
Nova berjalan meninggalkan ruangan kesehatan. Ia ingin kembali berbaur dengan kumpulan yang ada di lapangan. Tetapi kakak tingkat nya menyarankan agar pulang saja dan istirahat.
Nova pulang menaiki taxi online. Ini hari pertama terburuk nya. Dulu sewaktu TK, SD, SMP, dan SMA, ia hanya diserang demam ketika awal sekolah. Ia merasa lelah dengan harinya. Ketika ditengah jalan, taksi tersebut berhenti. Nova bertanya-tanya.
"Maaf, kak. Taksi nya habis bensin. Saya kembalikan aja setengah bayaran nya dan saya turunkan kakak disini, gimana?" Nova menimang-nimang ucapan bapak supir tersebut.
"Uhm, baik deh," Nova menerima setengah uang nya dari supir tersebut. Ia membuka pintu taksi dan berjalan menuju halte terdekat. Sedangkan taksi tersebut masih berada di sana. Ditelan oleh keramaian. Ia menemukan angkutan umum dan menaikinya.
"Nova!" Teriakan itu terdengar begitu dirinya sampai di depan kost nya. Angkutan umum hanya mengantar nya hingga di jalan besar sebelum memasuki kost nya. Nova menoleh dan melihat laki-laki yang berbicara dengannya di kantin.
"Ya?" Kenapa lelaki ini harus mengikuti nya ? Sejak kapan? Lelaki itu turun dari motor nya dan berjalan mendekati Nova.
"Kamu kuat jalan sejauh itu?" Nova mengerutkan keningnya. Hanya jalan dari jalan besar hingga depan kost nya, sudah di bilang jauh? Nova mengangguk.
"Serius?" Lagi-lagi Nova mengangguk.
"Sampai aku teriak-teriak panggil kamu, kamu juga nggak dengar?" Nova menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sorry, mungkin aku lagi melamun," Nova mendongak untuk melihat raut wajah lelaki tersebut. Ia terlihat pendek jika seperti ini.
"Hmm,,jalan yang kamu maksud yang mana?" Tanya lelaki itu yang merasa dirinya dengan Nova sedang membincangkan dua hal yang berbeda.
"Jalan besar sampai sini, kan?" Tuh, kan. Lelaki itu menggeleng. "Terus?"
"Jalan dari depan kampus sampai kamu naik angkutan umum tadi," ayolah, Nova Ingin beristirahat. Kenapa harus di ganggu, sih?
"Aku nggak jalan, salah orang nggak?" Lelaki itu menggeleng.
"Aku ikuti kamu. Aku cuma mau memastikan," Nova tersenyum. Perhatian sekali dia. Apakah ia tertarik dengan kemisterian dirinya? Apa nya yang menarik. Hanya seorang gadis yang terjerat cerita mimpi dan nyata.
"Terimakasih atas perhatiannya,,,,,hmm,,,siapa namamu?"
Nova berbicara dengan sopan sekali. Layaknya resepsionis.
"Yudi. Yah, namaku Yudi," lelaki itu memperkenalkan diri.
"Oke, terimakasih atas perhatiannya, Yudi. Tetapi aku tidak pulang jalan kaki. Aku menaiki taksi," kini Yudi yang menatap nya dengan kebingungan. Taksi? Yudi tidak melihat gadis itu menaiki taksi. Gadis itu menarik rasa penasaran nya.
"Baiklah, aku minta maaf telah membuat kamu merasa tidak nyaman. Tetapi aku hanya ingin memberitahu, bahwa kamu pulang dengan jalan kaki. Tidak ada taksi, aku pamit," Nova tersenyum dan mengiyakan. Lelaki itu berjalan meninggalkan nya. Nova juga kembali memasuki kamarnya. Hanya ada Kak Maura yang sedang terlelap.
"Ooh, namanya Yudi. Katakan pada nya, aku menyukai nya," damn. Suara itu lagi. Ia sudah muak mendengar suara yang memekakkan telinga. Malangnya, mengapa hanya ia yang mendengar. Ia ingin semua orang ikut merasakan apa yang dirasakannya.
Nova hanya bergumam. Terdengar suara cekikikan dari suara nyaring itu.
"Oh, ya aku mau kasih tau kamu sesuatu," kini bukan suara nyaring itu lagi yang terdengar. Melainkan suara bass yang berbisik pelan ditelinganya. Nova meraba tengkuknya yang dingin. Ia membaringkan badannya dan berharap segera terlelap.
"Yudi benar. Kamu berjalan kaki. Apa kamu tidak bisa membedakan dunia mu dengan dunia kami?" Nova tidak peduli. Ia menutup telinganya dan tidur.
Suara berat itu terus memanggil nya. Tidak hanya sampai disitu. Suara nyaring itu ikut memanggil nya. Ia takut. Tetapi ia juga ingin marah.
"Aku capek. Aku mau tidur. Jangan ganggu, ya?" Bisik Nova berusaha tenang.
"Iya, kamu capek karena kamu jalan sejauh itu. Tapi aku senang, sih bisa naik taksi," suara nyaring itu kini berbangga diri. Nova mulai membenarkan ucapan Yudi. Dirinya berjalan kaki secara kenyataan. Tetapi makhluk-makhluk aneh itu, sedang bersenang-senang bisa naik taksi. Sudah lah, Nova tidak ingin mengurusnya.
"Kamu tidak bisa untuk berpura-pura tidak tahu, Nov" Nova terdiam. Kali ini bukan suara bass bukan pula suara nyaring. Suara itu seperti suara seorang kakek memperingati cucunya. Kalau begitu, ada berapa makhluk disini? Nova memeluk erat guling nya.
"Dengar! Kakek berbicara padamu. Itu tandanya, keluarga kami menyayangi mu, Nova!" Seru suara nyaring itu kegirangan. Tidak lama, ia tertawa. Sangat besar. Gendang telinga Nova tidak sanggup menerima nya. Disusul lagi oleh tawa suara besar, suara kakek-kakek, suara nenek-nenek, dan suara anak kecil. Semua berpadu. Nova tidak bisa menahan nya. Ia berteriak.
"Pergiiiiii!!!!!" Kak Maura terjaga. Ia melihat Nova yang bercucuran keringat. Kenapa jam segini udah pulang? Kak Maura berjalan mendekati Nova dan mengguncang tubuh gadis tersebut.
"Kak Maura!" Seru Nova kesenangan begitu melihat kak Maura berdiri disampingnya. Kak Maura membersihkan keringat yang ada di dahi Nova dengan tisu.
"Mimpi buruk," gumam kak Maura pelan.
"Aku nggak mimpi. Tadi nyata," kak Maura manggut-manggut. Tidak ada salahnya ia mengingkari ucapan Nova. Mungkin saja benar.
"Hihihi, dia manis. Jadi ku cium deh pipi nya," suara berat itu berbisik di telinga Nova. Nova bergidik ngeri.
"Kenapa?" Tanya Kak Maura penasaran. Nova menggeleng.
"Kak Maura cantik," puji Nova. Pipi kak Maura kini bersemu. Nova tertawa kecil.
"Kamu juga," Nova bingung harus menjawab apa. Ia hanya menggaruk pipinya.
hai pengunjung yang Budiman🤗🤗
jangan lupa tinggalkan jejak ya????
like komen dan vote
terima kasih telah singgah
kalau ada yang kurang, komen aja