suara aneh tersebut. Ia mencoba untuk membuka matanya yang sebelumnya tertutup rapat. Nova tercengang.
Ia mendapati dirinya bukan di dalam kamarnya lagi. Ia juga tidak melihat Jiah. Ia mulai frustasi. Ia berada di dalam pesawat.
"Jiaaaaaaah," ia berteriak. Tidak mungkin. Tidak mungkin Jiah menghilang. Ia melihat ke sekeliling nya. Ia mendapati semua penumpang pesawat sedang tertidur pulas. Napasnya tersengal\-sengal. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap jendela. Ia berada di antara awan\-awan. Nova mengambil segelas air putih dan meminumnya.
"Selama ini???" Tanya nya dalam hati. Ia menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya dan menutup kedua matanya. Ia berharap ia hanya pingsan dan sedang bermimpi. Ia ingin menemui Jiah. Ia ingin berterima kasih. Sudah hampir lima menit ia seperti itu dan nyatanya ia masih berada di dalam pesawat. Tidak. Tidak mungkin selama ini ia bermimpi. Semua itu terlihat nyata. Tetapi disisi lain ia bersyukur jika itu hanya mimpi. Setidaknya ia tidak mengalami hal\\-hal aneh lagi.
Tetapi Jiah? Kemana pergi nya Jiah. Apakah Jiah termasuk bagian mimpinya juga. Nova hampir gila saat ini. Sudah dua kali ia mengalami hal nyata namun ternyata mimpi. Ia mengecek ponselnya. Tanggal dua belas Mei. Ia melihat jam. Baru dua puluh menit dari penerbangan nya. Ia tidak bisa mempercayai ini. Jadi semua yang ia lalui itu, hanya sebuah mimpi?! Nova menunduk dan mulai berteriak. Ia berharap orang disekitar nya mendengarkan teriakan nya. Ia benar\\-benar frustasi.
Bagaimana mungkin, semua yang ia lalui ternyata hanya sebuah mimpi selama dua puluh menit penerbangan?!