
Hei! kalau kalian suka cerita ini, jangan lupa buat klik like agar membantuku dalam lomba you are a writer season 2.
****
Hari sudah hampir menjelang siang. Athela dan rata-rata siswa dan siswi yang lain telah selesai memilih kelas dan ekskul yang mereka minati.
Athela memilih 7 diantara 9 mata pelajaran regular. Diantaranya; Kimia, Sejarah, Matematika, Biologi, Geografi, Teknik, dan Astronomi.
Sedangkan untuk Ekskul, di IAO ada 3 Ekskul wajib, yaitu Berkuda, Anggar, dan Tembak/Panahan. Selain tiga itu Athela mengambil Ekskul Astronomi and the unknown, selain itu tidak ada.
Setelah memilih dan mengirimkan datanya, tabletnya langsung menerima jadwalnya yang masih setengah jadi, karena mereka belum tes sihir.
Namun ada yang membuat Athela terkejut. Saat dia melihat tingkatan Element nya dan di kelas manakah dia berada. Athela sang murid baru bisa meloncati 5 tingkat dan langsung berada di tingkat 7, sedangkan tingkat tertinggi adalah 10.
Biasanya jika dia kelas 10 rata-rata akan mendapat tingkat 4-5. Itupun yang mendapat 5 biasanya karena memiliki kekuatan khusus atau keahlian khusus. Dan sekarang Athela menjadi salah satu yang bisa naik dengan cepat.
Saat masih membaca tentang informasi kelasnya, spiker sekolah mengumumkan agar seluruh murid baru tingkat SMA untuk segera bersiap dan berkumpul di gedung sihir.
Athela yang mendengar itu segera mengganti rok panjangnya dengan rok sewarna dan semodel namun panangnya hanya sampai 5 cm diatas lutut. Kemudian dia memasang kembali dasi, rompi dan mengenakan jubahnya. Tak lupa mengambil tongkat sihir yang dia berada di koper coklatnya. Setelah itu dia memasukkannya kedalam kantong jubahnya dan mengikat rambutnya. Setelah merasa siap, Athela berjalan keluar dari kamarnya menuju ke gedung sihir yang terletak di bagian barat sekolah.
Ketika ia berjalan keluar dari gedung asrama, seseorang memanggil namanya yang membuatnya berhenti dan menoleh kebelakang. Ternyata yang memanggil Athela adalah Pangeran Alex. Pemuda ceria itu berlari kearah Athela dengan senyum lebar di wajahnya.
"Hei, kamu mau ke gedung sihir kan?" Athela mengangguk. Alex malah menanggapinya dengan senyuman misterius.
"Ayo, aku akan membawamu lebih cepat kesana." Alex tanpa peringatan apapun langsung memegang tangan Athela dan melesat dengan cepat ke gedung sihir. Dan dalam sekejap mereka telah sampai di lantai paling atas gedung sihir, tempat dimana test akan di laksanakan.
Athela sedikit terkejut saat menyadari mereka telah sampai di sana dalam sekejap mata.
"Bagaimana kamu?"
Alex tersenyum, kemudian sedikit membuka mulutnya dan menunjuk taringnya.
"Kamu Vampir?"
"Half lebih tepatnya. Darah turun temurun." jawab Alex membenarkan.
"Wow, itu keren. Selain lari cepat, apa lagi keahlian vampirmu?" tanya Athela penasaran. Sebenarnya dia sudah pernah bertemu dengan vampir, mau itu murni atau half, tapi vampir yang Athela temui di the Lost Village hobinya mencari masalah bukan hobi tersenyum seperti pangeran muda di hadapannya.
"Em... Tidak banyak. Darah Vampirku tidak sedominan kakakku, itu karena kekuatan terkuatku Api. Kau tau lah Vampir dan api itu tidak terlalu... cocok." Athela hanya mengangguk mengerti. Tentu dia tau apa yang di maksud dengan 'tidak cocok' itu. Biasanya di the Lost Village cara para warga yang kesal dengan vampir pengganggu adalah dengan membakar mereka.
"Untuk para murid-murid yang telah berada di area gedung, segera mencari namanya di papan pengumuman dan menuju ruangan sesuai yang tertera."
"Kamu tunggu disini. Biar aku yang melihatnya." Athela mengangguk, kemudian Alex kembali melesat menuju ke papan pengumuman. Tak sampai 20 detik dan Alex kembali ke Athela.
"Bagaimana caramu menemukan nama kita berdua dengan begitu cepat?"
"Pada dasarnya, aku sudah tau dimana ruanganku. Dan namamu berawalan huruf A, jadi itu mudah. Namun yang ku bingungkan adalah bagaimana mungkin kamu berada di ruangan tes yang sama dengan ku?"
Athela menyerengit bingung. "Memangnya kenapa?"
"Biasanya para pangeran dan putri akan di tes terpisah dengan yang lain. Seperti aku yang sudah pasti akan berada di ruangan 1, biarpun aku satu-satunya pangeran yang akan di tes tahun ini. Tapi tadi aku lihat di namamu tertera 'ruangan 1'. Entahlah, itu tidak penting. Sekarang mari kita keruangan 1!" seru Alex dengan semangat kemudian kembali membawa Athela melesat menuju ruangan yang berada di paling ujung.
"Ada yang ingin ku tanyakan." Alex menoleh. Saat ini mereka tengah berdiri di hadapan pintu ruangan tes mereka.
"Mengapa semua murid ikut tes sihir? Padahal yang bisa melakukan sihir hanya para penyihir murni dan half."
"Oh itu karena kita tidak tau apa ternyata darah leluhur yang penyihir ikut turun atau tidak. Seperti aku. Raja Moisan yang 2 adalah seorang penyihir dan aku mungkin saja mewarisinya, karena ibuku menurunkannya juga. Kecuali kakakku, darah Vampirnya yang paling dominan dan kekuatan esnya itu. Mengerikan." jelas Alex yang berujung mengejek kakaknya.
"Kalau begitu ayo kita masuk." ujar Alex sembari membuka pintu ruangan itu dengan meng-scan V-B miliknya.
Saat mereka masuk. Wendy sang kepala sekolah tengah fokus membaca sesuatu dari tablet nya. Dan tak lama diapun menyadari kedatangan Alex dan Athela.
"Hei. Kalian sudah datang rupanya. Baiklah, Alex akan aku tes pertama dan Athela..." Wendy memberi Athela selembar kertas. "Itu adalah mantra yang akan kalian pakai sebentar. Alex kamu pasti sudah tau bukan?" Alex mengangguk.
"Hanya satu kalimat ini?" Wendy mengangguk.
Alex telah masuk jedalan sebuah ruangan yang berlapis kaca dengan sebuah benda bulat di tengah seperti sasaran panah.
"Lihat bagaimana cara Alex melakukannya."
"Ostenderoboris..." ucap Alex dengan lantang dan mengayunkan tongkatnya dan mengarahkan sihirnya tepat ke titik tengah papan bundar itu.
Saat jalur sihir Alex mengenai papan, papan itu bersinar mengikuti lingkaran yang ada dan berhenti di lingkaran ke-4.
Setelah itu, Alex berjalan keluar dari ruangan itu dengan senyuman polos di wajahnya.
"Apa 4 itu buruk?" tanya Alex kepada Wendy.
"Tidak, itu sangat normal untuk kalian grade 1. Sekarang Athela akan melakukan testnya."
"Wow! Tongkat magic-mu keren! Dapat dimana? Dan apa-" Alex melotot saat menyadari baru apa yang berada di ujung tongkat Athela. "I-itu galaxy stone kan? Kok?"
Wendy hanya tersenyum menanggapi kebingungan Alex. Kemudian dia menyuruh Athela agar segera masuk dan melakukan tes nya.
Athela yang tidak tau kenapa Alex sampai se kaget itu hanya mengikuti perintah Wendy dan berjalan masuk kedalam ruangan itu.
Saat masuk, dia bisa melihat sebuah lingkaran di lantai yang membuatnya berjarak sekitar 2 meter dari bundaran di depan.
Karena sedikit ragu dan bingung, Athela menoleh kebelakang. Menatap Wendy dari balik kaca itu. Wendy hanya mengangguk yakin.
Athela kembali berbalik dan berusaha untuk berkonsentrasi untuk merapalkan mantra.
"Ostenderoboris..." ucap Athela sembari mengayunkan tongkatnya dan mengarahkannya tepat kepada sasaran bundar di depan.
Jalur sihir berwarna pelangi itu mengarah tepat kepada titik tengah papan bulat di depan. Kemudian cahaya sihir Athela yang berwarna pelangi itu mengelilingi lingkaran dan berhenti di lingkaran terluar, lingkaran ke-8.
Athela yang melihat itu juga sedikit terkejut. Cahaya sihir normalnya adalah berwarna putih. Namun, Athela malah berwarna pelangi, dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah cahaya sihirnya berhenti bersinar di lingkaran tertinggi.
Selain Athela, Alex juga sangat terkejut saat meihat tingkat sihir Athela sampai di tingkat tertinggi.
Saat Athela keluar, Alex reflek membungkuk hormat. "Master!"
Wendy langsung memukul kepala Alex karena bertingkah aneh.
"Hei! Kamu baru saja memukul kepala seorang pangeran!"
"Tenang saja, ibumu sudah memberikan ijin untuk memukul kepalamu setiap kamu bertingkah aneh." ujar Wendy dengan tenang. Alex mengendus kesal, bingung kenapa ibunya sampai membiarkan kepala sekolahnya itu dengan bebas memukulnya, dengan alasan jika dia sedang bertingkah 'aneh'? Memangnya dia aneh?
"Kepala sekolah yang terhormat, aku hanya menunjukkan penghormatan kepada master baru kita." bela Alex untuk dirinya yang tidak setuju dikatai aneh.
Wendy kembali memukul kepala Alex. "Master? Athela seumuran dengan mu. Hanya saja keturunan sihirnya memang lebih kuat darimu saja. Lagian selain Athela, Lily juga pernah mencapai rekor baru."
"iya, sebagai pure witch, Athela? Dia adalah half pertama yang berhasil loncat jauh."
"Athela, katakan. Apa rahasiamu? Apa kamu latihan setiap hari? Atau ada cara khusus untuk mengayunkan tongkat? Ah, atau mungkin aku harus menambahkan galaxy stone di tongkatku? Eh, itu tidak mungkin." untuk ketiga kalinya kepala Alex menjadi sasaran.
"Auch!" ringis Alex sembari menatap Wendy dengan melotot.
"Tanya satu-satu. Kamu tidak lihat Athela jadi bingung karena mu?" omel Wendy.
"Sebenarnya Alex, aku tidak tahu jawaan untuk semua pertanyaanmu. Sejujurnya, ini pertama kalinya untukku menggunakan sihir." rahang Alex seketika terjatuh saat mendengar jawaban Athela yang terdengar sangat jujur.
"How could you-- maksudku, ini baru pertama kalinya kamu mengeluarkan 'menggunakan' sihir dan tes mengatakan kamu berada di tingkat tertinggi. Bagaimana mungkin?" ujar Alex tidak percaya.
"Alex pada dasarnya, tes sihir bukanlah dari seberapa lama kamu berlatih, atau mantra khusus, cara khusus apalagi tentang tongkat sihir. Tes sihir benar-benar mengetes seberapa kuat 1 mantra yang kamu rapalkan. Contoh saat kamu dan Athela misalnya membuat sebuah mantra sihir yang sama, namun punya Athela akan jauh lebih kuat. Bisa dibilang, sihir di dalam diri Athela lebih kuat darimu." jelas Wendy untuk segala kebingungan Alex.
"Tetapi pengetahuan akan mantra juga akan sangat berguna. That's why, Athela akan ada kelas khusus denganku. Aku sudah mengaturnya di jadwal Athela." sambungnya.
"Like my history class with all the prince and princess?" Wendy mengangguk.
"Bedanya Athela hanya sendiri dan lebih fokus ke sihir dan element nya." Alex hanya mengangguk-angguk mengerti.
"Oh iya, Athela. Element mu tingkat berapa? Biasanya kalau tinggi di sihir akan sedikit lemah di element."
"Aku di tingkat 7." jawab Athela santai.
"What the f-"
"Language please!" ingat Wendy pada Alex yang hampir mengeluarkan kata umpatan.
"Yasudah, Alex kembali lah lebih dahulu. Ada yang harus aku bicarakan dengan Athela." pinta Wendy. Alex hanya menuruti dan pergi dari ruangan tes.
Wendy membawa Athela dengan sihirnya ke ruangan wanita itu. Dalam sekejap mereka telah sampai di sana.
"Duduklah..." ujar Wendy mempersilakan Athela untuk duduk bersamanya di atas sofa.
"Boleh kamu tunjukkan tongkatmu?" Athela mengambil tongkat sihirnya dari dalam kantong jubahnya dan memberikannya ke Wendy.
Wendy tidak mengambilnya, wanita itu hanya merapalkan mantra dan menjentikkan jarinya. Seketika galaxy stone berubah warna menjadi warna putih yang sewarna dengan batu di V-B nya.
"Aku mengubah warnanya agar tidak membuat heboh dan penasaran. Kamu liat reaksi Alex tadi? Bisa-bisa yang tau tentang batu itu akan memiliki reaksi yang sama." Athela mengangguk mengerti.
"Dan satu hal lagi. Kalau kamu merasakan sesuatu yang aneh, atau apapun itu yang terasa tidak normal. Segera beritahu aku atau pergilah kesini segera mungkin. Mengerti?" Athela kembali mengangguk. Sebenarnya gadis itu ingin bertanya apa yang di maksud dengan 'aneh' tadi. Namun ia mengurungkan nya.
Setelah itu Athela kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Besok dia akan memulai kelas pertamanya sebagai seorang siswi IAO.