The Lost Way

The Lost Way
mempermainkan?!



Hari ini adalah hari pertama nya masuk kuliah. Dua hari yang lalu, ia, Kak Tania, Kak Maura, dan Kak Tiara, menghabiskan waktu untuk berjalan ke mall. Ia juga telah menelepon mama nya. Mama Nova sedang tidak enak badan. Kata papa, mama nya dilanda rindu berat.


Ia datang setengah jam lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Ia menaiki lantai dua. Nova tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa ruang nya sama seperti ruang yang ada didalam mimpi nya. Ketika ia memasuki ruang nya, hal pertama yang ia lihat adalah seorang lelaki yang sedang berdiri menghadap jendela. Yang mana dari jendela itu bisa melihat indahnya pemandangan sebagian kota Batam. Menyadari kehadirannya, lelaki itu menoleh. Keduanya tersenyum formal.


"Anak pariwisata juga?" Tanya laki-laki itu. Nova mengerutkan keningnya dan menggeleng.


"Ini ruang pariwisata. Kamu jurusan apa?" Pertanyaan lelaki itu tidak membuatnya malu. Rasa malu akan salah ruangan telah dikalahkan oleh rasa takut dengan mimpinya. Ini seperti dimimpi. Hanya saja berada dalam posisi terbalik.


Nova melihat tulisan yang berada di depan pintu. Ia menepuk jidatnya. Lalu pergi meninggalkan ruang itu beserta lelaki yang berada disana. Benaknya terus berpikir. Akankah lelaki itu yang menjadi dirinya selama di kampus? Berarti, lelaki itu akan mendengar suara lengkingan. Ia dilema. Haruskah ia memantau lelaki itu. Atau berpura-pura tidak tahu. Lagi pula itu hanya mimpi.


Suara seseorang menyuruh untuk berkumpul di lapangan terdengar di setiap speaker yang di pasang di sudut-sudut koridor. Semua mengikuti perintah tersebut. Seseorang wanita mulai menaiki panggung yang ada disana dan mulai membuka acara. Permainan nya tidak sama dengan yang ada di dalam mimpinya. Permainan kali ini mereka akan menentukan regu, kemudian berlari estafet. Tidak membosankan.


Permainan selesai pukul sebelas siang. Semua diperbolehkan untuk beristirahat selama dua puluh menit. Nova berjalan ke kantin. Ia ingin memakan sesuatu yang mengenyangkan. Tanpa sengaja matanya menatap sosok yang berada di ujung kantin. Lelaki tadi. Tetapi ia tidak sendiri kini. Ia bersama seorang perempuan. Ia berusaha tidak melihatnya. Tetapi matanya yang penasaran itu, kembali melihat. Kini Nova kembali terkejut setelah melihat perempuan yang bersama lelaki itu. Mirip Jiah. Walau tidak semua dari wanita itu mirip Jiah, tetapi mata wanita itu sama dengan mata Jiah yang ada di mimpi nya.


"Apa yang Lo lakukan?" Pekik Nova dalam hati. Ia berusaha menutupi ekspresi kagetnya. Ia tidak ingin menjadi perhatian orang lain lagi. Cukup di dalam mimpi, ia menjadi pusat perhatian.


"Hai," Nova mendongak, melihat siapa yang menyapa nya. Laki-laki tadi. Ia melihat ke tempat laki-laki tadi sebelumnya. Tidak ada siapapun. Demi apa secepat itu?


"Hai," jawab Nova sedikit gugup.


"Kamu tadi orang yang salah ruangan itu, kan?" Dengan malu-malu Nova mengangguk.


"Duduk disini, boleh?" Nova mengangguk. Tidak ada hak untuk melarang orang duduk di tempat umum. Nova melanjutkan makan nya. Lelaki itu memperhatikan Nova makan.


"Mau?" Tawar Nova basa-basi.


"Tidak perlu basa-basi. Kalau aku jawab iya, emangnya mau ngasih benaran?" Senyum laki-laki itu,,,, entah kenapa sedikit manis. Nova mengangguk.


"Tapi bayar sendiri," tambah nya. Lelaki itu tertawa kecil. Tidak ada pembicaraan setelah itu.


"Eh, aku lupa sesuatu. Aku pergi dulu, ya," Nova mengangguk. Ia tidak bisa bicara. Mulutnya masih mengunyah makanan. Lelaki itu pergi dan Nova Melihat kepergian nya hingga punggung nya tidak terlihat lagi.


Seseorang lainnya kembali menghampiri nya. Lagi-lagi seorang pria. Kenapa tidak ada wanita, sih? Gerutu nya dalam hati.


Nova mengangguk setelah mendengar pertanyaan dari laki-laki itu.


"Siapa nama kamu?" Nova menghentikan kegiatan makannya.


"Nova,"


"Jurusan?" Nova berusaha ramah. Meski sebenarnya ia tidak suka ketika makan diganggu. Apalagi kalau laki-laki yang mengusiknya.


"Tata boga," lelaki itu tersenyum.


"Maaf mengganggu mu. Aku cuma mau ngomong, kamu aneh," Nova merasa tertusuk. Siapa orang ini, mengatakan nya 'aneh'. Bahkan ia tidak tahu siapa nama lelaki itu.


Nova tetap melanjutkan makan nya tanpa merespon ucapan menyakitkan itu.


"Tau kenapa aku bilang aneh?" Nova menggeleng tanpa melihat lawan bicaranya.


"Aku melihat mu ngomong sendiri, tadi. Atau kamu jenius?" Jenius? Nova hampir tersedak mendengarnya. Kalau jenius ia tidak akan memilih sekolah masak. Sudah pasti ia memilih jurusan berbau hitung-hitungan itu. Sayang nya, untuk menghitung delapan kali enam aja, dia harus mikir.


"Maksud mu? Aku bicara dengan seorang lelaki tadi, jurusan pariwisata," kini lawan bicaranya menatap Nova dengan heran.


"Siapa namanya?" Tanya lelaki itu lagi. Nova menggeleng.


"Aku lupa nanya," lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya selalu begitu. Nanti setelah kamu pergi, seseorang lainnya mendatangi ku dan berkata bahwa tidak melihat mu. Selalu!" Nova menaikkan nada bicara nya. Ia kesal. Kenapa banyak sekali yang mengatakan hal-hal aneh padanya. Tidak bisa kah ia hidup normal?


Lelaki itu takut-takut mulai menjawab, "aku berusaha menegurmu agar orang lain tidak melihat nya,"


"Kalau ternyata kamu juga tidak bisa dilihat orang lain?" Tanya Nova dengan nada menantang. Lelaki itu tiba-tiba menyentuh tangannya. Lalu mengangkat nya kembali.


"Gimana, udah yakin?" Nova menatap kosong lawan bicaranya. Jauh dalam pikiran nya, ia berfikir. Lelaki itu pengganti tokoh nya di dalam mimpi. Berarti dia tidak nyata? Nova mengacak-acak rambutnya. Ia frustasi. Ia depresi. Ia,,,,,


"Hei, hentikan! Kamu jadi pusat perhatian nanti," mendengar teguran itu, Nova kembali diam. Matanya menatap lekat lelaki yang ada dihadapannya. Kemudian ia mulai memanggil orang yang lewat disamping nya dan bertanya apakah mereka melihat lelaki yang duduk di depannya. Tentu saja itu tingkah yang aneh dan sedikit memalukan, sebenarnya. Apalagi ketika semua orang yang ditanya menjawab, bahwa mereka melihatnya.


"Gimana? Masih nggak percaya?" Dengan hati-hati, jari telunjuk Nova menyentuh punggung tangan lelaki itu. Nova mengangguk.


"Aku percaya," lelaki itu menatap iba kepada Nova.


"Kamu seperti nya sering seperti ini, ya?" Nova mengangguk. Untuk apa ia berbohong. Ia kesal merasa dipermainkan. Padahal lelaki tadi cukup manis. Ternyata tidak nyata. Tunggu! Ia berbicara dengan lelaki yang tidak dilihat orang lain. Itu artinya,,,,,ia bisa melihat makhluk tak kasat mata. Ya Tuhan! Nova bisa melihatnya, sekarang. Ia menundukkan kepalanya ke meja. Menangis dalam diam.


"Nova, kamu baik-baik saja?" Nova menggeleng.


"Aku tahu, itu sulit. Tetapi kamu bisa menyentuh setiap orang yang kamu temui," saran dari laki-laki itu sedikit membantu. Ia mengangkat kepalanya. Tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Keduanya berjalan meninggalkan kantin, tepat mendengar suara yang menyuruh mereka untuk berkumpul kembali. Berjemur di bawah teriknya matahari siang.


Sebelum ia bergabung dengan regunya, secara iseng Nova melihat seberang jalan. Ia ingin memastikan apakah ada warung makan seperti di mimpi nya. Warung itu ada. Yah, warung itu ada di dalam penglihatannya. Ia belum memiliki teman disini. Lelaki tadi sudah berada di regunya. Dengan keberanian yang ada, Nova menyenggol seorang perempuan yang kebetulan duduk disampingnya.


"Ada apa?" Tanya perempuan berwajah bulat itu. Nova menunjuk warung makan yang ia lihat, "ada warung, ya disana?" Perempuan itu terlihat mencari-cari warung yang dimaksud Nova. Lalu menggeleng.


"Nggak ada apa-apa, kenapa?" Pernyataan sekaligus pertanyaan dari perempuan yang belum dikenal nya itu berhasil membuat emosi nya bercampur aduk.


"Eh, nggak ada. Aku kira warung makan. Mau mampir rencana nya," perempuan itu menatap Nova dengan tatapan takut, penasaran, dan tatapan yang sulit diartikan.


Nova mengucek-ngucek matanya lalu kembali melihat ke arah dimana ia melihat warung makan itu. Tidak ada. Tidak ada warung makan disana. Yang ada hanya seorang pria tinggi yang berdiri disana. Lelaki itu menatap nya dan melambaikan tangan kepadanya. Nova mengalihkan pandangan nya. Lelaki itu, lelaki yang berbicara dengan nya di kantin tadi. Lelaki yang dikatakan 'tidak ada' oleh orang lain. Lelaki yang berbicara dengan nya di ruang pariwisata, tadi pagi.


"Jangan mengalihkan pandangan, dia tertarik dengan mu," suara nyaring itu berbisik di telinganya. Bulu kuduknya berdiri. Walau ia sudah terbiasa dengan suara itu, akan tetapi tetap saja suara nya yang aneh itu membuat nya merinding.


"Aku tidak berbohong, dia menyukai mu. Eh, salah. Dia menyukai ku," Nova tidak peduli. Apa-apaan ini! Bagaimana bisa makhluk tak kasat mata bisa tertarik. Masa bodo. Ia kembalikan tatapan nya ke arah panggung dan memperhatikan kakak tingkat yang sedang berbicara di atas panggung. Bisikan itu terus terdengar, Nova memilih untuk mengacuhkan nya. Hingga pada sebuah bisikan dimana dirinya berhasil dibuat terpaku.


"Kalau kamu mengabaikan nya, dia akan berubah. Tidak semanis itu," Nova memejamkan matanya. Ia ingin menyublim saat itu. Malang nya, ketika ia membuka matanya, yang ia lihat adalah sosok lelaki yang berdiri di depannya dengan mata yang kosong dan muka yang dilumuri darah.


Nova tidak mau berteriak. Ia tidak ingin memancing perhatian. Sosok itu mendekatinya.


"Aku akan mengikuti mu, manis," setelah itu semua menggelap. Andai saja yang berbicara itu pria sesungguhnya. Sudah dapat dipastikan Nova jatuh hati pada nya.


Nova merasa sekilat cahaya melintas. Ia membuka matanya. Terang, ia menyipit kan matanya. Setelah adaptasi nya selesai, ia membuka lebar-lebar matanya. Ada banyak orang yang duduk di sekelilingnya. Ia menatap semua orang yang ada disana dengan tatapan heran.


"Kamu pingsan," ujar seorang wanita, tersenyum manis. Dengan hati-hati, telunjuk Nova menyentuh tangan perempuan itu.


"Kenapa?" Tanya perempuan itu bingung. Nova menggeleng.


"Kamu nyata," perempuan itu terkekeh mendengarnya. Yah, siang itu setelah kejadian itu, Nova pingsan dan di bawa ke ruang kesehatan. Nova berusaha duduk. Ia berterima kasih dan meminta maaf kepada semua yang ada disana. Lagi-lagi ia membuat keributan. Ia melihat ke sudut ruangan. Ia melihat sosok laki-laki itu lagi. Kali ini tampilan nya sangat maskulin. Tidak mengerikan seperti tadi.


"Ternyata kamu belum terbiasa," suara itu memenuhi ruangan kesehatan. Nova yakin hanya ia yang bisa mendengar.


"Untuk saat ini, seperti ini saja dulu," suara itu diabaikan begitu saja oleh Nova. Satu persatu orang mulai keluar dan melanjutkan aktivitas. Hanya dirinya dan beberapa bagian kesehatan yang berada disana.


"Seperti ini gimana?" Nova menatap sosok laki-laki itu dan mengangguk. Itu lebih baik, batin Nova.