
Setelah makan, Nova pamit untuk pergi ke kamar nya. Kak Tania sempat meragukan kepergian Nova. Beberapa kali ia menyuruh Nova untuk tinggal sementara di rumah nya.
"Nggak apa, Kak. Aman kok," ujar Nova santai. Dalam hati, sebenarnya ia sedikit takut.
"Ya udah, kalau ada apa-apa, panggil Kakak," Nova mengangguk dan berjalan ke kamarnya. Menaiki setiap anak tangga yang terasa berat baginya.
"Nova!!!" Teriak Kak Maura girang. Begitu melihat sosok Nova. Nova tersenyum, berusaha menutupi sakit yang dialami nya.
"Udah pulang?" Nova mengangguk pelan. Ia lupa jika dirinya pulang pukul empat. Semoga Kak Maura tidak curiga, batin Nova.
"Mau kemana, Kak?" Tanya Nova sekaligus pengalihan topik. Wajah Kak Maura sangat berseri-seri.
"Nggak kemana-mana. Awalnya mau ke pasar, sih. Eh, mau nggak kalau kita ke pasar bareng?" Kak Maura emang ingin pergi ke pasar. Tetapi Melihat kehadiran Nova, ia jadi takut meninggalkan Nova sendiri di kost nya.
Nova bergumam sebagai tanda setuju. Ia tahu maksud Kak Maura. Ia tidak ingin mengecewakan Kak Maura. Keduanya berjalan menuju pasar yang terletak tidak jauh dari kost mereka.
"Ini buah apa, Kak?" Tanya Nova menunjuk keranjang yang berisi buah berbentuk bulat dan berwarna cokelat.
"Sawo. Ambil lah. Enak, lho," Kak Maura kembali mencari sesuatu yang ingin di beli nya. Nova sedikit tergiur melihat nya. Ia mengambil plastik dan mulai memilih mana buah sawo yang akan ia beli.
Betapa terkejutnya ia saat ia melihat beberapa cacing di genggaman nya. Spontan, ia berteriak histeris. Membuat beberapa pembeli melirik ke arahnya. Kak Maura segera menghampiri Nova.
"Kenapa?" Nova mengipas-kipaskan tangannya untuk membuang cacing-cacing itu. Ia sangat jijik. Ia hampir saja mual.
"Kenapa dibuang sawo nya, Nova?" Pembeli mulai kembali tenang saat melihat Kak Maura menghampiri Nova.
Nova terus membersihkan tangan nya. Baru saja tangan nya bersih, ia kembali melihat ratusan mahluk menggelikan itu di keranjang. Ia memekik.
"Kenapa Nov?" Kali ini Kak Maura langsung merangkul Nova dan berjalan menuju kasir. Kak Maura tidak mau Nova dan dirinya menjadi pusat perhatian.
Kak Maura merangkul Nova hingga keluar pasar. Nova bernapas terengah-engah. Dahinya mengeluarkan keringat.
"Kamu kenapa, Nov?" Kak Maura mulai berpikir sesuatu yang aneh terjadi.
"Cacing," hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari mulut Nova. Kak Maura mengangguk paham.
"Kamu mau coba itu?" Tanya kak Maura, bermaksud sawo. Nova menggeleng.
"Aku yang pilih. Kamu tinggal makan. Sayang, lho kalau nggak coba," Kak Maura berusaha membuat Nova tidak memiliki trauma dengan buah tersebut. Nova mengangguk.
"Kamu ikut atau disini?" Tanya Kak Maura yang dijawab gelengan oleh Nova. Artinya Nova tidak ingin ikut. Kak Maura masuk kembali ke pasar. Menitipkan barang belanjaan nya kepada Nova.
Keduanya kembali pulang setelah semua barang telah terbeli. Nova hanya mengamati jalanan yang hampir ramai. Kak Maura bersenandung kecil.
"Eh, aku rencana mau buat cake, lho. Kemarin habis nonton YouTube," mata Nova berbinar-binar. Ia juga ingin mencoba buat cake.
"Ikutan dong," kak Maura mengangguk. Nova mulai membayangkan cake yang indah dan lembut. Perutnya menjadi lapar lagi.
"Eh, kalau malam kamu aman, kan?" Nova membuang napas pelan. Lalu mengangguk.
"Kalau Kak Maura, masih dengar suara alarm nggak?" Tanya Nova hati-hati. Keempat kaki kecil itu kini memasuki gang dimana kost mereka berada.
"Hmm,,,,kadang, sih,"
"Jam berapa aja?" Tanya Nova lagi.
"Dua jam sekali yang ku tahu," tuh, kan sama.
"Kalau di mimpi kamu?" Tanya Kak Maura, sambil menaiki anak tangga.
"Sama," Kak Maura ber-oh ria. Semoga nasib Kak Maura tidak seperti nasib dirinya.
Baik Nova maupun Kak Maura kini sedang membuat cake sesuai rencana mereka. Kak Maura salah satu orang yang Nova kenal tidak pernah lelah. Ia selalu membuang-buang tenaga nya untuk apapun itu.
Cake buatan mereka telah selesai. Mereka mendekor cake nya dengan hati-hati. Berusaha secantik dan Serapi mungkin. Setelah selesai mereka menyisakan untuk Kak Tiara dan Kak Tania.
"Wih, enak. Padahal baru belajar, hahaha," Nova ikut tertawa. Kak Maura benar. Cake nya terasa manis dan lembut.
"Kapan-kapan buat bareng Kak Tiara dan Kak Tania, yuk, kak" ajak Nova yang diangguki oleh Kak Maura.
Jam menunjukkan pukul enam. Kak Maura masih belum berangkat.
"Mana Tiara, Nov?" Nova menggeleng. Kak Maura telah bersiap-siap untuk bekerja. Tetapi ia tetap tidak akan meninggalkan Nova sendirian.
"Aku ke tempat Kak Tania aja deh, kak. Sekalian kasih cake," Kak Maura tersenyum dan mengangguk. Keduanya menuruni anak tangga bersama.
Tok tok tok
"Kak Tania," panggil Nova, sesekali memandang langit senja yang hampir menggelap. Ia tidak pernah melihat senja sejelas ini, semenjak di Batam.
"Ya ada apa?" Terdengar suara Kak Tania dari dalam rumah. Pintu rumah terbuka. Tetapi yang keluar bukan Kak Tania melainkan suaminya.
"Kak Angga?" Tanya Nova begitu melihat wajah sawo matang dan simetris itu berdiri tegap di ambang pintu. Apa mungkin suami Kak Tania adalah kakak kelas nya di SMP?
"Ya, ada apa?" Suara bariton itu menyadarkan nya. Ia segera memberikan cake yang ia bawa.
"Ini ada sedikit untuk Kak Tania," lelaki yang bernama Angga itu menerima pemberian dari Nova. Ia juga berterimakasih.
"Sama-sama, kak," ketika Nova berbalik badan, lelaki itu memanggilnya. Nova menoleh.
"Kamu tau nama saya darimana?" What?! Jadi kakak kelas nya itu, tidak mengenalnya.
"Ehm, mirip kakak kelas saya, kak" terpaksa Nova menjawab asal.
"Haha, sampai nama nya juga mirip?" Nova mengangguk. Lelaki itu menyudahi pembicaraan. Nova segera kembali ke kamarnya. Ia terpaksa sendiri. Tidak mungkin ia tinggal di rumah Kak Tania.
"Hai Nova," Nova menghembuskan napas pasrah. Ia membuka buku dan mempelajari apapun itu. Ia melihat ponselnya yang sedari tadi belum ia sentuh.
"Yudi?" Tanya Nova pada dirinya sendiri.
"Gimana kabarnya?" Nova ingin membalas. Bahwa dirinya baik-baik saja.
"Jangan dibalas!" Teriakan suara serak itu menghentikan jemarinya.
"Kau mau membuat ku marah?" Nova menggeleng. Ia tetap membalas.
"Keras kepala!" Masa bodo. Ia memilih untuk menjelajahi dunia Maya. Dunia Maya jauh lebih berwarna dan menarik.
"Hei, kenapa kau ketakutan tadi siang, Nova?" Suara nyaring itu tertawa cekikikan. Bisa dibayangkan dalam kamar yang luas. Suara-suara itu terus menghantuinya dan ia sendirian.
"Kau mengesalkan. Kau tidak menghargai pemberian kami!" Suara nyaring itu terdengar tidak menerima tingkah laku Nova tadi siang.
"Aku minta maaf. Jangan ganggu aku. Kita berbeda," entah mengapa tiba-tiba Nova bisa mendengar semua suara tertawa. Membuatnya harus menutup telinga dengan jarinya.
"Hihihihi. Kamu bilang kita berbeda? Ayo kalau gitu, kita samakan!" Seru suara anak kecil penuh semangat. Juga amarah. Apa yang akan mereka lakukan?
"Nova! Buka pintu nya!" Nova mengerjakan matanya. Seketika suasana hening. Hanya suara Kak Tiara yang memanggilnya sambil mengetuk pintu yang terdengar. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Kok dikunci?" Tanya Kak Tiara membawa buket bunga di dekapan nya. Juga beberapa paper bag kecil.
Nova menggeleng. "Nggak kok kak," Kak Tiara berjalan memasuki kamar dan meletakkan bawaan nya diatas kasurnya.
"Huft, capek," Kak Tiara meregangkan badannya. Nova masih melihat pergerakan Kak Tiara.
"Kakak beli buket?" Tanya Nova memperhatikan buket bunga mawar putih. Sangat elegan. Kak Tiara menggeleng lalu tersenyum lebar.
"Dari doi ku dong. Oh, ya kamu belum tahu, kan, hari ini aku umur dua puluh dua, lho," Nova membesarkan matanya. Pantes, Kak Maura mengajak nya membuat cake.
"Wah enak ya, punya kawan banyak. Banyak juga hadiah, nya," kak Tiara tersipu.
"Nanti kamu juga, deh," Nova tertawa. Lalu berjalan menuju tempat dimana cake buatan nya dan Kak Maura berada.
"Nah dari aku sama Kak Maura," Kak Tiara langsung memeluk Nova. Nova merasa bahagia.
"Terimakasih, wah ini favorit aku banget," Nova menyengir. Kak Tiara mengambil cake tersebut dan memakan nya.
"Kamu mau?" Nova menggeleng. Ia sudah kenyang.
Nova tersenyum melihat Kak Tiara memakan cake nya dengan nikmat. Ia juga sedikit geli mendengar Kak Tiara yang terus memuji cake nya.
"Wah, kita belum kasih hadiah untuk Kak Tiara. Nanti malam, ya," suara wanita dewasa itu terdengar lagi. Nova melarang nya. Ia takut, kata hadiah didunia mereka tidak sesuai dengan kenyataan.
"Tidak! Kita akan tetap memberikan hadiah nya," suara wanita dewasa itu tidak mau mengalah.
"Setuju! Setuju!" Sahut suara-suara lainnya.
"Nova, kamu baik-baik aja?" Nova mengangguk. Ia selalu berbohong dengan keadaan.