
Seperti nya Nova memang tidak di izinkan untuk pergi ke kamar nya. Nova dibawa kembali oleh Kak Tania ke rumah nya. Untunglah Nova memiliki orang sebaik dan sesabar Kak Tania. Ia tidak tahu bagaimana nasibnya jika bertemu dengan pemilik kost yang cuek dan dingin. Atau bahkan ketus dan judes.
"Mau kemana gadis kecil?" Suara itu seperti suara ibu-ibu antagonis di drama yang pernah Nova lihat. Pandangan nya memang gelap. Tetapi suara-suara itu tidak sirna.
"Kau tidak boleh pergi dari sini," sambung suara Cropte. Kak Tania berusaha untuk menyadarkan Nova. Ia yakin, Nova sedang dihadang oleh makhluk tak kasat mata.
"Ayo bangun! Kita main lagi!" Seru suara anak kecil tadi. Ada berapa anggota keluarga, sih disini? Nova sadar, tubuhnya diguncang oleh Kak Tania. Tetapi matanya tidak bisa terbuka. Seperti ada yang menduduki nya.
"Ayo bicara! Nova tega membiarkan kami. Hihihi," aduh. Makhluk ini gimana, sih? Ia mengucapkan sesuatu yang menyedihkan. Tetapi ia terkikik.
"Nova bangun!" Ah, itu suara Kak Tania. Ia berusaha menggerakkan jarinya. Ia tidak ingin membuat Kak Tania khawatir.
"Jangan pergi! Bahkan kamu belum menyentuh mainan yang aku bawa," sewot anak kecil itu lagi. Nova memaksakan matanya untuk bergerak. Sayangnya, ia tidak mampu.
"Katakan sesuatu, Nova!" Seru suara kakek-kakek. Meraka emang gila. Bagaimana ia bisa bicara, sedang mulutnya tak mampu bergerak.
"Permainan tadi belum selesai! Kamu lemah! Baru luka sedikit, udah histeris," pekik anak kecil tersebut. What? Cakaran menyakitkan itu dibilang mainan?? Terus bagaimana kalau ia melanjutkan mainan nya? Akankah dia mati??
"Nova, kalau kamu nggak bangun, aku telepon orang tua mu," ujar Kak Tania sedikit mengancam. Nova emang selalu melarang siapapun untuk memberitahu peristiwa ini kepada orang tua nya. Atau keluarga nya di Jakarta.
Nova mendengar suara Kak Tania berjalan. Mungkin wanita itu ingin mengambil handphone nya. Ia memaksakan dirinya sekuat mungkin. Melawan semua yang dilemparkan ke arahnya.
"JAHAT! NOVA JAHAT!" Anak kecil itu menangis sejadi-jadinya. Nova tidak peduli. Ia harus bangun. Ia merasa tubuhnya mulai melayang. Angin terus menerbangkan nya sekuat mungkin. Ia keluarkan semua tenaga yang ada.
"Huh, akhirnya kamu sadar. Hampir saja aku menelepon keluarga mu," kini Nova berhasil membuka matanya. Hanya membuka mata, membutuhkan tenaga yang dahsyat. Ia melirik ke arah Kak Tania yang bernapas lega. Nova pikir, dirinya sudah sadar seutuhnya. Ternyata tidak. Tangan nya tidak bisa digerakkan. Begitu pula dengan kakinya.
Hanya leher dan mata. Seperti orang struk. Ia memanggil Kak Tania dengan suara yang sangat pelan. Nyaris tidak terdengar.
"Tunggu," Kak Tania mulai membantu Nova untuk menggerakkan kaki dan tangan Nova. Sakit. Itulah yang dirasakan Nova. Ia seperti orang yang sedang terapi kaki yang lumpuh.
"Kak, sakit!" Nova mengeluh kesakitan. Kak Tania menguatkan. Tangan nya terus memijat dan menekan kaki Nova.
"Kamu hebat Nova! Kamu pasti bisa!" Terdengar meneduhkan ucapan Kak Tania. Apakah ia juga diperlakukan seperti itu, dulu?
"Terima kasih, kak. Aww," Nova meringis ketika telapak kakinya diputar-putar. Kak Tania semakin memutar nya. Nova tidak henti-hentinya berteriak kesakitan.
Hampir dua jam ia menghabiskan waktunya untuk berteriak kesakitan. Kini, ia merasa semua telah bisa digerakkan. Ia menangis. Kali ini ia bukan menangis kesakitan. Ia terharu. Ia memeluk Kak Tania.
"Kita sama, Nova. Hanya saja aku dibantu oleh keluarga ku, dulu," Nova mengagguk dan melepaskan pelukan nya.
"Kenapa kamu nggak bilang ke keluarga mu aja, Nov?" Tanya Kak Tania, duduk di samping Nova. Nova menggeleng kuat.
"Kamu pernah bertemu siapa selain Cropte?" Tanya Kak Tania. Nova menggeleng.
"Tidak ada,"
"Hei, kalian jangan marah, ya. Aku ingin cerita. Biar nggak sepi," bisik Kak Tania di telinga Nova. Awalnya Nova heran dengan ucapan Kak Tania. Kalian??
Setelah mendengar jawaban iya, dari makhluk aneh itu, Nova baru memahami.
"Mereka ada sepuluh orang," Kak Tania mulai bercerita. Keduanya duduk berhadapan.
"Udah tambah satu!" Suara nyaring itu protes.
"Sebelas, kak," koreksi Nova, tersenyum.
"Oh, ya. Mereka memberitahu mu?" Nova mengangguk.
"Ada kakek, ada ibu, ada anak gadis lima, anak kecil dua, dan Cropte," Nova mendengar suara cekikikan. Ia tidak tahu bagaimana keadaan rumah siput nya saat ini.
"Tania belum pernah berjumpa dengan ayah," Nova kembali memberitahu kak Tania tentang ucapan anak kecil tersebut.
"Apa Tania ingin berjumpa dengan ayah?" Nova layaknya tukang pos yang memberitahukan apa yang diucapkan makhluk aneh itu kepada Kak Tania. Kak Tania menggeleng.
"Hahaha, pasti Tania masih membayangkan wajah-wajah kami, kan?" Kak Tania diam.
"Siapa yang bicara, Nov?" Tanya Kak Tania. Nova menjawab, suara nyaring.
"Tapi tenang Nova, kami tidak akan menunjukkan wujud kami kepadamu," Nova mengangguk.
"Mereka sangat ramai," lanjut Kak Tania. Nova mengangguk. Telinga nya hampir putus karena suara mereka yang ramai.
"Itulah alasan kami berada di sisi kalian. Kalian kesepian. Menyedihkan," suara tersebut seperti mengejek. Tetapi mereka tidak menggubris nya.
"Benar. Kakak berada di keluarga yang dingin. Sehingga kakak memilih untuk menyendiri. Saat itu lah, mereka hadir. Menyenangkan namun menyakitkan," wajah Kak Tania menjadi murung. Nova memberanikan diri untuk mengelus punggung Kak Tania.
"Sabar ya, kak," Kak Tania tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Nova.
"Gimana kalau Sekarang kita masak? Kita belum makan siang, kan?" Ah, ya Nova lupa dengan makan. Ia mengangguk. Lalu keduanya berjalan menuju dapur dan mulai memasak apapun yang ada disana.
Nova berpikir seperti nya dirinya dan Kak Tania ditakdirkan untuk saling bercerita. Mereka memiliki nasib yang sama. Tetapi bagaimana bisa mereka memiliki makhluk dunia lain yang sama?