
"Aku kenapa?" Athela menyela ucapan Jack yang membuat kedua orang itu terkejut melihat kedatangannya bersama Quinna dan Lily.
Wendy langsung menghampiri Athela untuk mengecek keadaan gadis itu. "Kamu tidak apa-apa?" tanya nya.
"Yeah, i'm fine. Apa hubungannya aku sakit dengan pingsannya Jack?" tanya Athela penuh selidik.
Wendy terdiam, begitupula dengan Jack. Apa mereka harus menceritakan segalanya pada Athela sekarang? Bahwa hidup pangeran Mahkota terikat dengan nya.
"Ah itu, Wendy mengkhawatirkan mu karena kemarin kamu sempat pingsan juga. Dia kira kamu beneran sakit terus nular ke Jack dan buat Jack pingsan. Makanya dia nyari kamu." ujar Quinna mencoba memberi alasan terlogis ke Athela. Dan berharap Athela percaya dengan alasan yang dia buat.
Athela menyerengitkan dahinya sedikit curiga, namun kemudian mengangguk mengerti. Melihat itu Quinna, Jack dan Wendy menghela nafas lega. Sedangkan Lily merasa ada sesuatu yang di sembunyikan.
"Jack pingsan karena apa?" tanya Lily yang sedikit bingung dan penasaran Jack bisa pingsan.
"Cuma kelelahan." dalih Wendy dengan cepat. Tentu Quinna dan Lily tidak percaya namun tidak berani bertanya juga. Kemudian ketiga gadis itu diminta untuk kembali ke asrama karena makan malam akan segera berlangsung.
Setelah ketiga gadis itu pergi, barulah Wendy dapat menghela nafas lega.
"Kenapa kita tidak langsung memberitahunya saja?" tanya Jack.
Wendy menghembuskan nafas pelan kemudian menggeleng. "Jack kalau kamu jadi Athel terus diberi tahu secara tiba-tiba kalau hidup orang lain bergantung pada mu, apa kamu tidak akan shok? Dan lagi Athela belum mengingatmu dan kita belum tau kekuatan sepenuhnya. Aku hanya menghindari kemunculan kekuatannya yang secara tiba-tiba." jelas Wendy.
"Kamu masih belum tau kekuatan seorang Esterina yang tidak terkendali. Ibunya Athela dulu hampir menghancurkan sekolah dengan sihir plus elemen Tanahnya. Dia marah karena aku di bully dan orang yang bully aku sempat sekarat. Kamu bayangin aja gimana parahnya. Dan lagi, walau kamu terkoneksi dengan Athela, belum tentu sekarang ini saat dia mengamuk kamu bisa membantunya Jack, jadi bersabar lah." sambungnya. Jack hanya dapat mengangguk.
"Kamu lebih baik kembali ke asrama sekarang! Nenek sihir dalam perjalanan." mendengar itu Jack segera bangkit dari kasur nya dan berjalan keluar dari ruang kesehatan. Dia tau siapa yang di maksud dengan Wendy dan lebih baik dia dengan segera pergi.
****
"Athela, Hai!" sapa pemuda dengan rambut biru yang datang menghampiri ketiga gadis itu dan duduk di sebrang Athela. Siapa lagi kalau bukan Oceano Pirce.
"Hai juga..." balas Athela dengan kebingungan karena Ano tiba-tiba duduk di sebrang nya. Bukan hanya Athela, Quinna dan Lily pun sama bingungnya.
"Kenapa jadi ngeliatin aku? Makan dong." ketiga gadis itu reflek mengalihkan pandangan dan mulai memakan makanannya.
"Ngapain kamu duduk di sini?" tanya Quinna dengan nada sewot.
"Lah emang gak boleh? Kan ini tempat duduk umum. Atau khusus untuk keluarga kerajaan?" sarkas Ano.
"Yah tumben aja kamu gak sama saudari kembarmu itu, and your stupid gang!" balas Quinna tidak kalah sarkas.
"Aku tidak tau mereka di mana, dan emangnya salah kalau ingin duduk dengan kalian? Eh lebih tepatnya mau aku mau duduk dengan Athela. Salah?"
"Ka—" belum sempat Quinna membalas perkataan Ano, Athela lebih dahulu angkat bicara.
"Sudahlah, sekarang kita makan saja." keduanya akhirnya mengakhiri perdebatan mereka dan mulai memakan makanannya walau masih saling melempar tatapan tajam satu sama lain.
"Hoi!" teriak seseorang dengan heboh. Siapa lagi kalau bukan Pangeran Alex tercinta bukan.
Alex datang sendiri dan duduk di samping Athela yang memang kosong. Saat menaruh nampannya dia memandang Oceano dengan pandangan bingung. "Nih bocah kenapa ada di sini?" tanya Alex dengan sewot. Padahal Oceano lebih tua setahun darinya.
"Itulah yang aku pertanyaan sejak tadi! Di—" Quinna tidak melanjutkan ucapannya karena Athela menatapnya dengan tatapan dingin.
'Dasar jodohnya Jack!' batin Quinna menggerutu.
'Dasar jodoh beruang es!' batin Alex yang ikut mengatai Athela.
Kemudian mereka makan dengan tenang.
Selesai makan, ketiganya mengembalikan nampan dan berjalan beriringan. Oceano tetap mengikuti mereka walau tidak bergabung dalam percakapan. Dia hanya terus menatap kearah Athela dengan tatapan yang sulit di artikan dan membuat Athela menjadi risih. Bukan hanya sekarang, saat makan tadi pun Oceano sering melirik-lirik kearah gadis itu.
"Eh, Lex. Jack gimana?" tanya Quinna yang membuat Athela sadar dari lamunannya.
"Tadi dia udah balik sih, udah makan juga. Gak tau mungkin sekarang udah tidur." jawab pemuda itu.
"ALEX!" seseorang berteriak memanggil Alex. Dari suaranya mereka tau siapa yang berteriak itu. Alex ingin menghilang sekarang juga rasanya.
Gadis itu berjalan mendekati mereka. Siapa lagi kalau bukan Oceana. Dia berdiri di depan Alex dengan tatapan kesal plus sedih?
"Alex! Kenapa kamu gak ngasih tau aku kalau Jack sakit?! Kan aku bisa rawat dia!" amuk Oceana pada Alex. Pemuda itu malah mencibir.
"Ngapain aku ngasih tau kamu? Seperti Jack ingin dengan mu saja. Yang ada kalau aku kasih tau kamu kalau dia sakit, nyawaku yang sakit nantinya." saat mendengar itu Quinna malah tertawa. Lebih tepatnya tertawa mengejek. Oceana menatap kesal Quinna dan menyuruhnya diam, namun Quinna tetap tertawa.
"Pastilah Jack ingin aku merawatnya! Oh aku tau, kamu pasti cemburukan?" Athela ingin ikut tertawa. Bukan bermaksud mengejek namun ekspresi aneh Alex yang terlihat sangat lucu.
"Pd banget! Kalau kak Jack ketemu sama kamu bukannya sembuh malah jalan menuju ajal makin terbuka lebar!" tawa Quinna makin kencang, Lily juga ikut tertawa walau hanya tawa kecil, Athela juga sama seperti Lily. Oceano bukannya membela kakaknya malah ikut tertawa.
Hawa di sekitar mereka terasa dingin mencengkam. Oceana terlihat menatap tajam Alex dan siap untuk mengamuk. Karena hawa dingin yang tiba-tiba mengelilingi, Oceano, Quinna, Lily dan Athela terdiam dari tawanya.
"Prince Alex, kamu sudah sangat meremehkan ku. Kamu tau bukan kalau es bisa menghilangkan api?" remeh nya.
Alex terlihat mendesis sinis. Pemuda itu maju selangkah mendekat mengikis jarak mereka dengan lengannya yang bersilang di depan dada.
"Kamu lupa kalau aku juga bisa kekuatan es? Dan lagi, es yang ku punya adalah es murni, bukan es palsu!" kemudian Alex mundur dan berlalu pergi lebih dahulu.
Suasana berubah menjadi tegang. Quinna yang ikut memberi tatapan sinis kemudian menarik Lily dan Athela, sedangkan yang lain tetap terdiam. Athela tidak mengerti dengan maksud perkataan Alex. Es palsu? Memangnya kekuatan es bisa di palsukan? Mungkin sebentar dia bisa bertanya pada Lily atau Quinna.
Ketiganya sampai di lantai 5 asrama putri. Ternyata kamar Quinna adalah kamar di samping kamar Lily dan Athela, hanya saja dia masih sendiri belum memiliki teman sekamar yang baru.
Karena Quinna memiliki tugas kelompok dengan Lily, dia memilih kembali ke kamarnya untuk mengambil buku baru kemudian ke kamar Lily dan Athela.
Kedua gadis itu sibuk dengan buku-buku dan tugas mereka. Mereka berdua duduk berdampingan di atas kasur Lily sedangkan Athela tidur tengkurap di kasurnya sendiri dengan tab di hadapannya. Dia sedang menonton film yang di rekomendasi kan Lily padanya.
Saat sedang fokus-fokusnya menonton, Athela ingat kalau dia ingin bertanya pada mereka tentang perkataan Alex tadi yang membuat Oceana terdiam namun bertambah emosi, bahkan Oceano.
"Em, Lily, Quinna." panggil Athela. Kedua gadis itu mendongak menatap Athela.
"Apa maksud Alex dengan Es murni dan es palsu?" mendengar pertanyaan itu membuat keduanya terkejut kemudian saling memandang melemparkan pikiran seolah mereka tengah bertelepati.
"Ini adalah masa lalu kelam keluarga kerajaan." ujar Quinna dengan pelan.
"Apa ini rahasia?" Quinna menggeleng.
"Tidak, tapi mungkin akan menjadi cerita yang panjang. Ini tentang kakek Jack dan Alex, raja dari kerajaan Moisan dan Putri mahkota dari Kerajaan Aqua..."
****