The Lost Way

The Lost Way
tasya



Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Kak Tiara baru saja keluar dari kamar mandi. Kak Tiara sebenarnya cukup trauma dengan kejadian malam sebelumnya. Tidak hanya itu, ia juga trauma dengan Nova. Ia heran mengapa Kak Maura dan Kak Tania bisa setenang itu.


Ia meletakkan handuk di tempat yang telah disediakan. Ia berjalan menuju kasurnya untuk persiapan tidur. Ia melirik sekilas ke arah Nova yang masih bermain ponsel.


"Belum tidur, Nov?" Nova menurunkan ponsel dari wajahnya.


"Belum, Kak. Belum ngantuk," Kak Tiara tersenyum. Diantara kakak-kakak yang ia kenal, Kak Tiara lah, perempuan yang paling pendiam.


"Besok sekolah, kan?" Nova mengangguk.


"Kakak kerja?" Kak Tiara menggeleng-geleng.


"Kami libur untuk persiapan ganti shift," Nova ber-oh ria. Kak Tiara telah memakai selimut nya dan seperti nya mulai terlelap.


"Nova!" Nova mendengus kesal. Suara nyaring itu lagi.


"Kamu siapa?" Tanya Nova masih asyik melihat video-video lucu.


"Namaku Tasya. Apa perlu ku kenalkan semua nya?" Nova menggeleng.


"Apa kamu ingin melihat kami," hati Nova menjerit keras. Nova menggeleng.


"Kenapa? Kamu takut? Kami nggak seram, lho. Lucu malah," tetap aja Nova merinding. Ia menggeleng.


"Ayolah, tak kenal maka tak sayang," Nova menggerutu dalam hati. Ia tidak menggubris.


"Noname, kapan kita kasih hadiah untuk Kak Tiara?" Teriak Tasya melengking. Terdengar jawaban suara nyaring lainnya, "nanti malam, biar suprise gitu," Nova memejamkan mata nya sesaat. Tidak bisakah makhluk-makhluk ini tidak mengganggu nya?


"Kalian bisa nggak, sih, nggak buat keributan?! Ganggu tau!" Seru Nova penuh emosi. Katakan ia lelah. Ia emang tidak sanggup lagi.


Bukannya keheningan yang ia dengar, malah suara cekikikan yang memenuhi gendang telinga nya. Suara itu saling bersahutan. Mereka berbicara dengan sangat cepat. Bahkan frekuensi bicara mereka melebihi frekuensi manusia. Hingga Nova hanya merasakan telinganya berdengung. Seperti didalam mimpinya, dulu.


Ia tidak ingin menutup kedua telinganya. Tidak akan. Ia tidak ingin mendapati telinga nya berdarah lagi. Dengan suara berbisik, Nova mulai bicara, "ku mohon hentikan!" Tidak ada yang mendengar. Lalu bagaimana ia ingin memberitahu bahwa ia sudah lelah?


"Hadiah tetap akan kita berikan. Kami berjanji tidak akan mengganggu mu lagi, anak muda," suara serak dari kakek-kakek kini berbicara penuh tekanan. Nova mengangguk lemah. Terserah lah, mereka ingin memberikan hadiah apapun itu.


Setelah itu semua kembali seperti semula. Nova kembali merasa telinganya normal. Ia melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Pukul sepuluh. Ia harus tidur.


Dalam tidurnya Nova bermimpi bertemu orang tuanya. Ia merindukan keluarga nya yang berada di Jakarta. Terlalu cepat untuk merindukan seseorang sebenarnya. Tetapi ia ingin bercerita. Ia ingin membagi kesulitan hidupnya.


"Kamu pulang, ya, nak" suara lembut milik mama nya membuat ia menitikkan air mata. Nova bergumam kecil. Sangat kecil.


"Kami rindu kamu. Kamu kapan pulang, sih?" Terdengar nada mama yang begitu sendu. Ini baru dua Minggu. Tidak mungkin ia pulang.


"Nova cepat! Berikan hadiah!" Suara itu lagi. Membuatnya hampir muak. Tetapi tetap saja, bulu kuduk nya merinding.


Nova merasa tubuhnya diayun-ayun. Apakah ini seperti malam sebelumnya? Nova berusaha melihat ke bawah. Tidak bisa. Selanjutnya ia merasa tubuhnya dilempar dan ditangkap oleh yang lain.


"Gimana? Seru, kan?"


"Nova! Bangun!" Itu suara Kak Tiara. Ia merasa iba dengan Kak Tiara. Perempuan itu tidak bersalah. Lantas mengapa harus ikut campur dengan dunia nya? Tiba-tiba kepalanya diputar secara paksa. Ia berteriak kesakitan.


"Nova!" Suara Kak Tiara lagi. Apa yang perempuan itu lihat sekarang? Apakah dirinya yang penuh darah? Atau dirinya yang terpotong-potong? Entahlah.


"Lagi!" Suara anak kecil berteriak kegirangan. Terdengar suara tepuk tangan yang bergema.


Tubuh Nova menabrak sesuatu sangat keras. Ia bisa merasakan nya. Itu artinya, ia masih hidup. Ia mencoba untuk membuka mata nya. Gagal. Tidak lama, ia merasa kepalanya membentur sesuatu.


"Hentikan! Siapapun kalian, hentikan!" Pekik Kak Tiara. Apa yang terjadi dengan nya? Belum reda sakit di bagian kepala, leher, dan punggung nya, kini dada nya membentur sesuatu kembali.


Nova berteriak. Sia-sia, tidak ada yang mendengar. Ia yakin kini dirinya sedang dipantul-pantulkan ke seluruh ruangan itu. Kini ia merasa tubuhnya digapai. Apakah kak Tiara menangkap tubuh nya? Tidak lama, ia merasa tubuhnya dilempar keatas. Terdengar rintihan Kak Tiara yang kesakitan.


"Ini seru, Nova! Seharusnya Tiara hanya menonton," Nova berusaha menggeleng. Tetapi lehernya sakit. Ia tidak mendengar suara Kak Tiara lagi. Yang ia dengar, suara pintu terbuka, lalu derap kaki menuruni anak tangga. Ia sendiri.


"Yah, dia keluar," ucap suara anak kecil penuh kekecewaan. Siapa, sih anak kecil menjengkelkan ini? Nova mulai meraba di sekelilingnya. Ia tidak bisa menyentuh apapun. Apakah ia melayang?


"Sst,,, Tania datang! Gimana, nih?" Suara Tasya terdengar sedikit ketakutan. Apa yang pernah dilakukan Kak Tania, hingga mereka ketakutan? Terdengar suara pintu terbuka. Perlahan, Nova merasa tubuhnya diturunkan. Tetapi sebelum ia benar-benar diturunkan, ia harus merasakan benturan keras terlebih dahulu.


"Aku belum melempar mu sejak awal," suara itu, suara Cropte.


"Nova!" Setelah itu semua gelap. Ia hanya merasakan Kak Tania meletakkan kepalanya di lengan Kak Tania. Kak Tania menyentuh lehernya dan juga kepalanya.


"Aku nggak tega, kak," tangisan Kak Tiara terdengar begitu jelas. Apa yang terjadi dengan Nova? Mungkinkah tubuhnya lebam? Kalau begitu, ia tidak bisa masuk kampus lagi, dong. Apa gunanya ia jauh-jauh kesini? Ia emosi. Perlahan ia berhasil mengepalkan tangannya.


"Ayo Nova! Terus!" Seruan Kak Tania membuat emosi nya semakin besar dan akhirnya tanpa ia sadari, matanya terbuka. Ia melihat dirinya di pangkuan Kak Tania. Ia tidak berada di ranjang nya lagi.


"Oke, bagus!" Puji Kak Tania yang kini membantu nya untuk minum. Kak Tiara masih terisak-isak. Walaupun perlahan mulai menyunggingkan senyuman.


"Kamu hanya perlu emosi, dalam hidup mu, Nova," ujar Kak Tania memijat lengan Nova pelan. Nova tampak berpikir. Ia emang tidak pernah menampakkan emosi nya sedikit pun kepada siapapun.


"Kamu terlalu flat. Mereka senang dengan mu," Nova berusaha menelan Saliva nya sendiri. Sedikit perih.


"Apa kita ke rumah sakit aja, kak?" Tanya Kak Tiara menatap Nova penuh prihatin. Kak Tania menggeleng.


"Hanya sesaat ini," bagaimana Kak Tania bisa mengatakan ini sakit sesaat? Jelas-jelas ia hampir merasa mati.


"Kamu istirahat aja dulu," Kak Tania membaringkan dirinya di lantai. Kak Tiara mengambil kasur Nova dan meletakkan nya di lantai.


"Tidurlah. Kalau belum reda sampai pagi, kita ke rumah sakit," Nova mengangguk. Ia pernah bercita-cita ingin terbang. Tetapi setelah kejadian itu, ia mengubur keinginan nya untuk terbang.


"Terimakasih, kak," Nova banyak berhutang Budi kepada mereka. Kedua wanita itu tersenyum tulus. Ia berusaha memejamkan mata nya Kembali. Tetapi ia takut. Ia memilih untuk terus terjaga.


"Aku tidak mau tidur. Kak Tiara, maafkan aku," kak Tiara mengangguk kalem. Kak Tania melirik jam di handphone nya.


"Kakak kalau mau pulang, nggak apa kok," ucap Kak Tiara pelan. Kak Tania menggeleng.


"Sebentar lagi," Kak Tania mengeluarkan sesuatu dari saku piyama nya dan memasukkan nya ke dalam gelas yang berisi air putih. Lalu memberikan nya kepada Nova.


"Minumlah. Ini membuat mu tenang," Nova meneguk nya perlahan. Nova berpikir ia sedang meminum obat tidur. Benar saja, belum sampai lima menit, ia mulai terlelap. Melupakan nya pada kejadian tadi.