The Lost Way

The Lost Way
Suara Jantung?



 


Setelah kak Maura keluar dari kamar, Nova melihat handphone nya Kembali. Jam menunjukkan pukul enam sore. Ia ingin pergi ke tempat Kak Tania. Tetapi ia takut kalau\-kalau kehadiran nya akan mengganggu kak Tania.


Terdengar suara pintu terbuka. Tidak berapa lama terlihat wajah seorang wanita yang sedikit kelelahan. Nova tersenyum ramah kepada perempuan tersebut. Begitu pula dengan perempuan itu.


" Baru sampai?" Tanya perempuan yang ia duga adalah Kak Tiara. Nova sempat sedikit bersyukur, bahwa wajah wanita itu tidak mirip dengan kak Tiara yang ada di dalam mimpinya. Nova mengangguk.


"Iya, kak,"


Perempuan itu berjalan menuju kasur nya yang terletak di seberang ranjang nya. Perempuan itu melepaskan ikatan rambutnya.


"Dari tadi sendiri?" Tanya kak Tiara yang kini duduk di tepi ranjang nya. Perempuan itu menatap Nova dengan ramah.


"Tidak juga. Kak Maura baru saja pergi," lalu keduanya mulai mengobrol ringan. Kak Tiara merupakan seseorang yang mudah bergaul dan sedikit pendiam. Ia berhasil membuat Nova tidak terlihat canggung sama sekali.



"Awal kuliah emang enak. Tahun kedua? Haha, rasanya kayak mau jadi anak TK lagi," Nova terkekeh mendengar Kak Tiara bercerita. Nova harus membenarkan ucapan Kak Tiara. Karena gadis itu kini berada di tahun ketiga dari masa kuliah nya.



"Sebentar lagi, lulus dong, kak," Kak Tiara menjentikkan jarinya.



"Go to Medan, haha," oh, ternyata Kak Tiara anak rantauan, gumam Nova dalam hati. Malam itu, Nova baru bisa terlelap pada pukul sebelas malam. Untunglah masih ada waktu lima hari lagi untuk bersantai\\-santai.



Keesokannya harinya, Nova ingin berjalan\\-jalan sekaligus membeli peralatan yang belum lengkap. Ia tidak mungkin meminta Kak Tiara menemaninya. Kak Tiara harus segera bekerja pukul tujuh pagi. Kak Tania? Perempuan itu memang memiliki penampilan seperti seorang gadis. Tetapi sebenarnya kak Tania sudah menikah. Jadi, tidak ada waktu untuk menemani Nova. Ia juga tidak ingin merepotkan orang lain.



Ia pergi ke sebuah mall yang paling dekat. Disana ia mulai mengelilingi seluruh mall. Hingga ia merasa kelelahan dan memilih untuk mengisi perut nya yang mulai demo. Ia memilih KFC untuk pengisi lambungnya. Ia memilih kursi yang terletak paling ujung dekat jendela.


Sambil menunggu pesanannya, ia mengedarkan pandangan nya keseluruh tempat. Matanya terkunci pada seorang lelaki yang sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Keduanya berada di seberang Nova. Ia melihat Lelaki itu terus berbicara. Sementara si perempuan hanya sibuk dengan ponselnya. Ia terhenyak. Kejadian itu mirip dengan dirinya saat pertama kali ia pergi ke mall. Tapi lagi\-lagi Nova harus memulihkan pikirannya. Bahwa itu hanya mimpi.


Merasa penasaran, Nova terus mengamati dua makhluk tersebut. Tetapi tidak ada apa\-apa. Ia harus bisa move on dari mimpi buruk nya itu dari sekarang. Nova segera menyantap pesanan nya begitu melihat makanan yang ia pesan telah dihidangkan di hadapannya.


Ia kembali ke kost nya tepat pukul empat sore. Ia bertemu dengan kak Maura tepat di depan pintu kamarnya. Kak Maura sedang menikmati suasana sore.


"Belanja, ya?" Nova mengangguk dan tersenyum. Lalu segera memasuki kamar. Nova mengamati wajah Kak Maura yang terlihat bingung. Dengan hati\-hati, Nova menghampiri Kak Maura dan menanyakan keadaan nya.


"Nggak kok, aku baik\-baik aja," Nova tersenyum. Meski kurang percaya dengan jawaban Kak Maura. Keduanya kini duduk di kursi yang terdapat di depan kamar mereka. Tidak ada pembicaraan. Keduanya sama\-sama memilih untuk tenggelam dalam benaknya masing\-masing.


Tiba\\-tiba Kak Maura memukul pelan lengannya. Nova tersentak dan menoleh.


 


"Apa di mimpimu juga ada suara alarm?" Nova membelalakkan matanya kaget. Jantungnya kembali berpacu dengan cepat. Kak Maura langsung merasa bersalah.


 


"Eh, ehm, maksud ku nggak gitu. Maaf kalau membuatmu teringat kembali. Aku menanyakan ini pada semua orang, kok. Serius. Sumpah," ujar Kak Maura panjang kali lebar. Tangan nya mengelus punggung Nova, menenangkan. Nova menutup kedua matanya. Berusaha menenangkan diri. Kenapa harus kaget gitu, sih?, Gerutu Nova dalam hati.


"Emang nya ada apa, kak?" Ia bertanya ketika merasa dirinya mulai kembali netral.


"Kamu yakin mau dengar cerita ku?" Nova mengangguk pasti. Ingat Nova, mimpi dan nyata itu tidak berkaitan, hibur Nova pada dirinya sendiri.



Nova mengutuk dirinya sendiri. Sudah dibilang jangan mengaitkan mimpi dengan kenyataan. Ini bisa membuatnya menjadi kehilangan akal sehat.


"Coba kalau dengar lagi, nggak usah direspon," Nova hanya memberikan pendapat sesuai yang ada di dalam mimpinya. Ia emang tidak ingin mengaitkan. Tetapi mau tidak mau, ia juga membutuhkan itu. Kak Maura tersenyum dan berterimakasih padanya. Nova tersenyum.


"Kak Tiara aman, kan?" Tanya Nova. Kak Maura diam. Membuat Nova menjadi tidak karuan. Kak Maura menggeleng. Jantung Nova kembali berdegup kencang.


"Nggak tau," parno. Dasar parno, umpat Nova. Hanya sebuah gelengan ia sudah khawatir? Harus cepat\-cepat dihilangkan perasaan seperti ini. Bahaya kalau ia masih seperti ini disaat kuliah nanti. Bisa\-bisa diduga gila.


Kak Maura segera kembali ke kamar untuk bersiap\\-siap pergi kerja. Nova memilih untuk tetap duduk menikmati similir angin senja. Teringat kembali tentang mengapa dirinya bisa berada disini.


Di masa\-masa terakhir putih abu nya, ia dan ketiga temannya berencana untuk melanjutkan pendidikan di sekolah masak yang berada di Batam. Tetapi ketika tes, hanya Nova yang berhasil alias lolos. Mau tidak mau, ia harus pergi ke Batam. Walaupun tanpa teman. Tanpa sanak saudara. Ia hanya bermodalkan komunikasi untuk merasa aman. Namun siapa sangka dirinya kini terserang delusi.


"Hai, Nova," ia menoleh dan mendapati Kak Tiara yang baru saja pulang. Nova melambaikan tangannya.


"Eh, maur, cepat amat jam lima udah let's go, biasa juga masih main hp," seru Kak Tiara yang tidak sengaja bertemu dengan kak Maura di depan pintu. Kak Maura hanya tersenyum.


"Nanti malam restoran kami kedatangan tamu istimewa," jawab Kak Maura berbangga diri. Nova hanya mengamati kedua makhluk itu. Seperti nya mereka berdua tampak sudah saling akrab.


"Jangan lupa oleh\-oleh," Kak Tiara memperingati. Kak Maura mencubit lengan lawan bicaranya. Nova anggota paling muda disini.


"Eh, Nov, mau oleh\-oleh apa?" tanya Kak Maura. Nova yakin itu basa\-basi.


"Apa yang ada aja, gimana?" tanya Nova balik. Kak Tiara tertawa. Kak Maura terlihat bingung.


"Biasanya ada CEO muda, sih. Itu aja oleh\-oleh nya, Nov," celetuk Kak Tiara sambil berjalan ke dalam kamar. Nova dan Kak Maura tertawa. Korban novel.


Selepas perginya Kak Maura, Nova mendengar suara guyuran dari kamar mandi. Oke Nova baru mengingat bahwa dirinya belum berbenah diri. Ia beranjak dari kursinya dan memasuki kamarnya. Saat kakinya mulai melangkah kedalam, tiba\\-tiba lampu kamar mati. Semua gelap. Terdengar suara Kak Tiara yang berteriak ketakutan. Begitu pula dengan Nova.



"Siapa yang suruh kasih tau, hah?!" tubuh Nova nyaris membeku kini. Ia tidak dapat membuka matanya. Denyut nadinya? Ia bahkan bisa mendengar denyut nadinya sendiri. Suara siapa itu? Siapa yang dimaksud suara itu? Nova berusaha menepis suara itu. Tetapi lagi\\-lagi suara itu bergema di indera pendengaran nya.



"Jangan pura\\-pura nggak dengar?" ya tuhan. Nova terduduk lemas. Tulang kaki nya tidak sanggup untuk berdiri.



"Jawab aku, atau tidak,,,,"



"Nova!!!" spontan Nova membuka matanya. Hal yang pertama ia lihat adalah wajah Kak Tania. Nova mendapati dirinya terbaring di pangkuan Kak Tania.


"Kamu baik\-baik aja?" tanya Kak Tania, khawatir. Nova belum bisa memberikan sedikitpun jawaban. Lidahnya sangat Kelu. Ia melihat Kak Tiara keluar dari kamar mandi. wajah Kak Tiara sangat ketakutan. Lalu menyengir begitu melihat kak Tania.


"Hehe, sorry kak," Kak Tania tersenyum tipis. Lalu kembali menatap Nova.


"Sulit dijelaskan," hanya itu yang keluar dari mulut Nova, akhirnya. Kak Tania terlihat lebih khawatir. Nova berusaha membuat kak Tania tidak khawatir.


"Ada apa, Kak?" tanya Kak Tiara mendekati kak Tania dan Nova. Kak Tania menggeleng.


"Mau keliling\-keliling aja," setelah itu, ketiga nya berbincang\-bincang. Hingga tidak terasa malam mulai kembali menyapa. Nova tidak terlalu menyukai malam, akhir\-akhir ini.


Disaat dirinya mulai merasa tenang dan akan terlelap, ia merasa bahwa ada yang berjalan mendekati nya. ia berpikir itu Kak Tiara. Tetapi ia tetap tidak ingin membuka matanya. Ia hanya ingin fokus tidur.


"Siapa yang suruh kasih tau, hah?!" Nova berusaha mengabaikan bisikan itu. Bisikan yang penuh ancaman. Bisikan yang membuat nya tidak bisa tidur semalaman. Bukan nya ia takut dengan bisikan tersebut. Hanya saja, suara aneh itu terus menanyai nya tanpa henti.