
Walau telah memakai sebuah sweter tebal, hawa di hutan itu masih serasa menusuk masuk hingga ketulangnya. Athela hanya bisa memeluk koper yang baru saja dia temukan sembari berjalan dengan hati-hati masuk kedalam hutan. Namun sebelum memasuki hutan lebih dalam lagi, Athela memilih untuk membuka koper misterius itu.
Athela duduk di depan sebuah pohon besar dan akan membuka koper dari Neneknya itu. Di pangkuannya, koper itu sedang di coba buka olehnya. Saat dia menarik pegangan koper untuk membukanya, koper itu seperti terkunci dan tidak mau terbuka. Dan itu membuat Athela bingung karena Neneknya sama sekali tidak bilang kalau kopernya akan terkunci. Apa mungkin neneknya lupa? Dan ternyata kuncinya ikut terbakar dengan rumahnya?
Tapi anehnya, Athela tidak menemukan lubang kunci sama sekali di kotak itu. Selain bundaran aneh yang sepertinya sesuatu yang bisa di pencet.
Karena penasaran, Athela memencet tengah bundaran itu dan memang seperti sebuah tombol. Namun tidak terjadi apa-apa selama lima detik, tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari dua permata di sisi longkaran tombol itu. Cahaya itu seperti menjalar mengikuti ukiran dan berakhir ke bundaran itu. Setelah itu pemata yang ada di atas juga bersinar selama sedetik dan kemudian hutan kembali gelap.
Athela sedikit terkejut saat melihat koper itu sedikit bercahaya, namun setelah cahayanya meredup, Athela kembali mencoba membuka koper itu. Dan berhasil. Berarti cara membukanya tadi memang dengan menekan tombol tadi.
Athela membuka koper tebal itu dengan cepat. Hal pertama yang Athela liat adalah sebuah amplop surat yang telah menguning. Athela melihat amplop itu dahulu karena tertulis sebuah kalimat di bagian belakangnya. Athela tidak pernah melihat huruf seperti itu sebelumnya, namun entah kenapa dia mengerti arti di balik huruf yang tertera di amplop itu.
'အဆိုပါစာအိတ်မြို့တော်မှဘဏ်ကိုဆောင်ကြဉ်းကျေးဇူးပြုပြီး' artinya: bawalah amplop ini ke bank ibu kota.
Berarti dia benar-benar harus berhasil lolos dari hutan untuk mengetahui apa yang akan dia dapat di sana. Lagipula, apa itu bank? Tempat atau apa? Athela tidak pernah mendengar tempat seperti itu selama hidupnya.
Athela meletakkan amplop itu kembali ke kotak. Isi lainnya adalah sebuah buku dengan di samping dan depannya ada sebuah kotak dengan ukuran yang berbeda. Satu kotak yang berada di samping buku memiliki ukuran yang panjang, dan yang di depan lebih ke lebar.
Karena tidak ada waktu untuk membaca, Athela lebih memilih untuk membuka kotak yang panjang berwarna biru tua dengan ukiran sulit.
Saat membukanya, Athela langsung menyerengit bingung melihat isi dari kotak itu. Sebuah tongkat dari kayu khusus dengan ujungnya ada dua batu unik berwarna ungu, namun ujung yang satunya memiliki batu yang lebih besar dan ungu yang tercampur warna lain.
Athela tidak tau kenapa ada sebuah tongkat dan di berikan kepadanya. Memangnya dia bisa sihir apa? Yang Athela bisa cuman beladiri, membaca dan beberapa pelajaran lain yang diajarkan Neneknya. Seperti matematika dan sejarah. Tetapi, neneknya tidak pernah mengajarkan hal-hal berbau sihir. Hanya sejarah yang masuk dalam sejarah planet Ozora.
Athela menutup kembali kotak itu dan meletakkannya di tempat semula. Dia membuka kotak yang satunya karena penasaran dengan apa isi di dalamnya.
Athela membuka kotak itu dan menemukan dua benda cantik di dalamnya. Sebuah kunci yang bisa menjadi kalung dengan sebuah gelang.
Athela lebih memilih mengambil gelang yang ada didalam. Gelang yang terlihat mewah itu memang sangat cantik apalagi ditengahnya ada permata berwarna ungu yang sama dengan warna di ujung tongkat tadi. Bentuknya seperti sebuah mahkota.
Athela meletakkan kembali gelang itu dan mengambil kunci dengan ukuran cukup besar itu. Saat keluar dari kotak, kunci dengan bentuk unik dan memiliki 3 permata besar dan 2 permata kecil, itu terlihat bersinar. Seperti memberi cahaya kepada Athela dari gelapnya Lost Forest.
Athela menutup kotak itu dan menaruhnya kembali kedalam koper, kemudian menutup kopernya dan menaruhnya di depannya karena dia akan berdiri dan melanjutkan perjalanan.
Athela mengikat rambut berwarna lavender itu. Kemudian dia mengangkat koper itu dengan tangan kanannya. Athelapun kembali melangkah memasuki hutan gelap dan misterius itu.
****
Sudah sekitar 5 jam Athela berjalan. Sekarang ini pasti sudah tengah malam, tebak Athela. Bulan sama sekali tidak terlihat di dalam hutan ini. Hanya cahaya dari kalung dengan bandul kunci itu yang menerangi Athela dan sedikit membuat Athela merasa hangat dan nyaman.
Saat tadi Athela memakai kalung itu, entah kenapa yang tadinya dingin menjadi biasa saja. Bahkan matanya seperti bisa melihat di kegelapan itu, walau masih terbatas.
Karena Athela merasa lelah, gadis itu memilih untuk memanjati pohon dan beristirahat. Setidaknya akan lebih enak di pohon dari pada di tanah yang banyak akar dan batu. Lagipula, Athela bisa menjamin dia tidak akan jatuh dari atas sana.
Kopernya dia taruh di batang yang saling berdempetan sehingga bisa menahan kopernya itu. Sedangkan untuk tasnya, dia akan mengambil roti dan minuman kemudian memeluk tasnya itu sebagai bantal. Athela menghabiskan 3 roti sekaligus dan langsung meminum airnya hingga habis setengah.
Namun, karena akan memeluk tasnya, Athela mengambil kopernya dan menyimpan persediaan makanannya itu di dalam koper. Setelah itu, Athela menaruh koper tadi ketempat sebelumnya dan bersiap untuk tidur.
Athela terbangun kembali setelah tertidur entah berapa lama, setidaknya itu sudah cukup dan bisa kembali melanjutkan perjalanannya. Entah sekarang ini sudah malam atau pagi, karena hutan sangat lebat, sedikitpun cahaya tidak ada yang bisa menerobos kedalam.
Athela kembali memakai tas ranselnya setelah melakukan sedikit peregangan. Sebelum turun, dia mengambil kopernya terlebih dahulu baru kemudian meloncat dan mendarat dengan sempurna di tanah.
Athela melanjut perjalanannya untuk keluar dari the Lost Forest. Dan kalau Athela berhasil keluar dari hutan itu, berarti Athela akan menjadi manusia dari lost Village yang berhasil keluar dan melewati hutan dengan selamat.
Athela melanjutkan jalannya dengan hati-hati takut nanti dia akan tersandung sesuatu.
Hutan itu memang sangat aneh. Banyak yang bilang jika kesini pasti akan banyak menemukan tengkorak manusia yang mencoba menembus hutan misterius itu, namun nyatanya sepanjang perjalanan hanya ada ranting, daun dan akar pohon yang keluar dari tanah. Selain gelap, hutan itu juga sangat hening, tidak ada suara apapun, bahkan jangkrik. Nyamuk, lalat, bahkan semut juga tidak Athela temukan. Padahal biasanya akan banyak di temukan semut dan jangkrik di dekat pohon. Saat Athela tidak sengaja menginjak ranting pohon, hanya suara dari patahan ranting yang terdengar.
Athela mengakui, dia cukup takut karena keheningan itu. Hening bercampur gelap, siapa yang tidak merinding?
Ada pepatah mengatakan, air yang tenang jangan disangka tidak ada buaya. Kalau diubah untuk hutan ini, hutan yang tenang dan sunyi jangan di sangka tidak ada bahaya di dalamnya. Namun, Athela bersyukur sekaligus merasa aneh karena belum ada satupun bahaya yang dia hadapi selama di hutan ini.
Tak terasa, sudah cukup lama Athela berjalan. Gadis itu melihat setitik cahaya di depan sana. Athela mempercapat jalannya agar segera melihat cahaya itu. Dan saat dia berdiri di hadapan cahaya itu, tiba-tiba suasana yang tadinya gelap menjadi terang karena cahaya dari matahari.
Athela menoleh kesekitar. Dia masih berada di hutan, namun hutan ini terasa berbeda. Lebih terang dan hidup. Sekitar hutan itu berubah. Dan itu tentunya sangat aneh. Namun, Athela lebih memilih untuk keluar dari hutan itu.
Di ujung hutan ada sebuah jalan setapak. Kalungnya sudah tidak bersinar lagi, seperti saat di hutan tadi. Athela sekarang sudah bisa bernafas lega karena telah keluar dari hutan. Gadis itu sangat-sangat senang sekaligus merasa bingung kembali karena Neneknya tau dia akan berhasil keluar dari hutan.
Dan Athela melanjutkan perjalanannya yang masih cukup panjang.
****