The Lost Way

The Lost Way
Kembali



 


Nova terbangun dari tidurnya. Ia masih butuh penjelasan. Ia merasa dibohongi. Tidak ada siapapun disana. Ia mencari\-cari ponsel nya yang ternyata terletak diatas meja kecil disamping ranjangnya. Sekilas ia memperhatikan kakinya yang di gips. Begitu pula dengan tangan kirinya.


Dengan hati\\-hati Nova mengambil ponselnya. Ia membuka ponselnya dan melihat tanggal. Tepat sebulan setelah ia menaiki pesawat. Ia mulai bertanya\\-tanya, kapan pesawat nya jatuh? Bagaimana? Kenapa ia tidak mendengar nya sama sekali?



Ia membuka kontak untuk mencari nama Kak Tania. Nova menekan tombol panggil. Tidak tersambung. 'lalu nomor siapa yang disimpan dengan nama Kak Tania?'



Ketika ia hendak mencari nomor Kak Maura dan Kak Tiara, pintu kamar nya terbuka. Kedua orang tuanya segera berjalan menuju nya.


"Ada apa sayang?" Tanya sang mama, melihat wajah putri nya yang kebingungan.


"Kata mama Kak Tania nggak ada, terus ini apa?" Nova menunjuk kontak Kak Tania kepada mamanya. Mama Nova terdiam.


"Coba papa telpon," Papa Nova berusaha menengahi.


"Udah. Nggak tersambung. Tapi bukan itu pertanyaan nya. Kenapa kontak nya ada disini?" Nova memperhatikan kedua orang tua yang saling tatap\\-tatapan.



"Nomor siapa, ma?" Mama Nova berusaha tersenyum. Papa Nova mengambil handphone Nova.



"Dihapus aja," Nova mengangguk. Mama kembali memberikan nya minum. Ia meminum nya.



"Nova ayo bermain!" Nova mencari\\-cari sumber suara cempreng tersebut. Suara yang sering menghantui hidupnya.



"Kenapa nak?" Nova kembali disadarkan oleh mama nya. Ia menggeleng.



"Nov, bangun dong. Kami kangen kamu,"



"Kak Maura?" Nova ingin bangkit dari ranjang nya. Sang mama mencegahnya.



"Nggak ada, Nova," Mama Nova memperingati. Kali ini Nova menggeleng kuat.



"Kak Maura, Kak Maura, kakak dimana?" Kini Nova berteriak. Papa Nova menepuk pundak Nova, agar ia sadar jika ia sedang berhalusinasi.



"Kakak disampingmu, kami selalu menunggu kamu bangun," Nova melihat Kak Maura duduk disamping papanya. Nova tersenyum.



"Kenapa nggak bilang kalau dibelakang ku? Ma, pa ini Kak Maura," Nova memperkenalkan Kak Maura kepada orang tua nya. Mama Nova menggeleng.



"Sadar, Nova hanya ada kita bertiga disini," ucap Mama Nova tenang.



"Kak, mana Kak Tania?" Nova mengabaikan ucapan mamanya. Ia melihat Kak Maura. Pada kenyataan nya, Nova hanya melihat sebuah kursi kosong.



"Ada, lagi beli makanan," Nova melihat Papa nya. "Siapa yang berbohong?" Tanya Nova melihat mama, papa, dan Kak Maura.



"Coba kamu tutup mata, baru kamu buka lagi," titah Papa Nova. Nova mencoba, tidak ada hasil. Semua terlihat nyata. Nova melihat Kak Tania memasuki ruangan nya.



"Kak Tania," sapa Nova memperhatikan wanita itu berjalan mendekati nya. Wanita itu tersenyum.



"Bu, pak," sapa Kak Tania ramah. Sayang nya, orang tua Nova tidak mendengar. Nova menegur orang tua nya.



"Mereka nggak ada, Nova" kali ini Papa Nova berbicara sedikit tegas.



"Papa kamu kayak nya lagi badmood, kami pulang dulu, ya," Kak Tania dan Kak Maura berjalan meninggalkan nya. Nova diam tidak bersuara.



"Nova?" Panggil Mama Nova. Nova terkesiap. Lalu menyahut.



"Jangan buat kami sedih, Nova," Nova menunduk. Ia tidak mengerti maksud mamanya. Ia hanya mengangguk untuk sekedar mengiyakan.



"Kamu udah sembuh, ya," Nova mendongak. Ia mendengar Cropte berbicara. Mama nya kembali menenangkan anaknya. Napas Nova tersengal\\-sengal.



Hampir selama seminggu Nova di rumah sakit. Ia melihat duanya secara nyata. Hingga akhirnya, dokter mengizinkan nya pulang. Ia melihat suasana Kota Jakarta.



"Kapan kita pulang ke Jakarta, ma?" Tanya Nova bingung. Mama Nova menghela napas.



"Mama udah pernah kasih tau, Nova," Nova tampak berpikir. Tidak pernah, tuh.



"Mungkin kamu lupa," Nova mengangguk.



Nova begitu bahagia dapat bertemu Stevan. Stevan semakin tinggi. Stevan memeluk kakaknya.


"Gue senang Lo sembuh," Nova terkekeh. Keduanya Hi\\-5. Untuk sementara, Nova harus duduk di kursi roda. Sampai waktu yang belum bisa ditentukan.



"Hai Nova," Nova melihat seorang gadis berjalan mendekati nya. Gadis itu tersenyum manis. Nova membalas sapaan nya.



"Perkenalkan, aku Tasya," Nova terdiam. Tasya? Menampakkan diri? Dalam rangka apa?



"Cropte udah pergi. Jadi aku yang menggantikan peran nya," Nova ber\\-oh ria. Ia tidak terlalu takut dengan makhluk aneh tersebut.



"Nova berhenti bicara sendiri," tegas papa nya. Nova kembali melihat dirinya bersama keluarga nya. Tidak ada Tasya.



Sejak Nova pulang dari rumah sakit, hari\\-hari berikutnya Nova harus melakukan terapi bersama psikiater. Seperti hal nya pagi ini, ia didatangi oleh dua orang wanita paruh baya. Kedua wanita itu tersenyum kepadanya. Nova membalas senyumnya.



Kedua wanita itu berjalan menemui kedua orang tua Nova. Kedua nya berbicara sangat serius. Setelah itu, Papa Nova membawa Nova ke kamarnya. Lalu pergi meninggalkan Nova bersama kedua wanita tersebut.



"Hai, Nova," Sapa wanita berambut cokelat dan ikal itu. Nova membalas sapaan nya.



"Senang bertemu dengan mu," sambung wanita yang berambut hitam dan pendek. Ketiga nya mulai berbincang\\-bincang. Nova tidak sadar, bahwa kedua wanita itu sedang menguak alam bawah sadar nya.



Nova berteriak seperti sedang kesakitan. Wanita itu menenangkan. Mengatakan bahwa itu hanya ingatan bukan kenyataan.



"Telinga ku berdarah," kedua wanita itu saling bertatapan dan mengangguk. Salah satu diantara nya menghapus air mata Nova. Kemudian kembali menyadarkan Nova. Setelah Nova kembali sadar, mereka kembali berbincang ringan, seakan tidak terjadi apa\\-apa.



Setelah tiga jam mereka berbincang, kedua wanita itu pamit. Nova mengangguk. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri. "Siapa mereka?"



"Kenapa ia merasa masa\\-masa itu kembali datang?"



Nova tidak akan membiarkan siapapun membuka ingatan nya. Itu menyakitkan. Ia menyentuh telinganya. Tidak ada apa\\-apa.



"Nova tolong aku!" teriakan Kak Tiara membuatnya terkejut. Ia mencari\\-cari sumber suara.



"Kakak kenapa?" Nova juga ikut berteriak.



"Kakak,,,,,,,,"



"Nova!" Suara Stevan mengejutkan nya. Jantung nya berpacu sangat cepat. Ia melihat adik laki\\-laki nya berdiri di ambang pintu.



"Ayo kita keluar!" Ajak Stevan berjalan mendekati nya. Nova berusaha menghindar.



"Jangan temukan gue dengan dua wanita tadi," Stevan menghela napas. Mendorong kursi roda Nova dan berjalan keluar kamar.



"Kakak mau ke toko buku, nggak?" Stevan mengalihkan topik. Mata Nova berbinar\\-binar. Sudah lama ia tidak pergi ke toko buku.



"Ayo! Kapan?" Stevan memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri. "Kapan, ya?"



"Minggu depan, gimana?" Stevan menjentikkan jarinya. Nova dan Stevan hanya berbeda dua tahun.



"Nova kami juga mau beli buku," Nova mendengar suara Kak Maura. Ah, ya ia lupa dengan keadaan Kak Tiara.



"Oke, Kak. Eh, Kak, coba lihat Kak Tiara. Tadi dia minta tolong," Stevan mendengar kakak nya berbicara sendiri.



"Kak? Kok ngomong sendiri, sih?" Stevan pura\\-pura cemberut. Nova memutar kepalanya ke belakang untuk melihat adiknya.



"gue lagi ngomong sama Kak Maura. Jadi nggak usah sewot gitu, deh," Stevan menggeleng.



" Gue nggak suka," Nova tersenyum tipis. "Ya deh," Tubuh Nova menegang begitu melihat sosok dua wanita tadi masih berbicara dengan orang tuanya.



"Stev, kita harus pergi!" Stevan mengerti maksud kakak nya. Ia memutar balik kursi roda kakak nya.