The Last Legacy (Hidden Identity)

The Last Legacy (Hidden Identity)
9. Who is He?



Sembari menunggu jam makan malam. Athela membaca buku misterius di koper pemberian neneknya yang belum sempat buka.


Dihalaman pertama, tertulis


' ဝှက်ထားသောအရာအားလုံး၊ အင်အားအကောင်းဆုံး၊ မေ့လျော့ခံရသောအရာများသည်ဤစာအုပ်တွင်ရှိသည်။'


Artinya: semua yang tersembunyi, yang terkuat dan yang terlupakan berada di buku ini.


Athela tidak tau bahasa apa yang di gunakan buku itu, namun entah kenapa dia mengerti dan bisa mengartikannya dengan begitu mudah.


Kemudian Athela membuka halaman berikutnya. Namun tidak ada yang tertulis di dalamnya. Hanya ada kertas kosong hingga lembar di bagian terakhir. Hanya ada tulisan tadi.


Karena bingung, Athela bahkan terus membolak-balikkan halamannya. Sampai dia mendapat ide untuk menyebutkan tulisan di halaman depan dengan sedikit lantang.


"Whaat htarrsaw aararaalone, aainaarraakaunggsone, mae lyaww hkanrasaw aararmyarrsai hcaraotetwin shisai." ucap Athela dengan sedikit lantang. Namun tidak ada yang terjadi.


Athela mendapat ide lain. Dia beranjak dari kasur nya dan mengambil tongkat sihirnya yang ia simpan di lemari meja belajar di dalam kotaknya. Kemudian dia kembali duduk sembari memangku buku itu.


"Ekhm... Whaat htarrsaw aararaalone, aainaarraakaunggsone, mae lyaww hkanrasaw aararmyarrsai hcaraotetwin shisai." ucap Athela mengulang untuk kedua kalinya menggunakan tongkat sihirnya. Selama beberapa detik tidak terjadi apa-apa, sampai permata ungu yang berada di tengah buku bercahaya.



Setelah beberapa detik cahayanya meredup. Athela menyimpan tongkat sihirnya di sampingnya dan membuka buku itu. Saat dibuka, buku itu tidak lagi kosong, namun sekarang penuh dengan tulisan dan gambar.


Di halaman setelah tulisan matra tadi. Terdapat daftar isi. Tertulis dengan bahasa yang sama.


Esterina family tree


Biography


History


Secret


Place of secret


Secret spell


Special stuff


Mandatory duty


Map of the Univers


How to use...


Total bab di buku tebal itu adalah 10. Namun tebalnya seperti memiliki berpuluh-puluh bab.


Di bab 1, seperti yang tertulis. Di sana terdapat pohon keluarga Esterina. Dibagian paling atas sebelum foto pertama, terdapat tulisan 'foto setiap anggota keluarga kan muncul saat berumur 17 tahun, sedangkan namanya akan tertulis saat mereka baru lahir'.


Di bawah tulisan itu ada dua foto seorang wanita dan pria. Sang wanita memiliki rambut berwarna biru dan sang pria berwarna kuning ke merahan. Di bawah foto itu tertulis dua nama dan tahun lahir-kematian.


Herina Defna dan Reo Asgafir.


Tiba-tiba kedua gambar itu bergerak dan menjadi satu. Menjadi sebuah foto pernikahan.


Dibawah mereka terdapat 3 orang dengan rambut berwarna ungu. 2 orang wanita dan 1 orang pria. Dibawahnya tertera nama mereka.


Leona Esterina, Leonda Esterina dan Leonardo Esterina.


Athela menebak mereka bertiga pastilah kembar. Dan ketiga orang itulah awal mula klan Esterina. Mereka adalah nenek moyangnya.


Athela terus membalik halaman buku itu. Semua foto dan nama tentang klan Esterina turun-temurun. Namun di lembar kelima, ada sebuah nama tanpa foto. Dan nama itu berada di samping sebuah foto seorang wanita bernama Elena Shawn Esterina. Nenek Athela.


"Nenek." bisik Athela pada dirinya sendiri. Athela sekarang tau, Neneknya punya saudari yang meninggal sebelum berumur 17 tahun.


Kemudian dia melihat foto di yang turun dari foto neneknya. Seorang wanita yang memiliki tampang yang mirip dengannya bernama Liony Danvian Esterina.


"Mama?" Athela masih mengingat wajah kedua orangtuanya walau sedikit samar. Tanpa sadar setetes air mata terjatuh dari kelopak matanya.


Hanya setetes. Athela begitu merindukan orangtuanya namun dia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Athela menarik nafas panjang, kemudian melihat lebih lanjut pohon keluarga itu. Garis keturunan dibawah ibunya adalah Dia.


Athela baru sadar satu hal. Garis turunan dari ibunya bercabang 2, di samping namanya tertera sebuah foto pemuda berambut Ungu dan sebuah nama Athelo Esterina Pandora.


Athela tentu merasa aneh, dia tidak pernah merasa 'punya' saudara sama sekali. Tapi disini bahkan dia sudah berumur 17 tahun karena fotonya telah terpasang. Kenapa Athela tidak pernah tau? Kenapa Neneknya tidak pernah memberi tahu nya apapun?


Athela beranjak dari kasur nya, memakai jubah seragamnya dan sepatu kemudian berjalan dengan cepat dari kamarnya.


Dia berlari secepat yang ia bisa sembari memeluk bukunya. Bahkan dia memilih untuk lewat tangga darurat dari pada naik lift.


Athela sampai di ruangan Wendy dan berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Saat akan membukanya, Wendy keluar dari ruangannya bersama seseorang yang waktu itu ia temui di bank. Xander Bertrade. Dan mereka berdua sedang berdebat.


"Aku sudah bilang, festival itu dilaksanakan akhir tahun bersamaan dengan ulang tahun Ozorania. Kenapa kau tidak mengerti?!" ujar Wendy dengan kesal.


"Aku tau! Tapi bukankah lebih bagus kalau perayaannya saat pembukaan? Iyakan Athela?" Athela terkejut karena tiba-tiba dirinya masuk ke dalam masalah mereka.


Wendy menggeram kesal. Kerutan di dahinya bertambah dan sepertinya sudah siap meledak. "Jangan libatkan Athela! Ini adalah masalah di antara kita! Biar sekali lagi ku katakan, aku yang mengatur semuanya dan keputusanku sudah final! Perayaan ulangtahun akan dilaksanakan saat penutupan Festival!" ujar Wendy dengan nada tegas dan sangat terdengar tidak dapat di bantah.


"Dan Athela, kamu membutuhkan sesuatu?" nada bicara Wendy melembut saat bertanya pada Athela. Dan itu membuat Xander memutar kedua bola matanya malas.


"Em... Kalian sudah selesai?" tanya Athela dengan hati-hati.


"Tentu saja. Tidak usah pedulikan orang bodoh ini. Ayo masuk!" Wendy merangkul Athela dan mengajaknya masuk kedalam ruangannya setelah mengejek Xander.


"Hei! I'm-" baru saja akan mengutarakan pendapatnya dan ikut masuk kedalam ruangan Wendy. Dengan kejamnya wanita itu menutup kan pintu dan tidak membiarkan Xander untuk masuk bahkan bila menggunakan sihir sekalipun.


"Hei! Let me in! I want to talk with Athela too!" teriak Xander dan setelah itu Wendy membuat ruangan mereka kedap suara.


"Em... Bukankah sebaik nya kita membiarkannya masuk?" ucap Athela yang tidak tega dengan Xander.


Wendy menghela nafas malas. Kemudian dia menjentikkan jarinya dan pintu itupun terbuka. Xander yang tengah bersandar di pintu terjatuh saat pintu secara tiba-tiba dibuka begitu saja.


"Kau punya dendam apa sih dengan ku?" seluh Xander masih dengan posisi duduk di lantai setelah jatuh.


Wendy hanya mengeluarkan lidahnya mengejek Xander. Kemudian duduk di sofa di samping Athela. Sedangkan Xander dengan wajah kesalnya mengambil tempat duduk di sofa single.


Wendy menutup pintu ruangan nya dan membuat ruangannya agar kedap suara. Athela menaruh buku nya dan membuka di halaman terakhir di family tree.


"Ah iya, mungkin kamu pusing akan memanggilku dengan apa. Panggil saja Uncle Xander. Dan yang di sampingmu itu Grandma Wendy."  Wendy menatap tajam Xander.


"Panggil saja Aunty Wendy. Daripada Miss Fonda. Terdengar aneh." Athela hanya mengangguk mengerti.


"Sebenarnya aku hanya ingin bertanya satu hal." Athela menunjuk foto pemuda di samping namanya. "Aku... Punya saudara?"


Wendy dan Xander melihat foto itu dan sedikit terkejut. Kemudian keduanya saling memandang satu sama lain. "Disini tertulis Athelo Esterina Pandora. Berumur 17 tahun, dan terlihat sangat mirip dengan ku." sambung Athela pada ucapannya sendiri.


Wendy menghela nafas pelan, kemudian mengangguk. "Sebenarnya Athelo itu saudara kembar kamu." Athela menyerengit bingung.


"Disini tertulis Athelo 17 tahun, bahkan fotonya sudah terpasang. Aku baru 16 tahun. Bagaimana mungkin kami kembar?"


"Athela. Umur mu tertunda satu tahun. Saat kalian lahir semua bahagia, tapi sayangnya kalian tidak dapat bertahan dengan baik saat itu. Yang ku tau, keluargamu melakukan sesuatu kepada kalian berdua, hanya saja aku tidak tau apa yang keluargamu lakukan." ujar Wendy.


"Beberapa tahun kemudian saat ibu dan ayahmu membawamu kembali. Saat kami semua berkunjung. Athelo sudah tidak ada. Kami juga tidak ingin membicarakan itu, apalagi saat tau kondisimu tidak se-stabil yang terlihat. Kami semua, teman-teman dekat Ayah dan Ibumu bahkan Queen dan King Ozorania juga tidak berani mengungkitnya." sambung Xander.


"Tapi kalau begitu, aku berbeda setahun dengannya sekarang. Dan kalau Athelo 'meninggal' sebelum berusia 17 tahun, bukannya fotonya tidak akan terpasang? Dan mengapa tidak ada tahun kematian di samping namanya?"


Wendy mengelus rambut Athela. "Sayangnya kami juga tidak tau. Athela kami akan membantumu mencari tahu semuanya. Sayangnya untuk sekarang kami juga masih tidak tau jawaban dari berbagai pertanyaan mu. Hanya satu hal yang perlu kamu ingat. Kamu spesial, sejak sebelum kamu lahir pun setelah semua yang telah kamu alami. Buat itu tidak mengubah jati dirimu yang sebenarnya. Keluargamu, Esterina memiliki banyak misteri. Bahkan jika bukan anggota keluarga khusus tiap klan, atau mungkin para pemimpin, kami tidak akan pernah tau kalau klan Esterina itu pernah ada." ucap Wendy menenangkan Athela.


"Setidaknya kalian sudah ingin membantuku. Terimakasih." Wendy dan Xander mengangguk. Kemudian Athela pamit dari ruangan itu akan kembali ke kamarnya.


****


"Tuan, kami baru saja mendapat kabar terbaru." seorang pria dengan rambut hitam legamnya terlihat membuka matanya dan menatap kearah salah satu pengawalnya yang baru saja datang.


"Siap di bakar rupanya!" ujarnya dengan suara beratnya. Itu berhasil membuat pengawal itu menelan ludah dengan susah payah.


"Hamba yakin, anda tidak akan kecewa dengan berita ini." pria itu menegakkan badannya dan bersandar di singgasananya dengan kedua tangan dilipatkan di depan dada dan kaki kanannya bersilang naik di atas kaki kiri.


"Anak Liony Esterina Pandora telah berada di IAO tuan. Kami baru saja mendapatkan bertiga ini dari mata-mata. Mereka mengatakan bahwa gadis itu sekarang berumur 16 tahun." ujar pengawalnya.


Pria itu tersenyum miring. "Sedikit lagi dia akan menurunkan kekuatan penuh Esterina heh..."