
"Athala sayang... Bersembunyilah di sini bersama nenek ya. Jangan keluar jika masih mendengar keributan di depan, atau tunggu ibu kembali atau siapa pun itu, Ya, sayang..." Gadis kecil dengan surai berwarna Lavender itu hanya diam namun menganggukkan kepalanya mengerti.
Wanita paruh baya dengan warna rambut yang sama dengan gadis itu terlihat memeluknya, kemudian mencium kening anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang, bahkan air matanya ikut keluar tanpa diminta.
"Jaga Nenek baik-baik ya, jangan bandel. Selalu dengar apa yang di katakan Nenek padamu. Kalau begitu, sampai jumpa lagi nanti anakku. Maafkan ibu..." setelah mengatakan itu, wanita itu berjalan meninggalkan gadis kecilnya bersama dengan sang ibu yang hanya bisa memeluk cucunya dengan erat.
Gadis kecil tersebut hanya terdiam melihat kepergian ibunya, sedangkan Neneknya masih tetap memeluknya dengan erat. Melihat kepergian anaknya berhasil membuat air matanya terjatuh. Hanya satu yang ia harapkan.
Perang berakhir dengan damai, dan keluarganya baik-baik saja.
****
8 Tahun kemudian...
Seorang gadis dengan surai lavender itu memakai tudung jaketnya dan berjalan keluar dari rumah kayu yang sudah tidak layak huni itu. Pintu rumah itu bahkan bisa dengan mudah rusak walau hanya di dorong biasa, atapnya bocor, dan kayunya sudah lapuk dimakan waktu.
Di sepanjang jalan, gadis itu menjadi pusat perhatian. Bukan karena pakaian atau rambutnya yang mencolok, namun karena semua orang mengenal siapa gadis itu.
Julukannya di kalangan masyarakat adalah Purple Killer.
Bukan karena gadis itu suka membunuh orang yang tidak bersalah, dia hanya akan membalas orang yang memang mencari masalah dengannya. Dan sayangnya semua orang yang mencari ataupun menantang gadis itu berakhir dengan naas, dan muncullah julukan itu untuknya.
Nama sebenarnya adalah Athela Esterina Pandora. Gadis dengan surai ungu yang hanya tinggal berdua dengan Neneknya.
Gadis itu akan pergi ke pasar untuk membeli persediaan makanan. Walaupun tempatnya sedikit jauh karena dekat dengan pegunungan. Sedangkan rumahnya malah dekat dengan The Lost Forest. Bahkan rumahnya dengan hutan yang 'katanya berbahaya itu hanya berjarak sekitar 15 meter.
Gadis itu menghampiri salah satu penjual kemudian membeli beberapa sayuran seperti kol, kacang panjang dan cabai biru (Cabai yang lebih berguna untuk kesehatan). Kemudian dia pergi lagi untuk membeli beras, dan terakhir pergi ke tempat penjual ramuan untuk membelikan Neneknya obat.
Setelah selesai berbelanja di pasar, Athela segera berjalan untuk pulang ke rumahnya.
Karena hari hampir malam, Athela lebih memilih untuk melewati jalan pintas, ya walau di sana terkenal berbahaya karena sebagai tempat perkumpulan preman. Sebenarnya di desanya tidak ada tempat yang aman bahkan rumah sendiri.
the Lost Village adalah desa yang menjadi saksi mata perang 8 tahun yang lalu. Perang antara Kerajaan Ozoranio dan para pengkhianat yang mengakibatkan ribuan juta orang meninggal dunia. Desa ini juga di sebut Desa Hilang karena sangat jarang di ketahu-i dan tidak tembus dengan keadaan di balik the Lost Forest yang penuh dengan teknologi dan sihir. Ada memang beberapa penduduk yang bisa menggunakan sihir, namun kebanyakan di sana adalah para penjahat kelas kakap. Dari pencuri, pembunuh, preman dan lainnya.
Sebenarnya, orang bisa saja keluar dari desa itu, hanya saja mereka harus melewati Lost Forest terlebih dahulu yang berarti sama saja dengan bunuh diri.
Masuk ke dalam hutan dan sampai ke Desa itu mudah, namun untuk kembali ke seberang Hutan itu mustahil. Makanya, para penjahat yang memang kabur dan berakhir di sini tidak bisa kembali keluar. Bisa dibilang mereka seperti terpenjara seumur hidup di sana.
Athela berjalan dengan sebuah kantong plastik besar berwarna hitam di tangan kanannya. Gadis itu berjalan dengan tenang, dengan tangan yang satunya lagi ia masukkan di kantong jaketnya. Dan masuklah dia di lorong yang mungkin hanya selebar 5 meter dan tanpa penerangan sama sekali.
Matahari mulai terbenam, ia mempercepat langkah kakinya. Dia harus segera sampai di rumah karena Neneknya sendirian dan itu berbahaya. Berharap saja tidak akan ada yang menghalangi jalannya.
"Lihat lah, Purple Killer! Senang bertemu denganmu di sini." ujar seorang pria dengan badan yang cukup kekar dan tinggi badan yang 10 cm lebih tinggi dari Athela.
"Aku tidak ada waktu untuk meladenimu! Minggir jika kau masih menyayangi nyawamu sendiri." kecam Athela dengan nada dinginnya. Kemudian dia melanjutkan jalannya, namun baru 2 langkah, pria itu kembali menghalangi jalannya dan di belakang pria itu ada sekitar 5 orang yang tentu saja memiliki niat yang sama dengan pria.
"Your not going anywhere. Maybe we can play with you, just for a- Akh!" Athela langsung meloncat dan menendang wajah pria itu\, kemudian berlari dengan cepat. Sekarang dia masih harus menghadapi 5 orang lagi sebelum sampai di ujung.
Athela memeluk kantong plastik berisi belanjaannya dan mempercepat larinya. 2 orang pria kemudian menyerangnya. Athela dengan cepat kembali menendang wajah dan perut mereka satu persatu. Seketika, kelima pria itu telah tumbang sembari memegang wajah dan perut mereka yang terkena tendangan Athela.
Gadis itu melanjutkan jalannya sembari tersenyum penuh kemenangan. Athela kemudian tersadar. Langit yang tadinya masih lumayan terang, sekarang benar-benar gelap. Matahari telah di gantikan dengan bulan purnama.
Athela yang menyadari itu langsung berlari dengan sekuat tenaganya.
Athela yang telah sampai di depan rumahnya langsung melangkah masuk dengan hati-hati (Pintu sudah rapuh, makanya harus membukanya dengan sepenuh hati) dan langsung ke dapur karena tahu Neneknya pasti berada di sana.
Athela menghela nafas pelan, gadis itu menaruh kantong belanjaannya di atas meja makan dan berjalan menghampiri Neneknya yang sedang menggoreng sesuatu. "Nek, sudah aku katakan berkali-kali. Biar aku yang mengurus semuanya. Nenek istirahat saja." ujar Athela sembari mengambil alih spatula kayu itu dari tangan Neneknya.
"Kalau nungguin kamu kelamaan. Yaudah Nenek goreng sendiri. Lagi pula, ini kan memang tanggung jawab nenek. Kamu jangan sok dewasa, masih 16 tahun. Mending cari teman terus keliling desa, jangan di rumah terus." ujar sang Nenek yang sekarang berdiri di samping cucunya yang sedang menggantikan perkerjaannya tadi.
"Nek, mending juga aku di rumah saja gak ngapa-ngapain, ya paling jaga Nenek kan? Jalan-jalan, cari teman, itu semua buang-buang waktu!" Nenek Athela hanya dapat menghela nafas melihat tingkah cucunya yang sangat keras kepala begitu. Benar-benar mirip dengan Ibunya.
Nenek Athela berjalan mendekati kantong belanjaan yang di taruh Athela di atas meja makan, kemudian membukanya dan membongkar semua isinya. Setelah itu wanita yang umurnya kira-kira telah mencapai 70 itu mulai merapikan dan memasukkan sayur-sayuran ke dalam kotak yang telah disihir agar dapat membuat bahan-bahan bahkan makanan awet untuk jangka waktu yang lama. (Seperti lemari es, namun dia memiliki unsur sihir yang dapat membuat makanan tetap segar seperti baru di petik.)
"Ada apa di luar sana? Akan Nenek cek dahulu." Athela hanya mengangguk, namun dia mengekor di belakang Neneknya.
Nenek dari Athela membuka pintu rumahnya dengan perlahan. Saat dia melihat keadaan di depan sana, dia langsung merasa sangat terkejut. Pasalnya, ada segerombolan warga, sekitar 20 orang sedang berdiri di depan rumahnya sembari membawa obor dan bermacam-macam benda tajam lainnya.
Nenek Athela mengambil obor yang di gantung di tongkat di depan rumah dan maju 3 langkah ke depan untuk bertanya apa yang sedang mereka lakukan di depan rumahnya, membuat keributan, bahkan ketika hari telah gelap seperti ini.
"Ada apa ini?" tanya sang Nenek dengan suara cukup keras.
"Kami kesini ingin balas dendam ke cucumu karena telah membuat anak kami babak belur! Kami sudah tidak bisa menoleransi kelakuannya yang kelewatan batas itu!" teriak pria paruh baya yang Athela tebak sebagai provokator di sini. Kenapa dia menebak seperti itu? Karena saat orang itu berbicara, semuanya diam. Dan setelahnya mereka malah bersorak setuju.
"Maaf, sepertinya kalian semua salah paham. Saya tidak akan menghajar seseorang jika mereka tidak lebih dahulu mencari masalah dengan saya. Yang seharusnya di salahkan itu ya, anak-anak bapak sekalian, bukan saya!" jawab Athela dengan tenang. Neneknya yang tadinya melihat Athela karena meminta penjelasan sekarang kembali menatap pria yang tubuhnya 4× lebih besar darinya tanpa perasaan takut sama sekali.
"Berarti anak kalian yang salah, bukan cucu saya!"
Wajah pria besar itu terlihat marah. Dia langsung mengambil alih secara paksa busur milik orang di sampingnya. Dan langsung mengarahkannya ke Athela.
Nenek Athela menyadari hal itu. Wanita baya itu terlihat melempar obor yang dia pegang ke tanah dab berlari ke depan Athela untuk menghalangi Athela terkena busur tersebut.
'Tak!
Busur tersebut menancap tepat di perut sang Nenek.
Athela melotot terkejut dan langsung berlari menangkap Neneknya yang akan terjatuh. Kemudian, dia meletekakkan kepala Neneknya di pangkuannya.
"Nek... Nenek... jangan tinggalkan aku..." kata Athela dengan sedikit terisak.
"Athela sayang, ada yang ingin nenek beri tahu kepada~ uhuk~ mu. Menunduklah dahulu." Athela memandang sedih wajah pucat Neneknya kemudian menundukkan kepalanya agar telinganya sejajar dengan bibir Neneknya dan bisikan neneknya akan terdengar dengan jelas.
Orang-orang kejam yang sialnya tidak merasa bersalah sama sekali itu malah membubarkan diri dan pergi begitu saja meninggalkan Athela dengan mayat Neneknya. Jika saja Neneknya tidak melarang Athela untuk balas dendam, mungkin kepala mereka semua sudah berada di dalam gubuk bersama dengan mayat Neneknya.
Tapi Athela harus mengikuti kata-kata terakhir Neneknya untuk tidak membalas perbuatan mereka, dan mencoba bertahan hidup menghadapi semua rintangan yang akan dia hadapi.
Athela mengangkat tubuh kaku Neneknya dan membawanya masuk ke dalam rumah gubuknya. Athela menurunkannya dengan perlahan di atas kasur satu-satunya yang ada di sana. Sebelum melakukan semua hal yang di minta Neneknya kepadanya. Walau ada satu hal yang mustahil dia lakukan. Athela berdiri di samping kasur dari bambu itu. Athela menghapus jejak air matanya, kemudian menarik nafas panjang untuk menguatkan dirinya.
Gadis itu mengambil tas yang tergantung di dinding gubuk, tas kain satu-satunya yang berwarna hitam itu dia isi dengan beberapa pakaian, makanan dan minuman. Hal terakhir yang akan dia ambil berada di belakang rumah. Kata Neneknya, ada sesuatu yang berharga terkubur di samping pohon yang berdiri tegak di belakang rumahnya itu. Pohon yang sangat di takuti Athela dahulu nanti akan tumbang menimpa rumahnya, namun sampai sekarang pohon itu tetap berdiri dengan kokoh.
Sebelum ke pohon itu, Athela memakai sepatunya dan menggendong tasnya di bahu kanan kemudian mengambil minyak tanah dan korek di dapur, kemudian lewat pintu belakang dia langsung ke pohon itu.
Neneknya ingin Athela membakar rumah mereka berserta dirinya dan biarkan abunya hilang nanti di tiup angin. Namun sebelum membakar rumah berserta mayat Neneknya, Athela harus mengambil barang tersembunyi itu. Karena saat rumah itu terbakar, kemungkinan pohon besar itu ikut terbakar. Tapi pastinya tidak akan sampai membuat Lost Forest ikut terbakar. Seperti yang di katakan, hutan itu penuh dengan misteri mistis.
Athela menggunakan sekop kecil yang biasa Neneknya pakai untuk sekedar menanam bunga untuk menggali. Sebelum mulai menggali, Athela melepaskan gendongan tasnya dan menaruhnya di sampingnya, kemudian dia mulai menggali.
Tidak terlalu dalam Athela menggali, dia mendapat sebuah kotak yang ternyata lebih besar dari galian yang Athela buat. Jadi gadis itu harus menggali menambah lebarkan lubang yang dia buat.
Di dalamnya ada sebuah kotak berbentuk persegi panjang dengan kira-kira berukuran 30x25x11 cm. Saat Athela mengeluarkan kotak itu, sebenarnya itu bukan sebuah kotak, melainkan koper berwarna coklat. Athela tidak akan membukanya sekarang, karena Neneknya menyuruhnya membukanya setelah membakar rumah.
Athela mengembalikan tanah galiannya, kemudian menyimpan koper dan tasnya di balik pohon. Dia mengambil dirjen pertama dan mulai menyiramnya ke rumahnya, begitu terus sampai dirjen ke 3. Karena rumahnya kecil makanya tidak banyak yang di pakai.
Athela mengambil tasnya dan menggendongnya. Setelah itu dia menyalakan obor yang dia ambil di pintu depan rumahnya dan melemparkan obor menyala itu ke rumahnya. Seketika, dinding bagian belakang rumah Athela lah yang paling pertama terbakar.
Athela hanya bisa menatap datar rumahnya. Gadis itu kemudian melangkah menjauh dengan tas di punggungnya dan sebuah koper misterius di pelukannya. Dan sekarang adalah permintaan tersulit dari sang nenek.
Athela menghela nafas pelan. Mencoba untuk tidak gugup dan terintimidasi.
Kemudian gadis itu masuk ke dalam the Lost Forest. Berusaha untuk menembusnya keluar. Karena itulah yang Athela maksud permintaan mustahil dari sang Nenek kepadanya.
Menyeberangi the Lost Forest dan pergi memulai hidup baru di ibu kota. Kalau dia berhasil keluar.
****